AFTER

AFTER
Eps 62



(Satya & Teressa)


.


.


.


.


.


Usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke tiga, dimana di fase-fase itulah sang bumil sering merengek ini dan itu.


Sama hal nya seperti kali ini, Teressa tak ingin lepas dari sang suami dan kalian pasti tau Satya akan keenakan tentunya.


Orang dikasih kesempatan dalam kelonggaran ama Mbak Teressa.


"Mas jadi camping nggak?" tanya Teressa pada Satya. Ibu hamil itu saat ini tengah menyiapkan sarapan pagi bersama mertuanya di meja makan.


"Camping dibelakang aja yuk?" ajak Satya.


Tiba-tiba saja aura wajah Teressa menjadi mendung, bukan belakang rumah yang ia mau tapi di tepi sebuah danau yang menenangkan.


Sebenernya bukan camping yang pake kemah gitu, tapi ya sekedar kumpul-kumpul gelar tikar gitu doang. Terserah kalian mau nyebut apa.


"Iya-iya kita keluar, emang mau kemana sih?" Satya yang tak ingin membuat istrinya sedih akhirnya menuruti semua keinginan bumil itu.


"Kan kemaren udah Tessa kasih tau." beo Teressa.


"Okedeh." jawab Satya.


"Nanti jangan lupa ajakin Triple G ya mas?" seru Teressa.


"Iya sayang kuu."


Kehamilan Teressa ini tak banyak menuntun tentang makanan yang aneh-aneh, malahan bumil itu sering merengek pada suaminya untuk diajak jalan-jalan ke tempat yang indah, seperti sebuah desa yang asri, danau, taman, atau bahkan pantai, Teressa sangat menyukai tempat-tempat seperti itu.


Sorenya~


"Ih jorok banget main sama kecebong!!"


"Biarin, Gepa mau melihara kecebong banyak-banyak biar jadi kodok kayak kakak!"


"Hei!!"


Sepasang saudara kembar itu terus meledek satu sama lain hingga membuat sedikit kericuhan di tempat itu.


"Kalian duduk yang anteng, jangan bikin aunty Tessa pusing!" ucap Gathan menegur kedua adiknya itu.


Sambil sikut sikutan Ghavi dan Gheva datang menghampiri kakaknya yang duduk diatas tikar sambil menemani auntynya mengupas buah-buahan.


"Gepa mau mangga!" belum sempat mencomot potongan buah mangga itu, tangannya terlebih dahulu di geplak oleh kakaknya, Ghavi.


"Ish sakit!!!" pekik Gheva.


"Cuci tangan dulu, tanganmu itu masih banyak kuman dari tai kecebong-kecebong tadi!" seru Ghavi memerintah adiknya.


Dengan mulut komat kamit menggerutu kesal, Gheva menuang air kedalam wadah dan kemudian menggunakannya untuk cuci tangan. Setelah mencuci tangan bukannya di lap menggunakan kain atau tisu, Gheva malah mengibaskan tangannya yang basah kearah wajah Ghavi.


"Hei adik durhaka!!" teriak Ghavi murka.


Jahil kan ni tuyul.


Gathan langsung menahan lengan Ghavi saat anak itu ingin memukul Gheva dengan tangannya.


Gathan berkata, "Jangan main tangan sama adiknya."


"Tapi dia yang mulai dulu kak!" seru Ghavi tak terima.


"Kamu kan udah tau tingkah Gheva, udah jangan diledenin ntar kalo capek juga diem sendiri." Lagi-lagi Gathan terus memberikan pengertian pada adiknya agar tidak berkelahi dengan saudara sendiri.


"Ih kakak pengertian banget sih, Gepa makin sayang deh sama Kakak." seru Gheva memuji Gathan dengan suara mendayu-dayu. Dan setelah itu ia langsung merebahkan kepalanya diatas paha sang kakak.


Benar kata Gathan, saat lelah mengoceh Gheva akan diam dengan sendirinya.


Ngadi-ngadi emang ni bocil.


"Jijik tau!" ketus Ghavi.


Teressa hanya diam menampilkan senyum manisnya, ia juga berharap kelak memiliki banyak anak dan membuat hari-hari nya berwarna seperti ini.


Anak-anak Bu Ghea sebenernya saling menyayangi, tapi ya gitu ada bumbu-bumbu kericuhan nya juga disana.


Tak lama kemudian, sosok calon ayah alias Bapak Satya dan Noah kembali sambil membawa beberapa makanan ringan yang ia beli di sekitar sana.


"Makanan datang." seru Satya sambil memperlihatkan beberapa kantung makanan yang ia bawa kepada para kurcil Bu Ghea.


"Wow cilok Gepa mana cilok nya." Belum apa-apa kembaran Ghavi itu langsung menagih cilok nya pada sang paman.


"Calm down boys, pesenan kalian bakal dibagikan secara menyeluruh." seru Noah.


Memang cilok selalu di hati.


"Punya Tessa mana?" ucap bumil itu menagih.


"Bentar punya kamu mas emutin dulu, ini sambelnya pedes soalnya." jawab Satya.


"Mas ih!" decak Teressa.


"Uncle jorok!" Ghavi.


"Huekk." Gheva.


"Kalian kenapa sih, sensi amat sama uncle." tanya Satya dengan tampang geblek nya.


Sabar.


__________


"Sayang." panggil Satya pada istrinya. Ia mengintip dibalik pintu kamar putranya, didalam sana ada istrinya yang nampak telaten mengganti kompres Noah.


Ya, jagoan mereka tengah sakit demam. Mungkin karna faktor cuaca dan kelelahan membuat Noah mudah diserang penyakit.


"Mas?" Teressa menoleh kearah pintu.


"Masih lamaaa?" tanya Satya sedikit merengek, namun ia mengecilkan suaranya agar Noah tidak terbangun.


Dengan langkah hati-hati Teressa menghampiri suaminya kemudian berkata, "Mas tunggu sebentar ya, Tessa beresin dulu. Atau kalo mas udah ngantuk, mas bobok dulu aja nanti Tessa susul."


"Lama kamu mah, sini mas aja yang beresin." Awalnya Satya maen nyelonong gitu aja, namun dengan cepat Teressa mencegahnya. Segala sesuatu yang dikerjakan Satya pasti akan grusak grusuk.


"Biar Tessa aja, mas tunggu dikamar!" seru Teressa.


Tak ada pilihan lagi, dari pada nggak bisa kelon sama Mbak Teressa mending Satya nurut aja. Dengan langkah lesu ia kembali keluar kamar Noah menuju kamarnya sendiri.


Setengah jam berlalu namun Teressa belum juga kembali ke kamar, dan hal itu membuat Satya kesal.


"Ih mau tidur aja kebanyakan drama Ya Allah." gerutu Satya. Ia kembali melangkahkan kakinya keluar menuju kamar Noah.


"Sayang kamu ngapain-


"Shutt." Teressa langsung mengkode Satya agar tidak berisik.


Rupanya Teressa tengah menemani Noah tidur.


Saat akan ditinggal tadi, Ia mendengar Noah merengek kecil dengan suara pelan.


Sejak kecil Noah memiliki suatu kebiasaan, dimana saat ia tengah tak enak badan atau sakit ia ingin selalu didekat bundanya, seperti saat ini.


"Noah kenapa?" tanya Satya dengan suara pelan.


"Nggak mau ditinggal, mas." jawab Teressa.


"Terus?" Satya menghampiri istrinya dengan langkah terseok-seok karna menahan rasa kantuk yang menyerang. Mata nya mulai memerah, dan mulutnya terus menguap.


"Mas ngantuk?" tanya Teressa.


"Yes baby, i'm sleepy." guman Satya. Tubuhnya kini sudah ambruk diatas kasur Noah, tepat disamping tempat Teressa duduk.


Ya Teressa ada ditengah-tengah mereka.


"Mas mau cuddle sayang."


Teressa membiarkan Satya memeluk sebagian tubuhnya, dengan sebelah tangannya mulai mengusak pelan kepala Satya hingga bayi besar itu mulai terlelap.


Disisi lain Noah masih betah memeluk lengan bunda nya, posisi seperti ini membuat Teressa tak bebas berkutik.


Entah sampai kapan akan seperti ini, dan tanpa sadar Teressa malah terlelap dengan posisi duduk bersandar pada kepala ranjang.


Saat tengah malam tiba-tiba Noah terbangun, dengan susah payah ia membuka matanya lebar-lebar untuk menyesuaikan pijaran lampu didalam kamarnya itu.


Saat menengok ke samping betapa terkejutnya ia melihat bunda dan ayahnya tidur bersamanya diatas kasur miliknya. Ditambah lagi kedua orang tuanya itu terlelap sambil berpelukan!


Aish, apa-apaan ini?


Tiba-tiba muncul lah semburat warna merah menghisasi wajah tampan Noah.


Anak itu malu melihat tingkah kedua orang tuanya! Astaga.


Buru-buru Noah menggelengkan kepalanya, jangan sampai pikiran-pikiran setan menghantui otaknya.


Karna tak ingin menerima rasa malu terlebih lama, Noah turun dari kasurnya dan masuk ke kamar mandi.


Wudhu.


__________


Jangan begitu ya lain kali, waterpark men!