AFTER

AFTER
Eps 87



(Satya &Teressa)


.


.


.


.


.


Allister sudah memanyunkan bibirnya ke depan beberapa centi, dan mata bulatnya itu mulai berkaca-kaca menatap sang ayah.


"Eh nganu kayaknya bebek Al masih deh, ya kan bunda masih kan. Kemaren ayah tuh lupa udah ayah pindahin ke garasi, besok ayah bikinin kandang deh." Kata Satya mengarang cerita. Jika besok bebeknya ada, berarti keberuntungan tengah memihak kepada nya. Jika makhluk wek wek itu sudah tidak ada wujudnya, bisa dipastikan mari atau hilang digondol kucing garong.


"Au ihat." (Mau lihat)


Satya dibuat gelagapan oleh Allister. Pria itu memutar otaknya agar sang putra tidak bertanya-tanya tentang bebek lagi.


"Em sekarang kan udah malem, bebeknya lagi tidur sama keluarganya. Jadi besok aja yang lihatnya, kasian bebeknya abis nguli seharian." Ucap Satya. Dan dengan polosnya Allister menganggukkan kepalanya percaya dengan bualan yang dikarang oleh ayahnya.


Satya pun menghela nafas lega, akhirnya masalah bebek sekali juga.


"Sekarang mamam sama ayah ya?" Ajak Satya.


"Yaaaa yah." (Iya ayah)


"Mas nggak bersih-bersih dulu? biar adek Tessa yang temenin dulu." Tawar Teressa yang merasa kasian kepada suaminya karena baru pulang kerja langsung mengurus bocil. Ah, Teressa merasa kurang bisa diandalkan untuk mengurus bocil ep-ep itu.


"Udah nggak papa, kita makan dulu. Lagian kan kamu juga belum makan, ayo sekalian." Ajak Satya kembali.


Saat diruang makan yang ditagih Satya pertama kali adalah rujak pesanannya tadi kepada sang istri.


"Rujak mas mana, sayang?" Tanya Satya. Pandangannya menyapu seluruh peralatan dapur yang tertata rapi diatas meja makan.


"Rujak apa mas?"


"Yang tadi siang mas pesen ,ayang. Jangan bilang belum kamu bikinin?!" Tanya Satya penuh selidik.


Dan benar saja,Teressa memang belum membuatkan rujak aneh pesanan suaminya. Teressa menatap Satya dengan rasa bersalah.


Sebenarnya tadi ia sudah ingin menyiapkan bahan-bahan untuk membuat rujak, tapi saat itu Teressa dengan membantu mertuanya untuk mengemas ikan. Jadi tanggung saja pikirnya kalo tidak diselesaikan sekalian. Namun sayangnya setelah itu Teressa malah lupa hingga membuat hingga Satya pulang.


"Maaf mas, belum Tessa buatin. Tessa lupa." Ucapnya penuh penyesalan.


"Kok bisa sampe lupa sih? Padahal mas pesennya udah tadi siang loh. Kamu emang ngapain aja dirumah?!"


Bang Sat emang suka bikin jantung nggak aman.


Tak sadar jika anda bicaranya telah meninggi, dan membuat Teressa sedikit kaget. Bukan hanya Teressa, yang lain juga ikut heran kenapa Satya bisa sampai marah-marah seperti ini. Padahal biasanya juga nggak pernah.


"Pesen makanan apa sih, sampe heboh di meja makan! Rusuh banget, heran bunda!" Celetuk Bunda Citra yang ikut kesal dengan sikap nggak jelas putranya.


"Mas Satya pesen rujak bun, tapi Tessa lupa buatin." Jelas Teressa.


""Bentar Tessa buatin dulu mas." Kata Teressa.


"Udah nggak Usah! Mas udah nggak pengen makan rujak, mas pengen makan manusia!" Omel Satya yang tanpa sadar memasukkan lengan putranya ke dalam mulutnya.


Tangan kecilnya memukul mukul lengan sang ayah dengan sekuat tenaga. Pukulan pertama ia layangkan kepada sang ayah karena berani-beraninya marah kepada bundanya. Pukulan kedua ia layangkan karena ayahnya mencoba untuk memakan tangannya. Diteruskan pukulan selanjutnya sebagai bentuk rasa kesalnya kepada sang ayah.


Cekitt


"Nggak kerasa wleek!" Satya tentu tak merasakan apa-apa dari gigitan gigi kecil Allister yang baru tumbuh satu itu.


Cekitt


Kini bukan lagi gigitan kecil yang Satya dapatkan, melainkan cubitan panas dari kuku kuku tajam baby Allister.


"Wah ngibarin bendera perang nih." guman Satya.


Terjadi adegan tatap-tatapan sebelum baby Allister tertawa lepas karena Satya menciumi lehernya tanpa ampun.


"Ya-yahh hihihi aaaaaaa,,,,"


"Yahh,, eyi."


"Aaaaaaa,,,,"



"Masih mau by one sama ayah, Hm?" Tanya Satya sambil menghentikan aksinya sejenak.


Baby Allister menggelengkan kepalanya sambil mengatur sisa tawanya.


"Mas Satya, rujaknya udah jadi." Teressa menghidangkan cobekan berisikan sambal rujak, dan sebuah piring berisikan buah pesanan Satya tadi.


"Ini pake pisang apa?" Tanya Satya sambil mengamati buah pisang dihadapannya dengan seksama.


"Pisang ambon."


Satya hanya ber "oh" ria kemudian mengambil garpu dan menusuk potongan buah itu lalu mencocolnya kedalam uleg-an sambal rujak.


"EBL! ENAK BANGET LOH!!!" Pekik Satya keenakan. Satya mencampurkan semua sambel dengan buah alpukat, buah pisang, dan serutan kelapa muda. Dan kembali memakannya dengan geleng-geleng kepala.


Orang rumah menatap Satya dengan pandangan heran. Apakah Satya masih waras?


"Sayangku, makasih ya udah di buatin. Yang tadi mas marah-marah tolong jangan dimasukin heart ya, bercanda kok hehe. Makin cinta deh." Kata Satya kepada Teressa. Teressa menganggukkan kepalanya paham, mungkin mood suaminya sedang labil.


"Bang, kamu waras nggak sih? Kayaknya makin kesini mental kamu makin down. Perlu bunda panggilin adek mu biar di cek psikis kamu?"


"Buat apa, Satya waras kok." jawab Satya dengan santai.


"Kalo waras mana ada manusia minta dibikinin rujak pake pisang, alpukat, sama kelapa muda segala? Mau mempercepat proses menuju ilahi kamu?!" Seru bunda Citra.


"Bun, plis deh. Satya lagi baperan loh ini, ntar kalo Satya masukin ati terus Satya kena mental terus- "


"Terus makan, abisin sana." Potong Bunda Citra terlebih dahulu.


"Nah gitu kan enak. Ganggu ketenangan manusia aja, heran!" Guman Satya.


_______________


TBC