
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
Hari ini Satya dan Teressa disibukkan dengan kegiatan pindahan, pindahan Tessa ke rumah Satya tentunya. Untuk sementara Satya tinggal sama bunda dulu, soalnya belum prepare beli rumah ditambah lagi bunda sering kesepian dirumah kalo nggak ada anak-anak. Apalagi kini kedua anak Bunda sudah menikah semua.
Wow.
"Mas Satya." panggil Teressa pada suaminya. Kini mereka duduk diteras rumah Teressa, beristirahat sebentar setelah setengah hari mengemasi barang-barang, yang palingan cuma baju-baju sama barang-barang Noah.
"Kenapa yang?" balas Satya.
"Ini rumahnya nggak usah dijual ya? biar tetep gini aja, ini satu-satunya peninggalan mas Faiz ayahnya Noah." ucap Teressa.
"Hei, lagian siapa yang mau jual sih? ini punya kamu, hak kamu sama Noah, dan aku nggak bakal ngusik punya kalian. Tapi alangkah baiknya kita tinggal dirumah bunda dulu, kalo yang ini bisa kamu rawat dulu dan bisa kamu tengokin juga buat ngelepas rindu nggak usah dijual, mas bolehin kok." ucap Satya.
''Eum..makasih ya mas." ucap Teressa.
"Noah udah selesai?" tanya Satya.
"Sebentar mas, Tessa panggilin dulu."
Baru saja Teressa akan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, tiba-tiba Noah sudah keluar duluan sambil membawa sebuah amplop kecil.
"Bunda, ini foto siapa? Bunda Ody ya?" tanya Noah sambil menujukkan beberapa foto usang yang menampakkan sosok gadis manis masih mengenakan seragam SMA nya.
Ya, itu Melody.
"Noah dapet dari mana sayang? bunda tadi nyariin nggak nemu loh." ucap Teressa.
"Dibelakang, deket buku-buku ayah." jawab Noah.
"Iya ini bundanya Noah, bunda cantik kan?" ucap Teressa.
"Iya bunda cantik, kayak bunda." jawab Noah. Anak itu cukup pintar, tak mau membandingkan terlalu jauh antara Teressa dan Melody. Karna baginya, kedua wanita itu sangat berarti bagi dirinya.
Melody yang rela kehilangan nyawa demi melahirkannya didunia, dan Teressa yang hingga saat ini terus merawatnya dan memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu pada anaknya.
Noah terus bersyukur atas semua itu.
"Bunda pernah ke makam bunda ody nggak?" tanya Noah.
"Bunda pernah kesana sekali pas pertama kali ketemu Noah, bunda masih inget kok. Noah mau ziarah ke makam bunda ody?"
"Mau, sama bunda ya." ucap anak itu dengan antusias.
"Iya sayang." balas Teressa sambil mengusap kepala putranya.
"Papah nggak diajak?" tanya Satya yang tiba-tiba ikut nimbrung ditengah obrolan ibu dan anak itu.
"Mas ikut juga kok." balas Teressa.
"Iya, papah juga ikut." ucap Noah menambahkan.
Dan sebelum pulang, mereka memutuskan untuk langsung meluncur ke pemakaman tempat peristirahatan terakhir melody.
"Itu sodara nya Bunda Ody, bunda?" tanya Noah menujuk dua orang yang nampak mengerumuni sebuah makam yang diduga makam melody.
"Bunda juga nggak tau sayang. Tapi kata ayah, bunda Ody udah nggak punya kerabat lagi." jawab Teressa.
"Mas kita tungguin sampe mereka selesai nggak papa kan?" tanya Teressa. Ia merasa tak enak jika membuat suaminya menunggu terlalu lama, tapi kenyataannya Satya tidak mempermasalahkan hal itu.
"Yaudah kita ngadem dulu dibawah pohon sana." ajak Satya.
Beberapa saat kemudian, pengunjung itu nampak bersiap meninggalkan makam Melody. Sedangkan Satya beserta istri dan anaknya pun bersiap untuk bergantian mengunjungi makam Melody.
Disana mereka tak sengaja berpapasan secara langsung.
Seorang pria paruh baya menatap lama Noah saat keduanya berpapasan.
Deg
Wajah itu? wajah itu mengingatkannya kepada sang putra.
"Tunggu." serunya.
"Kenapa om?" tanya Satya, seperti biasa selalu santai, kalem, dan tenang walau menghadapi orang baru sekalipun.
"Kalian kerabat wanita yang dimakamkan disana?" tanyanya sambil menunjuk makam Melody.
"Benar pak, kami kerabatnya." jawab Teressa dengan sopan.
"Kalian kerabatnya? bukannya dia seorang yatim-
"Emang kenapa pah?" sela seorang wanita paruh baya yang diduga adalah istri pria paruh baya itu.
"Nggak papa mah."
"Kalo boleh tau, bapak sama ibuk ini kerabatnya atau keluarga mendiang ya?" tanya Teressa mengungkapkan rasa penasaran nya.
"Kami mertuanya, dia menantu kami." jawab pria itu dengan raut wajah berubah sendu dan sedih.
"Astagfirullah." seru Teressa tiba-tiba.
"Sayang kamu kenapa?" seru Satya yang nampak khawatir saat tiba-tiba istrinya mengucapkan istighfar.
"Sebentar, bapak sama ibuk ini orang tuanya mas Faiz?" tanya Teressa tak percaya. Setaunya Faiz pernah berkata bahwa kedua orang tuanya sudah lama meninggal, dan ia menjadi yatim piatu.
"Benar, saya ayahnya Faiz. Kamu kenal putra saya?" tanya pria itu.
"Saya kenal mas Faiz, saya istri kedua mas Faiz."
..._____________...
Duh panjang lagi ah (othor ngeluh:")
Obrolan mereka tak sampai disitu, mereka kembali mengobrol setelah Teressa mengunjungi makam Melody. Pasangan paruh baya itu rela menunggu hingga Teressa beserta suami dan anaknya menyelesaikan acara ziarah itu.
Kemudian setelah itu mereka melanjutkan obrolan lagi dan saling bertukar cerita.
"Mas Faiz sudah meninggal, kurang lebih 10 tahun yang lalu waktu Noah masih berusia 9 bulan. Saat sehari setelah kami sah menjadi pasangan suami istri. " ucap Teressa.
Lagi-lagi ia harus mengorek luka lama yang masih membekas di dalam hati.
"Andai dulu mamah nahan Faiz, semua nggak akan kayak gini pah. Kita punya menantu, punya cucu, dan punya penerus perusahaan. Nggak kayak gini, kita udah tua nggak punya siapa-siapa. Mamah nyesel pah...
Wanita itu nampak bersedih dan menyesali perbuatannya dimasa lalu, Teressa dapat melihat itu dengan jelas.
"Semuanya terjadi begitu cepat, papah juga nyesel udah ngusir Faiz dulu. Kita bahkan nggak ada disaat-saat terkahir Faiz.."
"Lalu anak ini? dia anak kamu atau anak istri pertama Faiz?" tanya Ayahnya Faiz sambil menunjuk anak laki-laki yang sedari tadi hanya diam tanpa menunjukan ekspresi apapun.
"Ini anaknya Mas Faiz sama mbak Melody yang selama ini Tessa rawat sepenuh hati, ini sebuah titipan dari Mas Faiz dan Melody. Saya musti menjalankan amanah beliau. " jawab Teressa sambil menatap putra kebanggaannya.
"J-jadi dia cucu ku? darah daging ku?" guman pria itu.
Rasa senang, sedih, bahagia menjadi satu.
"Benar pak." jawab Teressa.
"Mah itu cucu kita, anak Faiz." seru ayahnya Faiz dengan senang hati. Rasa rindunya terhadap anaknya terobati saat bertemu Noah.
"Iya pah, itu cucu kita yang kita sia-siain dulu. Wajahnya mirip banget sama Faiz, tegas dan tampan." balas istrinya.
"Tapi tunggu dulu, walau Noah cucu kalian dan bahkan darah daging kalian. Kalian jangan sekali-kali berencana untuk mengambil Noah dari istri saya, karna bagaimanapun istri saya yang merawat Noah dari bayi hingga sekarang. Jadi buang jauh-jauh pikiran kalian untuk mengambil Noah dari kami." seru Satya mendahului. Jangan sampai pikiran-pikiran licik seperti itu terjadi kedepannya.
Antisipasi ya Bang.
"Tapi dia cucu saya, biarkan dia meneruskan keluarga saya."
"Tentu saja, Noah cucu anda dan anda berhak untuk menjadikan Noah penerus keluarga anda, kalaupun tidak masih ada keluarga saya yang bisa diteruskan Noah. Kami sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, asal jangan menghasut putra saya untuk pergi meninggalkan bundanya." ucap Satya.
Bang Sat tau, jika Noah adalah segalanya bagi Teressa.
"Tidak, kami tidak ada pikiran buruk seperti itu. Justru saya berterima kasih kepada istri mu yang selama ini merawat cucu kami." ucap Ayahnya Faiz.
"Hari ini juga saya akan langsung mengalihkan semua aset benda dan perusahaan yang seharusnya diterima Faiz beralih menjadi milik Noah, cucu saya."
Asik cucu tunggal kaya raya nih.
Belom apa-apa udah jdi horang kaya ya No.
Buset dah.
___________________
Babay.