
"Aduh," keluhku yang kembali membentur pintu.
Dan tebak, siapa yang membuka pintu hingga membuatku terbentur lagi? Tentu saja itu William. Ternyata dia tidak perhatian dengan nasibku ini hiks ... sudahlah daripada mengeluh sekarang pun sudah sore. Aku menuju dapur untuk melihat sup yang tadi ku masak, apa enak ya? Benar-benar deh nasibku hari ini keningku habis menjadi benjolan.
Untung saja tidak, para pria memang tidak mengerti kemauan wanita ya. Sementara aku sibuk mengurusi sup dan keningku yang malang ini. William sudah pulang ke rumahnya karena aku yang akan mengurus Isabella.
Baunya wangi, wajar saja jika Iris dan Ricky selalu meminta lebih jika aku memasak sesuatu. Ternyata baunya saja seperti ini dan bisa jadi mereka merindukan masakanku saat aku pergi. Apa Isabella baik-baik saja ya? Dia mungkin syok sekarang, karena semua harapan yang ia timbun lenyap begitu saja.
Sebelumnya, beberapa jam yang lalu William hanya mengetuk pintu kamar anak itu. Ya ... sekarang suasana itu berubah menjadi hening. Sudah matang rupanya, apakah ia akan menyukainya? Baiklah ayo aku coba ini padanya.
Aku membawa sup dan air putih menggunakan nampan. Berjalan dengan hati-hati sekali karena aku takut sup dan minumannya tumpah. Akhirnya, setelah melewati tangga yang seperti jembatan mematikan itu aku sampai di depan kamar Isabella.
"Isabella, ada hadiah untukmu," celetukku asal karena memang makanan ini hadiah untuknya.
Tidak ada jawaban, apa dia memaksa kehendak takdirnya dan memghilangkan nyawanya? Itu keputusannya. Untung saja ada laci di dekat sana jadi aku bisa meletakkan makanannya di sana.
Ternyata tidak dikunci, William kamu sepertinya perlu lebih teliti lagi. Padahal tadi saat aku yang mengetuk pintunya kukira terkunci ternyata tidak. Anak ini aneh juga ya, bagaimanapun aku harus masuk dan melihat keadaannya.
"Isabella, aku ma ...."
Kata-kataku terhenti, sebuah tali gantungan dengan Isabella yang hampir memasukkan kepalanya. Kulihat kursi yang cukup tinggi dan sanggup untuk mencapai sebuah paku dan ya begitulah kejadiannya. Aku hanya kembali dan mengambil nampan tadi sambil masuk ke dalam kamar.
"Ini makananmu, silahkan kau nikmati."
"Kak-Kak Lina! A-aku hanya ...," gugupnya yang terciduk olehku, padahal aku juga tak melakukan apapun untuk menghentikannya. "... ini bisa kujelaskan."
"Aku tahu, kau menyerah pada kehidupanmu. Wajar saja kau memikirkan hal itu, nak," tuturku menjelaskan.
"Ma-maaf," gugupnya yang segea turun karena ketahuan olehku.
"Mengapa kau turun?"
"Kakak tidak marah?" tanyanya yang sedikit sedih.
"Aku tak bisa marah juga, itu keputusanmu. Meski begitu kematian hanya menimbulkan luka bagi orang lain namun, bukan berarti aku bisa mencegahmu dari kematian," ucap ku yang berdiri di depan pintu.
"Kakak ... aku tak tahu lagi harus apa. Aku percaya pada kak William namun, dia malah berbohong selama ini dan aku sudah sendirian. Aku bahkan mulai tak percaya pada takdir dan mulai memandang dunia ini sebagai tempat rasa sakit saja. Aku berharap untuk tidak punya perasaan sekarang," keluhnya yang kini terduduk di kasur.
"Benar." Isabella yang menatap ke arah lantai dengan tatapan benci seolah dia menyerah.
Aku hanya tertawa tipis, tak ku sangka pemikirannya ini benar-benar langsung berubah ya." dunia kan memang tak pernah adil, dan takdir itu kelam namun percuma saja kau tidak percaya pun karena itu bukan sesuatu untuk dipercayai. Perasaan kah? Kau pikir saat perasaan itu hilang, dunia akan berbeda? Tentu saja tidak. Karena itu, ubahlah sedikit pandanganmu untuk hal ini Isabella ada orang yang berharap padamu," tuturku memperjelas.
"Jadi, dunia juga tidak akan berubah ya." Isabella yang terlihat sedih.
"Bukannya tidak berubah, tapi kamu perlu melihat sesuatu bukan sudut pandangmu saja. Bahkan, sebuah suka akan menjadi suka yang sangat berarti jika kau melihat dari sudut pandang yang lain." Aku yang datang dan mengusap rambut anak itu.
"Terimakasih, aku hanya takut sendirian kak ...," ucapnya yang terlihat ingin menangis. " ... ta-tapi ... aku hanya ingin hiks ... hidup bahagia," liriinya yang mulai menangis.
Aku hanya memeluknya, dia terus menangis dan itu yang terjadi. Terkadang saat seperti ini kita menjadi memandang sebuah hal dalam kacamata kita yang sempit. Padahal, bisa jadi ada hal positif yang terlihat jika kita memandang suatu hal dalam sudut pandang yang lain.
Bukan berarti, kita harus selalu mengikuti kemauan semua orang. Semuanya berbalik pada dirimu. Apakah ini seperti kurungan? Nyatanya kita bertarung melawan berbagai kemauan dan keputusan.
Jadi, daripada menyerah dan tenggelam dalam kesedihan sambil menghilangkan perasaan. Bukankah lebih baik jika kita melihatnya sebagai pelatihan untuk membuat kita lebih baik, karena memang itu yang terjadi saat kau bangkit. Tak mudah, itulah yang banyak diucapkan orang pada saat seperti ini tapi, bukan berarti kamu harus benar-benar jatuh kan? Banyak takdir tersembunyi yang menyambutmu dalam kehidupan.
Isabella mulai makan supnya dan berkata bahawa itu enak. Ah ... benar ya aku ini koki yang hebat. Daripada sibuk memuji, lebih baik aku juga makan terlebih dahulu. Aku meninggalkan Isabella dan menuju ke bawah.
Sudah cukup sore, jadi aku harus menyalakan lampu. Pada akhirnya aku makan sup itu di lantai bawah. Agar anak itu bisa berpikir kembali sebelum menghilangkan sebuah nyawa.
Tanpa kalian sadari, nyawa itu berharga. Bahkan karena berharga banyak orang yang tak rela kehilangan nyawanya sendiri. Meski begitu, takdir itu kejam karena itulah nyawa itu berharga.
Meski begitu, pengorbanan itu ada agar perjuangan itu lahir. Karena perjuangan itu kita bersaing bahkan demi sebuah roti. Keputusan demi keputusan terlahir, air mata yang mengalir bagai hujan itu terus saja berdatangan.
"Kak ...." Isabella yang datang sambil membawa mangkuk sup itu.
Ia sampai dan duduk di sebelahku. Lalu dia memakan supnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Anak yang aneh ya, tetap saja bagiku dia anak yang imut.
Kami makan bersama di ruang tamu. Emosi ya, terkadang banyak sekali yang berkata bahwa emosi dan perasaan itu hanyalah sebuah kendala. Padahal pada akhirnya perasaan itu menjadi pengaruh besar dalam kehidupan seseorang.Terimakasih ya, Aru kau mengingatkanku kembali pada perkataanmu waktu itu.
"Maaf," ucapnya yang membuatku tahu bahwa dia menanggung beban hidupnya dengan meendam semua itu.
"Tak perlu meminta maaf dariku, dan juga kau harus berusaha memandang positif dalam kehidupanmu agar kau bisa selalu tersenyum. " Aku yang mengusap rambutnya.
Anak ini menanggung beban yang besar dalam tubuh kecil itu. Ku harap kau tetap tegar menghadapi semuanya. Perjalanan setelah 'After' keadaan ini, apakah akan penuh takdir? Hanya waktu yang akan menjawabnya ....