
(Satya & Teressa.)
.
.
.
.
.
Hai semua, i'm back!
Yuhuu pada sehat semua kan? Moga pada sehat wal afiat semua ye, aminn.
Bang Sat lanjut yang kemaren ya.
_________
"Udah jangan maen hp mulu, saya tau kamu lagi chatan sama Si Jojon, ya kan?'' Tanya Satya pada Teressa yang duduk disampingnya sambil memegangi ponsel yang wanita itu punya.
"E-enggak pak." Balas Teressa tak membenarkan ucapan Satya.
Sebenernya emang iya lagi chatan sama Jojo, nanyain kondisi Tessa baik-baik aja atau gimana-gimana. Tapi ya kali bilang ama Bang Sat, orang tu anak masih sewot terus dari tadi.
"Awas aja kalo bohong!" Seru Satya dengan nada mengancam.
Buset dah ni orang bikin cewek kicep.
"Enggak pak." Balas Teressa pelan dengan menundukkan kepalanya.
"Gua kalo akting cakep juga ya hasilnya, buktinya Si Tessa langsung nurut. Bukan maen dah kemampuan Satya, keren woylah!" Batin Satya yang terus membanggakan dirinya sendiri karna berhasil membuat Teressa menurut dengannya.
Narsis tingkat Dewa ini mah.
Harus dapet penghargaan ga si?
__________
"Rumah kamu ada tamu, Tessa?" Tanya Satya. Ia mengamati keadaan disekitar rumah Teressa. Dapat ia lihat dengan jelas kalau terparkir sebuah mobil berwarna hitam disana. Tapi Satya nggak tau itu siapa.
Jangan sampe itu calon bibit-bibit saingan Satya, yang bener aja baru aja Si Jojon kelar udah ada biang lagi.
"Eum itu kayaknya om nya Dio, temen Noah pak." ucap Teressa.
"Om nya? berarti cowo dong?" Teressa menganggukkan kepala nya membenarkan ucapan Satya.
Dimana-mana kalo 'om' ya pasti LAKIK bang! Yaelah.
"Ngapain dia kesini?" Tanya Satya tak suka.
"Eum saya juga kurang tau pak." jawab Teressa. Entahlah, ia rasa akan ada masalah besar menimpanya nanti.
"Ayo turun." ucap Satya.
Keduanya pun turun dari mobil bersamaan, setelah itu melangkah beriringan menuju kediaman Teressa.
Saat didepan rumah Teressa, mereka disambut dengan Noah dan satu anak kecil seumuran Noah disana.
"Assalamualaikum sayang." Teressa mengucapkan salam sambil mengulurkan tangannya pada Noah, anak itu pun menerima uluran tangan bundanya dan seperti biasa sebagai anak soleh ia menyalami bundanya terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam bunda." balas Noah. Disusul dengan Dio (temennya Noah) yang ikut menyalami Teressa.
"Assalamualaikum Tante Sasaaa." seru Dio.
"Waalaikumsalam ganteng, Dio Udah lama nggak main kesini ya." balas Teressa dengan ramah. Ya gimana lagi satu sisi mungkin jiwa keibuan yang sudah melekat pada diri Tessa, dan satu sisi Tessa suka dengan anak-anak. Makanya banyak anak-anak yang suka dengan Teressa.
"Iya tante, mau belajar sama Noah." ucap Dio dengan senyum antusiasnya.
Kalo anak-anak ambis mah beda, maennya buat belajar bunda.
#Bukanmaen
Si Bang Sat nih masih diem-diem bae, masih memantau kondisi dan situasi disana.
"Baru pulang Re?"
"Ah iya mas, baru pulang dari kantor." balas Teressa.
Wait, Satya melebarkan bola matanya terkejot bukan maen. Kenapa Teressa memanggil orang lain dengan sebutan 'mas' Sedangkan sama dia aja manggilnya 'pak?'
Maksudnya apa nih? Apa hubungan mereka sudah sedekat itu, sampe manggilnya mas-mas segala? dan juga pria itu tadi memanggil Teressa dengan panggilan 're' . Apaan miskah? Rere gitu?
Fiks Bang Sat cembokor.
"Ayo duduk dulu, biar saya bikinin minum dulu didalem." Ucap Teressa mempersilahkan kepada kedua pria dewasa itu untuk duduk terlebih dahulu.
"Pak Satya silahkan duduk dulu." ucap Teressa lagi, kalimat itu ditujukan untuk Satya. Dengan sejuta rasa kesal dan sebal, akhirnya Satya ikut bergabung duduk dilesehan bersama anak-anak.
"Hm? siapa yang kesel, nggak ada kok, om nggak kesel. Oh iya kamu ada pr No?" Tanya Satya.
"Eum ada om, Bahasa inggris sama IPA. Semuanya susah, Noah belum paham." geurutu anak itu.
"Sini om liat, kalo bahasa inggris mah sabi lah. Om udah pro banget, makanan sehari-hari ini." ucap Satya dengan sombong nya. Noah pun menyerahkan bukunya kepada Satya.
"Noah kamu udah ngerjain yang tugas gambar belum? aku belum selesai tau, Om Gara nggak bisa gambar payah!" Ucap Dio.
"Bukannya nggak bisa boy, lupa aja sama teknik-tekniknya." tukas Gara membela diri.
"Cih alasan!" dumel Satya, namun hal itu masih bisa didengar oleh telinga Gara. Walau begitu Gara hanya diam tak menanggapi nya.
"Nih punya aku, bagus kan. Ini dibantuin sama Om Satya tau, kamu minta dibantuin Om Satya aja kalo Om Gara nggak bisa." ucap Noah sambil menunjukan hasil tugasnya pada Dio.
"Wow bagus banget, yang kayak gini nih om yang Dio mau." seru Dio.
"it's okey kita panggil guru privat aja buat ajarin kamu gambar boy." balas Gara.
"Nggak mau ah, gurunya galak-galak nggak asik." tolak Dio.
Tak lama pun Teressa datang dengan membawa nampan berisikan dua cangkir teh untuk para hadirin tamunya, tak lupa jus buah untuk kedua anak laki-laki itu.
"Teh nya buat pak Satya sama Mas Gara, jus nya buat anak-anak ya." ucap Teressa.
"Makasih bundaaa hehe." Sorak Noah dan Dio bersamaan.
"Sama-sama sayang." balas Teressa.
"Makasih Tessa."
"Thanks Re."
"Sama-sama . "
Saat Teressa hendak kembali masuk kedalam rumah guna mengembalikan nampannya ke dapur, Satya langsung memanggilnya.
"Tessa saya mau numpang kamar mandi, kebelet pipis." ujar Satya.
"Oh mari silahkan masuk pak, kamar mandi nya ada didalem." balas Teressa.
"Anter ya?" Ucap Satya.
"Ha?"
"Anter ke kamar mandi maksudnya, aku mah pipisnya sendiri." Ralat Satya.
Astaga.
"Iya pak, mari Saya antar." balas Teressa.
Teressa pun menujukkan kamar mandi rumahnya pada Satya. Tak ada rasa curiga atau apa, karna Teressa yakin Bang Sat bukan orang yang neko-neko.
Ya kan emang nggak mau ngapa-ngapain.
"Kamu tunggu dulu jangan keluar dulu, aku mau pipis bentar. Tungguin awas kalo ditinggal!" Seru Satya.
Udah kek bocil yang takut dikamar mandi sendirian ya kan. Walau begitu Teressa tetap menunggu Satya selesai pipis.
''Ah lega." guman Satya yang sudah berada diluar kamar mandi.
"Sudah pak?" Tanya Teressa.
"Udah, eh tunggu." Satya menahan tangan Teressa yang hendak beranjak.
"Dia ngapain disini? jangan-jangan dia sering kesini ya? Kok kamu manggil dia mas, sama aku aja pak. Nggak adil tau nggak!" Omel Satya merengut.
"Mas Gara kesini cuma buat nemenin anak-anak belajar Pak." jawab Teressa dengan jujur.
Nih ya bukannya apa, takutnya nih Satya digantung sama Teressa. Digantung perasaanya bukan digantung lehernya ye.
Ntar jadi sad boy lagi.
"Bukannya apa ya Tessa, takutnya usaha saya deketin kamu malah pupus gitu aja karna ada orang lain. Saya yang berusaha dapetin hati kamu, eh ntar kamu bapernya sama yang laen, kan repot. Tolong ya usahain gitu jaga jarak sama yang lain, fokus ke usaha saya aja gitu. Bisa nggak?" Ucap Satya.
Teressa masih diam .
"Please..." lanjut Satya dengan menjatuhkan dagu nya salah satu bahu Teressa.
Pak Cepak cepak jeder
Ya kira-kira itulah yang dirasakan Teressa saat ini.
Jangan sampe ada kata "pelepasan" ye.
Babayyy.
__________