AFTER

AFTER
14



Ngomong-ngomong soal emosi. Yang terus berteriak dalam hatiku hanyalah rasa sedih. Penyesalan dan kesedihan itu, semua yang tersirat di kepalaku kini berputar. Entah berapa lama aku sudah mengubah pandangan akan hal itu, tetap saja aku melihat sisi lain yang tak bisa kuungkit kembali.


Aku juga tak bisa menunjukkannya. Alasannya sederhana, aku tak mau membuat orang lain repot mengurusi diriku ini. Bahkan yang terjadi sekarang aku belum pernah memgeluarkan air mataku.


Bukan karena tak bisa tapi itulah yang terjadi.Orang lain pun sudah susah dengan hidup mereka membuatnya mendengarkanku ini malah jadi merasa buruk dan tak berdaya. Pada akhirnya, semuanya kembali terpendam dan itu hanya jadi ingatan yang tiba-tiba datang.


Bangun pagi ini aku malah memikirkan hal seperti itu. Setelah selesai memasak ikan dan sup aku hanya beristirahat di kursi ruang tamu. Meminum teh dan juga roti diwaktu seperti ini mekang terasa lebih nikmat ya, William bagaimana ya? Semoga dia baik-baik saja.


Sebelum itu, Isabella mengatakan kalau dia akan membawaku ke suatu tempat.Entahlah,bisa jadi ada yang ingin dia bicarakan. Untuk sementara aku juga tak terlalu ingin memberi kesan terlalu ingin tahu banyak hal.


Setelah selesai mandi dan juga anak itu sudah bangun kami pun sarapan.Ketenangan yang selalu aku usahakan kini kembali lagi pada diriku.Walaupun beberapa kali seperti ini juga, aku sudah terbiasa mengingat hal itu.


Segalanya memang tak ada yang pasti. Musim panas ini juga tak pasti kapan berhentinya.Kalau kau ada, mungkin ada waktu untuk memulai dari awal.


"Kakak tak punya orang tua?" tanya Isabella padaku.


"Dulu, sekarang mereka sudah lebih bahagia," jawabku yang menatap padang rumput."Kau juga sama kan? Mereka mungkin sudah bahagia di sana."


"Dulu, aku sering di sini bersama ibu. Terkadang melihat pemandangan atau bermain kejar-kejaran.Ayah juga dulu seperti itu. Bermain denganku hingga sore lalu kami pulang dan makan malam.Ibu dulu berjanji. kalau dia akan berusaha untuk tetap di sampingku.Jadinya seperti dongeng yang sering ibu bacakan ya, dan itu bukanlah kenyataan. Semuanya te-telah ...."


Isabella terhenti, kini yang terdengar hanyalah suara tangisan.Beban itu akan berubah suatu saat nanti ... pasti.Aku memeluk anak itu sambil merasakan angin yang berhembus ini.


"Kau tahu, meski akan banyak yang berubah dalam hidupmu. Bukan berarti itu hanyalah penderitaan, buktinya sekarang kau mandiri dan banyak melakukan hal yang membantu," tuturku menjelaskan.


"A-aku belum membantu,selama ini aku menjadi beban. Bahkan bagi kak william hiks ...."


"Tidak, melihatmu berubah seperti ini juga sudah cukup bagi mereka.Sekarang,ingatlah semua kenangan itu.Jadikanlah itu penyemangatmu dan itu adalah tanda bahwa mereka berharap kau menjadi kuat bukan? Semangatlah," pesanku yang menggenggam tangannya.


Kami menikmati hari itu, dia menyandarkan kepalanya di pundakku. Angin sepoi-sepoi yang datang ini seperti membawa harmoni tersendiri.Suara alam yang terdengar pun terasa menenangkan.


Rahasia itu menjadi pedang.Aku yang menatap. padang rumput ini mengingat memori itu.Aru,andai kau juga tahu apa yang kulewati pasti kau hanya akan menertawakanku.


"Aku beban ya?" itu yang ia ucapkan saat aku masih memikirkan tentangnya.


"Beban itu, mungkin hanya karena kau tidak tahu apa yang dia hadapi.Tetapi bahwa berpikir seperti itu dan tak memperbaikinya hanya membuang waktumu kan?" tanyaku balik padanya."Meski kau tidak dibutuhkan dan menderita, ingatlah bahwa takdir pasti mempunyai tujuannya.Jadi kau tak perlu sedih, justru banyak yang bisa kau pelajari saat seperti ini bukan?"


"Aku kurang paham apa yang kakak katakan tapi,aku akan semangat untuk belajar apa yang telah kakak ajarkan padaku," ucapnya yang menurutku itu adalah sebuah pujian.


Kami menatap langit senja.Simfoni ini seolah ingin membuatku berdiri dan menyampaikan puisi buatanku meski puisi itu buruk.Ketenangan yang tak bertahan lama ini, ku harap bisa manfaatkan.


Akhirnya kami pulang, anak itu senang sekali.Makan malam pun tenang tanpa gangguan.Persiapan keberangkatan pun sudah,waktunya untuk tidur nyenyak dalam mimpi.


Saat aku menuju tangga ada seseorang mengetuk pintu.Kalau ku duga pasti William.Isabella sudah tidur,mungkin saja ia ada urusan.


Aku membuka pintunya.Yang terlihat hanyalah seorang pria dengan tatapan dingin.Kami duduk di luar, tepatnya di rerumputan halaman depan.


"Kau tahu, mungkin ini menjadi awal bagi kalian untuk mulai lebih percaya pada diri kalian masing-masing."


"Tetap tak bisa mengembalikan semuanya kan?"William yang ragu pada dirinya.


"Kalau kau ragu dan tak percaya diri. Lalu bagaimana dia juga percaya? Dia berharap padamu, sebagai tumpuan baginya. Ia ingin bangkit, sementara kau jatuh? Jangan kalah dengan anak kecil aku tahu kau itu dewasa dan baik," tuturku yang tersenyum padanya.


Wajahnya sedikit memerah, ia kembali menatap bintang malam ini.Waktu berputar, menunjukkan semua yang menjadi rahasia tanpa diketahui.Semuanya berlalu dan tinggal ketenangan.


Terimakasih, Aru .....