
Ini, yang terlihat lagi dan selalu sama seperti itu.Ayolah pikiran ayo, aku yakin pasti bisa lebih baik daripada memikirkan hal itu.Penyesalan ini harus bisa diperbaiki bahkan ketika itu adalah sebuah dosa yang harus ditanggung.
Raut wajahku menjadi serius.Aku langsung menepuk pipi ini.Meski harus menanggung semuanya, itu lebih baik daripada menyerah pada dunia ini.
Kalau bisa,mungkin aku akan pamit dari panggung kehidupan kalian.Aku menanggung beban penghakiman itu sendiri dan takdirnya memang begitu.Tanpa kusadari, kehidupan ini takkan berhenti hanya dengan penyesalan itu.
Penyesalan terbesar adalah saat kau mencoba untuk memperbaikinya.Kebingungan yang terlihat karena takut untuk memulai, terkadang bisa menjadi sesuatu yang sangat menghibur.Mungkin, itu yang aku alami saat ini.
"Kau sudah mau pergi?"
William yang tiba-tiba datang ke arahku sambil melihat apa yang kubawa.Bisa jadi dia memiliki niat tersembunyi untuk melakukan sesuatu padaku.Aku hanya tersenyum sambil fokus pada pekerjaanku.
"Begitulah, aku sudah menaruh surat diatas meja.Kau memang biasanya bangun sepagi ini?" tanyaku yang masih mengecek barang-barang.
"Kau,tidak akan berpamitan dengannya?" William yang menaikkan alisnya.
"Rasanya aku yang masuk ke masalah kalian secara tiba-tiba tak perlu berpamitan seperti itu.Karena aku sendiri hanya mengganggu hubungan kalian."
Aku berjalan menuntun Orias.Bersiap-siap untuk menaikinya dan berjalan menuju daerah berikutnya. Berikutnya adalah Kota Blossom.
"Tunggu!" teriak seseorang, dan sudah pasti itu William.
"Apa ada masalah?"
"Tidak, ini untukmu."
Orang ini,dia memberikan sebuah koper yang entah apa isinya. Mungkin hanya baju atau apapun itu padahal harusnya aku yang berterimakasih.Setelah membuka koper itu aku terdiam, ternyata isinya adalah sebuah syal yang anehnya malah dia masukkan ke dalam koper.
"Ini ... padahal aku harusnya yang berterimakasih," lirihku yang menunduk.
"Kau ini senang sekali merendahkan diri, ingat kalau bukan karena dirimu yang menjengkelkan itu mungkin aku ragu bahkan meninggalkan anak itu sekarang."
"Tapi, kau yang memutuskan hal itu.Kenyataannya aku hanya masuk untuk memperkeruh suasana hingga hubungan kalian menjadi sedikit renggang," tuturku yang menjelaskan.
"Kau, membantuku untuk bisa memilih keputusan itu."
"Seandainya aku membantu tapi kau tetap memilih keputusan lain, pasti tak akan begini kan? Jadi lebih baik simpan pujian mu untuk dirimu."
Dia mungkin sedikit kesal karena pendapatku namun itulah kenyataannya.Sekarang tinggal berjalan saja sambil melambaikan tangan padanya.Tak lupa aku mengucapkan terimakasih.
Katanya butuh waktu tiga hari untuk sampai ke sana. Nampaknya daun-daun pun mulai berguguran sehingga pemberian pria itu cukup pas. Selain itu, untung saja hanya ada beberapa hujan ringan jadi tidak terlalu mengganggu.
Ya, akhirnya aku sampai di sini. Kota bernama Blossom ini terkenal karena apa yang mereka sebut sebagai cokelat, cemilan yang enak sekali kalau dibuat menjadi kue. Sekarang perut ini malah ingin mencoba makanan itu.
Ternyata, kota ini lebih baik dari yang kukira.Bahkan, aku sempat membeli cokelat di sebuah toko dan rasanya sangat enak.Mungkin kalau aku campurkan dengan susu pasti segar.
Ya akhirnya aku menemukan penginapan di sini. Biayanya seratus krill permalam, huh gaji seorang pegawai saja hanya tujuh ratus krill, bisa-bisa uangku malah habis. Tapi tak apa mungkin aku akan menghabiskan waktu di sini.
Ya, aku jadi ingin mencoba resep kue yang mungkin saja akan aku jadikan rekomendasi nanti untuk mereka.Selain itu, penginapan ini cukup besar rupanya.Untung saja ternyata ada tempat untuk kudaku di belakamg penginapan ini syukurlah.
Setelah mengganti dengan kemeja hijau serta memakai syal sini aku ingin berjalan keluar. Sekalian saja aku membawa cermin kecil untuk diperjalanan, mungkin untuk berjaga-jaga saja agar lebih aman.Berjalan menyusuri lorong kamar ini dan turun ke lantai bawah, saat itu aku melihat seorang wanita dengan pakaian yang bagus berdebat dengan seorang pria berjas hitam.
Kesan pertama, bingung. Itulah yang terjadi karena dua orang itu sedang meributkan sesuatu.Wanita itu berjalan sementara aku yang di pinggir tanpa tahu apa-apa tak sengaja menabrak badannya. Tidak, bukan aku yang menbarak tapi dia.
"Hey kau wanita kotor, minggir!" bentaknya yang terdengar jelas di telingaku ini.
Aku hanya mengeluarkan kaca itu, membuatnya kaget dengan noda kopi yang ada di roknya, "Jadi, apa kau wanita yang bersih?" tanyaku yang membuatnya semakin kesal lalu pergi dari hadapanku.
Entahlah, aku tak terlalu mempermasalahkan hal itu untuk saat ini.Mungkin dia sedang dalam emosi yang buruk.Perjalananku terbayar, untaian daun yang berguguran itu sangat indah bahkan kue cokelat yang ku beli di pasar pun menambah kesan yang indah.
Mungkin jarang yang meliht orang pada musim gugur hanya memakai syal. Kenyataannya ini tidak terlalu dingin makanya aku masih bisa hangat hanya dengan syal.Hari pertama di sini, menyenangkan