
Pagi sudah menyambut ya tak terasa rupanya. Baiklah hari ini banyak jadwal selain harus bercengkrama dengan para penduduk sekitar juga. Setelah membereskan kasur dan juga mencuci piring serta menjemur, aku memasak bubur untuk sarapan hari ini.
"Isabella, buburnya sudah matang!" teriakku yang mungkin terdengar hingga lantai atas.
Tak ada jawaban darinya. Baiklah, aku fokus saja terlebih dahulu untuk bubur ini. Lalu, yeng terdengar hanyalah suara langkah kaki dari lantai atas.
"Apa buburnya sudah matang kak?" tanyanya yang mulai keroncongan dengam bukti suara perutnya.
"Sebentar lagi, sebelum itu lebih baik kau mandi dulu saja."
"Baik!" teriaknya yang membuatku
menggelengkan kepala.
Anak-anak itu selalu mudah ya merubau suasana hatinya, berbeda sekali denganku yang mungkin sering dikatakan 'monoton' oleh orang-orang. hidup itu terus berulang kan, Apa salah jika aku melakukan hal yang sama? Atau mereka ingin aku berubah-ubah begitu. Wajar saja jika kita terus dipaksa namun, bukan berarti hal itu buruk juga semuanya kembali pada diri masing-masing.
Baiklah, hari ini akan menjadi alur lain setelah peristiwa kemarin. Kemeja pendek berwarna putih dengan rok berwarna biru tua ini siap untuk menjalankan roda kehidupan. Aku sedang berjalan menuju pasar, tentunya dengan jubah warna hijau tua ini.
"Wah ... ada kakak super pakai jubah ...." ucap seorang anak yang melihatku.
Aku hanya tersenyum malu sambil mengusap rambutku. Angin yang berhembus membawa makna tersendiri bagiku, saat melihat pemandangan ini aku merasa sangat tenang. Akhirnya setelah beberapa waktu aku pun sampai di pasar desa ini.
Tak terlalu ramai ya, padahal banyak barang yang bisa dijadikan sebagai ciri khas desa ini. Bagaimana kalau aku membeli ikan saja dan memggorengnya sepertinya akan enak untuk hari ini. Atau aku membuat mie saja dan menggorengnya untuk Isabella.
"Kau tahu barang-barang di sini cukup murah kan?"
"Wah ... aku bahkan tak tahu jika semurah ini," ucapku kagum pada penjual di toko ini.
"Benar, nona. Bahkan telur di sini hanya lima. krill," ucap pemilik toko itu.
Dia laki-laki yang sudah berumur, pakaiannya pun sederhana. Selain itu fakta yang membuat harga barang di sini cukup murah adalah karena akses sumber pangannya yang mudah dijangkau. Ya ... selain karena sepinya sih, aku baru melihat tujuh orang dalam perjalanku ini.
"Apa kau sering memakai gaya pakaian seperti itu?" tanya pemilik toko bernama Robert itu.
"Ah, Tuan Robert memang ini sudah biasa juga menjadi gaya pakaian saya. Bahkan saya sering dikatakan 'monoton' oleh beberapa orang ...," tuturku menjelaskan
"Wah begitu ya, nak. Padahal menurutku malah kau kelihatan anggun sekali," ucap paman itu.
Setelah semua itu yang terjadi sekarang hanyalah aku yang sedang berjalan-jalan. Padamg rumput yang indah, berisikan rumput hijau dan beberapa bunga yang menjadi pemanis. Mengingat itu membuatku melihat ini bersamamu, apakah kau baik-baik saja sekarang? Kuharap begitu .....
Wahh benar-benar tempat yang sepi, bahkan di sini tidak ada pasar. Sia-sia jika berpikir ada pun yang ditemukan hanyalah toko yang menjual kebutuhan pangan saja. Semua itu ditutupi oleh padang rumput ini, indah dan menenangkan.
Aku duduk di sebuah kursi. Terlihat perasaan lain dalam hati ini. Aru, seandainya kau tahu faktanya apakah kau akan percaya? Aku tkut untuk mengakuinya sangat takut .....
Sekarang setelah semua itu akhirnya aku di rumah. Mengajarkan Isabella cara menjahit dan memasak masakan sederhana. Wah ... senangnya ya kalau bisa melihat dia seperti itu, imut.
"Bagaimana? Kau bisa kan?" tanyaku padanya
"Eum ... terimakasih," jawabnya lirih.
"Kau baik-baik saja kan?" Aku yang terlohat khawatir karena wajahnya sedih.
"Tidak, aku senang karena selama ini aku hanya bersama Kak William saja. A ... aku ingin seperti ini terus tak sendirian hiks ...." lirihnya yang mulai menangis dan aku pun memeluknya.
Jadi begitu ya, aku juga akan pergi pada akhirnya. Kembali lagi pada dirimu apakah akan bisa bertahan tanpaku? Semoga saja terjadi. Kuatkanlah hatimu karena dunia ini membawa kebahagiaan dan kesedihan yang terus-menerus datang.
"Tapi kakak pasti akan pergi suatu hari nanti," gumamku yang mungkin saja terdengar olehnya.
Ternyata tidak, syukurlah jika dia menangis karena dia berusaha. Kalau begitu aku mengharapkan hasil dari usahamu. Mungkin saja dia memikirkan bagaimana jika dia sendirian itulah alasannya menangis.
"Apa aku akan selalu sendirian?" tanya anak itu dengan wajah sendu.
"Semuanya akan kembali dengan sendiri, keadaan sendiri itu ada. Kau tak perlu takut sendirian, teruslah berharap akan kebaikan dan kau pun pasti hisa menjalani kesendirian itu," tuturku menjelaskan sambil mengusap rambut anak itu.
Ia hanya tersenyum, seolah memberi tanda bahwa dia akan berusaha. Wajar saja jika mengeluh, dan bukan berarti kamu tak biss berusaha kan? Suatu saat usahamu juga akan menunjukkan hasilnya. Setelah itu kami makan malam dan tidur di kamar masing-masing.
Aku hanya menatap jendela, rambutku kini hanya terurai panjang. Melegakan sekali rasanya ya hari ini. Kebahagiaan atas harapan itu nyata, meski tak mudah untuk mendapatkannya.
Waktu yang telah berlalu, menunjukkan jati dirinya saat sendirian. Waktu untuk sendiri adapah saat berkeluh kesah paling baik. Ya ... waktunya tidur kini datang, saat aku akan menutup jendela aku melihat William yang sedang berjalan.
Dia membawa uang yang banyak, entah apa yang akan ia lakukan. Aku mengikat rambutku dan menuju keluar sambil mengunci pintu rumah. Untung saja Isabella sudah tidur sehingga aku tak perlu bersusah payah meyakinkannya.
Aku mengikutinya sekarang. Tak boleh sampai ketahuan, jika tidak aku pasti akan diintrogasi olehnya. Aku memkai gaun warna coklat yang kututupi juga dnegan jubah.
Dia menuju ke gang desa, ini dugaanku atau dia yang aneh pada malam dia membawa uang yang begitu banyak. Ayo, bergegas dan melihat apa yang ia lakukan. Ia sampai dikumpulan orang-orang yang membawa uang banyak juga, sudah ku duga dia akan melakukannya.
Aku malah cruiga selama ini dia melakukan itu untuk Isabella. Tujuannya bagus hanya saja caranya yang aneh. Uh ... memang ya aku hatus bertindak lagi ....
**OH YA, TERIMAKASIH UNTUK SUPPORT KALIAN SELAMA INI, MAAF KALAU LAMA UPNYA. MAKLUM GIBAH DULU DI KOLOM KOMENTAR SAMA PARA READERS, KALAU KALIAN TERTARIK SAMA "KOLOM KOMENTAR" DARIPADA CERITANYA EMANG MIRIS AKU BERARTI.
TETAP TUNGGU KISAH LINA YA READERS
SALAM HANGAT** ....