
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
"Saya nikahkan engkau (ananda) Erlangga Satya Eka Putra bin Juan Putra dengan Teresa Tiara Ayu binti Subroto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas seberat 10 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Teressa Tiara Ayu binti Subroto dengan maskawin tersebut, tunai.”
"Bagaimana para saksi? sah?"
"Sahhhh!!!!"
"Alhamdulillah."
Maafkeun kesalahan akad di pernikahan Ghea dulu yang lupa binti nya, udah saya benerin kok suerr.
_____________________
Sepenggal cerita tentang akad Satya beberapa waktu yang lalu, kira-kira begitu acaranya tadi.
Tadi alhamdulilah nggak ada kendala saat acara akad berlangsung.
Kini Satya dan Teressa sudah sah menjadi pasangan suami istri, secara hukum maupun agama.
"Aduh buset srepet tetewww, udah sold out aja nih." seru Jin Mpin yang tiba-tiba hadir didepan Satya.
Namanya Jin pasti bisa lewat mana aja kan.
"Emang lu, nganggur mulu." cibir Satya sambil memutar bola matanya malas.
"Selamat buat Kak Satya sama Kak Teressa, langgeng terus ya." ujar Maura. Teressa pun membalasnya dengan anggukan kepala juga senyum manisnya.
"Masih sama lu aja nih bocil, nggak diambil emak bapaknya?" bisik Satya pada Marvin.
"Kaga tau gua juga, yaudah sih buat temen diapatement dari pada sepi sambil nunggu dijemput ama orang tuanya." balas Marvin sambil mengedikkan bahunya.
"Maura ada hadiah buat kakak." seru Maura dengan senang.
"Oh ya, hadiah apa tuh boleh liat nggak?" balas Teressa menimpali. Dengan cepat Maura menganggukkan kepalanya kemudian menyerahkan bingkisan kotak kepada Teressa.
Apakah isinya?
"Isinya apa tuh?" bukan Teressa yang bertanya, namun Satya. Pria nampak penasaran dengan hadiah yang diberikan oleh Maura kepada Teressa.
"Ini privacy ya kak, cuma cewek-cewek doang yang boleh tau!" Seru Maura.
"Makin penasaran kan." guman Satya.
"Maura beliin yang model kucing sama tiger loh, pasti nanti bagus dipake kakak." bisik gadis manis itu kepada Teressa.
Teressa yang tak paham dengan apa yang dibisikkan gadis itu mengeryitkan dahinya bingung.
Kucing? tiger?
Positif thinking aja, mungkin baju dinas.
"Emang isinya apa dek?" Tanya Teressa penasaran.
"Ih masa nggak tau sih, itu loh kak yang lucu-lucu kayak punya Maura. Ntar dibuka sendiri aja, pokoknya harus dipake ya, itu hadiah dari Maura loh." Ucap Maura.
"Iya ntar dipake, masa dikasih nggak dipake sih." balas Teressa tersenyum.
"Lu bawa apa buat gua?" Tanya Satya beralih pada Marvin.
Mampus Marvin gelagapan karna baru inget nggak bawa apa-apa!
"Anu gua bawa-?
"Jangan-jangan lu nggak bawa apa-apa ya! ngadi-ngadi ya lu!" Seru Satya mendengus kesal.
"Ngambek! kek perawan lu, udah laku juga!" Cibir Marvin.
"Nih." ucap Marvin kemudian menyerahkan benda kecil yang ia keluarkan dari saku jas nya kepada Satya.
"Kecil bener hadiah lu!" Cibir Satya.
"Yang lu liat isi dan khasiatnya dong, jangan bentuknya elah!" Gerutu Marvin.
"Sialan lu!! maksud lu apa ngasih gua beginian, lu kata punya gua letoy hah!!" geram Satya saat mengetahui hadiah yang diberikan Marvin. Sedangkan Marvin hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk tengkuk nya yang tidak gatal.
Satu sashet jamu kuat dan alat kontrasepsi.
Gila Si Mpin ngadi-ngadi kali yak!
"Jangan-jangan si bocil udah lu unboxing ya, wah parah lu pedofil!" Seru Satya.
"Kagak lah, jangan mengadi-ngadi ya. Itu tadi nggak sengaja nemu di saku nih, demi alekk dah suerr. Gua lupa bawa hadiah Satt, sorry elah." ucap Marvin menjelaskan.
"Kenapa mas?" Tanya Teressa menatap sang suami.
"Yaudah deh, pamit dulu gua. Mau nyari makan ama si bocil, bayy pren." pamit Marvin.
"Dadahh kak Satya Kak Teressa." pamit Maura.
Marvin pun melangkahkan kaki meninggalkan pelaminan sambil merangkul bahu Maura, tujuan mereka kini adalah mencicipi semua hidangan gratis yang disediakan oleh Satya.
"Dapet apa dari Bocilnya Marvin?" Tanya Satya.
"Tessa juga nggak tau, mas." jawab Teressa.
"Hm kalo capek duduk aja, Tessa." ucap Satya.
"Iya mas." balas Teressa.
Sedangkan ditempat lain para bocil tengah asik menikmati es krim didampingi Ghea dan Gavin. Yap mereka menjadi pengasuh sementara para bocil.
"Kak Noah udah pernah coba yang ini belum? ini katanya mommy teh, tapi teh hijau enak tau." celoteh Gathan sambil menikmati es krim matcha didalam corn yang ia genggam itu.
"Iya itu enak." balas Noah menimpali.
"Noah mau cake nggak, tante ambilin sekalian ya?" tawar Ghea pada keponakannya itu.
"Nggak usah tante, ini es krim Noah masih. Nanti kalo Noah pengen, Noah ambil sendiri aja tante." Ucap Noah dengan sopan.
"Iya sayang, jangan sungkan-sungkan ya. Ini semua punya bapak kamu, jadi kamu bebas mau ngambil okey." ucap Ghea.
"Iya tante, terima kasih." balas Noah.
Acara masih berlanjut dan Ghea memilih duduk di kursi yang sudah disediakan khusus untuk pihak keluarga. Bumil itu nampak kesusahan untuk duduk, bahkan berdiri pun sudah susah. Untungnya ada Pak Gavin yang selalu menjadi suami siaga disamping Bu Ghea.
"Hai Gheaaaa!" teriak Ara dengan suara cempreng yang melengking kuat digendang telinga.
Sampai sekarang gadis itu masih berpacaran dengan Bagas, sepupu Ghea.
"Hai cempreng." balas Ghea bercanda.
"Wow perut Ghea udah besar ya, Ghea kapan lahiran nih?" Tanya Ara dengan antusias.
"Bulan-bulan ini sih kayaknya." jawab Ghea sambil mengusap-usap perutnya.
"Ghea kalo hamil sakit nggak? Ghea kayak kesusahan gitu tau pas duduk, Ara jadi ngeri." seru Ara yang takut membayangkan jika dirinya hamil kelak.
"Ngapain takut, biasa aja tau kalo udah terbiasa." balas Ghea.
"Emang kenapa nanya-nanya, udah dilamar ya ama Bagas?" tanya Ghea sambil melirik Sang sepupu yang tengah asik becanda dengan putra dan keponakannya.
"Ih nggak gitu loh!" Balas Ara malu-malu.
"Oh iya ini yang satu gantengnya siapa nih? Yang ini Gathan kan kesayangan mommy Ghea, terus yang ini siapa?" Tanya Ara yang ditunjukkan kepada Noah yang duduk disamping Gathan.
"Ini Noah, anaknya abang." jelas Ghea memperkenalkan Noah pada Ara .
"Hai Noah, ini Aunty Ara temennya Aunty Ghea, salam kenal yaa." seru Ara.
"Iya tante." balas Noah.
"Ghea tau nggak sih, masa mami nitip buat dibungkusin lontong sayur dari sini tapi mami malah nggak bisa dateng kesini." adu Ara.
Ara merupakan sosok anak yang jujur, saking jujurnya ya gitu suka kebablasan.
"Hehe mami mu seleranya masih sama ya, lontong sayur." ucap Ghea sambil terkekeh.
"Iya gitu, maaf ya mami nggak bisa dateng soalnya tadi ada klien di butik dari luar negeri. " Jelas Ara
"Nggak papa kali, lain kali kan bisa ketemu." balas Ghea.
"Oh iya, ntar ada sesi lempar bunga kan Ghea?"
"Iya, kayaknya sih bentar lagi. Gabung sana sama Bagas sekalian." ujar Ghea.
"Hehe siapa tau kan Ara nyusul Kamu sama Kak Satya. " Balas Ara sambil nyengir.
Ara pun menarik lengan kekasihnya dan mengajaknya untuk bergabung didepan pelaminan guna mengikuti sesi lempar bunga.
Para Jomblowan dan jomblowati pun ikut berkerumun didepan pelaminan, bahkan termasuk Marvin dan Maura.
Sebenarnya Marvin malas mengikutinya, tapi apalah daya bocil kesayangannya yang memaksa dirinya untuk ikut bergabung.
"Oke, kita hitung satu sampai tiga ya." seru sang MC ditunjuk sebagai pembawa acara tersebut.
"Satu."
"Dua."
"Ti-ga."
"Lempar!!"
Buket bunga itu melambung tinggi ke belakang, lebih tepatnya kearah kerumunan para jomblo disana. Mereka saling berebut satu sama lain, dan yang paling antusias adalah Ara. Namun sayang, bunga itu tak dapat ia gapai.
BRUGHH!!!
________________
Jangan lupa like ya bund.
Wait, masih ada satu part lagi disini.