
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
"Hati-hati ya kalian, istirahat dulu dirumah. Oh iya, ini ya yang namanya Alice? Katanya Gheva ini temennya Noah ya. Alice satu sekolah sama Noah emang?" Pertanyaan beruntun keluar dari bibir ajaib Bunda Citra. Sepertinya acara perpisahan akan sedikit molor karena Bunda Citra mengajak para wanita untuk mengobrol terlebih dahulu.
"Dek, itu ditanya." Kali Ini Adi yang buka suara karena adiknya masih terdiam saat diajak bicara oleh orang tua bosnya tersebut.
"Ehm iya, Alice adkelnya kak Noah." jawab Alice dengan senyum tipis yang membuat lesung pipinya terlihat. Jangan lupakan, kedua matanya menyipit.
"Kak Alice cantik banget sih, nanti kalo Gheva besar mau deh pacaran sama kakak. Ih kiyowoh banget loh!" seru Gheva. Bocah tujuh tahun itu begitu aktif duduk dipangkuan Alice. Berbeda dengan kedua kakaknya yang duduk anteng di sofa sendiri-sendiri.
"Buset, Si Gepa masih kecil udah jadi bajul (buaya) aja." Cibir Satya pada salah satu keponakannya itu.
"Bajul apa, uncle?" tanya Gheva.
"Eee bajul itu sama dengan LAKIK BANGET!" jawab Satya asal. Dari dulu hingga saat ini, bibir Satya memang suka asal nyeplos kalo bicara. Dan mau heran tapi itu Satya.
"Gepa bajul banget loh!!" Seru Gheva dengan bangga.
"Ngatain anak Ghea bajul, emang dulu situ nggak bajul? Modelan buaya darat kayak abang nggak kaget Ghea!" seru Ghea dengan nada pedas dan penuh cibiran.
"Sesungguhnya fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Jadi jangan begitu ya lain kali. Keep halal men!"
____________
"Sayang, bocil udah tidur?" tanya Satya setelah kembali dari ruang kerja nya. Mulai hari Ini ia akan membiasakan diri untuk berbagi Teressa dengan bocil nya.
"Pelan-pelan." Kata Teressa dengan suara pelan. Sangat pelan, bahkan sampai terdengar seperti bisikan lirih. Satya menganggukkan kepalanya dengan patuh. Pria itu berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamar menuju ranjang.
"Masih nen?" Tanya Satya pelan. Teressa segera menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Putra kecilnya masih anteng berada diatas tubuhnya sambil meneguk asi dari sumbernya langsung.
"Mas mau pipis dulu ya, ntar balik lagi." Ucap Satya.
"Jangan lama-lama. " Pesan Teressa.
Satya masuk ke dalam kamar mandi dan segera menyelesaikan acara pipisnya. Tak lama setelah itu ia kembali keluar dari kamar mandi sambil membenahi piyama tidurnya.
"Say-" Satya tak melanjutkan ucapannya karena melihat sang istri sudah tertidur pulas sambil menggendong baby Allister.
"Duniaku udah tidur tenyata, hm."
Karena sudah larut malam, Satya memutuskan untuk segera tidur juga. Mematikan semua lampu, dan menyisakan lampu tidurnya saja. Setelah itu mengatur suhu ruangan. Baru setelah itu ia bergabung tidur bersama keluarga kecil nya. Tak lupa Satya membenahi posisi tidur Teressa agar wanita itu dapat tidur dengan nyaman dan tidak merasakan pegal-pegal saat terbangun besok pagi.
"Bocil, jagoan ayah, anak ganteng ayah, jangan nangis ya.mungil Ayah pindahin pelan-pelan kok." Dengan gerakan amatir, Satya mengangkat tubuh bayinya dan menaruhnya tepat ditengah-tengah antara dirinya dan sang istri.
Sampai situ kondisi masih aman-aman saja. Namun tak lama kemudian terlihat bayi mungil itu mulai gelisah dalam lelap. Gerakan-gerakan tak nyaman membuat bayi itu menangis.
"Oek,,, oek,, oek,,"
Satya panik, bingung, kelabakan saat mendengar suara khas bayi itu.
"Aduh Satya, tenang, jangan panik. Kamu bisa!" Sekedar kalimat penyemangat untuk menenangkan dirinya yang tengah ketar-ketir.
Saat bayi itu masih menangis, beruntunglah Teressa masih betah terlelap. Dari raut wajah nya, tercetak jelas jika wanita yang baru melahirkan anaknya kemarin malam itu merasa kelelahan.
Karena ingin mendapat gelar suami dan ayah siaga, Satya berusaha menenangkan Allister agar bayi itu kembali tenang seperti semula.
"Cup cup cup, LAKIK nggak boleh nangis tau. Yuk bobo lagi yuk." Satya terus mengajak Allister untuk berkomunikasi dengan bahasa yang tentunya tak bisa dipahami seorang bayi. Namun ajaibnya Allister sudah berhenti menangis, kini digantikan dengan senyuman manis yang terukir pada wajah mungil itu.
"Aduh Al, jangan senyum atuh. Ayah meleleh ini." Kata Satya sambil menahan senyumnya melihat wajah putra nya yang bertambah tampan berjam-jam lipat saat tersenyum.
Bayangkan saja, masih bayi bisa semanis itu. Bagaimana besar nanti? Apakah akan mendapat gelar penakluk para gadis karena senyumannya?
"Masyaallah, ayah butuh oksigen ini. Sesek banget sih liat senyum kamu, Al. Mleyot beneran ayah lama-lama." guman Satya sambil membingkai wajah bulat itu.
"Gini masih ganteng. Gini juga, begini juga ganteng." Satya menarik pipi bulat milik Allister kesana kemari hingga membentuk berbagai ekspresi lucu dan menggemaskan. Mungkin jika ketahuan oleh istrinya, Satya akan ditelan mentah-mentah.
Baby Allister semakin mengembangkan senyumnya. Malam makin larut keduanya malah asik bercanda bersama.
"Udah ya mainnya, besok kita main lagi." Ucap Satya kepada Baby Allister. Satya dengan sabar menggosok-gosok lengan halus putranya, mungkin berharap agar baby Allister segera tidur. Namun kenyataannya kedua bola mata bulat itu masih setia terjaga dan terlihat masih cerah.
Seolah tak kehabisan akal, akhirnya Satya berinisiatif untuk menggunakan metode emak-emak yang lain untuk menidurkan baby Allister.
Satya berpikir, mungkin dengan menggendongnya dan mengajaknya berkeliling ruangan membuat baby Allister kembali terlelap.
"Sayang, mas tugas dulu. Tidur yang nyenyak, love youuu! Muachhh."
Aksinya kini dimulai. Satya keluar dari kamar nya dan berjalan sambil menggendong baby Allister menuju dapur terlebih dahulu, karena kebetulan dirinya juga sangat haus.
"Al mau gorengan, nggak?" Tangan Satya begitu lihai membuka tudung saji dimeja makan. Ia masih bisa menemukan sisa makanan makan malam disana. Salah satunya adalah gorengan mendoan yang ia pamerkan kepada Allister.
"Kwamuh tuh keunapah (kamu tuh kenapa) nggak langsung gede aja sih." Dengan mulut menggembung Satya sempat-sempatnya bertanya kepada Allister dengan pertanyaan demikian.
Namanya juga baru jadi bapak. Ilmunya masih kalah sama yang udah punya signal 6G.
"Ayah tuh merasa kek orang gila tau ngomong sendiri. Kamu jawab kek, oek oek gitu. Jangan diem-diem bae." Sambung Satya lagi.
"Jeruk mau nggak? Eh jangan deh, keaseman malah merem melek ntar."
"Sumpah ya kamu tau nggak sih, dari dulu ayah sama bunda itu berjuang banget buat dapetin kamu, Cil. Mungkin kamu adalah salah satu dari ribuan kecebong ayah yang berenang di perut bunda mu." Curhat Satya dengan baby Allister yang masih setia berada digendongannya.
Sepertinya bapak dan anak itu malam ini akan bergadang, karena sedari tadi Satya mendongeng hingga mulut nya berbusa namun Allister tak kunjung menutup matanya.
Bahkan hingga lima biji gorengan habis Satya makan.
"Bocil mau nen? Masa musti bangunin bunda dulu. Ayo dong tidur, biar ayah keliatan jadi hot daddy gitu. Masa bocil nggak mau tidur kalo sama ayah." Celetuk Satya.
Dengan kesadaran yang tinggal beberapa watt, Satya tak putus asa. Pria itu kembali menimang-nimang baby Allister sambil dinyanyikannya lagu anak-anak.
"Kalo tidak bobo digigit poci."
Lirik itu Satya nyanyikan berulang kali. Mungkin baby Allister juga sudah bosan mendengar ayahnya menyanyikan lagu itu terus.
Sunyinya malam membuat Satya merasa sedikit lebih aneh. Walau sudah tiga puluh tahun lebih ia tinggal dibangunan itu, namun masih saja Satya sering ketar ketir didalam saat malam hari. Terlebih lagi bagian dapur memang didesain remang-remang dan minim pencahayaan.
Tiba-tiba otaknya berkelana kesana kemari. Ia jadi teringat tentang mitos menyanyikan lagu nina bobo saat malam hari. Yang ia tau, kata orang-orang menyanyikan lagu nina bobo akan mengundang sosok hantu gadis kecil bernama nina. Dan ia kembali teringat tadi ia mengubah sedikit liriknya menjadi poci, yang artinya penghuni pohon pisang. Apakah ia akan didatangi para bangsa tepung secara berjamaah?
Bulu kuduk nya merinding. Ia merasa ada angin segar menerpa wajahnya secara tiba-tiba. Perlahan ia menolehkan kepalanya ke belakang, dan ternyata ada sosok,,,
"Ay-"
"Astaghfirullah hal adzim, Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammad Wa’alaa Aali Sayyidinaa Muhammad!!!!"
"Ya Allah, Ya Rabbi, mata batin Satya jangan dibuka Ya Allah. Satya belum siap ketemu sama mereka, astaghfirullah hal adzim."
Satya benar-benar panik dan langsung memejamkan matanya sambil memeluk baby Allister dengan erat. Mendadak Satya jadi religius dan merapalkan semua doa-doa dan tuntunan agama nya.
"Aya-"
"Stop it! Demit macem apa kalian main keroyokan, hah!" Tangan Satya meraba-raba meja mencari suatu benda yang dapat ia manfaatkan untuk mengusir jin, demit, makhluk halus itu.
"Hushh hushh."
"Ayah, what's wrong? Ini Noah! Astaga baju Noah basah semua yah!"
Deg
Telinganya tidak salah. Jin itu mengatakan bahwa dirinya adalah Noah.
Satya membuka matanya dengan nafas memburu, dan,,,
"N-Noah? Astaga kamu bener-bener ya!!! Kalo masuk rumah itu salam, jantung Ayah mu mau copot ini!" Satya mengomel tak henti. Bisa-bisanya ia kena prank sama Noah.
Noah sepertinya akan dicoret dari KK:(
"T-tapi kan yah-?" Noah tak sempat melanjutkan ucapannya karena dirinya harus menghindar dari kejaran Satya. Sepertinya Satya akan menjewer telinga putranya itu hingga molor.
"Yah, Yah, tenang yah. Noah bisa jelasin." Noah mencoba bernego dengan ayahnya. Pemuda itu terus menghindari ayahnya dengan mengelilingi meja makan.
"Hei jangan jadi anak durhaka, sini kamu!" Seru Satya masih berusaha mendapatkan Noah.
"Yah, please jangan marah." Noah memohon agar ayahnya menghentikan acara kejar-kejaran ini. Tubuhnya kali ini benar-benar lemah, lemas, letih, lesu, lunglai.
"Oke, stop. Duduk disini!"
Dengan ragu Noah mendudukan tubuhnya disalah satu kursi meja makan sesuai arahan Satya. Pemuda itu meringis kesakitan saat merasakan telinganya dijewer oleh ayahnya.
"Yah, sakittt." Rengeknya meminta Satya agar segera melepaskan jeweran ditelinganya.
"Ih ayah tuh gemes banget tau nggak! Suka ya kamu ngagetin ayah kayak tadi! Tau nggak jantung Ayah mu mau lepas. Tangannya tremor gara-gara panik! Ayah ini TBL, No! Takued buangedd locch!!"
"Maaf yah, Noah nggak tau kalo ayah lagi didapur." Kata Noah dengan nada bersalah.
"Lagian kenapa pulang jam segini?! Kenapa lewat pintu samping, kenapa nggak lewat pintu depan?! Ayah mu ini penakut, No. Astaga, ayah jadiin lalapan juga kamu lama-lama!" Omel Satya.
"Noah lupa bawa kunci pintu depan, Yah. Ini pulang jam segini juga udah diusahain, biar bisa kumpul sama adek dulu." Jawab Noah.
"Awas kalo diulangin lagi, ayah iris tipis ntar burung kamu!" Setelah mengatakan itu, Satya langsung meninggalkan Noah yang dilanda rasa ngilu membayangkan ucapan ayahnya barusan.
"Bocil kalo nggak tidur ayah iris juga ntar!" Seru Satya ikut melampiaskan kejengkelannya kepada putra kecilnya.
...Hot daddy sedang beraksi~...
Saat dirinya tengah sibuk menidurkan sang buah hati. Satya kembali dibuat spot jantung saat tiba-tiba ada yang menyentuh lengannya.
"Bisa nggak sih nggak udah ngagetin!"
"Mas? Mas Satya kenapa marah-marah?" Wanita yang baru terbangun dari tidurnya itu mengeryit bingung melihat ekspresi suaminya yang terlihat kesal.
"Eh ayang, kamu udah bangun?" Satya segera mengubah gaya bicaranya menjadi halus dan lemah lembut.
"Mas kenapa marah-marah, hm?" Teressa bertanya dengan lembut, jika sudah seperti ini Satya pasti akan langsung luluh.
"Sayang, bocil nggak tidur-tidur, mas ngantuk banget aaaaaa~" Rengeknya seperti anak kecil yang mengadu kepada ibunya.
"Mas tadi juga dikagetin sama Noah didapur. Mas shock sayang, mas takut ketemu syaiton loh, yang." Satya mengeluarkan uneg-uneg yang ia alami tadi.
"Mas dari tadi jagain adek?" tanya Teressa, Satya menganggukkan kepalanya dengan lucu.
"Pinter banget sih, sini biar adek sama aku. Sekarang mas bobok dulu ya, makasih udah di bantuin." Ujar Teressa sambil mengambil alih tubuh putranya dari pangkuan Satya.
"Tapi kamu gimana?" Tanya Satya merasa kasihan.
"Nanti Tessa nyusul." Katanya.
"Jangan lama-lama tapi ya?" Ucap Satya memastikan. Dan lagi-lagi Teressa mengaggukan kepalanya dengan yakin.
Teressa memposisikan dirinya bersandar pada kepala ranjang sambil menyusui baby Allister. Sedangkan Satya sudah tepar diatas tubuh nya. Pria itu terlelap sambil memeluk perut istrinya.
"Adek kenapa nggak bobo lagi, hm?" Teressa bergumam sambil mengamati wajah tampan putranya. Bisa dipastikan sembilan puluh persen gen Satya ada pada tubuh putranya. Bahkan gen darinya saja tidak menonjol begitu banyak. Benar-benar duplikat Satya.
"Sayang, bobok."
"Iya mas, ini mau bobok."
Teressa menata posisi tidurnya dengan nyaman. Dengan terpaksa ia membangunkan Satya dan menyuruhnya untuk pindah ke bantal. Setelah semua beres, mereka akhirnya bisa tidur malam ini. Dengan posisi Allister diantara keduanya. Mulai malam ini, dan seterusnya mereka akan tidur ditemani malaikat kecil itu.
"Lope You My Wife, Lope You bocil. Muachhh!"
____________
TBC