AFTER

AFTER
Eps 84



(Satya & Teressa)


.


.


.


.


.


Malam harinya Satya langsung mengeluh kesakitan dibagian giginya. Ditambah lagi kepalanya mulai pusing, pandangannya bercapung-capung. Bukan hanya itu, suhu tubuh nya juga lumayan tinggi saat Teressa mengeceknya tadi.


Kini yang bisa dilakukan Satya hanya menangis sambil merengek kesakitan. Tak tau bagaimana cara mengatasi rasa sakit yang menyerang tubuhnya secara berjamaah itu.


"Sayang, sakitt aaaaaaa,,,,, nggak kuat mau cabut gigi aja hiks." Karena terlalu menyiksa, Satya tak tahan lagi untuk menekan giginya yang sakit. Bukan rasa sakit yang mereda yang ia dapat, giginya malah bertambah sakit berkali-kali lipat.


"Hoekk,,"


Perut Satya terasa seperti diaduk-aduk, lagi dan lagi ia harus memuntahkan cairan bening itu dikamar mandi.


Apakah semua ini ada hubungannya dengan es krim dan snack rasa kerbau bakar tadi? Atau jangan-jangan perut Satya menolak makanan hasil Satya merampok dari Baby Allister?


Ternyata karma atau azab Allah benar adanya. Dan mungkin musibah yang menimpa Satya ini bisa dikategorikan sebagai karma dari Allah.


"Mas Satya masih mules perutnya?" Tanya Teressa penuh rasa khawatir. Sedari tadi ia melihat suaminya begitu menderita. Pipinya ditempel oleh koyo, dahinya ditempel plester demam, bahkan Satya sudah mengenakan pakaian tebal agar tidak kedinginan. Namun pria itu masih saja mengeluh kedinginan.


"Masih Sayang, mules banget. Mas pengen pingsan aja rasanya." keluh Satya.


Teressa menuntun suaminya untuk kembali berbaring di ranjang. Dan Satya kembali meringkuk seperti bayi memeluk tubuh istrinya.


"Mas Satya makan lagi ya, biar cepet sembuh." Ucap Teressa sembari mengusap lembut surai hitam milik suaminya. Satya hanya menggeleng lemah sebagai balasan. Saat ini Satya berada di fase lemas, lemah, letih, lesu, lunglai, Tak berdaya.


Jangan kira seorang Satya tak bisa sakit. Satya juga manusia biasa kan.


Dan ketika sakit, beginilah Satya kembali menjadi bayi kecil.


"Nasinya udah kamu keluarin terus loh, perut kamu pasti kosong. Makan lagi ya, kali ini nurut sama Tessa." Kata Teressa lagi.


Satya menatap nanar kepergian istrinya dari kamarnya itu. Ia akan kembali dipaksa untuk makan oleh istrinya. Mungkin kalo giginya sedang baik-baik saja Satya akan senang hati menerima nya. Sekarang kondisinya berbeda, untuk mangap saja ia begitu kesulitan.


Setelah kepergian Teressa, kini ada tamu masuk ke dalam kamar Satya. Monster kecil dan Noah. Keduanya datang karena mendapat kabar dari bundanya, jika ayahnya sedan tidak enak badan.


Noah begitu prihatin melihat kondisi ayahnya. Bukannya lebay atau berlebihan, kali ini ayahnya memang berbeda dari saat-saat sebelumnya yang kesanya selalu happy kiyowoh.


"Yaa-yahh at-itt?" (Ayah sakit?)


Satya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan putranya.


"Epet mbuh ya-aa." (Cepet sembuh ya) Baby Allister mengusap koyo yang menempel pada wajah ayahnya dengan tangan mungilnya itu.


Tak lama setelah itu, Teressa kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisikan makanan untuk suaminya.


"Adek belum tidur, hm?" Teressa menjawil pelan pipi chubby putranya, baby Allister.


Allister menggeleng, "Eyum ndaa." (Belum nda)


"Au antu yah" (Mau bantu ayah)


Tangan kecilnya mulai menekan-nekan lengan kekar sangat ayah. Tentu hal itu tak berasa apa-apa bagi Satya. Tapi Satya menghargai effort yang dilakukan putra kecilnya.


Ah, Teressa terharu melihat kedekatan putra dan suaminya. Saat salah satu dari mereka tengah sakit, mereka saling merangkul satu sama lain. Keduanya terlihat sangat akur, dan tentunya itu adalah pemandangan langka.


"Adek mau makan sama ayah nggak?" Tawar Teressa.


"Maam ap-aa?" (Makan apa?) Allister menengok piring yang dibawa bundanya. Anak itu lumayan pilih-pilih makanan seperti ayahnya.


Akhirnya malam itu Teressa hanya menyuapi Satya saja karena si bocil tidak mau memakan makanan orang sakit, yang tak lain dan tak bukan adalah bubur. Sedangkan Noah dan Allister hanya mengamati kegiatan bundanya merawat ayah mereka.


"Adek udah tidur bun, malem ini biar sama Noah aja ya. Bunda jagain ayah aja, biar nggak kerepotan." Ujar Noah.


"Sama Noah nggak papa?" Tanya Teressa.


"Nggak papa, biar sama Noah aja." Teressa mengaggukan, membiarkan Noah membawa Allister ke kamar sebelah.


Setelah mengucapkan selamat malam, dan ucapan semoga lekas sembuh kepada ayahnya. Noah langsung keluar dari kamar kedua orang tuanya dengan membawa baby Allister yang sudah terlelap didalam dekapannya.


Teressa begitu bersyukur memiliki dua jagoan yang sangat perhatian itu.


"Sekarang giliran mas yang tidur ya." Ujar Teressa kepada bayi besarnya.


"Hm." Dengan penuh kasih sayang Teressa merengkuh tubuh Satya. Wanita itu sangat suka melantunkan shalawat sambil mengusap kepala suaminya. Gimana nggak langsung adem, orang maennya shalawat.


Satya terus mencari kehangatan dibalik dada istrinya.


"Sayang." panggil Satya lirih.


"Iya, kenapa mas?" Dengan sigap Teressa menundukkan pandangan ke arah suaminya.


Cup


"Night. " Setelah memberikan hadiah kecupan manis kepada sang istri, Satya kembali menyusupkan wajahnya dibalik itunya Teressa.


Teressa tersenyum tipis, suaminya masih bisa berlaku manis kepadanya padahal kondisinya tengah sakit. Romantis nggak pandang situasi dan kondisi emang.


_______________


"Morning all." Satya menyapa seluruh anggota keluarganya dimeja makan.


"Bang, kamu kok kelihatannya makin parah sih? Sakit banget ya?" Tanya Bunda Citra sedikit khawatir dengan penampakan baru anaknya. Ingat hanya sedikit, nggak banyak.


"Giginya udah nggak terlalu sakit sih bunda, tapi masih agak lemes aja." Jawab Satya.


"Kamu tadi udah cuci muka?" "Belum."


"Gosok gigi?" "Belum juga."


"Ish jorok!" Cibir Bunda Citra.


"Ngaca udah belum?"


"Belum lah, emangnya kenapa sih bund? ada yang kurang dari kegantengan putra mu ini?" Tanya Satya terheran-heran saat bundanya terus memberondong dirinya dengan pertanyaan aneh.


"Iya deh ganteng banget. Saking gantengnya mirip sama alien!" Celetuk Bunda Citra.


Alis Satya mengeryit bingung, ia masih belum paham apa yang dimaksud bundanya. Beralih menatap sang istri, Satya mencari jawaban disana. "Kenapa sih yang? bilang sama aku."


Noah memberikan hp nya kepada sang ayah, dengan santai Satya menerimanya.


"Aaaaaaaw takut banget!!!!" Satya langsung menggeletakan ponsel Noah diatas meja makan begitu saja. Setelah itu ia langsung lari tunggang langgang menuju kamarnya.


"Yah eyem." (Ayah serem)


"Mirip alien kan sayang." Celetuk Bunda Citra pada cucu kecilnya. Dan dengan polosnya Allister menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan neneknya.


Sekedar info, wajah Satya bengkak gara-gara sakit gigi.


_______________


TBC.