AFTER

AFTER
Eps 32



(Satya & Teressa.)


.


.


.


.


.


Cie udah diterima lamarannya!


Ahayyyy.


"Mommyhhh.....hiks kepala Athan sakit hikss....


Mulut mungil bocah tampan itu terlihat menggerutu kecil dengan gerakan bibir yang mengerucut lucu.


"Cup Cup sayang, tidur lagi yaa. " guman Ghea sambil menepuk-nepuk punggung kecil milik putranya itu. Si bocil nggak mau digendong bapaknya, maunya digendong emaknya. Buset dah.


"Besok ke rumah sakit ya, dad?" ajak Ghea


"Buat apa?"


"Liat nih anak kita, sakit semua badannya. Kasian sampe ke bawa mimpi, besok check up ke dokter sama minta obat-obatan biar reda rasa sakitnya." jelas Ghea.


"Iya besok kita kerumah sakit, atau panggil Dokter aja biar dateng kerumah." balas Gavin ikut membelai wajah tampan putranya.


"Gantengnya mommy bobok yang tenang yaa."


Gathan yang awalnya sangat bersemangat untuk mengajak calon sepupunya bermain, kini bocil itu sudah teler dipelukan mommy nya. Anak itu sudah tertidur, mungkin rasa kantuk yang menyerang sudah tak bisa ditahan lagi.


Ya gitu Lah kelakuan anak didik Bang sat.


"Jangan berisik pelan-pelan Cil, ponakan gua tidur." Bukan Satya, melainkan Marvin. Pria itu dan Maura sibuk mengangkut barang-barang hantaran yang disiapkan bunda sebelumnya, namun tanpa sepengetahuan Satya tentunya. Bunda menyerahkan tugas itu kepada Marvin, dan Marvin membaginya dengan Maura.


"Bunda yang nyiapin semua? Kok nggak bilang-bilang sih!" Gerutu Satya yang merasa dijebak dan ditipu.


Nggak papa dijebak juga, yang penting kan lamarannya diterima ahayyy.


"Iya dong bunda yang nyiapin, kalo nungguin kamu yang nyiapin mah kelamaan keburu tokonya tutup." balas Bunda.


"Ini buat Tessa bu?" tanya Teressa.


"Iya dong, buat calon mantu bunda, buat cucu bunda juga ada." jawab bunda Citra.


"Kok banyak banget bu, ini nggak terlalu berlebihan emang?"


"Enggak sayang, ini udah porsinya." balas Bunda.


"Makasih bu, sebelumnya."


"Iya sayang, sama-sama. "


Vin, adikmu suruh kesini." seru Bunda Citra.


"Dipanggil Cil." seru Marvin mendorong tubuh mungil Maura menghadap bunda citra.


"Eumm kenapa tante?" tanya Maura dengan sikap lugu dan polosnya. Gadis cantik itu berdiri didepan bunda sambil memainkan ujung jaket hoddienya .


"Buat Rara beli es krim ya." ucap Bunda Citra sembari menyerahkan sebuah amplop putih kepada Maura, nggak tau pasti sih isinya berapa, bisa aja kan dollar? wkwk.


"Buat Rara?" tanya Maura menunjuk dirinya sendiri.


"Iya sayang." balas bunda. Maura pun melirik sebentar kearah Marvin, seolah meminta jawaban jika ia harus menerima atau menolak pemberian bunda itu. Dan jawaban Marvin adalah anggukan kepala, namun Maura masih ragu menerimanya. Bukannya apa, ia ikhlas membantu dan lagi pula pasti anak orkay punya duit dong.


"Eum Rara lagi batuk, jadi nggak boleh makan es krim tante." tolak Maura dengan lembut.


"Ish ya nggak harus dibeliin es krim dong sayang, beli apapun yang sekiranya kamu suka, ambil ya." ujar bunda kembali.


"Maura-


"Ah iya tadi mommy mu bilang harus beli obat kan, nah iya diambil aja ya, kakak lagi nggak ada money Maura cantikk."


"Mpin wakilin ya bund, makasihh."


Kelakuan si jin Mpin emang gaada akhlak, tuh amplop langsung dimasukin di saku jaket dong sama Si Marvin.


"Bodo!! Kuyy Cil kita ke MEKDI beli ayam goreng!" seru Marvin.


"Kuyyy!!" Balas Maura ikut-ikutan.


Nah kan sama-sama gesrek udah.


Para orang tua disana hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah kedua anak manusia itu, terlihat bahagia dengan cara yang sederhana.


_________________


Kini kembali ke topik utama yaitu membahas tanggal pernikahan dan lain-lain.


"Kalian mau nikah secepatnya atau gimana?" tanya ayah memulai pembicaraan.


"Abang sih terserah Tessa." balas Satya.


Mengadi-ngadi si Bang Sat, udah dikasih kelonggaran untuk menjawab malah dilempar ke Teressa, spontan dan reflek mbak Tessa pun mendongakkan kepalanya menatap Satya.


What?


"Kamu tuh cowo, masa tinggal nentuin gitu aja musti nanya calon mantu bunda, konsisten dong ah!" Seru Bunda.


"Ya masa abang bilang langsung besok? emang yakin Tessa mau nikah besok, nggak kan." balas Satya.


"Udah-udah jangan debat, musyawarah biar dapet yang terbaik." ujar Ayah menengahi perdebatan istri dan anaknya.


"Kalo Tya mah lebih cepat lebih baik, ya kan yah." seru Satya.


"Sabar yaelah, maen gas aja heran." ucap Ghea menimpali.


"AI DON KERR!" balas Satya penuh penekanan.


Kalo orang waras mah I dont care, berhubung Satya lagi gesrek ya mohon dimaklumi ya sodara.


"Yaudah pas nya kapan kira-kira gitu aja."


"Bulan depan aja yah, biar nahan rindu sampe bengek ahik-ahik. Jangan lupa dipingit 2 minggu, biar apdol. " celetuk Ghea.


"No No, dulu Ghe nggak ada pingit-pingitan kan, Satya pokoknya juga nggak ada acara kayak gitu ya!" tolak Satya.


"Bisa serius nggak?" bukan ayah yang berucap, melainkan sang bunda.


"I was silent." ucap Ghea.


"Sekarang yang nentuin, bunda kasih usulan kalian nikah bulan depan aja gimana? nggak kecepetan dan nggak kelamaan, bunda nggak yakin kalo Si abang kuat nunggu lama." usul bunda.


"Nah bener tuh bunda, Ghe setuju"


"Bang?"


"Iyaaaa terserah bundaku." balas Satya.


"Yang mau nikah tu kamu bukan bunda, kalo ditanya jawab yang niat." ujar Bunda.


"Bunda jangan marah-marah takut nanti lekas tua-


"Bang!!"


"Iya minggu depan bunda!" Seru Satya.


"Bulan depan astaga, anakmu udah kebelet yah!" seru Bunda.


"Maap-maap." ucap Satya sambil menggaruk garuk tengkuk nya.


"Kalo Tessa gimana, udah setuju atau ada yang masuk dirubah gitu?" Tanya Bunda beralih pada calon mantunya.


"Tessa ngikut baiknya aja bu, tapi sebelumnya hari H Tessa izin ngunjungin makan ayahnya Noah ya bund, Tessa mau minta restu dari mas Faiz."


Duh mellow nih.


"Boleh sayang boleh, dia suamimu. Ntar kalo perlu kita kesana nya rame-rame sekalian ya, bunda juga mau ziarah ke makan ayahnya Noah. " Balas Bunda Citra.


_________


Babayyy...