
Akhirnya, aku sudah sampai di rumah. Tak terlalu besar namun menurutku sangat nyaman. Dalam keseharianku, mungkin rumah ini juga sudah menjadi seperti istana.
Sebenarnya, saat aku ada di sini yang mengasuh adalah mereka berdua. Mereka yang senantiasa menjagaku sejak saat itu juga. Meski, aku tahu fakta lain dibalik keluarga ini.
Aku mengetuk pintu rumah, seseorang membuka pintu itu dari dalam. Bibi yang terlihat pertama kali, dia memakai gaun berwarna krem(entah lah mungkin saja warna itu) dan rambut yang di ulir menjadi ciri khasnya. Dia tersenyum padaku, dan mempersilahkan aku masuk ke rumah.
"Lina, bagaimana kabarmu hari ini?" tanyanya dengan wajah penasaran.
"Ya begitulah, mungkin aku melakukan sedikit kesalahan ...," jawabku malu-malu karena mungkin mereka sudah tahu sesuatu meski itu hanya perasaanku saja.
"Benarkah?" tanya bibi padaku yang terlihat penasaran sekali.
"Tenang saja, aku baik jadi tak perlu khawatir," jawabku balik.
"Benar, bahkan mungkin dia melakukan sesuatu yang hebat." Paman yang tiba-tiba datang dengan wajah seperti baru saja keluar dari kehidupan yang sulit.
"Lebih baik kau diam, Sam!"
"Padahal aku sedang memujimu juga, dasar tak tahu terimakasih," keluhnya lalu menuju meja makan yang berada di dapur.
"Sudah lah, lagipula aku baik-baik saja di toko. "
"Itu yang menurutmu, apa melamun hingga seperti mayat hidup termasuk hal baik?" tanyanya yang sangat menohok bagiku.
"Ya ... begitulah yang terjadi bibi tau kan ...."
"Dasar, hanya karena hal itu kau sampai seperti ini. Memangnya, dia sangat berharga bagimu?"
"Emma ... sudahlah, lagipula ia hanya sedang kacau sedikit," ujar paman seolah menghentikan pembicaraan ini.
"Ini salahku juga, hanya karena hal itu aku sampai begini. Padahal, mungkin saja dia sudah tak ada kan?"
Pada akhirnya, kami hanya saling berdiam diri satu sama lain. Memang benar karena itu aku bisa jadi tak fokus akhir-akhir ini.Walaupun tak mudah, bukan berarti karena hal itu aku harus tumbang juga kan? Selama harapan itu ada, bahkan jika sendiri pun pasti bisa.
Meski sebelumnya aku bertemu dengan dia, pasti dia sudah pergi ke tempat yang lain. Tentunya jika dia bisa menempuh jaraknya, karena desa terdekat di sini berjarak dua hari jika berhenti dan beristirahat. Aru, kumohon dengarkanlah semua penjelasan ini.
Aku bersiap-siap untuk mandi, dan itu pun sudah cukup malam. Saat mandi memang saat yang cukup bagus untuk mengeluarkan segala beban hidup. Selesai mandi, aku menuju dapur dengan gaun berwarna biru muda.
Yang terlihat di meja makan adalah sup jamur yang dimasak oleh bibi. Aku mengambil piring, sendok, dan nasi serta sup jamur itu. Makan malam ini menjadi lebih tenang, karena biasanya bibi akan mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana.
Ya mungkin saja memang yang terjadi itu tak mudah, bagiku juga bagi bibi dan paman. Apakah mereka pernah menunjukkan kepedulian mereka? Menurutku itu tidak bisa dipastikan. Dati yang terjadi, mungkin mereka menganggapku pengganggu saja. Kenyataannya, memang itu yang terjadi kan? Mungkin mereka bisa menjadi lebih baik tanpa diriku.
"Bagaimana dengan persiapannya?" tanya bibi memulai pembicaraan.
Aku berhenti makan agar bisa lebih mudah untuk berbicara,"semuanya sudah cukup baik.Jadi, bibi tak perlu khawatir," jawabku sambil tersenyum tipis.
"Pakaian itu mungkin warnanya tidak terlalu mencolok, selain itu aku yang membuatnya. Jadi sudah sewajarnya jika aku juga yang memakainya ...," jawabku.
"Apa kau benar-benar akan meninggalkan kami?" tanya bibi dengan wajah yang terlihat sedih.
"Kalian tak perlu sedih, lagipula aku di sini pun tak terlalu berguna kan? Kalian tak perlu mengkhawatirkan sebuah beban, justru kalian senang karena beban itu akan pergi," Aku berdiri lalu menuju kamarku sambil meninggalkan dua orang itu di sana.
Aku menutup pintu kamar rapat-rapat, yang terjadi hanyalah sebuah tragedi jika memang itu takdir. Menatap bulan yang bersinar dibalik selimut kegelapan, takdirku juga mungkin bisa terlihat seperti itu. Saat air mata karena penghakiman itu jatuh, yang terdengar hanyalah suara harapan dari lubuk hatiku yang dalam.
Tak bisa, itulah kata-kata yang kupikirkan saat ini. Apa yang terlihat, hanya masa lalu itu yang teringat. meski begitu, berusaha seperti apapun itu semua tidak akan kembali kan? Lantas jika aku melanjutkan kehidupan seperti ini, apakah aku jahat? Maaf, hanya itu kata yang terus terngiang-ngiang di dalam hatiku.
Mendengar pintu kamar yang diketuk aku pun berbalik. Yang terlihat hanyalah bibi dengan wajah khawatir, aku tak bisa menebak apa yang sedamg ia pikirkan. Dia hanya kaget melihatku yang tersenyum, dia langsung berlari dan memelukku begitu saja.
Aku membalas pelukan hangat bibiku itu, tanpa kusadari, ia pun menangis saat kami berpelukan. Aku hanya bisa tersenyum tipis pada bibi, mengingat aku tak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Mungkin, dia sedang meluapkan emosinya saat ini.
"Maaf, harusnya bibi tidak menangis seperti ini."
"Tak perlu minta maaf, lagipula aku senang jika bibi mau jujur padaku," ucapku sambil melepas pelukanku dari bibi.
"Kumohon, kau jangan pergi, hanya kau yang tersisa dari semuanya, hanya kau ...."
"Bibi tidak sendiri, dan bukan aku saja yang tersisa. Kenangan itu, akan selalu ada dalam diri bibi. Bahkan aku juga, kenangan itu seperti lentera, yang akan selalu bercahaya bahkan saat bibi sendirian," pesanku pada bibi, lalu aku memeluknya kembali.
"Terimakasih, padahal bibi tidak pernah membantumu ...."
"Bibi selalu membantuku, jadi bibi tak perlu menyesali diri sendiri," ucapku pada bibi.
Ia mengusap air matanya, kami pun selesai berpelukan. Sementara bibi masih sedikit sedih, aku pergi ke dapur untuk membuat teh. Setelah itu, aku kembali ke kamar untuk menyugihkan teh ini pada bibi.
"Lebih baik bibi minum saja dulu," pintaku pada bibi.
"Terimakasih, tapi sebelumnya aku mendengar dari Derris bahwa kau melamun saat bekerja hingga membuat para pelanggan menunggu," kata-kata bibi yang sangat menohok bagiku.
"Eum ... itu mungkin bisa dijelaskan olehku," gugupku karena ketauan melamun saat bekerja.
"Sudah ku duga, kau itu kalau sudah melamun malah menjadi mayat hidup yang bergelimpangan saking seriusnya kau melamun," ucap bibi yang benar-benar membuatku malu untuk mengakui aku melamun,"Tapi, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Akhir-akhir ini kau sering sekali melamun."
"Hanya memikirkan 'itu' saja, tak lebih."
"Kau yakin dia akan memgerti penjelasanmu?" tanya bibi.
"Aku tak tahu, yang jelas aku harus bertemu dengannya meski dia mungkin tak menerimaku," tegasku pada bibi.
Bibi hanya tersenyum padaku, lalu dia pergi meninggalkan kamar. Yang tersisa hanyalah aku seorang diri, ntah apa yang akan menyambut besok namun semua itu adalah bagian dari kenangan. Saat mataku terpejam, aku berharap bisa bertemu denganmu, Aru ....