
Aku terbangun dari tidur nyenyakku, yang mungkin kupikirkan adalah apa yang akan terjadi hari ini. Lalu setelah itu aku segera membereskan kasur dan juga bersiap-siap untuk mandi karena akan sebuah hal yang terjadi. Baru saja selesai bersiap-siap, ada orang yang mengetuk pintu kamar.
"Lina, apa kau sudah bangun?" tanya seseorang yang suaranya kukenal sebagai bibiku.
Lalu aku segera berjalan untuk membuka pintu yang telah diketuk itu. Saat membukanya yang terlihat adalah sosok wanita tua dengan pakaian sederhana berwarna kuning. Aku hanya menunduk lalu bibiku segera mengantarkanku ke arah dapur.
Meskipun sebenarnya aku tak perlu diantar seperti ini, mungkin dia merasa nyaman dengan hal itu. Apakah dia sendiri merasa tidak sungkan padaku? Apalagi aku hanya anak yatim piatu yang mungkin selalu menjadi beban baginya. Mungkin dia sendiri tidak terlalu peduli pada dirinya sendiri hingha selalu membantu orang lain.
Pikirkanku ini masih berdebat, antara mengikutinya atau tidak. Meskipun ini tidak mudah, tetapi bisa saja ini cukup membantuku keluar dari saat itu. Saat ini aku masih menyantap sarapanku seperti biasa, tak ada lebih dan kurang karena masakan bibi memang cukup lezat.
Lalu, aku segera menuju kamar mandi sambil berterimakasih pada bibi. Dia orang yang baik, bahkan pada saat itu dialah yang paling kaget melihat semua ini. Namun, aku tak terlalu memikirkannya karena aku sudah berumur 15 tahun.
Mungkin ini terdengar aneh, tetapi aku hidup dimana semuanya masih cukup sederhana. Aku baru saja selesai mandi, lalu segera mengganti bajuku dengan baju yang sering kukenakan. Dress yang kukenakan berwarna coklat kayu ini, mungkin bisa cukup untuk memperbaiki gaya pakaianku. Desain sederhana ini membuatku cukup senang memakainya.
Aku sudah berada diluar rumah, angin pagi ini mungkin cukup untuk sebuah kesenangan akan perasaan yang hangat. Apakah mungkin ini yang selalu terlihat didesa ini? Selebihnya mungkin tidak ada yang tahu. Akhir dari pikiranku sekarang adalah menuju sebuah kedai kecil di tengah desa ini.
Hari terakhir aku di sini. Mungkin yang lain juga akan segera sibuk pada kegiatan masing-masing. Saat aku masih melangkah, terdengar suara dari seseorang yang kuanggap sebagai teman.
"Lina!"
Aku mendengar hal itu beruang kali. Mungkin aku yang tak terlalu percaya atau takut percaya, tapi menurutku dia sangat baik dan ceria. Sifatnya cukup berlawanan denganku yang lebih tenang ini.
"Kak Lina, aku sekarang bisa menghitung lo...," ucapnya dengan riang gembira seperti tak ada beban dihidupnya.
"Baguslah, jadi kamu tak perlu lagi meminta hitungan ke kakak, benarkan Lucy?" tanyaku sambil tersenyum padanya, mungkin karena saking gembiranya ia langsung pergi setelah ku usap kepalanya.
Apa mungkin hari ini akan cerah? Seperti kilauan air yang memantulkan cahaya. Aku tak bisa menebak apa yang akan terjadi, mungkin aku akan bersiap untuk melakukan pekerjaan lainnya. Perjalanan hari ini mungkin akan cukup panjang juga, terlebih mungkin toko hari ini sedang ramai sekali.
Rambutku yang selalu diikat kebelakang, karena memang lebih nyaman menggunakan model rambut seperti ini. Tak terasa bahwa sekarang sudah sampai didepan toko. Seorang pria membuka pintu tersebut dan tersenyum ke arahku seolah sedang kedatangan keberuntungan.
"Ah ... kau akhirnya datang," ucap salah seorang wanita di toko itu.
"Benar, dia sudah tidak sabar melihatmu bekerja disini pastinya akan sangat menyenangkan."
"Kalian ini selalu bersemangat ya, padahal saya bukan orang yang pandai," ucapku sambil tersenyum tipis pada mereka,"Mungkin karena ini adalah hari terakhir aku ada disini, apa kalian menjadi sesemangat ini? " tanyaku karena bisa sedikit melihat motif mereka.
Apakah perempuan itu selalu diperlakukan seperti ini? Padahal aku tak mengharap apapun dari mereka juga. Pikiranlu mulai berdebat lagi dan yang bisa kulihat hanyalah pemandangan sebuah toko yang menjual berbagai kebutuhan penduduk desa. Bisa dibilang mungkin ini seperti sebuah pasar kecil dalam satu tempat dan dikelola oleh beberapa orang.
"Lina, apa kau yakin akan pergi menuju ke berbagai tempat? " tanyanya, wanita yang kukenal dengan nama Iris itu menatap penasaran padaku, sementara pria bernama ricky itu masih sibuk dengan pekerjaannya.
Aku disini, bekerja sama sebagai pengurus juga mungkin menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Banyak kenangan yang mungkin akan kuingat selama perjalanan nanti, mungkin saja saat itu aku sudah menjadi orang yang bisa hidup dalam banyak hal. Atau mungkin keinginanku ini akan menemukan sebuah hal lain yang tak pernah kuduga.
"Bagaimana dengan kalian?" tanyaku pada mereka berdua yang sepertinya memiliki hubungan lebih spesial.
"Ka-kami ... baik-baik saja benar ... kan Ricky?" tanyamu gugup pada orang disebelahmu itu.
"Ah ... benar kami baik-baik saja," ucapnya gugup juga.
"Seperti biasa kalian ini selalu gugup padahal itu pertanyaan biasa, hihi ...." ucapku sembari tertawa kecil pada mereka berdua.
Toko sudah buka dan tiba-tiba suasana menjadi sangat ramai, karena desa ini menjadi jalur yang sering dilalui oleh para pengembara. Jadi, aku sudah terbiasa dan malah terkadang ingin suasana yang lebih tenang. Tetap saja pada akhirnya aku juga seperti penuntun mereka disini.
Aku melihat seseorang dengan jubah hitam itu sedang mengambil sebuah apel di rak buah, aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutudp tudung jubahnya. Sebuah rasa penasaran yang terlintas dikepalaku muncul tanpa aba-aba. Selagi sibuk mengurusi bagian keuangan aku cukup memperhatikannya sampai ia tiba di meja pembayaran.
Mata uang di banyak tempat adalah krill, sesuatu yang terlihat bagus untuk berbisnis. Nilai koin krill hanya dari satu sampai lima ratus. Menurutku cukup sedikit namun menguntungkan.
Ia terus menundukkan wajahnya dan membayar sebanyak tiga puluh krill tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tapi, tiba-tiba jubahnya sedikit tersangkut saat akan berbalik dan memperlihatkan wajah itu. Wajah yang membuatku teringat akan seseorang, dan dia adalah orang itu.
Tanpa sadar aku memegang jubahnya, lelaki itu kaget dan berusaha berontak. Aku yang sadar akan apa yang terjadi langsung melepasnya. Namun, tudung yang ia pakai lepas dan meperlihatkan hal yang paling tak kuduga saat itu.
Kau, benar kau adalah Aru. Teman masa kecilku yang menghilang setelah kejadian itu. Apa yang membuatnya bisa sampai ketempat ini? Apa mungkin ini petunjuk bagiku untuknya? Setelah semua ini mengapa harus bertemu denganmu juga dan mengembalikanku pada ingatan itu.
Ia langsung menutup kembali wajahnya dan berlari. Aku hanya terdiam dan tanpa tahu apa yant terjadi dan tiba-tiba meneteskan air mata yang seharusnya tidak terjadi saat itu. Aku segera kembali ke posisiku sambil melayani pembeli yang lainnya.
Waktu makan siang yang telah tiba. Aku hanya menatap bekal yang telah kubuat tanpa menyentuhnya. Jujur, apa yang mungkin kupikirkan jika bertemu dia lagi setelah peristiwa ini, apa aku yakin takkan bisa bersikap seperti tadi? Aku masih terlalu takut akan semua ini. Tanpa sadar ada yang menepuk pundakku dan menjadi sedikit kaget. ternyata itu adalah Iris.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya yang terlihat sedikit khawatir.
"Tenang saja, aku hanya sedikit kaget tadi, " ucapku agar ia bisa sedikit tenang.
"Jujur saja, aku belum pernah melihatmu seperti itu, dari semua orang yang kukira kau sepertinya melihat hal yang kau ketahui. Kalau memang tak bisa memendamnya sendiri, aku ada disini untukmu," ucapmu sembari menawarkan hal yang berlawanan dengan sifatku.
"Iris, tak perlu khawatir aku tidak apa-apa kok. Hanya saja, tadi sedikit kaget saja," elakku agar ia tak khawatir sembari menggenggam tangannya.
Ia mengangguk lalu kami melanjutkan makan siang kami berdua. Jujur, perasaanku masih cukup campur aduk antara kaget atau senang. Tapi aku tak bisa seperti itu sekarang, aku harus bekerja lebih baik lagi karena ini hari terakhirku disini.
Pekerjaan yang mungkin lebih melelahkan dari yang kubayangkan. Keadaan yang lebih ramai berarti lebih lelah. Aku harus menggunakan lebih banyak tenaga, memang benar benar hari yang lebih melelahkan dari apa yang kukira.