
(After pt 2)
.
.
.
.
.
Keempat bocil Satya kini telah menjelma menjadi sosok anak-anak penuh aksi. Allister yang dulunya merupakan bayi yang comel, kini berubah drastis menjadi cowok kul seperti Noah. Sedangkan Arnesh; ia tumbuh menjadi sosok membanggakan, dan sifatnya ini memang tak jauh-jauh dari Noah juga. Untuk Aakash, ternyata anak ini lah yang menuruni sifat ayah nya secara permanen. Sedangkan si cantik lala atau Luna, ia menuruni sifat sang bunda, yaitu kalem dan lembut.
"Mbak Alice sama Kak Noah pacaran ya?" Tanya Lala kepada gadis seumuran kakaknya yang duduk disamping nya itu. Akhir-akhir ini Noah memang sering membawa Alice ke rumah, dengan alasan sebagai teman Lala saat dirumah. Saat ini mereka tidak tinggal dirumah bunda Citra lagi karena rumah itu menjadi pengap semenjak kehadiran triple. Dan akhir-akhir Lala memang sering dirumah sendirian karena Bunda dan ayahnya tengah merawat neneknya yang tengah sakit. Maka dari itu ia membutuhkan teman untuk mengobrol. Jika mengandalkan kembarannya, itu tak akan berguna. Karena mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.
Kabar duka saya sampaikan jika Ayah Juan sudah dipanggil sang maha kuasa satu tahun lalu.
Semenjak saat itu kondisi Bunda Citra juga semakin menurun, untuknya masih ada anak-anak dan menantunya yang siap menghibur wanita paruh baya itu.
Kembali ke topik awal, Lala dan Alice.
"Bukan kok, masih temenan aja." Jawab Alice yang terdengar tak menyakinkan.
Lala sendiri pernah mendengar gosip-gosip dari kakak sepupunya jika dari dulu kakak nya dan gadis bernama Alice itu berhubungan dekat.
"Oo masih temenan ya? Berarti ada kesempatan buat jadian dong?"
"Emm itu,,,"
"Kalian ngomongin apa?" Tanya Noah yang tiba-tiba hadir diantara keduanya.
"Kak Noah ih, jangan bikin kaget!" Seru Luna kesal.
"Lala aneh, orang kakak nggak ngagetin kamu." Balas Noah dengan santai.
Alice tertegun melihat interaksi adik dan kakak yang usianya terpaut jauh itu. Tenyata tidak di tempat kerja saja, dengan keluargnya Noah juga sama-sama menyebalkan.
"Mbak Alice jangan mau sama Kak Noah, orangnya ngeselin. Ntar mbak Alice nyesel kalo pacaran sama Kak Noah." Ucap Luna mengompori Alice.
"Lala jangan gitu dong!" protes Noah.
"Kenapa? Lagian Lala mau jodohin Mbak Alice sama kakaknya temennya Lala. Orangnya ganteng, keren, masih muda lagi. Lala aja suka kalo liat." Celoteh Luna tanpa memikirkan bagaimana perasaan kakaknya.
"Nggak ada, nggak ada jodoh-jodohan. Bulan depan Kakak sama Kak Alice mau tunangan, mau apa kamu?!" Ucap Noah spontan.
"Cie-cie mau tunangan. Langsung nikah aja kak, umur kakak udah tua banget soalnya!" Seru Lala yang langsung melarikan diri dari jangkauan kakaknya.
"Kak." Panggil Alice.
"Apa?" Balas Noah.
"Emm tadi itu,," Alice menggantung kalimatnya karena ragu mengungkapkan rasa penasarannya.
"Iya, bulan depan saya mau tunangan sama kamu. Dan dua bulan selanjutnya, saya akan lamar kamu ke Mas Adi. Saya sudah persiapkan semuanya matang-matang, saya juga nggak nerima penolakan."
Nggak ngerti lagi, cowok fiksi emang demen banget maksa orang, heran.
Jantung Alice pargoy mendengar penjelasan Noah. Sebelumnya laki-laki dihadapannya itu tak pernah membicarakan apapun dengannya. Selama ini Noah memang tak memberikan status hubungan yang pasti kepada Alice, semua mengalir begitu saja seperti air. Dan kini sekalinya berkata, dengan entengnya Noah mengajaknya bertunangan kemudian menikah. Sesingkat itu kah kisah cintanya?
"T-tapi Alice banyak kekurangan,,," guman gadis itu menundukkan kepala. Yang Alice rasakan adalah insecure, apalagi ia minus dibagian agama dari pada Noah yang jelas-jelas dari keluarga religius.
"Itu tugas saya setelah menjadi suami kamu nanti." Kata Noah begitu tenang.
"Emm,," Alice berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak terkontrol.
__________
"Lala mau ketemu sama oma, nggak mau tau mau ketemu sama oma!!" jerit gadis kecil itu sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
Saat pintu terbuka, Lala langsung menghambur memeluk tubuh bundanya dengan erat. Gadis itu ingin menemui neneknya, tapi ayahnya melarang karena hari sudah larut malam.
"Lala dengerin bunda, oma kan lagi istirahat. Ketemu sama oma nya besok aja ya, bareng-bareng sama kakak juga." Ucap Teressa mencoba memberikan pengertian kepada putrinya.
"Hiks,,,, mau sekarang bunda." Gadis itu menangis karena tak mendapat izin dari Bunda nya juga.
"Iya besok ya, sekarang bobok digendong sama ayah." Satya menggendong putrinya sambil berkeliling rumah. Setengah jam kemudian gadis berumur dua belas tahun itu terlelap didalam pelukan ayahnya. Satya segera menaruh tubuh putrinya diatas ranjang susun yang ia sediakan untuk triple.
Dibagian paling atas ada Arnesh, ditengah tempat Luna, dan paling dasar tempat Aakash. Allister juga berada didalam satu ruangan yang sama, namun tempat tidurnya terpisah. Karena jika dipaksakan untuk ikut ranjang susun, yang ada akan menyundul plafon kamar.
Setelah memastikan anak-anaknya telah tidur, Satya menutup pintu dengan perlahan. Kemudian kembali ke kamarnya dan sang istri.
"Bunda besok dibawa ke singapura. Biar mas sama Gavin yang nemenin, Noah biar disini jagain kalian. Nggak papa kan?" Tanya Satya setelah ikut berbaring di atas tempat tidur bersama Teressa.
"Nggak papa, mas nanti kabarin Tessa atau Noah tentang perkembangan bunda aja. Tessa doain semoga pengobatannya lancar." Kata Teressa.
"Iya sayang, amin."
__________
TBC