
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
"Sayang." panggil Satya yang kini sudah berdiri dibelakang tubuh Teressa.
"Mas Satya, kenapa mas? Udah selesai ngajinya?" balas Teressa. Tangan wanita itu dengan lincahnya mengaduk makanan yang tengah ia masak di dalam panci.
"Udah." balas Satya dengan lesu. Ia masih teringat kejadian tadi, dimana ia ketauan belum hafal surat An-naba didepan Noah.
"Kok lemes banget, mas udah laper ya? Tunggu bentar ya, ini makanannya mau mateng kok." ucap Teressa.
"Bukan gitu yang, aku mau hafalan Juz-amma lagi ya sama kamu. Tau nggak, tadi kan Noah mau setor hafalan Surat An-naba tapi mas belum hafal, mas dulu sering bolos ngaji makanya nggak hafal surat itu yang." keluh Satya.
Sejenak Teressa menghentikan kegiatan memasaknya, wanita itu membalik tubuh nya kebelakang menghadap suaminya.
"Nggak papa, nanti kita hafalan bareng-bareng. Pelan-pelan aja nggak usah dipaksain, nanti juga hafal sendiri lama-lama kalo udah terbiasa." ucap Teressa menyemangati Satya sambil menepuk pelan rahang tegas suaminya itu.
Satya sebenernya mukanya agak garang gitu, tapi kalo dirumah selalu happy kiyowoo.
"Eum." guman Satya sambil menganggukkan kepalanya.
"Noah tidur lagi ya mass?" tanya Teressa.
"Enggak, Noah baca buku." jawab Satya.
Pria itu menggeser sebuah kursi yang ada diruang makan, kemudian menaruhnya didekat istrinya yang sedang memasak. Ia mendudukinya sambil memeluk tubuh Teressa dari belakang.
Ahhh....so sweet banget pengen tak jungkelno!
"Kamu masak banyak buat apa yang?" tanya Satya.
"Nanti kita bawa ke rumah sakit, biar dimakan buat sarapan sama Ghea dan yang lain. Kasian kalo makan makanan luar terus." ucap Teressa.
Namanya juga Satya, kalo nggak bertingkah nggak apdol. Udah bener duduk anteng sambil meluk mbak Teressa dari belakang, eh berulah lagi.
Sekarang udah nggak duduk di kursi lagi, kepalanya menyelusup didepan tubuh Teressa. Dan akhirnya Satya berhasil merengkuh tubuh istrinya dari depan.
"Mas Satya kenapa, hm? Tessa masih masak loh." ucap Teressa lembut.
Tubuh Teressa yang terbilang lumayan tinggi dan tidak terlalu pendek masih bisa menjangkau bahu suaminya untuk melihat masakannya, jangan sampe gosong!
"Hmm nggak papa, mau cuddle aja." guman Satya yang masih betah memeluk tubuh istrinya.
Satya kalo lagi manja keliatan kalem boy banget kan pengen karungin☺️
"Mas minggir dulu ya, ini mau Tessa angkat dulu sayur nya." ucap Teressa. Satya hanya memutar tubuhnya, ia tetap memeluk Teressa namun dari belakang.
Teressa terlihat menghela nafas pelan, suaminya benar-benar tak mau melepasnya. Satya terus mengikuti semua pergerakan istrinya kesana kemari.
"Mas mau sosis nggak?" tawar Teressa sambil menyodorkan sebuah sosis yang ia tusuk menggunakan garpu.
"Nggak mau." tolak Satya. Entah mengapa pria itu tidak begitu menyukai salah satu olahan daging tersebut
"Padahal ini enak loh." balas Teressa sambil menyuapkan potongan sosis itu kedalam mulutnya. Satya diam mengamati istrinya yang nampak begitu menikmati sosis yang dicelupkan kedalam saos sambal itu.
"Enak yang?" tanya Satya penasaran.
"Enak tau, makanya coba." jawab Teressa.
"Masa sih? enakan juga sosis mas, selain jumbo size juga bikin kamu merem melek ples desah nikmat." guman Satya pelan.
"Oh enakan sosis mas ya? Siniin sosis nya biar Tessa potong, terus Tessa goreng di minyak yang panas, terus Tessa cocok ke saus sambal!" seru Teressa penuh penekanan dan menatap tajam suaminya.
Reflek Satya langsung mundur dari hadapan Teressa, kedua tangannya spontan berada diarea ************ nya untuk menutupi aset berharga nya itu.
Istri Satya seorang psikopat!!!😭😭
"Ih yang jangan gitu ah, mas ngeri tau." gerutu Satya bergidik ngeri.
"Ya habisnya mas mesum terus!! sosis mas Satya tuh yang bikin punya Tessa lecet!" keluh Teressa menyalahkan suaminya.
"Lecet? Serius? Masa sih, perasaan punya mas-
"Shutt udah nggak usah dilanjutin!" seru Teressa yang langsung membungkam mulut Satya agar tak melanjutkan ucapannya. Ia tau ujung-ujungnya suaminya itu akan mengeluarkan kata-kata frontal dan vulgar yang akan membuatnya malu.
________________
Babay.