
Menyerah, apa itu sebuah pilihan?
Aku terdiam di depan pintu kamar Isabella. Sementara William masih kesal akan sikapku yang seolah terlalu mengumbar, yang bisa dilakukan sekarang hanyalah membujuk Isabella. Semoga saja dia tidak nekat untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
"Kau tahu kan sekarang? Mengapa aku selalu merahasiakannya."
"Tekanan itu, beban yang keluar menunjukkan puncaknya. Sebuah rasa yang dipendam kini mengeluarkan keluh kesahnya. Kesendirian, dalam gelap dan tak bisa berdiri sendiri. Apakah jika kau menjauh dari takdir maka sekuanya selesai? Hanya rasa tulus yang dibutuhkan bukan sebuah pelarian."
"Apa yang kau katakan?" tanya pria itu dengan wajah dingin.
"Hanya sebuah kata-kata, tanpa makna jika kau menganggap dunia ini adalah kebodohan. Isabella, kau harus tetap tenang. Bukan berarti karena kau baru tahu fakta ini, kau hanya akan bersedih bahkan menganggap dunia tak adil."
"Kukira namamu saja yang aneh, kelakuanmu juga," sindirnya padaku.
"Maaf ya jika aneh, sekarang semuanya tergantung padanya. Mungkin dia hanya kaget karena ia mengetahui semuanya."
"Kau tahu, kau itu bodoh. Kau pikir dia akan menerima kenyataan itu dengan mudah? Bodoh sekali kau, minggir!" William mendorongku hingga aku terjatuh.
Aku tahu ini salah, dan aku pun tahu ini terlalu nekat. Setelah ini, benang takdir lain akan terungkap. Meski aku pun tak sepenuhnya benar, disisi lain ia tak bisa menyembunyikan hal itu selamanya.
Aku bangun,hal yang diketahui adalah bahwa mereka terlalu banyak menanggung beban sendirian. Isabella dengan beban sendirinya, sementara William yang tak tega pada anak itu. Yang kalian butuhkan adalah rasa saling percaya, karena aku yakin kalian bisa bersama terus-menerus dan saling membantu.
William mengetuk pintu kamar Isabella terus-menerus. Disatu sisi, aku merasa bersalah namun di sisi lain ini juga demi kebaikan mereka masing-masing. Kalian mungkin ragu akan keputusan kalian masing-masing, karena itu aku ingin membuat kalian sadar atas beban yang kalian hadapi.
Aku menuju ke bawah, fokus pada apa yang akan kulakukan selanjutnya. Sekarang aku berada di luar rumah, yang terlihat hanyalah Orias yang asik memakan rumput di halaman belakang. Dia sendiri malah merasa sangat nyaman ya beda sekali dengan di dalam.
Kau tahu, terkadang harapan itu terbalik dengan apa yang kau harapkan. Bahkan terkadang rasanya sepahit itu hanya karema sebuah harapan. Aku masuk kembali ke dalam rumah, ada yang ingin ku ajak bicara untuk beberapa waktu.
Rumah ini dua lantai ya, lantai dasar dan lantai pertama. Ngomong-ngomong soal tingkatan itu, apakah pernah terpikir bahwa setiap tingkatan itu menentukan banyak hal? Mungkin saja begitu. Saat kau menjadi orang yang dipandang baik oleh orang maka tingkatanmu berbeda dengan orang yang dipandang jelek.
Tetapi, bukankah itu yang membuat dunia ini unik karena hal itu. Selalu ada persaingan antara harapan yang baik dan buruk. Persaingan antar harapan itu tak pernah berhenti, bahkan bisa saja saling menghancurkan.
Pada akhirnya yang tersisa hanyalah sebuah kebingungan. Apa yang terlihat tak seperti yang dirasakan. Saat ini aku masih duduk di kursi ruang tamu untuk memikirkan hal ini.
"Hey, kau wanita aneh," panggilnya dengan wajah kesal.
"Kau tahu, setelah semua ini aku malah jijik. berurusan denganmu. Baiklah tapi ini terakhir aku berurusan denganmu soal Isabella," balasnya dengan wajah kesal.
"Aku tak bisa menjamin hal itu. Lagipula aku sudah masuk dalam urusan kalian," balasku sambil menatap ke arah jendela depan.
"Dasar, baiklah apa yang ingin kau bicarakan lagi?" tanya pria itu dengan nada sedikit tinggi.
"Isabella, bagaimana dia setiap hari? Mengapa kau peduli sekali dengan anak itu? Ceritakan lebih dalam tentangnya."
"Kau ingin tahu lebih dalam? Jangan tanyakan hal yang aneh."
"Bukan hal yang aneh, karena kau sendiri menganggap dia sebagai adikmu sendiri. Itu terlihat jelas dari matamu," celetukku yang mungkin sukses membuatnya berpikir kalau aku pandai menebak.
"Dasar wanita, kalian selalu tak ingin kalah."
Aku hanya tertawa tipis, sementara ia yang sedang duduk pun berdiri. Ia menatap jendela yang memeprlihatkan pemandangan samping rumah. Ia sedih, itulah makna pertama dari yang kulihat saat menatap dirinya.
Maaf ya, aku membuat hubungan kalian menjadi seperti ini. Rasanya aku malah jadi sangat bersalah ya ... padahal itulah rencananya. Semua itu juga demi kalian agar bisa memahami satu sama lain.
"Dia anak yang baik, hingga membuatnya menanggung semua ini membuatku sangat bersalah. Sejak kecil, ia dan orang tuanya terlihat sangat bahagia. Berbeda denganku yang selalu sendiri karena orang tuaku sibuk bahkan mereka menjadikanku sebagai pelampiasan. Dia selalu mendekatiku dan berkata bahwa aku bisa bermain dengannya. Itu membuatku senang, sangat senang bahkan sampai ingin seperti itu terus-menerus. Aku melindunginya terkadang malah jadi sedikit mengekangnya. Tak boleh ini dan itu bahkan aku Berpikir bahwa sepertinya mungkin terlalu masuk dalam kehidupannya. Ah ... jika mengingat itu semua seketika aku malu sendiri karena harus melakukannya, karena aku ingin menjaga perasaannya, melindunginya agar senyuman itu terjaga ...," tuturnya menjelaskan."Saat dia menjauh dariku, saat dia tak memanggilku. Itulah yang kutakutkan," ucapnya melanjutkan.
Aku melihat itu semua, bebannya sudah sedikit terangkat.Syukurlah jika begitu aku pun tersenyum tipis padanya. Tanpa sadar dia melirik ke arahku, wajahnya yang dingin kini sendu seolah baru saja melewati sebuah rintangan.
Aku mengusap punggungnya, ya wajar saja karena dia sedang fase bingung. Menunjukkan sisi hati itu tak mudah apalagi kepada orang yang tak dikenal. Saat melihat luapan itu terkadang rasa ingin membantu itu selalu muncul.
Bukan membantu karena kasihan, tapi membantu karena nenurutku dia pantas untuk dibantu. Rasa empati itu kadang dibutuhkan ya ... saat melihat wajah sendu itu seperti aku yang dulu. Aku yang begitu naif selalu bergantung pada orang lain.
"Keluarkan semuanya, hingga menurutmu cukup untuk tahu bahwa kau pernah didengarkan oleh orang lain."
"Terimakasih, aku terkadang sulit untuk mengungkapkan isi hatiku sendiri. Aku takut untuk mengakuinya juga, meski nama dan sikapmu aneh, aku berterimakasih padamu," ucapnya padaku.
"Tak perlu terimakasih, niatmu yang membuat hatimu bergerak.Bahkan kau hanya perlu memandang dunia ini tidak dari sudut pandangmu saja untuk keluar dari sebuah masalah, karena dunia ini adalah kejutan ...."
Begitulah, siang ini masih diwarnai sebuah hati. Ending dari kata 'After' ini akan menceritakan seseorang yang bangkit, mungkin saja ini akan menyenangkan bagi kami. Kehidupanku di sini juga akan bergelombang.