
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
Hari terus berganti, dan pertumbuhan bayi tampan itu begitu pesat. Kini sudah terhitung sembilan bulan lebih usianya. Semakin hari semakin banyak tingkahnya yang membuat kesabaran Satya diuji.
Dugaannya tenyata salah. Ia mengira jika bocil kesayangannya itu akan memiliki sifat turunan dari bundanya, yang kalem dan tidak banyak tingkah.
Tapi kenyataannya Allister kelewat aktif daripada pada anak seusianya. Contoh saja seperti pagi ini, pagi-pagi buta Satya dibangunkan oleh Allister dengan secara tidak ramah.
"Ya,,, yahh,,,"
Plak plak plak
Satya terpaksa harus menjaga Allister sendiri karena sang istri sudah turun ke bawah untuk membuat sarapan. Pria itu masih memejamkan matanya dengan tubuh Allister yang berada diatas dadanya.
"Yahh,,,, Yahhh,,,"
Baby Allister semakin kuat memukul wajah tampan ayahnya menggunakan kedua tangan mungilnya itu.
"Al diem bentar ya sayang, ayah masih ngantuk ini." Guman Satya sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil putranya. Bukannya berhenti, baby Allister malah memberontak dan menggigit tubuh ayahnya menggunakan gigi kecilnya yang baru tumbuh satu.
"Aduhh,,,"
Satya meringis kecil saat merasakan ada yang menggigit kecil dada bidang nya. Ia menunduk dan melihat apa yang terjadi, rupanya Allister tengah menatapnya sambil menggertakan giginya.
"Buka mulutnya, aaaa,,," Suruh Satya pada baby Allister.
Rasanya tak percaya jika sang putra sudah tumbuh giginya. Kemaren-kemaren masih belum terasa saat Allister menggigitnya, namun sekarang sepertinya ada perubahan.
Ingat, pertumbuhan masing-masing anak berbeda. Jadi jangan bandingkan dengan yang lain.
"Ayo aaaaa,,,,,"
Dengan sedikit paksaan, Satya membuka mulut baby Allister lebar-lebar sehingga menampakkan sebuah gigi kecil yang telah tumbuh dibagian atas.
"Ihhhh udah tumbuh satu, kamu nggak ompong lagi!!!" Pekik Satya dengan heboh. Setiap ada perkembangan fisik dari baby Allister, pasti Satya yang paling antusias.
...Pap dulu ke ayang~...
"Makin ganteng deh kalo giginya udah tumbuh gini. Anak siapa sih ini." Satya terus menghujani wajah mungil baby Allister dengan kecupan manis bertubi-tubi.
"Nanti ayah traktir makan ayam goreng deh sebagai perayaan tumbuh giginya." Celetuk Satya lagi.
Baby Allister malah menempelkan bibir mungilnya pada bibir sang ayah. Niat nya adalah untuk menggigit bibir ayahnya yang sedari tadi mengoceh tanpa henti itu, namun kenyataan yang dirasakan Satya adalah hisapan-hisapan kecil seperti sedang bercumbu dengan istrinya.
Astagfirullah. Keep halal broder.
"Jangan begitu ya lain kali, berdosa men!" Seru Satya sambil menjauhkan bibir Allister dari bibirnya.
"Wake up, wake up. Waktunya gosok gigi, terus mandi." Seru Satya kemudian bangkit dari tempatnya merebahkan tubuh tadi.
Sejak usia baby Allister lima bulan, Teressa memang memperbolehkan Satya untuk ikut andil dalam mengurus sang putra, seperti menemani makan, memandikannya, atau bahkan hingga mengganti popok. Dan Satya bisa melakukan semua itu dengan mudah.
Ya, awalnya Teressa mengira jika suaminya akan jijik apa saat pertama kali mengganti popok atau pempers baby Allister. Namun kenyataannya Satya terlihat biasa saja, ia benar-benar menjelma menjadi sosok hot daddy. Maka tak heran jika baby Allister sangat dekat dengan sosok ayahnya itu.
"Bos mau jalan sendiri apa ayah gendong, hm?" Tanya Satya putranya. Karena baby Allister terus memberontak ingin dilepaskan, akhirnya Satya menurunkan putranya ke lantai. Membiarkan batita itu bergerak kesana kemari sesuai kemampuannya.
Satya berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mandi, dan tuyul kecilnya tenyata menyusul sambil merangkak menuju kamar mandi.
"Bangun pagi bangun pagi
Basuh muka, gosok gigi
gosok gigi , gosok gigi
lepas itu terus mandi
gosok gigi , gosok gigi
satu hari tiga kali
petang malam serta pagi
putih gigi dan berseri
bulat bulat bulat
bulat bulat bulat
bulat bulat oh oh
bulat bulat."
Satya membersihkan giginya sambil bersenandung salah satu lagu dari kartun anak-anak si botak kembar. "Al gosok gigi nggak kamu?" Tanya Satya setelah berkumur dengan air.
Baby Allister hanya diam memperhatikan kegiatan ayahnya sambil memainkan boneka karet bentuk bebek itu berwarna kuning itu.
"Wekk wekk wekk."
Karena pertanyaanya diacuhkan oleh sang putra, Satya memilih melanjutkan kegiatannya mencukur bulu halus yang tumbuh disekitar rahangnya. Istrinya berkata jika brewok nya itu menganggu saat mereka sedang melakukan silahturahmi bibir.
...Bang Sat emang suka mancing orangnya🙏...
"Mas Satya."
"Dikamar mandi sayang!" Seru Satya.
Teressa yang mendengar suara suaminya tersebut, langsung menghampiri mereka ke kamar mandi.
"Astaghfirullah, mas!"
"Kenapa???" Satya menengok ke belakang menatap wajah istrinya.
"Anak mu diliat itu, astaga!" Tunjuk Teressa pada baby Allister yang tengah sibuk mengobrak abrik kemari penyimpanan pempers nya.
"Eh! Astagfirullah, tadi nggak gitu loh yang. Tadi disini anteng main boneka bebek sama aku, suer." Seru Satya.
"Ish mas mah, kan udah Tessa beresin. Liat diberantakin adek lagi, pokoknya setelah Tessa mandiin adek itu semuanya harus beres seperti semula!" Seru Teressa.
"Kok gitu? Enggak, nggak bisa. Bocil kayak biasa mandi bareng mas. Jadi minta tolong diberesin yaaaa cintaku."
Cup
Satya segera mengangkat tubuh mungil putranya dan membawanya pergi ke kamar mandi.
"Hufftt,,,,"
Teressa menghela nafas melihat kelakuan suaminya yang selalu menang sendiri jika menyangkut buah hati mereka. Tak apa, Teressa juga senang melihat kedekatan ayah dan anak tersebut.
Kini Teressa beralih mengerjakan hal lain, yaitu membereskan kondisi kamar yang terlihat seperti kandang babi, dan menyiapkan pakaian untuk suami dan anaknya.
Tak butuh lama bagi Satya untuk membersihkan diri. Setengah jam berlalu, dan kini dirinya dan sang anak sudah ready.
Ceklek
Kedua pria beda generasi itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pada masing-masing. Bahkan baby Allister juga hanya dipakaikan handuk kecil hingga batas pinggang saja.
"Aneh-aneh apa sih sayang."
"Itu handuknya kenapa nggak dipakein ke seluruh tubuh, kedinginan ntar." Seru Teressa kembali.
"Junior kita lebih penting dari pada aurora yang lainnya, sayang." Guman Satya.
"Sini biar aku pakein baju." Teressa segera mengambil tubuh menggigil putranya dari Satya.
Baby Allister sudah dilatih menjadi LAKIK sejak dini. Jika mandi bersama Satya, pasti akan menggunakan air dingin. Begitulah, Satya memang sedikit kejam ternyata.
"Ndaa,,, ndaa,,,"
Baby Allister nampak menduselkan kepalanya pada lipatan leher bundanya yang terbalut oleh jilbab. Sama seperti Satya, bayi itu juga sangat manja kepada Teressa, sang bunda.
"Iya sayang, adek kedinginan ya." Teressa membungkus seluruh tubuh baby Allister menggunakan handuk kemudian segera membawanya menuju ruang ganti.
"Sayang, mas gimana???!!" Seru Satya karena ditinggalkan oleh istri dan anaknya sendirian.
"Bajunya udah aku siapin, pake sendiri nggak usah manja!"
BLAMM!
Satya menghela nafas, pupus sudah rencananya untuk mengambil kesempatan kepada istri tercinta pagi ini.
"Bocil aja dilayanin sepenuh hati! Cih, suaminya sendiri masa diduakan!" Gerutu Satya. Pria itu lantas mengambil potongan pakaian yang telah disiapkan oleh istrinya tadi. Bahkan dengan santainya Satya mengganti pakaian disana, tidak didalam kamar mandi.
Karena Satya memakai baju dengan ogah-ogahan, akhirnya kegiatan itu berjalan begitu lambat. Bahkan sampai istri dan anaknya keluar dari ruang ganti Satya baru memasukkan salah satu kakinya ke dalam lubang ****** ********.
"Astaghfirullah mas!"
Dengan tampang polos Satya menolehkan kepalanya menghadap sang istri, "Kenapa lagi, yang?"
Walau sudah sering melihat tubuh bugil sang suami, Teressa masih saja merasa tersipu malu akan hal seperti itu. Biasanya wajah wanita itu akan memerah seperti tomat yang sudah matang, saat tengah tersipu malu.
"Kenapa nggak ganti di kamar mandi sih!" Gerutu Teressa sambil menutupi kegugupannya. Wanita itu berniat menghindar dari jangkauan suaminya. Namun apalah daya, Satya segera memakai cd nya dan meraih tubuh Teressa untuk dipeluk.
"Hehe, terpukau ya?" Tanya Satya menggoda istrinya sambil menaik turunkan alis nya.
"Mas, ada adek jangan gitu!" Seru Teressa.
"Nggak papa, bocil kan juga cowok. Lagian juga udah sering liat punya, mas. Ya nggak Cil. Muachhh." Satya mencuri satu kecupan pada pipi bulat putranya. Sedangkan baby Allister hanya diam dengan mulut sedikit terbuka sambil mengamati obrolan orang tuanya yang tidak ia pahami.
"Buruan pake bajunya!" Seru Teressa yang langsung mendorong tubuh kekar Satya akan menjauh darinya.
"Siap ibu negara!"
________________
"Kalian jadi ke rumah Marvin?" Tanya Bunda Citra kepada putra dan mantunya.
"Jadi, mau nganterin bocil PDKT sama Aurora." Celetuk Satya menjawab dengan asal.
Aurora adalah putri pertama Marvin dan Maura.
"Enggak bun, mau silahturahmi aja kok. Mas Satya suka aneh-aneh emang kalo ngomong!" Ucap Teressa sambil mendelikkan matanya dengan tajam kepada sang suami.
"Nggak kaget sih bunda." Cibir Bunda Citra menatap malas wajah putranya.
"Kalo keluar hati-hati, apalagi bawa anak kecil. Keselamatan itu penting." Ucap Ayah Juan menambahkan.
Mereka memang suka saling mengingatkan apabila ada yang hendak bepergian ke luar. Satya juga sekarang makin pintar memilih suatu hal, terlebih untuk keselamatan keluarga kecil nya.
"Aman yah." balas Satya.
Setelah sarapan, pagi itu Satya berangkat menuju rumah Marvin. Niat awalnya memang silahturahmi, tapi kita nggak ada yang tau kalo Satya mau riya anak kan?
"Mas-?"
"Iya?"
Satya membawa tubuh Allister yang ada didalam gendongannya mendekat pada sang istri.
"Mas, kamu kok ngeselin banget sih?" Seru Teressa dengan perasaan dongkol yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Sayang, ini namanya mematuhi protokol kesehatan tau. Keren kan? Lagian Al juga senang, ya kan cil." Seru Satya. Pria itu tak segan-segan mengambil foto dan berpose ria didepan kamera ponselnya bersama sang putra. Dan Allister hanya pasrah-pasrah saja saat diatur ayahnya.
"Nyesel Tessa deketin mas sama adek!" Seru Teressa yang langsung mengambil alih tubuh baby Allister, dan langsung menghempas masker sialan itu dari wajah tampan putranya.
Wanita itu segera turun dari mobil bersama sang putra, meninggalkan suaminya yang masih terdiam seperti orang bingung didalam mobil.
"Sayang, maafin mas. Mas khilaf, korban gabut, yang." Seru Satya saat berusaha menyamai langkah kaki istrinya.
"Nggak! Mulai sekarang mas nggak boleh main sama adek lagi. Mulai sekarang cuma Tessa yang boleh nyentuh adek!" Ketus Teressa.
Satya mendelik tak terima. Baginya Allister adalah segalanya. Ya kali sama anak sendiri nggak boleh nyentuh? Mungkin Satya akan menjadi sad boy jika hal itu benar-benar terjadi.
"Da-daaa,,, yahh,,,"
"Sayang udah dong jangan ngambek, mas cuma bercanda kok, suer. Sini biar mas aja yang gendong bocil." Bujuk Satya kepada sang istri. Namun lagi-lagi Teressa tak menghiraukannya, wanita itu memilih mendiami sang suami dan terus melangkahkan kakinya menuju bangunan megah didepannya yang diduga adalah milik Marvin.
Bukan Satya namanya kalo kehabisan ide. Pria itu mencekal salah satu lengan Teressa, kemudian langsung menutup kedua bola mata suci putranya. Yang ia lakukan adalah melumatt bibir pink alami yang dimiliki istrinya. Cukup lama mereka melakukan silahturahmi bibir, untung saja baby Allister bisa diajak kerja sama.
Kegiatan itu terhenti saat sebuah suara menyeru mereka, "Bestie kalo mau adu mekanik ke hotel aja ya, jangan disini!"
Reflek Teressa mendorong tubuh kekar Satya dan membenahi jilbab yang ia kenakan. Sedangkan Satya langsung melayangkan tatapan tajam ke arah balkon rumah itu. Disana ada Marvin yang tengah menikmati secangkir kopi bersama istri dan anaknya.
"Mas ish!"
"Morning kiss, sayang." kilah Satya yang tak ingin disalahkan. Padahal memang salah!
Rasanya Teressa sudah tak memiliki wajah didepan sahabat dari suaminya itu. Dirinya benar-benar malu. Berbeda dengan Satya yang nampak santai dan tenang-tenang saja setelah kepergok oleh Marvin tadi.
"Makanya jangan marah-marah mulu, kamu lagi dapet ya?" Teressa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Oh iya lupa, tadi fajar aja mas dapet jatah ya." Celetuk Satya kembali.
Teressa kembali menghela nafas, "Mas." Ucapnya memohon.
"Iya-iya nggak lagi. Yuk masuk." Satya merengkuh pinggang ramping istrinya menuju pintu utama kediaman Marvin.
Didalam sana sudah ada Marvin dan Maura yang tengah menunggu kehadiran tamu yang di undang itu. Terkahir kali mereka berjumpa saat Satya memberi kabar kelahiran Allister. Setelah itu mereka belum bertemu lagi, sampai akhirnya kali ini mereka meluangkan sama-sama waktu untuk bertemu dan saling bertukar cerita.
"How are you, brother." Marvin menjabat tangan Satya kemudian disusul pelukan antar LAKIK.
"Baik baik, lo sendiri."
"Seperti yang anda lihat, saya baik dong." Balas Marvin.
"Kak Satya sama Kak Tessa silahkan duduk. Maura bikinin minum dulu." Mamah muda itu nampak begitu senang melayani tamu nya.
"Kalo ada cappucino ya, hehe." Sempat-sempatnya Satya me-request menu minuman kopi kepada istri sahabatnya itu.
"Seadanya aja ya, Maura. Air putih juga nggak papa, lebih sehat." Kata Teressa dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Cappucino juga ada kok, kak. Bentar Ya Maura buatin. Kak, titip Aura dulu." Maura memberikan tubuh putrinya kepada sang suami. Dan dengan senang hati Marvin menerimanya. Kedua wanita itu telah merubah segalanya yang ada dalam dirinya.
"Anak kalian udah gede aja, nggak ada niatan nambah satu biji lagi emang?" Tanya Marvin membuka obrolan.
"Baru sembilan bulan kali. Kesundulan ama adeknya ntar. Nyusu aja masih suka rebutan ama gue!" Seru Satya.
Mbak Teressa sabar ya:)
_______________
TBC.
Lagi nggak terima hate koment🙏