AFTER

AFTER
Eps 75



(Satya &Teressa)


.


.


.


.


.


"Kakak." Alice menghampiri Adi, dan langsung memeluknya dengan erat. Masih terselip rasa khawatir terhadap kondisi kakaknya.


"Kakak ada yang sakit lagi nggak? Yang mana, bilang sama Alice biar Alice panggilin dokter." Adi menggelengkan kepalanya perlahan. Semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil adiknya. Walau Alice sudah berusia 16 tahun, Adi tetap menganggapnya sebagai gadis kecil kesayangannya.


"Kakak bisa liat Alice kan?" Alice menatap Adi dalam jarak dekat. Adi pun menganggukkan kepalanya, tentu saja ia masih bisa melihat.


"Mulai sekarang kakak harus pake kacamata kalo pergi-pergi. Kata dokter kakak rabun jauh, kemungkinan bisa sembuh kalo sering terapi dan pake kacamata. Kakak juga harus kurangin minum kopi, nanti kepala kakak sakit lagi. Alice nggak mau kakak kenapa-napa." Alice menjelaskan ulang apa yang dikatakan dokter mengenai kondisi Adi tadi.


"Sure, sesuai perintah tuan puteri." Balas Adi yang tak ingin membuat adiknya bertambah khawatir dengan kondisinya.


"Alice takut kalo kakak-"


"Shuttt, nggak usah takut, nggak papa. Kakak bakal tanggung jawab, kamu tenang aja." Sela Adi memotong perkataan Alice.


Adi lantas menoleh kepada Noah yang tengah berdiri tak jauh darinya. "Saya minta maaf sebelumnya, ini murni karena kelalaian saya. Jika memang mau diteruskan ke jalur hukum, saya akan tanggung jawab atas kecelakaan bapak dan ibuk." Ujar Adi dengan sungguh-sungguh. Alice kembali dibuat terisak mendengar ucapan kakaknya.


"Mas Adi jangan pikirin masalah ini dulu. Mas boleh pulihkan kondisi dulu. Masalah ayah dan bunda saya, mas bisa kasih doa terbaik supaya mereka baik-baik aja." balas Noah dengan bijak. Noah sebenarnya juga sedih, sama seperti Alice mengkhawatirkan Adi. Bedanya Noah kini mengkhawatirkan ayah dan bundanya.


"Iya saya mengerti, terima kasih atas pengertiannya. Tapi gimana kondisi ibuk sama bapak sekarang? Mereka sudah siuman?" tanya Adi.


Noah menggelengkan kepalanya pelan, "Belum mas, doain aja. Tapi adek saya udah lahir, bunda masih dalam pengaruh obat. Ayah belum ada kabar."


Adi mengangguk paham. Setelah bosnya sadar ia akan segera menjenguk. Mungkin malam ini ia akan memulihkan kondisi nya sesuai saran Noah.


"Kalo gitu saya keluar dulu. Mas Adi bisa istirahat dulu." pamit Noah dengan sopan.


"Baik, silahkan."


Noah keluar dari ruangan itu meninggalkan sepasang adik kakak yang ia rasa juga butuh privasi.


"Dokter udah keluar, tante?" tanya Noah pada Ghea. Ghea sudah ia anggap sebagai orang tua ke-dua setelah ayah nya dan bunda nya.


"Udah, No. Ayah mu udah dipindah ruang rawat. Cedera dikepala ayah mu nggak terlalu berat, bisa dikategorikan ringan. Kata dokter setengah jam lagi bisa siuman, kamu doain aja ya." jelas Ghea.


Noah menghela nafas lega. Kabar baik ini cukup menenangkan hatinya. "Bunda gimana, tan?" tanyanya.


"Kamu lihat sendiri gih." Noah segera masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk Ghea.


Ceklek


"Bunda." panggil nya.


"Bunda, maafin Noah. Seharusnya Noah nahan ayah sama bunda biar nggak pulang malem-malem. Maaf, karna keinginan Noah buat mandiri malah bikin ayah sama bunda celaka kayak gini." Pemuda itu terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.


Teressa, wanita itu mengusap lelehan bening yang membanjiri wajah nya. "Noah nggak salah, dan nggak ada yang salah. Ini semua takdir Allah, nak." kata Teressa sambil mengusap bahu lebar putranya.


"Noah udah adzanin adek?" tanya Teressa. Noah hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Teressa mengusap lembut kepala putranya, "Jangan sedih, semua bakal baik-baik aja. Gimana kondisi ayah, udah ada kabar?"


"Kepala ayah cedera ringan. Kata tante Ghea setelah setengah jam nanti ayah bakal sadar. Ayah udah dipindahin ke samping ruangan bunda." Jawab Noah menjelaskan.


"Nanti temenin bunda nemuin Ayah ya." Lagi-lagi Noah mengaggukan kepala mengiyakan permintaan bunda nya.


Setelah buat hatinya terlelap, Teressa memutuskan untuk datang menemui suaminya.


Ditataplah wajah pucat yang masih senantiasa memejamkan matanya. Suasana berubah seratus delapan puluh derajat saat ini. Dimana biasanya Satya menjadi penghangat suasana, kini dirinya tengah berjuang untuk segera siuman.


"Mas Satya cepet bangun ya. Adek udah lahir, pengen ketemu sama ayahnya. Kita juga belum nyiapin nama buat adek."


"Adek lahir cowo, mas Satya nambah saingan lagi. Cepet sadar ya, kita masih butuh mas Satya."


___________


"Kalian mau nginep apa pulang sama sopir mommy?" tanya Ghea kepada tiga tuyul nya.


"Nginep!" jawab Gheva dengan yaqin dan mantap.


"Kalo nginep berarti besok nggak ke sekolah, yakin?" tanya Bu Ghea sekali lagi. Dan lagi-lagi yang memberikan sahutan hanya Gheva saja, kedua kakaknya sudah mengantuk.


"Dad, tolong cariin ruangan ya biar dipake tidur anak-anak. Sini biar aku yang gendong Glory." Gavin pun segera memberikan tubuh mungil putri nya yang telah tertidur pulas kepada istrinya.


"Tunggu sebenar ya." Pesan Gavin sebelum pergi meninggalkan Ghea dan anak-anak.


"Bunda sama ayah nanti ikut istirahat ya, biar aku sama daddy nya anak-anak yang gantian jagain mbak Tessa. Biar Noah yang jagain abang." Sikap dewasa Bu Ghea makin kesini makin nambah. Gaya bicara juga sudah berubah, dari yang sedikit kasar sudah berubah menjadi lembut.


Lope Bu Ghea banyak-banyak.


"Iya, biar anak-anak kamu sama ayah bunda." Balas Ayah Juan.


Sambil menunggu sang suami kembali, Ghea menimang-nimang puteri kecilnya yang masih terlelap didalam dekapannya.


"Mommy." Ghea mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu. Ia menghampiri putra ketiganya Yang merengek sambil menggaruk-garuk tubuhnya. "Gheva kenapa, hm?"


Gheva merangkak dan merebahkan kepalanya diatas pangkuan Ghea. Tak sampai situ, bocah tujuh tahun itu juga tidur sambil memeluk kaki adiknya.


"Puk puk mommy." pintanya. Tangan Ghea akhirnya terulur untuk mengusap punggung kecil milik putranya itu. Suatu kebiasaan bagi Gheva untuk di puk-puk sebelum tidur.


__________


TBC.