
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
Acara Malam pertama yang tertunda sudah selesai tepat tengah malam tiba. Satya dan istrinya masih enggan beranjak dari tempat tidur karna tubuh mereka masih sama-sama lelah, lelah bergoyang.
Jika kalian bertanya gaya apa saja yang mereka gunakan saat bercinta, tentunya semua gaya mereka jajal.
"Sayang, kamu jangan nunda momongan yah? Mas pengen cepet-cepet punya anak dari kamu yang." ucap Satya sambil mengusap perut datar Teressa yang polos tanpa sehelai benang pun. Kini posisinya Satya memeluk Teressa dari belakang, sangat romantis bukan.
"Enggak mas, Tessa nggak nunda kok." jawab Teressa menimpali permintaan suaminya.
"Makasih sayang." ucap Satya sambil mengecupi bahu polos istrinya.
"Iya mas, kita bersih-bersih sekarang yuk." ajak Teressa.
Namun sepertinya Satya masih enggak beranjak dari tempat tidur, ia malah memeluk tubuh Teressa dengan erat.
"Nanti pagi aja sekalian subuh yang, mas masih males bangun tau." ucap Satya.
"Tapi ntar kita malah nggak nyaman tidurnya mas." balas Teressa.
"Orang nyaman gini juga." seru Satya tetap memeluk erat tubuh Teressa.
"Yaudah, tapi itunya mas dilepas ya. Punya Tessa sesek mas, nggak nyaman." pinta Teressa. Ketahuilah keduanya masih dalam keadaan menyatu usai permainan tadi.
"Biarin gini aja sayang, punya mas anget kalo didalem." ucap Satya.
"Tapi-
"Tidur Tessa!" seru Satya tak mau dibantah.
Oke fine, lebih baik segera tidur dari pada kembali membangunkan singa yang masih kelaparan.
Mau tak mau Teressa tidur dengan posisi demikian:)
_________________
Fajar tiba, suara adzan subuh berkumandang saling bersautan membangunkan seorang seorang wanita yang telah menjadi wanita seutuhnya itu.
Entah sejak kapan posisi tidur mereka berubah, semalam Teressa membelakangi Satya namun pagi ini ia malah menyusupkan kepalanya didada bidang Satya. Sepertinya malam yang dingin memaksa Teressa untuk mencari kehangatan dalam tubuh Satya.
Namun posisi 'itu' mereka masih menyatu, Eh? Lah? masuk secara otomatis kali ya?
"Mas." panggil Teressa dengan suara serak.
"Hm."
"Bangun." ucap Teressa.
''Hm." Satya malah merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya, dan tak sengaja menekan bagian bawah sana.
"Mas lepasin dulu." seru Teressa sambil mendorong dada Satya pelan.
Plop
Akhirnya lepas! Teressa menghela nafas lega, namun kemudian disusul meringis kesakitan saat merasa kewanitaannya terasa nyut-nyutan.
Ditengok lah batang milik suaminya itu dan membuat bola mata Teressa melebar tak percaya.
Sebesar dan sepanjang itu? Apakah benda itu yang membuatnya merintih kesakitan dan nikmat bersamaan semalam?
Aish rasanya malu sendiri jika membayangkan kejadian semalam, apalagi saat ronda kedua dimulai Teressa nampak lebih bergairah dan sangat semangat mendominasi permaianan.
Didikan Satya emang nggak pernah mengecewakan!
"Kenapa udah bangun, hm? Ini masih kepagian sayang." guman Satya masih mengumpulkan nyawa dan kesadarannya.
"Kita belum bersih-bersih mas, ayo buruan sekalian sholat." seru Teressa.
"Mas awww..
"Kenapa?" Tanya Satya terlihat khawatir.
"Tessa kan bisa jalan sendiri." guman Teressa malu.
Lagi-lagi ia berpasrah diri saat tubuh bugilnya diamati oleh Satya.
"Nggak akan bisa, mas tau pasti masih ngilu kan.'' seru Satya yang tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Memang benar mereka mandi bersama, namun tak ada tambahan adegan berkuda disana, pure mandi doang. Satya tak sekejam itu untuk menggempur istrinya lagi, ia tau punya Tessa pasti masih nyut-nyutan gara-gara juniornya yang ugal-ugalan semalem:)
Usai mandi wajib dan wudhu, kegiatan selanjutnya adalah sholat. Saat Tessa mengecek kamar putranya, disana sudah ada Noah yang nampak bersiap menggelar sajadah diatas lantai, sepertinya akan solat. Tak lupa, si bocil juga ikut serta walau kedua matanya dipaksakan untuk melek.
LAKIK!
"Anak-anak bunda udah bangun, hm?" ucap Teressa yang sudah ada didalam kamar yang dipakai oleh Noah dan Gathan.
"Udah bunda." jawab Noah, Gathan hanya mangut-mangut tak bersemangat.
"Sholat jamaah sama papah sama bunda sekalian aja yuk, rame-rame biar pahalanya makin banyak." ajak Teressa.
"Emang gitu ya aunty?" tanya Gathan baru tau.
"Iya sayang." balas Teressa sambil mengusak puncak kepala Gathan.
Dan akhirnya mereka pun melaksanakan sholat subuh berjamaah dikamar itu, nggak mungkin dikamar Satya. Ntar tiba-tiba pas mau sholat anak-anak liat cd atau boxernya Satya kececeran dimana-mana kan nggak lucu:)
"Bunda mau masak dulu, Noah sama Gathan tidur lagi ya kalo masih ngantuk. Nanti bunda bangunin kalo matahari udah terbit." ujar Teressa pada kedua anak laki-laki itu.
Si bocil pun langsung nyungsep lagi diatas kasur, kelakuan anaknya Ghea emang. Tapi nggak papa, maklumi masih bocil, udah mau latihan sholat aja udah bikin emaknya bangga ya kan.
"Noah mau ngaji bunda." ucap Noah.
"Iya sayang, jangan lupa doain ayah sama bunda ody ya." ucap Teressa sambil mengusap lembut wajah teduh putranya. Noah pun menganggukkan kepalanya paham.
"Mas, Tessa pinjem dapur lagi buat masak boleh kan?" ijin Teressa pada Satya.
"Boleh sayang, pake aja sesuka kamu." jawab Satya sambil menutup mulutnya yang sedari tadi terus menguap.
"Mas kalo masih ngantuk tidur lagi aja sama Gathan, nanti Tessa bangunin."
"Mas mau ikut ngaji Noah aja." balas Satya. Pria itu langsung merapatkan diri pada si kulkas 12 door, cosplay menjadi bapak teladan.
"Yaudah terserah mas, Tessa ke dapur dulu kalo gitu." pamit Teressa. Namun sebelum wanita itu bangkit berdiri, sempat-sempatnya Satya menyosor bibir istrinya dihadapan Noah.
"Hati-hati masak nya." ucap Satya sambil melirik itunya Teressa. Suaminya benar-benar membuat dirinya malu, terlebih mencium bibirnya dihadapan putranya. Teressa Hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah bersemu merah, kemudian langsung keluar dari kamar Noah.
Dan kini hanya menyisakan Noah dan Satya disana. Tersadar Noah terus menatapnya, Satya malah gugup dan berakhir menampilkan cengirannya didepan anak kulkas itu.
Gemes ya No? sama othor juga, pengen tak cekik loh bapak mu itu☺️
Ndak og Canda:)
''J-jadi ngaji No?" tanya Satya pada anaknya itu.
"Noah mau hafalan aja." jawab anak itu.
"Oh yaudah hafalan ke papah aja, papah ini udah hafal semua surat pendek dalam Juz-Amma tau." ucap Satya dengan bangga+sombong.
"Mau setor surat apa nih?" tanya Satya.
"An-Naba."
"Papah udah hafal kan? Al-quran nya Noah aja yang pegang, Noah ada beberapa ayat yang belum hafal soalnya." ucap Noah.
Satya terdiam sejenak mencerna ucapan anaknya itu, Apa katanya? An-Naba?
Mampus! Satya cuma hafal sampe Al-Alaq doang.
Kebiasaan pas disuruh bunda ngaji di masjid malah belok ke tukang cilok, ya gini jadinya.
___________________
Babay.