AFTER

AFTER
Eps 86



(Satya & Teressa)


.


.


.


.


.


Malam harinya Satya pulang ke rumah dengan keadaan happy kiyowoh. Kedua tangannya menenteng masing-masing kresek berisikan makanan yang ia beli di perjalanan pulang tadi.


"Assalamualaikum keluarga tercinta ku!!!"


Kepulangan Satya hanya disambut oleh sang istri saja. Yang lain sudah stand by dimeja makan karena memang waktu sudah menunjukkan jam makan malam. Dan tumben sekali Satya pulang telat, padahal biasanya Satya pulang sore atau bahkan pulang lebih awal.


"Mas kok tumben telat, kerjaan numpuk ya?" Tanya Teressa sembari mengambil alih barang-barang yang Satya bawa.


"Mas sebenernya udah pulang dari tadi, tapi pas mau pulang kelamaan nyari kelapa bakar. Ya jadi pulang agak telat deh." Jawab Satya menjelaskan.


Teressa menangguk paham, kemudian mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah. Saat sampai dirumah tengah, Satya tak menemukan anggota keluarganya yang lain. Sehingga membuat pria itu bertanya-tanya kepada istrinya, "Pada kemana semuanya? Bocil juga, kok rumah mewah dan megah ini terlihat sepi."


"Yang lain udah ngumpul di meja makan, tapi kalo adek masih dikamar. Mas sih pulangnya telat, mas janjiin adek apa sampe anaknya ngambek."


Satya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia lupa menjanjikan hal apa kepada bocil-nya itu. "Lupa aku mah, mas cek dulu aja deh."


Saat melewati ruang makan hanya Teressa yang mampir, wanita itu menyajikan makanan yang suaminya bawa tadi. Sedangkan Satya langsung bablas menuju kamarnya untuk menemui baby Allister.


"Abang kok Buru-buru kenapa, nak?" Tanya Bunda Citra.


"Mau nemuin adek dulu katanya, bund." Jawab Teressa.


"Al masih belum mau diajak keluar ya?" Tanya Bunda Citra lagi.


Teressa menganggukkan kepalanya, "Iya bund, nungguin ayahnya nggak pulang-pulang."


"Bunda, sama ayah makan malem duluan aja ya. Kayaknya Tessa sama mas Satya agak telat dikit, si adek lagi rewel soalnya." Jelas Teressa.


"Oh iya-iya, bilang sama suami mu anaknya jangan dijahilin mulu." Pesan Bunda Citra. Wanita paruh baya itu tau betul kelakuan putranya terhadap cucu mungilnya itu. Mau heran tapi itu Bang Sat.


"Iya bunda, Tessa mau nyusul mas Satya dulu. Noah juga makan malem dulu sama oma, opa ya."


Noah menganggukkan kepalanya paham kepada sang bunda.


Setelah itu Teressa segera naik ke atas untuk menemui suami dan putranya.



Disana ada Satya yang berdiri sambil bersendekap dada mengamati gerak-gerik baby Allister. Tau jika dirinya kini tengah diperhatikan sang ayah, baby Allister berusaha tak bergerak dan diam seperti batu.


"Mas-"


"Shttt." Satya menginstruksikan kepada istrinya agar tak bersuara dengan keras. Teressa mengangguk paham, wanita itu melangkah pelan menghampiri suaminya. Ia ikut mengamati apa yang diamati suaminya.


Mereka ingin tau sampai kapan Allister betah dengan posisi kaku seperti itu.


"Adek udah makan?" Tanya Satya dengan suara pelan menyerupai bisikan lirih.


"Belum, tapi tadi minum susu yang Tessa buatin."


"Hiiii siapa yang ngajarin akting begitu! Mana rapi banget lagi." guman Satya terheran. Teressa terdiam, gen suaminya hampir keseluruhan menurun pada sang putra. Apakah bakat yang baby Allister miliki ini adalah salah satu turunan dari sang ayah?


"Coba dibangunin, bun." Ujar Satya.


"Tumben sama bunda nya nggak mempan." Satya turut turun tangan untuk membujuk putranya. Jujur saja ia masih lupa dengan hal apa yang ia janjikan kepada Baby Allister.


"Bocil ep-ep, ayo bangun. Bunda udah masak tahu bulat tuh, keburu dihabisin Nono loh." Seru Satya. Allister hanya bergerak singkat menggaruk pantatnya.


"Kayaknya adek nggak mau bun, udah tahu bulat nya biar dihabisin sama Nono aja. Yuk tinggal aja yuk."


"Yuk tinggal yuk."


"Ditinggal loh ya."


"Babay bocil."


Satya berpura-pura menutup pintu kamar sehingga tercipta suara khas pintu tertutup. Dan saat ditunggu beberapa saat, baby Allister nampak menoleh ke arah pintu. Batita itu tertangkap basah oleh kedua orang tuanya karena pura-pura tidur.


Satya meringis tanpa dosa sambil mengarahkan jempol nya kepada sang putra.


"Yaah hiks,,,, nda." Kepalang tanggul, Allister hanya bisa menangis dihadapan kedua orang tuanya.


Satya terkekeh kecil, Allister benar-benar Satya junior yang no kaleng-kaleng. Diangkatlah tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.


"Jagoan kenapa nangis, hm?"


"An-enn yah." (Kangen ayah)


"Uhh kamu sweet sekali sih, kangen banget sama ayah ya? Uluh-uluh pengen ayah uyel-uyel deh. Masa kangen sama ayah ngambek nya sama bunda? Terus kenapa nggak ikut makan sama oma, sama opa, sama Nono dibawah? Kalo cacing diperut kamu kelaparan, terus kamu sakit gimana? Bunda sama ayah ntar sedih gimana?"


Baby Allister mengerjapkan matanya beberapa kali, kedua bola matanya tak beralih dari mulut ayahnya yang sibuk mengoceh padanya.


Cup


"Y-ang yah." (Sayang ayah)


Allister menyandarkan kepalanya diatas dada bidang sang ayah.



"Sayang bocil juga, banyak-banyak." balas Satya.


"Sama bunda nggak mau?" Allister menggelengkan kepalanya pelan, "Nda au, au yah jaaa." (Nggak mau, mau ayah aja)


"Yah, wekk wekk Al ana." (Ayah, wekk wekk Al mana) Wekk wekk yang dimaksud Allister adalah bebek bebek mungil yang ia adopsi beberapa saat lalu.


"Astagfirullah!" Pekik Satya. Satya telah menjanjikan sebuah istana bebek untuk peliharaan putranya.


"Kenapa mas? Bebeknya udah mas buatin kandang kan?" Tanya Teressa.


Tidak, Satya belum mengerjakan proyek membuat kandang bebek. Yang ada bebeknya hilang karena kemaren sore ia menaruhnya di samping rumah, dan kebetulan sore itu diguyur hujan deras hingga malam hari. Satya bahkan hanya menaruh bebek-bebek itu didalam sebuah kardus dengan ukuran sedang tanpa atap penutup.


"Mati yang."


______________


TBC.


masalah rujak, next part ye.


Babay ♡



iklan dulu ygy