AFTER

AFTER
Eps 89



Satya & Teressa)


.


.


.


.


.


Dua tahun kemudian.....


Kini Satya telah menjadi bapak beranak lima. Salah satunya sudah dewasa, dan yang empat lainnya masih menjelma sebagai tuyul.


Saat kehamilan ke-duanya, Teressa tenyata mengandung tiga bocil sekaligus. Dan tentu hal itu menjadi kabar paling mencengangkan. Tak ada yang menyangka jika bibit Satya langsung tercetak tiga sekaligus.


Teressa melahirkan dengan cara operasi, tidak memungkinkan bagi dirinya untuk melakukan persalinan secara normal. Salah satu bayinya berkelamin perempuan, dan dua lainnya berjenis kelamin laki-laki.


Untuk sang sulung yang berjenis kelamin laki-laki, mereka memberi nama Arnesh Segara. Putri mereka diberi nama La Luna Amberley. Dan si bungsu, diberi nama Aakash Akasa.


Pagi ini Satya dibuat pusing karena ketiga tuyul nya berkeliaran kesana kemari disaat sang istri tengah membantu Allister bersiap. Teressa tadi tidak mengajak triple untuk mandi sekalian, karena mereka memang belum bangun tidur. Akhirnya ia memilih memandikan Allister dulu.


Niat awal Satya adalah membantu sang istri mengurus bocil-nya. Awalnya ia sukses menemani ketiganya untuk mandi. Namun saat ia akan memakaikan pempers dan baju, ketiganya tak ada yang bisa diam. Arnesh sibuk meraba raba kolong tempat tidur orang tuanya. Luna bermain alat make up milik bundanya. Sedangkan si bungsu berjalan kesana kemari dengan tubuh bugil.


"Sayangggg."


Teressa yang baru keluar dari ruang ganti dengan Allister dibuat heran dengan ekspresi melas yang ditampilkan suaminya.


"Mas kenapa? Kok belum mandi?" Tanya Teressa usai mendudukan Allister diatas sofa. Tak lupa ia memberikan sebuah biskuit agar bocah itu tidak rewel.


"Liat tuh, bocil em-el, bocil pou, sama bocil pub-ji nggak mau diem. Mas nggak kuat, argghhh !!!!! Kesel pokoknya mah!" Satya langsung membanting tubuhnya diatas kasur, kakinya menendang-nendang diudara melampiaskan kekesalan nya.


Teressa terkekeh geli, suaminya sering marah-marah tapi sebentar lagi pasti akan kembali bercengkraman dengan anak-anaknya.


Lantaran terlampau kesal, Satya malah memakai pempers anaknya dikepalanya. Satya benar-benar tertekan, secara mental.


"Ptffff,,, Mas ih, jangan gitu. Sini pempers nya biar Tessa yang pasangin." Teressa tak sanggup menahan tawanya melihat kelakuan suaminya itu.


Dengan malas Satya menyerahkan pempers itu kepada istrinya.


Satya hanya diam diatas kasur sambil mengamati kegiatan istrinya yang dengan telaten mengurus anak-anaknya. Semula wanita itu menggiring ketiga anaknya satu persatu. Mengumpulkan mereka diatas karpet, dan memberikan masing-masing satu mainan. Setelah semuanya diam, Teressa baru mengurus mereka satu persatu. Menaburkan bedak, mengoleskan minyak telon, memakaikan pempers, dan kemudian disusul pakaian.


Teressa dapat melakukan hal itu dengan mudah dan cepat. Bahkan Satya bisa melihat gerakan tangan istrinya begitu pelan dan lembut, berbeda dengannya yang sedikit agak brutal dan anarkis.


"Lala rambutnya dikuncir satu ya." Kata Teressa saat menyisir rambut putrinya. Batita itu menganggukan kepalanya sebagai balasan.


Satya menatap heran interaksi istri dan anak-anaknya itu. Saat bersama bundanya, mereka terlihat anteng dan penurut. Namun kenapa saat bersamanya, semua anak-anaknya bertingkah bar-bar? Ini tidak adil! Satya tak terima! Padahal ia juga ikut andil dalam proses pembuatan mereka, tapi kenapa hanya dengan Teressa saja mereka menurut. Hellow, Satya ini bapak mu nak!


"Tadi sama ayah nggak Mau, giliran sama bunda nurut banget kayak anak kucing." Sindir Satya tanpa menatap lawan bicaranya. Si kembar langsung menoleh pada ayahnya. Mereka menangkap insting-insting jika ayahnya dalam mode merajuk..


"Mas mau mandi dulu, apa Tessa dulu?" Tanya Teressa.


"Yaudah Tessa mandi dulu, tapi anak-anak dijagain sebentar ya." Pesan Teressa.


"Nggak ah, males. Mau main sama bocil ep-ep aja, bocil yang lain nggak mau." Satya turun dari ranjang dan melewati ketiga anaknya begitu saja.Ia menghampiri Allister dan mencium habis bedak bayi yang menempel pada wajah bulatnya itu.


"Aya-ahh,,,,,,!"


Allister mendorong wajah ayahnya dari hadapannya. Ia yang sudah ganteng dan wangi tidak mau dicium oleh orang yang belum mandi, dan bau seperti ayahnya.


Bukannya berhenti, Satya malah menciumi perut buncit Allister sehingga membuat bayi yang berusia hampir tiga tahun itu memekik kegelian. Tentu kegiatan mereka memicu kecemburuan ketiga bocil Satya yang lainnya.


Arnesh dan kedua kembarannya sudah melengkungkan bibirnya ke bawah. Matanya sudah berkaca-kaca dengan hidung yang ikut kembang kempis.


"Ndaaa,," ( Bunda)


"Yahh, ndaaa." (Ayah, nda)


"Yahh a-kal." (Ayah nakal)


Mereka bertiga menangis dihadapan bundanya Teressa menghela nafas, sejak ia mengenal Satya pria itu memang sangat menyebalkan. Dipeluk lah tubuh mungil-mungil ketiga anaknya itu dengan kasih sayang.


"Mas Satya jangan gitu dong, kalo mau main harus bareng-bareng. Kasian nih adeknya si kakak pada nangis. Udah tua juga, masih aja jahil sama anaknya!"


Satya membelalakan matanya menatap tak percaya pada istrinya. Apa katanya tadi? Dirinya sudah tua? Hei ini namanya bukan tua, tapi usia matang! batin Satya menggerutu.


"Sayang, mas belum tua ya!" protes Satya tak terima.


"Anak mu umurnya udah sembilan belas tahun, mas. Udah terima kenyataan aja kalo kita ini emang udah tua." Seru Teressa.


"Tessa mau mandi dulu, adek diajak main semua. Awas kalo dibikin nangis, Tessa hukum mas ntar!"


Hii, Satya bergidik ngeri mendengar ancaman istrinya. Yang sudah-sudah saja, pasti diri nya akan diancam tidak diberi jatah dengan jangka waktu yang sangat lama.


Satya menurunkan Allister ke lantai, dan ikut bergabung dengan ketiga adiknya yang duduk di karpet.


"Nggak papa, ayah nggak marah sama kalian. Jadi nggak usah takut. Tapi lain kali kalian harus nurut sama ayah ya, kasian bunda repot kalo ngurusin kalian sendiri." Ucap Satya terdengar lembut didengar telinga anak-anaknya. Bocah-bocah itu menganggukan kepalanya dengan patuh. Setelah itu mereka mendekati Satya dan memeluk tubuh ayahnya bersama-sama.


Ah, rasa kesal dan jengkel yang Satya rasakan seketika langsung lenyap saat tubuhnya dipeluk oleh makhluk-makhluk kecil kesayangannya itu.


"Aya-ang aya." (Sayang ayah)


"Sayang bocil juga, semuanya." Balas Satya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh keempat anaknya.


Karena ukuran badan mereka masih terbilang mungil-mungil, jadi mudah saja bagi Satya untuk memeluk mereka bersamaan.


Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang mengintip kegiatan ayah dan anak-anaknya tersebut. Sepasang mata itu tak lain adalah milik Teressa. Wanita itu begitu terharu dengan kasih sayang yang diberikan suaminya kepada semua anak-anak mereka.


Tapi begitulah, kadang Satya juga sering jahil dan membuat salah satu dari mereka cemburu. Namun pada kenyataannya Satya menyayangi semua anak-anaknya.


__________


TBC