
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
"Kamu kenapa sih yang?" tanya Satya dengan heran karna seharian ini Teressa enggan untuk didekatinya. Tentu hal itu membuatnya prustasi, nggak interaksi sama Teressa setengah hari aja udah adem panas.
"Mas mandi sana, jangan deket-deket Tessa dulu. Tessa lagi males deket sama mas." keluh wanita itu.
"Kenapa gitu?" tanya Satya seolah tak terima.
"Mas." rengek Teressa.
"Iya-iya aku mandi." final Satya.
Setelah Satya masuk kedalam kamar mandi, Teressa langsung turun dari atas ranjang kemudian menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Baru setelah itu ia turun ke bawah menemani mertuanya masak makan malam.
"Kepalanya masih pusing sayang?" tanya Bunda Citra saat mendapati menantunya berada didekat nya.
Tadi pagi Teressa mengeluhkan jika kepalanya agak pusing pada sang mertua. Tentu Bunda Citra langsung menyuruhnya agar istirahat saja, namun kenyataannya bukan istirahat yang ia dapat malahan suaminya selalu mengusik nya sejak tadi pagi.
Khusus hari ini Satya tidak masuk kantor, saat ditanya alasannya kenapa dengan santainya ia menjawab kalo dirinya tengah 'malas'
Jangan ditiru.
Intinya yang jelek-jelek jangan ditiru.
"Udah mendingan kok bund." jawab Teressa.
Wanita itu mengambil beberapa sayuran di kulkas, namun tiba-tiba perutnya mual mencium bau menyengat dari bawang putih yang tengah dicincang mertuanya.
Hoek hoek..
"Astaga Tessa, kamu kenapa nak?" seru Bunda Citra panik mendapati menantunya mual-mual seperti itu.
"Bunda, tolong bawang putihnya disingkirin dulu. Tessa nggak kuat nyium baunya bund, nyeget banget." seru Teressa. Buru-buru bunda Citra langsung menjauhkan cincangan bawang putih itu agar Teressa tak mencium aroma nya lagi.
Padahal jika dipikir-pikir, selama ini bunda dan Teressa sering memasak bersama dan belum ada tragedi jika Teressa mual karna mencium aroma bawang putih. Namun kepada sekarang wanita itu mengeluh demikian?
"Sebentar-sebentar, kamu duduk sini dulu. Bunda ambilin minyak kayu putih dulu." seru Bunda Citra sambil membantu Teressa duduk di kursi meja makan. Teressa hanya menganggukkan kepala nya dengan lemah.
Tak lama kemudian, akhirnya Bunda pun mendapat barang yang ia cari. Minyak kayu putih!
Dioleskan lah cairan minyak kayu putih itu disekitar indra penciuman Teressa agar bisa mengalihkan bau bawang putih yang masih tertinggal disana.
"Gimana agak mendingan nggak, atau masih mual lagi?" tanya Bunda Citra sambil memijat-mijat tengkuk menantunya.
"Udah mendingan bund, makasih ya." ucap Teressa sambil menatap sayu ibu mertuanya itu.
"Iya sayang sama-sama, kamu mual-mual dari kapan? Kok sampe gini, bikin bunda khawatir tau nggak." seru Bunda Citra.
"Baru bund, nggak tau juga kenapa. Padahal sebelumnya nggak kayak gini loh, badan Tessa rasanya juga lemes banget hari ini." keluh Teressa.
"Kita periksa ke dokter aja yuk, bunda khawatir tau." seru Bunda Citra.
"Nggak usah bund, paling juga Tessa cuma masuk angin biasa karna kecapekan. Nanti bakal sembuh sendiri kok bund." tolak Teressa dengan lembut tak ingin membuat ibu mertuanya khawatir.
"Tapi kalo kamu udah ada rasa yang gimana-gimana langsung bilang ke bunda ya, atau langsung ke suami kamu biar langsung dibawa kerumah sakit. Takutnya kenapa-napa nak." ucap Bunda.
"Iya bunda, Tessa bakal bilang kalo ada apa-apa."
__________
"Mas udah mandi?" tanya Teressa.
"Udah yang." jawab Satya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Teressa langsung menghambur memeluk tubuh kekar suaminya itu.
Grep
"Eh? kenapa nih, tadi katanya males deket-deket sama mas? Kok sekarang malah ngetek?" seru Satya heran dengan tingkah istrinya.
Enggan menjawab, Teressa malah semakin menduselkan kepalanya pada ketiak Satya.
"Sayang jangan diketiak ih, mas belum cukur bulu nya tau!" seru Satya yang malah merasa geli sekaligus malu.
"Nggak papa, tetep wangi kok." jawab Teressa.
Ya gitu Lah, orang hamidun emang banyak tingkah nya!
Eh! saya keceplosan!😱😱😱
Satya menarik pelan kepala istrinya dari dalam lipatan ketiak nya, kemudian membingkai wajah cantik itu menggunakan kedua telapak tangan besarnya.
Nggak ngerti lagi, kenapa musti bahas ketiak sih? Ya awoh.
"Kamu kenapa sih, aneh banget. Dateng moon ya?" tanya Satya.
"Enggak mas." seru Teressa.
"Terus?" tanya Satya sambil mengeryitkan dahinya.
"Mau peluk mas, kenapa? emang mas nggak mau ya dipeluk sama Tessa? Mas mau bales dendam sama Tessa? Mau gantian nggak mau deket-deket sama Tessa?" tanya wanita itu dengan kedua bola mata berkaca-kaca.
Buru-buru Satya kembali menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya, takut istrinya kabur.
"Enggak sayang, nggak gitu. Mas mau kok dipeluk sama kamu, dipeluk terus juga mau. Cuma mas agak heran aja, sikap kamu berubah drastis diwaktu yang begitu singkat. Kamu nggak papa kan? ada keluhan sesuatu barang kali?" tanya Satya sambil mengusap-usap punggung istrinya.
"Mas ngedoain Tessa sakit, penyakitan gitu?" seru Teressa.
"Ih enggak astaga, emaknya Noah mah suka ngadi-ngadi heran." gerutu Satya. Namun begitu, Satya masih tetap mendekap tubuh istrinya dan mengusap-usap punggung wanita itu.
"Bang, ini bunda. kalian didalem kan?" seru Bunda Citra dari luar kamar Satya.
"Masuk aja bund." seru Satya dari dalam kamarnya.
CEKLEK
"Kenapa bund?" tanya Satya sambil menolehkan kepalanya pada sang bunda karna Teressa masih enggan melepas pelukannya.
"Tessa masih mual hm?" tanya Bunda Citra. Wanita itu menaruh obat serta makanan sehat untuk menantunya.
"Emang tadi Tessa mual, bund?" tanya Satya.
"Iya bang, lain kali lebih diperhatiin dong istrinya. Masak suami sendiri ketinggalan berita istri nya, aneh kamu mah." seru Bunda.
"Kamu mual sayang?" tanya Satya beralih menatap wajah lesu dihadapannya. Teressa Hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan sebagai jawaban.
"Mual kenapa? sekarang masih mual? yang lain ada yang sakit nggak, bilang sama mas." seru Satya sambil membolak-balikkan tubuh istrinya.
"Mas, jangan diputer-puter ih!! Kepala Tessa pusing tau!" seru Teressa berdecak kesal.
Bunda Citra hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya itu.
"Udah-udah, sekarang bawa istri mu istirahat. Obat sama makanan nya udah bunda siapin, yang di dapur juga udah selesai. Kalo ada keluhan apa-apa langsung bilang sana abang ya, sayang." seru Bunda Citra sambil mengusap lembut puncak kepala Teressa.
"Iya bunda." jawab Teressa.
"Hari ini Noah pulang kan?" tanya Bunda Citra.
"Pulang kok bund, tapi agak telat dikit. Biasa orang sibuk mah gitu." jawab Satya.
"Pas dong, bunda masakin makanan kesukaan Noah." seru Bunda Citra.
"Eee..kebetulan gas nya abis, jadi bunda nggak sempet masakin makanan kesukaan kamu bang. Maaf ya." seru Bunda Citra dibuat menyesal.
"Sudah ku dugong demikian!" gerutu Satya.
__________
"Bunda kenapa, yah?" tanya Noah yang ikut duduk bergabung bersama kedua orang tuanya.
"Nggak tau juga, rada aneh bunda mu hari ini No." jawab Satya.
Teressa yang semula menyandarkan kepalanya diatas dada bidang Satya langsung berganti menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang putra.
"Sayang?? Hei balik sini!" seru Satya.
"Bunda kenapa?" tanya Noah sambil mengusap lengan Teressa.
"Bunda pengen naik motor, No." seru Teressa.
"Bunda pengen jalan-jalan sambil naik motor?" tanya Noah memastikan. Teressa pun menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Wait, Noah ada kejutan buat bunda." ucap Noah.
"Kejutan apa, motor?" tanya Teressa.
"Ayo ikut Noah keluar." ajak anak itu.
Teressa hanya menurut saat tubuhnya dituntun keluar rumah oleh putranya, dan satya? pria itu juga ikut mengekor ibu dan anak itu. Jujur ia juga penasaran dengan kejutan yang dikatakan oleh Noah.
Tapi entah kenapa ia mendapat feeling buruk. Seperti akan suatu bencana menimpanya, tapi apa?
Persoalan feeling tak udah diragukan, setiap feeling buruk yang dirasakan Satya pasti akan terjadi. Apapun itu!
Sampai lah mereka didepan rumah.
Deg
Jantung Satya rasanya mau copot, didalem dadanya tuh kayak ada yang lagi konser.
Dag dig dug gitu.
Satya pengen kabur!!! Satya pengen hilang sekarang juga dari pada diamuk macam betina!!!
Gawat!!
"Kejutan apa sih sayang?" tanya Teressa penasaran.
"Sebentar, bunda tutup mata dulu." seru Noah.
Akhirnya mau tak mau Teressa pun menuruti ucapan putranya. Ditutup lah kedua matanya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Nanti pas Noah udah hitung sampe tiga, bunda baru buka mata ya." seru Noah.
"Iya."
"Ee..anu No, ayah mau pipis dulu deh kayaknya." seru Satya sedikit gugup. Ia tau jika putranya sedang mengawasinya.
"Mau kemana sih Yah, sini temenin bunda buat liat kejutannya." cegah Noah yang tak membiarkan Ayahnya pergi.
Habislah Satya.
"Noah hitung ya bund."
"Iya sayang."
"Satu, dua..
"Tiga, buka bunda."
Dan wolla...
Sebuah motor matic kesayangan Teressa sudah ada didepan mata. Hampir 7 tahun ia tak menyentuh kendaraan kesayangannya itu. Akhirnya sekian lama ketemu juga!
"Ya ampun ini motor bunda? Alhamdulillah masih ada." seru Teressa dengan rasa bahagia yang begitu membuncah. Wanita itu memutari motor kesayangannya itu, tak ada yang lecet disana, semua aman.
"Gimana, bunda suka?" tanya Noah.
"Suka No, bunda suka. Nanti Noah temenin bunda keliling naik motor ya, bunda kangen naik motor No." seru Teressa.
"Iya bund."
Sepertinya Teressa belum menyadari darimana asal usul motornya kembali? Tak lama ia bertanya pada putranya.
"Noah dapet motor bunda dari mana, kok bisa nemu?" tanya Teressa. Noah masih diam belum memberi jawaban, namun ekor matanya melirik pada sang ayah yang disana tengah merasakan sesak napas.
Tegang ya bang?
"Jujur yah daripada nggak dikasih jatah." seru Noah.
__________
"Sayang mas waktu itu khilaf yang, nggak sengaja kegoda sama rayuan setan. Maafin yaa, jangan marah sama mas dong yang." ucap Satya memohon-mohon pada istrinya.
Yap tadi Teressa langsung menyemprot Satya dengan amukan yang meledak-ledak. Ia tak habis pikir, kenapa suaminya sampai berbuat demikian? astaga.
"Enggak!!! Mas Satya jahat, masak Motor Tessa sengaja disembunyiin? terus nggak dikembaliin sampe kita nikah lagi!! Mas udah bohongin Tessa, Tessa kesel sama mas!!" seru Teressa dengan amarah berapi-api.
Saat Satya tengah sibuk membujuk istrinya agar tetap mendapatkan jatah, Ayah Juan, Bunda Citra, dan Noah malah berusaha menahan tawa mereka melihat Satya lemah tak berdaya.
"Itu mas dapet ide dari Si Marpin sayang, mas minta maaf sayang. Udah yuk jangan marah lagi ya, yuk keliling pake motor sama mas." rayu Satya lagi.
"Nggak mau, Tessa nggak mau jalan-jalan sama mas!!" seru Teressa.
"Sayang kamu tau nggak, kamu kalo lagi marah tuh bukan nakutin atau nyeremin malah gemesin tau, pengen mas caplok bawaannya tuh."
"MAS SATYA!!!"
__________
Maap kemaren ga up.
Yuk ditunggu apresiasi nya:)
Uah dapet kabar baiknya kan?
Doain lancar:)
And btw, anyway, busway, makasih buat ibu2, bapak2, kakak2, adek2 dan semuanya yang kagak bisa aing sapa satu persatu. Makasih udah ngasih doa terbaik kalian buat aing, Lope yu sekebon dah pokoknya, Kebon pisang.
Jadi tu ujian itu masih ada sekitar 15 hari lag ya pren, jadi kita masih sempet lanjutin ni cerita.
Babay:)
Ini ada sedikit asupan dari A'a Noah, semoga suka ye.
Maap kalo g sesuai ekspektasi kalian:)
Btw si kulkas kalo senyum bikin orang jungkir balik, y ga sih?