AFTER

AFTER
Eps 50



(Satya & Teressa)


.


.


.


.


.


CEKLEK


"Noah." panggil Teressa saat memasuki kamar tamu yang digunakan tidur oleh Noah dan Gathan.


Sebenernya Si bocil ngajak tidur dikamar emaknya, tapi Noah nolak. Anak itu berpikir untuk tidak memasuki kamar orang lain yang sifatnya privasi, tapi kalaupun Noah mau pun fine-fine aja, Ghea juga nggak bakal marah kalo kamarnya dipake tidur bocil ama Noah.


"Iya bund?" balas Noah sambil menengok menatap bundanya.


Ia kini tengah membaca buku sambil duduk dilantai beralaskan karpet bulu, dan tubuh bocil sudah nyungsep disana usai sholat isya tadi.


"Noah udah sholat isya?" tanya Teressa. Kini wanita itu ikut bergabung duduk disamping Noah.


"Udah."


"Kok nggak jamaah sama bunda, tadi adek diajak sholat juga kan?" Tanya Teressa.


"Iya, bunda sama papah tadi masih ngobrol. Noah sama Gathan sholat duluan bund." jawab Noah seadanya.


"Noah ada yang mau ditanyain ke bunda?" tanya Teressa sambil mengusap surai hitam putranya. Sedangkan Noah hanya hanya menghela nafas kemudian menggelengkan kepala.


"Bunda bakal jujur sama Noah, Noah mau dengerin cerita bunda?" tanya Teressa.


"Bunda mau jujur apa sama Noah?" tanya Noah. Teressa tak menjawab, wanita itu hanya menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Noah.


Dan sesi cerita pun dimulai, sesuai arahan Satya, Teressa menceritakan asal usul Noah dan kedua orang tuanya kandungnya. Untuk kasus ini Satya tidak ikut campur dulu, biarlah emak dan anak yang menyelesaikannya.


Dari kelahiran Noah hingga sekarang, terhitung sudah hampir sepuluh tahun lebih Teressa mengenal Noah. Terbilang dari bayi hingga sekarang, ia menyayangi Noah seperti anak kandung nya sendiri. Tak jarang, saat ia merindukan sosok Faiz, rasa rindu Teressa sedikit terobati dengan keberadaan Noah di dekatnya. Wajah anak itu didominasi oleh gen ayahnya, Wajah nya pun mirip dengan Faiz.


Setengah jam lebih Teressa bercerita, dan Noah masih diam menyimaknya. Setiap anak pasti memiliki mental yang berbeda-beda, sama hal nya dengan Noah. Ia tak bisa mengelak, memang itu kenyataannya bahwa Teressa bukan ibu kandungnya.


Dada kecilnya terasa sesak menerima kenyataan ini, wajahnya memerah menahan tangis yang sudah tak bisa dibendung. Mengetahui keadaan putranya yang sangat bersedih, Teressa pun menghentikan kalimatnya. Buru-buru ia menarik tubuh Noah kedalam dekapannya, dan langsung menenangkan anak itu.


"Noah yang sabar ya, itu artinya Allah lebih sayang sama bunda dan ayah. Sekarang tugas Noah disini sama bunda doin yang terbaik buat bunda kandung Noah sama Ayah Faiz , nak. Jangan sedih ya jagoan bunda, disini masih ada bunda Tessa yang sayang sama Noah. Ada papa juga, ada dek Gathan, masih banyak lagi yang sayang sama Noah nak. Noah jangan sedih oke, ikhlasin semuanya." bisik Teressa sambil mengusap-usap punggung Noah yang naik turun.


"Maafin Noah hiks...maafin Noah kalo selama ini Noah bandel sama bunda..maafin Noah udah banyak ngerepotin bunda...hikss...maaf."


Tidak, anak itu bahkan tidak pernah bandel atau nakal selama bersama Teressa, apalagi menyusahkan. Ia bahkan selalu menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya, yang tak lain adalah Teressa. Bagi Teressa, Noah adalah sebuah anugrah. Ia bersyukur Noah sudah ada dalam dekapannya saat Faiz pergi meninggalkan dunia.


"Udah sayang, Noah nggak salah nggak perlu minta maaf. Noah anak sholeh, anak baik, anak kebanggan bunda sama ayah pokoknya. Sekarang udah ya jangan nangis lagi, nanti kamu pusing nak. Wajah kamu sampe merah gini loh." ucap Teressa yang terus memberikan usapan lembut pada punggung Noah agar anak itu menjadi lebih tenang.


"Noah pengen liat bunda kandung Noah, bunda ada fotonya?" tanya Noah mendongak menatap wajah ibunya.


"Foto ya? bunda lupa deh, nanti kita cari dirumah ya siapa tau masih kesimpen sama barang-barang ayah dirumah." jawab Teressa.


"Iya bunda, makasih."


"Sama-sama sayang." balas Teressa kemudian mengecup kening putranya.


Selesai sudah sedih-sedihnya, semoga setelah ini kehidupan Noah dan Teressa diberikan kebahagiaan yaa:")


Tak lama setelah itu, pintu kamar nampak dibuka dari luar.


CEKLEK


Sepertinya Satya tengah cosplay menjadi seorang HOT DEDIH, bayangkan saja seumur-umur ia tak pernah membuat minuman untuk orang lain, bahkan saat Ghea pas bocil pun ia tak pernah melakukannya yang ada malah di smackdown tuh Si Monyet.


"Mas bikin susu? kenapa musti repot-repot, kan bisa Tessa yang buat mas." ucap Teressa tak enak hati.


"Oh tentu, ini khusus limited edition buat anak LAKIKK kesayangan. Lah si bocil udah molor aja tuh, ini susunya nganggur dong?"


Hm anak LAKIK kesayangan ga tuh:)


"Iya kayaknya kecapekan, mas tolong pindahin ke kasur ya." ucap Teressa.


"Oh oke."


Nampan berisi susu pun berpindah tangan ke Teressa, sedangkan Satya bertugas memindah bocil ke kasur biar tidurnya nyaman dan nggak pegel-pegel pas bangun tidur nanti.


"Noah minum susu dulu ya, nanti baru bobok." seru Teressa. Noah hanya membalasnya dengan anggukan kepala, setelah itu ia meneguk segelas susu hangat itu dibantu oleh Teressa.


Maklum abis mewek 🙂


"Noah mau papah gendong juga?" tanya Satya pada putranya itu.


Ya barangkali kan, nanya boleh kali.


"Mas ah becanda mulu!" tegur Teressa.


"Becanda sayang." balas Satya sambil cengengesan.


"Bunda temenin sampe Noah tidur ya?" pinta anak kulkas itu.


"Iya sayang, bunda temenin sampe Noah bobok. Ayo naik ke atas."


Dan Akhirnya Teressa pun menemani putranya berbaring diatas kasur hingga Noah tidur, sedangkan Satya? Oh tentu saja ia masih stand by disana mengamati semua kegiatan yang dilakukan istrinya. Ia tak mau sampai kecolongan istrinya ketiduran atau alasan apa lah.


Malem ini harus jadi pokoknya!


Setengah jam berlalu, dan Satya baru sadar jika Teressa ikut memejamkan matanya. Seingatnya wanita itu tadi masih terjaga bukan? kenapa sekarang merem? pikirnya.


"Sayangg, jangan tidur!" bisik Satya penuh penekanan.


Jrenggg


"Mas, mas masih disini?" tanya Teressa yang kini sudah membuka matanya.


"Yaiya lah, orang aku nungguin kamu dari tadi juga." gerutu Satya dengan mulut mencebik kesal.


"Noah udah tidur kan?" tanya Satya, dan Teressa menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Yaudah yuk pindah kamar, bobok dikamar mas." ucap Satya. Dan tentunya bukan hanya sekedar 'bobok' doang yang dimaksud Satya, ada adegan sesuatu sebelum bobok.


Eum misalnya, adu mekanik?


Wow...


Part selanjutnya Satya unboxing mbak Teressa.


________________


Babay


Malam pertama bakal terjadi kawan, tapi mbok yo sabar. Orang lagi sedih2 gini masa maen gass aja, pengen tak hihhh!!!


Ndak og Canda:)