
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
Note: Buat yg nggak sabar skip aja, karna ini maen kalem dan banyak drama dulu:)
Satya menggiring istrinya untuk masuk kedalam kamarnya, dan tak lupa Satya sudah memastikan semua kondisi dalam keadaan aman dan terjaga.
"Mas Satya, itu yang disana hadiah dari tamu di acara resepsi kita ya?" tanya Teressa sambil menunjuk tumbukan berbagai macam bentuk kado yang tertimbun dipojok kamar Satya.
"Iya, kita unboxing besok aja ya, sekarang mas mau unboxing kamu dulu." jawab Satya.
"Tapi Tessa mau buka satu, boleh kan mas?" ijin Teressa memohon pada Satya.
"Satu aja!" Teressa segera menganggukkan kepalanya dengan patuh, dengan antusias ia menghampiri tumpukan kado tersebut.
Hm, yang Tessa cari kira-kira apa ya?
"Kamu nyari kado dari siapa sih? temen kamu?" tanya Satya penasaran, pria itu ikut bergabung duduk dilantai bersama Teressa.
"Tessa kan nggak ngundang temen, Jojo nggak bisa kan mas pindahin ke luar kota." ucap Teressa.
Nah iya, kebangetan emang Si satya. Si Jojon pun diungsikan keluar kota ama tu orang
"Kamu ngarep Si Jojon itu dateng!" ketus Satya dengan suara tak bersahabat.
"Nggak gitu, kan emang temen aku yang ada dikantor cuma Jojo mas. Kebanyakan yang cewe pada sinis sama Tessa, makanya temen Tessa cuma beberapa itupun nggak deket banget kayak Jojo."
"Oh berarti Si Jojon itu deket banget? udah nempel kayak perangko? gitu!" seru Satya.
"Mas Satya mah gitu suka marah-marah nggak jelas, kan udah Tessa jelasin kalo Jojo cuma temen Tessa aja kalo dikantor." guman Teressa. Sepertinya acara membuka kado tak jadi, walau sebenarnya ia penasaran dengan isi kado yang diberikan oleh Maura.
Masih ingat Maura? bocilnya Marvin? Gadis manis itu memberikan kado misterius kepada Teressa bukan.
"Hei kadonya gimana?" tanya Satya saat melihat Teressa bangkit dari sampingnya.
"Nggak jadi, Tessa mau tidur aja." jawab wanita itu.
"Mana bisa, kan mas belom malem pertama sama kamu!" protes Satya tak terima.
"Ya habisnya mas bikin Tessa kesel!" sungut Teressa.
"Ya kamu mancing mas duluan, yang bener aja muji-muji cowok lain didepan mas. Nggak usah ditanya kenapa, mas cemburu!" seru Satya.
Hm, posesip sekali epribdeh.
"Maafin Tessa." cicit Teressa pelan.
Ia menyesal telah berkata dengan nada merengut pada suaminya, ia melampiaskan kekesalan pada Satya.
"Udah ah tidur aja, besok kita harus bangun pagi buat ngurus anak-anak. Buruan tidur, udah malem." seru Satya.
Pria itu langsung menerjunkan tubuhnya diatas kasur dengan posisi tengkurap, kemudian ditariklah selimut hingga menutupi kepalanya.
Ngambek!
Teressa Hanya bisa menghela nafas sambil mengusap dada, suaminya hobi sekali merajuk.
Dengan gerakan pelan ia ikut merebahkan tubuhnya disamping Satya yang masih betah dipersembunyiannya.
"Mas Satya udah tidur ya?" Tanya Teressa sambil menatap tubuh tengkurap suaminya. Karna tak ada respon dari Satya, Teressa mengira suaminya itu sudah tidur dan ia pun melanjutkan gumanannya.
"Tessa cuma sedikit takut aja, katanya malem pertama bakal sakit sampe berdarah-darah? Ntar kalo Tessa sakit gimana?" guman Teressa meracau.
"Tapi cepat atau lambat pasti Tessa ngerasain itu, tapi Tessa nggak siap gimana dong?" lirih Teressa.
Ia tak sadar jika semua racauannya direkam langsung oleh indra pendengaran milik Satya yang sangat tajam.
"AKHHHHH!!!
Teriak Teressa terkejut saat tiba-tiba Satya menarik tubuhnya kedalam selimut bersama pria itu.
Didalam selimut posisi mereka sangat intim, karna tubuh Teressa ditindih langsung oleh Satya. Bahkan kini wajah tampan Satya berada tepat dihadapan Tessa, hanya memberikan jarak beberapa senti saja.
Mata elang Satya tak teralihakn dari pandangan mata Teressa, hal itu membuat jantung Teressa tidak aman.
Jantungnya seperti sedang konser, jedag jedug.
"M-mas?"
"Oh jadi kamu takut, takut sakit? itu cuma awalnya doang sayang, akhirnya mah bakalan nikmat tiada tara." ucap Satya meyakinkan Teressa.
"M-mas udah pernah emang?" tanya Teressa.
"Oh tentu saja, tidak! Yakali gituan sebelum nikah, bisa-bisa digantung bunda ntar." seru Satya.
"T-terus??"
"Terus mas mau ibadah sama kamu sayang." setelah mengucapkan kalimat itu, Satya langsung menyusupkan kepalanya kedalam jilbab yang Tessa kenakan. Entah apa yang dilakukan, yang pasti itu membuat mbak Teressa geli.
"Mas jangan gini ah, Tessa geli."
"Mas!!" Tessa terkejut saat merasakan wajah Satya sudah mendusel di dadanya.
Wow pro sekali kamu bang, aku pun terkejut.
Jadikan baju gamisnya Mbak Teressa kancingnya ada didepan, nah otomatis dengan mudahnya Bang Satya bisa membuka satu persatu kancing baju Teressa dibagian dada.
Mana pas banget bagian dada lagi ah.
...Bener gini kan modelnya, kancing depan?...
...Ya intinya seperti itu ....
...Itu bukan visual loh ya, itu cuma model bajunya mbak Teressa....
"Sayang, yuk ngadon yukk." rengek Satya yang kini sudah mengeluarkan kepalanya dari tempat persembunyiannya.
"Iya mas, tapi selimutnya buka dulu nggak bisa nafas Tessa." balas Teressa. Satya pun langsung membuka selimut yang menutupi mereka berdua, kemudian melemparnya ke sembarang arah.
"Hayukk jangan boong loh, ntar mas ngambek beneran sama kamu!"
Hm, dengan modalkan iman dan taqwa kepada Allah, Teressa siap menyerahkan mahkotanya kepada sang suami.
"Enggak mas, Tessa udah siap kok insyaallah. " ucap Teressa dengan mantap walau agak sedikit gugup disana.
"Jilbabnya lepas lagi yang." seru Satya sambil membuka jilbab yang Tessa kenakan.
"Mas Satya lampunya dimatiin aja ya, sama pake selimut." pinta Teressa.
"Tadi selimutnya suruh buang." guman Satya, walau begitu ia tetap melakukan permintaan istrinya. Ia mematikan lampu ruangan, dan hanya menyisakan lampu tidur disisi kiri dan kanan ranjang, setelah itu ia kembali meraih selimut yang sebelumnya ia buang sembarangan tadi.
"Udah." Satya kembali memposisikan tubuhnya diatas tubuh Teressa, dan Teressa mengangguk sebagai balasan.
Yuhuu malam pertama pun dimulai, Satya mengawali kegiatan mereka dengan silahturahmi bibir terlebih dahulu. Satya benar-benar melumatttt bibir Teressa dengan rakus, hingga membuat bibir ranum itu sedikit membengkak.
"Eumh...Mas...
Duh udah mulai desahhh nih emaknya Noah.
Teressa sedikit meleguh saat bibir Satya penyapu permukaan kulit pada lehernya. Sepertinya pria itu tau titik lemahnya.
"Berhubung kamu belum bisa bales, yaudah biar mas aja yang kerja." ujar Satya. Bibirnya semakin turun kebawah hingga mendekati bagian dada Teressa, disana ia menghentikan aksinya untuk membuka beberapa kancing Teressa yang lainnya.
Teressa yang merasa malu hanya mampu memejamkan matanya, ia sudah pasrah dengan semua yang akan dilakukan suaminya padanya.
Dan Satya disana sangat terpukau dengan pemandangan yang ia lihat didepan matanya.
Gimana nggak terpukau, orang jelas-jelas didepan mata mbak Teressa udah hampir telanjang gegara dia.
Leher jenjang, bahu mulus, dan dada? Woo tak usah diragukan lagi kawan, itu sangat istimewa bagi Satya.
"Perasaan tadi mas cuma remes sekali, kok ngefek banget ya?" guman Satya sambil mengamati kedua gunungan kembar milik Teressa. Dan Teressa yang malu saat tatapan Satya tertuju pada dadanya pun langsung menyilangkan kedua tangan nya didepan dada.
"Nggak adil, kok Tessa udah dilepas bajunya tapi mas belom!" protes Teressa tak terima.
"Bentar mas lepas juga." Dan seperti ucapannya, Satya menanggalkan semua pakaiannya yang melekat pada tubuhnya hingga tubuhnya benar-benar polos. Dan saat itu Teressa memejamkan matanya, karna tak ingin matanya ternodai oleh aurot suaminya.
"Buka matanya sayang, mas ganteng masa dianggurin." ucap Satya sambil mengusap pipi Teressa.
Teressa sedikit mengintip Satya dari celah kecil penglihatannya, tubuh Satya bagian atas sudah telanjang dan menampilkan perut kotak-kotaknya yang terlihat sangat LAKIKK. Bagian bawahnya Teressa tak tau, karna masih tertutup oleh selimut.
"Sekarang Tessa buka semuanya, mas udah buka semuanya." seru Satya.
"Tapi mas jangan nunduk." cicit Teressa malu.
"Ya terus?" balas Satya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Pokoknya jangan lihat kebawah." seru Teressa.
Satya tak mungkin kehabisan ide untuk menikmati keelokan tubuh Teressa. Tak bisa dipungkiri Teressa memang cantik luar dalam, dan body nya pun seperti lobster Ciawi.
Satya langsung membalikkan posisi mereka yang semula Teressa berada dibawahnya berubah menjadi diatas tubuhnya.
Seperti ini bukan? Teressa tidak melarang Satya untuk mendongak keatas.
"Mas kok gini?" tanya Teressa resah. Bukan ini maksudnya!
"Nggak boleh protes lagi, udah Bener kan."
Tak mendapatkan yang atas, yang bawah pun jadi. Satya menarik cd Teressa yang dalam selimut, dan akhirnya milik keduanya pun saling bersentuhan karna sama-sama tak terlapisi oleh kain sama sekali.
Teressa panik! Ada sesuatu keras yang mengganjal dibawahnya dan secara langsung bersentuhan dengan bagian sensitive nya.
"Pemanasan dulu hm?" tanya Satya dengan lembut. Tangannya sudah merayap dibawah sana, memberikan sentuhan lembut pada bagian bawah Teressa.
"Pemanasan gimana mas?" tanya Teressa tak paham. Tubuhnya bereaksi lain saat tangan Satya berkeliaran disana, oh ataukah mbak Teressa menginginkan hal lebih? Wow.
"Lah udah basah aja kamu yang, kenapa nggak bilang daritadi sih. Tau gini nggak usah pemanasan tadi." ucap Satya.
Entahlah, Teressa benar-benar tak paham dengan apa yang dibicarakan suaminya. Nafasnya terengah dan area sensitive nya berkedut.
Fiks Bang Sat berhasil merangsang nya.
"Mas, Tessa pengen pipis dulu." ucap Teressa lirih.
"Disini aja sayang." balas Satya sambil menahan tubuh Teressa agar tak bangkit dari atas tubuhnya.
"Tapi mas-
Tiba-tiba Teressa memeluk tubuh Satya dengan erat saat merasakan sesuatu akan keluar dari tubuhnya. Dan saat itu juga Satya ikut meringis, karna 'adik kecilnya' ditekan kuat oleh tubuh Teressa.
"Tessa pipis, kasurnya kotor mas." keluh Teressa.
"Its oke, nggak papa besok kita ganti."
kini giliran Satya yang berusaha mati-matian menahan birahi yang bergejolak.
Nggak bisa! batang nya harus segera masuk ke lubang Tere!
"Sayang, sekarang ya?" pinta Satya dengan suara parau.
"Eumm i-iya mas."
Usai mendapat persetujuan dari istrinya, Satya kembali mencium bibir istrinya sebagai awalan sebelum ke tahap inti. Dan saat itu, Teressa turut membalas cumbuannn Satya sambil menundukkan kepalanya kebawah.
Karna posisinya Satya dibawah ya sodara-sodara.
Dan saat yang ditunggu pun tiba, Satya sedikit mengangkat tubuh Teressa saat akan memasukkan miliknya kedalam milik Teressa.
"Kalo sakit kamu gigit, pukul, atau cubit mas aja ya. Jangan dilepas, itu bakal nyakitin mas." pesan Satya terlebih dahulu.
"Iya mas." balas Teressa sambil mengangguk paham.
"Mas masuk sayang."
Dengan perlahan Satya mulai memasukkan juniornya kedalam situ Teressa, "Tahan sayang, ini akan sedikit sakit diawalnya ntar seterusnya bakal nikmat kok." ucap Satya sambil terus berusaha memasukkan juniornya kedalam lubang Teressa.
"Mashh sakitt....Tessa Nggak kuatt." rintih Teressa saat kepala junior Satya mulai memasuki tubuhnya. Wanita itu berusaha menghindar, namun Satya menahannya agar tetap berada di posisi itu.
"Sebentar lagi sayang." seru Satya sambil mengusap lelehan bening yang membanjiri pipi Teressa.
Blesssss
Junior Satya sudah tenggelam sempurna didalam **** * milik Teressa bersamaan dengan selaput dara Teressa yang robek didalam sana.
Setitik darah mengalir disana pertanda Satya telah berhasil membobol keperawanan istrinya.
"Awhhh....sakitt masshhh shhhhh.. " rintih Teressa saat merasakan sebuah benda tumpul besar kini telah bersarang pada tubuh bagian bawahnya.
Ia tak bisa membayangkan seberapa besar benda itu, karna menurutnya sangat besar dan panjang hingga mentok menyentuh dinding rahimnya. Dan jangan lupakan, ini adalah percobaan pertama Teressa, dan gilanya dia harus memimpin diatas.
Sebesar tongkat baseball kah? Atau tongkat kasti? eh mirip kan mereka berdua?
Sejenak Satya membiarkan juniornya terdiam di dalam sarang sang istri, supaya milik Teressa bisa menyesuaikan diri dengan miliknya.
"Udah nggak sakit kan?" tanya Satya sambil mengusap jemari istrinya yang mencengkeram kuat sprei disebelahnya.
"Eumm..." guman Teressa pelan sambil menggelengkan kepala pelan dan memejamkan mata.
Satya kemudian mulai memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo perlahan, juniornya terus keluar masuk dari dalam vaginaa Teressa yang masih terasa sempit itu.
"Ohh sayangg punya kamu sempit bangettt, ahhh astaga kejepit kan punya mas!" racau Satya sambil terus menggerakkan pinggulnya. Ia kembali meraih tengkuk Teressa dan melumatt bibir ranum istrinya itu dengan rakus.
"mas pelan."
Makin lama gerakan Satya makin kuat dan cepat, seringkali membuat Teressa menjerit kesakitan sekaligus nikmat yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Mass ahhhh...
"Shittt! suaramu sangat merdu sayang, mas tambah nggak tahan!!" racau Satya yang semakin bersemangat menghujam milik Teressa dengan cepat dan brutal.
Udah dibilangin masih perawan, masih aja lu gas! Sampe brutal loh, ntar kalo lecet gimane tong elah!
"Mas Satya, emhhh Tessa mau pipis lagi mas." ucap Teressa terengah-engah.
"Sebentar, kita barengan sayang." Dirasa dirinya juga akan mendapatkan *******, Satya pun bergerak lagi dan lagi dan tentunya membuat Teressa mendesahh tak karuan dan kacau.
"Oh sayanggg mas mau keluarhhh!!" racau Satya.
"Tessa juga ahhh..
Arghhhhh.....
Cairan mereka menyatu menjadi satu didalam rahim Teressa. Wanita itu merasakan ada semburan cairan panas menghangati rahimnya. Yap, itu adalah calon penerus satya.
"Kaki Tessa pegel. " keluh wanita itu dengan wajah letih, tubuhnya langsung ambruk diatas dada bidang Satya. Nafasnya naik turun, sensasi yang pertama kali ia rasakan seumur hidup.
Ya gimana nggak pegel orang kelamaan ngakang, alias menunggangi juniornya Satya.
Klik
Pengait bra Tessa terlepas, Satya pelakunya!
"Mas sesek lagi?" rengek Teressa tak percaya.
"Adik mas masih mau main sayang." seru Satya sambil mengecup bibir ranum istrinya.
"Tapi mas, punya Tessa-
"Bergeraklah." titah Satya memerintah.
Tak ada pilihan lain, suaminya sendiri yang menyuruh. Dengan perlahan Teressa mulai menggerakkan pinggulnya sesuai dengan bimbingan suaminya.
Selain cantik, Sholehah, dan pintar, istrinya itu juga pandai memuaskan hasrat nya siapa lagi kalo bukan Teressa.
Walau tenaganya belum benar-benar terkumpul semua, wanita itu tetap menggerakan tubuhnya sekuat tenaga untuk memberikan kepuasan pada suaminya.
"Mas Satya ahh....
"Hm?"
"Jangan digigit!" ketus Teressa sambil merem melek.
Yaudah sampe situ aja, kalo mau lebih khayal sendiri aja kawan.
Ini cuma khayalan doang, bukan pengalaman pribadi:)
_______________
Babay.
Voteee yaaa saya tunggu:)