
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
Waktu setengah jam yang dikatakan dokter tenyata meleset. Bahkan sampai matahari terbit Satya masih belum membuka matanya. Padahal dokter sudah memeriksanya, dan memastikan cedera Satya tidak terlalu berat, bahkan masih bisa dikategorikan cedera ringan. Namun kenapa hingga saat ini Satya belum siuman?
"Dok, ayah saya kenapa belum sadar? Ini udah kelewat dari setengah jam, kenapa dok?" Tanya Noah beruntun.
"Tunggu sebentar, kami akan menangani pasien."
Noah memberikan ruang bagi dokter dan para tim medis lainnya untuk kembali mengecek kondisi ayahnya.
"Dok, pasien menggerakkan tangannya!" Seruan salah satu perawat itu sontak membuat orang-orang yang berada didalam ruangan tersebut mengalihkan pandangannya.
"Akhh,,,, shh."
"Ayah udah sadar!?"
"Aduh pusing banget kepala ayah, No." Ringis Satya sambil memegangi kepalanya yang terasa cenat cenut. Ditambah lagi ia kesusahan untuk menggerakan kepalanya karena terasa kaku dan berat.
"Ayah istirahat dulu, Noah mau kabarin yang lain." Langkah Noah terhenti saat lengannya dicekal oleh sang ayah, "Bunda gimana, No?" Tanya Satya.
"Bunda terpaksa lahiran tadi malem yah. Alhamdulilah, semuanya selamat." Jawab Noah.
"Alhamdulilah, adek kamu cewek apa cowok?" Tanya Satya lagi.
"Kayak kita yah, cowok." Seketika wajah berseri Satya berubah kusut. Bukan karna tak suka dengan anak laki-laki, tapi itu artinya ia akan mendapat saingan lagi dirumah.
Yaelah ama anak sendiri juga, heran saya!
"Disyukuri yah, itu titipan dari Allah." Celetuk Noah bersuara.
"Pasti ganteng banget ya? Orang bibitnya kondang gini." Lirih Satya dengan membanggakan dirinya sendiri.
Noah menggelengkan kepalanya pelan, heran kenapa ayahnya bisa senarsis itu? Ah, tapi bukankah Satya memang narsis sejak hadir dimuka bumi ini? Bagi Satya sifat narsis itu sudah permanen, jadi sulit dihilangkan, kayak noda membandel.
"Ayah mau ketemu bunda sama adek mu lah. Eh, asisten Ayah gimana keadaannya? Duh pasti parah banget ya, kayaknya semalem dia yang paling parah." Seru Satya.
Disaat kondisinya lah yang lebih parah, Satya malah sempat-sempatnya memikirkan kondisi orang lain. Itu bagus, tandanya ia adalah atasan yang perhatian kepada pegawainya. Tapi alangkah baiknya memikirkan kondisi diri sendiri baru kondisi orang lain kan? Setuju nggak.
"Semuanya udah siuman semalem, yah. Ayah sendiri yang telat bangun!" Ucap Noah asal lantaran gemas dengan tingkah bapaknya.
"Weitss, kalem dong, No. Jangan emosi, jangan pake urat, ayah kan cuma nanya."
"Sekarang intinya ayah mau ketemu bunda atau bunda yang Noah ajak kesini?" Tanya Noah.
"Biar ayah aja yang nyamperin, biar surprise. Gendongin ayah dong, No. Boleh nggak? Boleh ya, pliss pliss. Badan ayah masih pegel banget lohh."
"Astagfirullah, ayahh!!!"
"Ish ish, nggak jadi deh. Takut banget lohh!" Satya segera turun dari brankar nya dibantu oleh para perawat, selanjutnya ia merangkul bahu lebar putranya dan berjalan bersama menuju ruang Teressa dan bocil nya.
Ceklek
"Halo semuanya!"
"Mas Satya!"
"Uncle Satya!"
Mereka semua langsung menghambur memeluk tubuh Satya.
"Para tuyul ku, bisa lebih tenang? Uncle masih lemes banget loh." Celetuk Satya kepada tiga keponakannya. Gathan dan Ghavi segera melepaskan diri dari tubuh pamannya, sedangkan Gheva Masih betah memeluk tubuh pamannya. Namanya juga bestie, kan.
"Kepala uncle Satya kok dikasih tali, Uncle masih sakit ya?" tanya Gheva.
"Sayang, kamu nggak papa kan? Semua aman kan? Bocil gimana, aku mau lihat."
"Adek udah lahir mas, anak kita cowok. Semuanya sehat, aku sama adek juga sehat. Kita nungguin mas dari semalem." ucap Teressa sambil mengusap matanya yang mulai berair. Rupanya Tuhan tak lagi merampas kebahagiaan. Ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa membina rumah tangga bersama keluarga kecilnya.
"Jangan sedih dong, kan semuanya selamet." Satya merengkuh tubuh istrinya guna memberi ketenangan.
"Mas nggak papa kan?" Tanya Teressa.
Satya menggelengkan kepalanya, "Sehat wal afiat gini loh. Mas mau lihat bocil, yang."
"Eh bunda?" Satya menengok kan kepalanya ke samping. Disana ada bundanya yang tengah duduk di sofa tengah menatapnya dengan berkaca-kaca.
Satya segera menurunkan tubuh Gheva dari gendongannya, kemudian menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluknya.
"Abang Ya Allah, kenapa bisa sampe kayak gini sih. Makanya kalo disuruh nginep ya nginep, makin tua jangan bandel abang! Kasian istri sama anak kamu." Satya meringis kecil saat dirinya menjadi korban jeweran dan cubitan bundanya. Tak hanya sampai situ, bunda Citra juga melampiaskan rasa kesal dan senangnya menjadi satu dengan memukul-mukul tubuh putranya.
"Udah dong bun. Kasian Abang baru siuman juga, ntar pingsan lagi nangis lo bunda." Lerai Ayah Juan yang ingin menyelamatkan putranya dari siksaan sang istri.
"Untung Allah masih sayang sama kamu, masih diberi keselamatan. Bunda nggak tau lagi musti gimana kalo kamu sampe kenapa-napa bang, Ya Allah alhamdullilah."
Satya hanya bisa pasrah saat wajahnya kini yang harus menjadi sasaran selanjutnya oleh bundanya. Wanita paruh baya itu terus menghujani kecupan pada wajah putra sulungnya itu.
"Hiii wajah Uncle ping semua!" seru Gheva bergidik ngeri.
"Bunda stop! Lihat, putra mu dibully oleh cucu mu sendiri!" Adu Satya kepada Bunda Citra.
"Nggak papa, nanti gantian Gheva yang oma cium." Seru Bunda Citra.
"Aaaaaaaaa~" Gheva langsung lari tunggang langgang dan bersembunyi di balik tubuh kekar daddy-nya.
___________
"Ganteng banget, yang. Kayak aku." Guman Satya sambil mengamati wajah mungil putranya.
"Ya mirip kamu lah, mirip siapa lagi."
"Bocil melek dong jangan tidur mulu kek orang sukses lu."
Pletak
"Astagfirullah bunda, jangan begitu ya lain kali. Kaget men!!" Satya mengusap dadanya pelan lantaran kaget karena tiba-tiba keningnya dijitak oleh Bunda Citra.
"Kamu ya udah jadi ayah juga, kalo ngomong masih suka aneh-aneh. Istighfar abang, istighfar!!" Omel Bunda Citra kepada putra sulungnya.
"Semalem nggak ada kamu damai dan tentram, sekarang ada kamu malah kayak dipasar!" sambung Bunda Citra lagi.
"Astagfirullah bundaku, bunda berdosa sekali. Bunda doain Satya sekarat? What? Bunda kejam skalee." Satya memasang tampang seolah-olah terdzolimi seperti sinetron yang ada di tv-tv.
"Astaga, kalian ini. Adeknya udah insaf sekarang bundanya yang diajak collab. Inget udah punya anak sama cucu, kalian ini ribut mulu, heran ayah!" Ayah Juan geleng-geleng kepala menyaksikan pertikaian mulut antara putra nya dan istrinya.
"Sebel bunda sama abang." ketus Bunda Citra mode merajuk.
"Abang juga kesel, capek, lelah, letih, lesu!" Seru Satya ikut-ikutan.
"ABANGGG!!!!!"
"Bundaaaaaaa~"
krucuk krucuk
Tiba-tiba terdengar bunyi cacing memanggil dari dalam perut Satya. Pria itu mengelus perutnya yang kempes karena kelaparan. "Laper karna nggak disuruh makan sama ayang."
___________
TBC.
Rekom nama?