
"Permisi, bisa saya pinjam Williamnya sebentar?" tanyaku pada mereka.
William saat itu hanya mendengus kesal. Benar-benar, ku kira dia bekerja keras ternyata malah berjudi untuk memenuhi kebutuhan anak. Padahal anak itu punya potensi tapi kesempatan itu ditutup rapat-rapat olehnya.
Pada akhirnya dia mengalah dan mengikutiku. Kami ada di sebuah kursi dan duduk bersebelahan. Dia kesal, itu yang terlihat di mataku.
Kami hanya saling duduk dalam diam. Memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya, melihat ekspresinya pasti dia akan marah. Meski begitu, judi adalah hal yang salah menurutku.
Jadinya aku seperti memaksakan pendapatku ya. Seperti perang, memperebutkan pendapat mereka masing-masing. Pada akhirnya yang tersisa hanyalah rasa menyesal dan dendam.
"Maaf ...."
Itulah yang kudengar dari pria berambut coklat itu. Aku membulatkan mataku karena kaget. Ternyata begitu ya, aku menatapnya lalu tersenyum tipis pada orang itu.
"Kau ... tidak marah padaku?" tanyanya yang keheranan.
"Bohong kalau aku tidak kesal padamu tetapi, lebih daripada itu kau mungkin ingin menyampaikan sesuatu. Menurutku masalahmu lebih penting daripada amarahku."
"Kau kelihatan bermuka dua," ucapnya memalingkan wajah.
"Mungkin kelihatannya begitu namun, aku pun tidak suka menyelesaikan sesuatu dengan amarah. Bukankah berbicara baik-baik pun bisa? Meski tak semua bisa diselesaikan tetapi berpikir kritis dengan kepala dingin itu lebih baik," tuturku menjelaskan sambil berdiri."Kalau memang ada yang ingin kau luapkan, keluarkanlah jangan menanggung semuanya sendiri."
"Kau tahu apa? Lagipula semua yang kulakukan demi dirinya," balasnya datar.
Dia sendiri hanya terdiam, kesal mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan raut wajahnya. Tak kusangka dia lebih sensitif dari yang ku duga. Mungkin memang terkesan kasar kalau aku masuk dalam hubungan mereka dengan berpikir bahwa memang itulah yang seharusnya dilakukan.
Entah apa yang ada dpikirannya. Aku kembali duduk di sebelahnya. Sementara ia mengambil nafas panjang, pada akhirnya keheningan datang diantara kami berdua.
"Kau tahu, dia itu benar-benar membuatku terus berpikir bahwa aku harus membantu orang.Rasa sayang yang selalu kuberikan ini selalu dibalas senyuman olehnya.Jujur aku sangat meyayanginya sebagai adik kecilku namun, pada akhirnya dia menjadi beban yang terus menumpuk dalam kehidupanku.Entah berapa banyak usaha yang kulakukan tetap saja begitu," tuturnya memperjelas setiap kata dan makna dari ucapannya.
Begitu ya, 'beban' itu lah yang membuat mataku membulat. BEBAN BEBAN BEBAN! Itulah yang terdengar dalam telingaku. Aku menunduk, semua memori yang telah ku pendam kini berbalik lagi seperti sebuah meriam.
Uh ... aku benar-benar memikirkan semua itu sekarang. Masa lalu itu, penyebab kejadian itu adalah aku. BEBAN BEBAN BEBAN! Itulah yang berputar dikepalaku saat aku mengingat kembali hal itu.
Aku menggenggam dadaku. Mengapa semuanya berputar lagi dalam pikiranku? Aku ingin berubah, itu yang selalu ku ingat. Mendengar hal itu seperti sebuah bumerang yang berputar, memangnya jika dia tak menyembunyikan semuanya apakah anak itu takkan bisa menjadi korban? Namun, pada akhirnya memang seperti itu dan harus dilewati dengan dirinya yang seperti itu.
"Menurutmu begitu ya, kalau kau mengajarkan sesuatu dan tidak menyembunyikan rahasianya apa kau akan mengubah sudut pandangmu?" tanyaku yang menatap langit malam.
"Mungkin saja aku pun sebenarnya hanya takut kalau dia meninggalkanku tapi aku malah tidak tulus padanya. Bisa-bisanya aku yang manusia sampah ini berharap seperti itu ya ...."
Itulah yang terlihat dia hanya memijat kepalanya itu. Benar-benar ya dia ini orang yang unik.
"Tak perlu begitu, kau sudah banyak melakukan hal baik untuknya. Sekarang, yang kau perlukan hanyalah waktu untuk mengubah pandanganmu," pujiku sambil mengusap punggungnya.
Akhirnya kami berpisah, aku malah kaget karena dia tak melawan sama sekali. Biasanya para lelaki malah marah ketika mereka ketahuan begitu dan menyalahkan perempuan karena terlalu ikut campur. Padahal itu juga demi kebaikan mereka sendiri.