AFTER

AFTER
Eps 64



(Satya &Teressa)


.


.


.


.


.


"Yah, ayah ada rekomendasi tempat tinggal yang minimalis tapi nyaman gitu nggak?" Pertanyaan itu terucap dari mulut si kulkas dua belas pintu.


Kini mereka tengah melangsungkan acara sarapan bersama, sambil bercengkraman satu sama lain.


"Buat siapa emang, No?" balas Satya bertanya.


"Buat Noah lah." jawabnya.


Teressa Yang awalnya makan dengan lahap disuapi oleh Satya, kini menghentikan kunyahannya, beralih menatap sang putra.


Teressa bertanya, "Noah buat apa nyari rumah? Noah mau ninggalin bunda sendiri?"


Noah menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, bingung bagaiamana menjelaskannya. Terlebih bundanya tengah mengadung, belum apa-apa pasti mellow.


"Bukan gitu bund. M-maksudnya gini, kan Noah udah besar, pengen mandiri aja gitu biar nggak tergantung sama bunda atau ayah. Lagian kan nggak selamanya Noah terus-terusan tinggal sama bunda, boleh ya bund?" Noah mengutarakan keinginannya untuk hidup mandiri sendiri. Ya walaupun bukan benar-benar sendiri. Tentu saja masih ada orang-orang lain disekitarnya.


Bunda Citra dan Ayah Juan hanya menyimak obrolan keluarga putranya itu.


Sebenarnya ada benarnya juga. Tapi Teressa takut jika Noah bergaul dengan orang-orang baru yang memiliki gaya hidup berbeda, bisa dibilang gaya bebas.


Namun satu sisi Ia juga tak mau membuat Noah merasa dikekang, Noah juga berhak menentukan pilihan nya kan.


"Tapi nanti kalo bunda sama adek kangen gimana?" tanya Teressa.


Astaga, sepertinya bundanya ini benar-benar sulit melepaskan dirinya. "Bunda kan bisa telfon Noah, biar Noah yang kesini nemuin bunda."


"Udah lah sayang, nggak papa. Lagian Noah juga udah gede, bukan bocil ep-ep lagi, pasti bisa jaga diri sendiri. Dan ayah setuju aja sih kalo Noah mau mandiri." Ya gimana nggak setuju. Ini merupakan sebuah peluang bagi Satya agar bisa ninuninu dengan sang istri tanpa khawatir kepergok Noah.


"Ih mas kok nggak dilarang, malah dikasih ijin."


"Sayang, Noah udah gede. Cukup masa kecilnya aja yang nggak bisa dinikmatin karena tiap hari isinya kompetisi kompetisi kompetisi. Liat tuh kamar isinya penghargaan semua, aku sampe capek loh kalo disuruh dateng pas Noah dikasih penghargaan. Untung udah mau lulus." cerocos Satya.


Tak sadar jika perkataannya ada yang menyinggung si anak kulkas dua belas pintu.


"Ayah capek?" Noah mengeryitkan dahinya mendengar penuturan sang ayah barusan.


"Eh? Maksudnya tuh bukan capek, lebih ke apa ya? Aduh lupa kan." Nah lo, malah bingung kan merangkai kata-kata.


"Ayah tuh bangga, bangga banget malah. Tapi kadang-kadang suka heran gitu, kok prestasi kamu tuh nggak ada habisnya? Ayah jadi penasaran, IQ kamu berapa sih?" sambungnya Lagi.


Noah mengedikkan bahunya, "Belum pernah tes, yah."


"Jadi intinya Noah boleh tinggal sendiri kan Yah, bund?" tanya Noah sekali lagi.


"Boleh/ Jangan." jawab Satya dan Teressa bersamaan.


"Boleh No, nanti ayah cariin tempatnya." Satya mendahului istrinya yang hendak protes.


"Mas,,,,,,"


"Boleh sayang, boleh. Udah ya bolehin aja, sini aaak lagi." Satya kembali menyodorkan sendok makan didepan mulut Teressa.


"Mas Satya--,,,,,,,"


Saat mulut Teressa terbuka, Satya langsung memasukan sendoknya kedalam mulut mungil istrinya itu. "Aduh pintarnya kesayangan ku ini." Lantaran gemas dengan ekspresi merengut Teressa, Satya malah membubuhkan kecupan pada wajah istrinya itu.


Bunda Citra sama Ayah Juan cuma bisa mesem sambil ngusap dada.


Dulu aja pada malu-malu kucing garong pas mau disatuin. Sekarang pas udah bersatu bawaannya bikin hareudang. Tiap hari ada aja perlakuan manis yang mereka umbar.


"Bund, kita packing-packing yuk." Ucap Ayah Juan.


Bunda Citra menoleh, "Mau kemana yah?"


"Ke mars. Capek di earth, pengen pindah ke mars."


"Astagfirullah Yah, bunda kira mau kemana. Bisa aja ayah nyindirnya."


Demi apapun Ayah Juan kece badai. Walau usia sudah tak muda lagi, namun ia memiliki selera humor seperti anak-anak jaman sekarang.


"Sahabat, panas ya? Kalungan kulkas gih, anj-,,,"


"Mulutnya!" seru Teressa usai menyentil bibir Satya yang mau mengucapkan kata-kata kasar.


Satya tadi mau bilang anjay.


Yang bilang nggak sopan, ya emang nggak sopan makanya Teressa sentil tadi congornya Satya.


Ya namanya juga manusia biasa, kadang kebiasaan buruk suka timbul secara tiba-tiba. Kita bisa memakluminya.


"Khilaf sayang, hehe."


"Tempatnya mau digedung apa perumahan, No?" tanya Satya.


"Gedung aja yah, lebih simple." jawab Noah. Maksudnya apartement gitu.


"Kok digendung? Nggak boleh, pokoknya harus diperumahanan deket-deket sini aja biar nggak jauh dari bunda." protes Teressa.


"Astaga sayang kalo tempat nya deket-deket sini yang ada nggak jadi mandiri. Pasti tiap hari kamu pantau terus, Lagian kasian tau Noah tiap hari bolak-balik rumah ke kantor yang jaraknya lumayan jauh."


Sabar ya Bang, istri mu tengah mengandung benih-benih kecebong mu, jangan emosi.


"Eh bukannya didekat perusahaaan Noah ada apartement ya? Nggak terlalu jauh sama kantor, deket banget malah. Jalan kaki pun nyampe."


"Ada sih yah, tapi Noah belum sempet liat-liat kesana." kata Noah.


"Yaudah ntar liat-liat kesana dulu, soalnya itu yang paling deket sama kantor mu." Noah menganggukkan kepalanya paham.


Sedikit cerita tentang Noah.


Selebihnya Noah stay di perusahaaan, karna bagaimana pun juga sekarang dia yang tanggung jawab sama perusahaan warisan dari grandpa nya.


Okey.


___________


"Kak Noah, beli cilok yuk."


Sepertinya sudah kita tebak siapa mereka. Siapa lagi kalo bukan pasukan LAKIK squad?


Sudah menjadi kebiasaan bagi Bu Ghea untuk mengajak suami dan para malaikat kecilnya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya atau bahkan ke rumah mertuanya saat weekend tiba.


Seperti saat ini. Pagi ini mereka sengaja datang berkunjung ke rumah Bunda Citra dan sekalian membawakan buah tangan untuk bumil.


"Baby masih belum tumbuh ya rambutnya." ujar Teressa sambil membelai kepala botak baby Glory.


Mereka mengobrol bersama di pekarangan rumah dekat kolam belakang sambil menikmati sinar matahari pagi yang menyehatkan tubuh.



...hi guys...


Buat Bu Ghea, maap aurora nya saya umbar dikit.


"Iya nih mbak, beda sama kakak-kakaknya. Ghavi sama Gheva dulu pas lahir rambutnya tebel loh padahal, ini si princess malah nggak tumbuh-tumbuh. Padahal udah aku pakein minyak rambut, supaya cepet tumbuh." cerocos Bu Ghea bercurhat.


Ya ukhtie, Glory masih bayik, jadi maklumi lah.


"mbak sekarang masih sering ngidam aneh-aneh nggak sih?" tanya Ghea penasaran.


"Nggak dek, udah nggak rewel lagi sekarang. Malah ayahnya yang sering rewel sekarang." Curhat Teressa pada sang adik ipar. Benar kan, Satya mulai nglujak akhir-akhir ini. Seperti drama mandi tadi contohnya.


"Itu mah modus ayahnya doang, hahha." Teressa ikut tertawa jika ia mengingat ingat tingkah absurd suaminya itu.


Pernah suatu hari Satya mengadu pada Teressa jika junior nya tak sengaja ditendang bocil saat bermain, Satya hampir menangis saat itu. Teressa benar-benar menahan tawanya agar tak membuat suaminya semakin bersedih.


Kasian sekali.


"Aduh pinggang ku." Rintih Bunda Citra yang baru mendudukan tubuhnya didekat Ghea dan Teressa.


"Bunda kenapa?" tanya Teressa dan Ghea bersamaan.


"Aduh nggak kuat bunda. Anak-anak itu Ghe, Masyaallah lincah semua, sampe kewalahan bunda nemenin mereka."


Ghea terkekeh kecil mendengarnya, itu memang kenyataannya.


"Terus sekarang pada kemana, kok sepi." tanya Ghea.


"Tadi abis kejar-kejaran sama kucing kayaknya ke depan nyamperin kakaknya."


Baru saja diomongkan, pasukan LAKIK squad telah tiba di belakang. "Gepa mau ikan emas, opa." Bocah itu sudah siap dengan saringan jaring untuk menangkap ikannya.


Bunda Citra menatap tak percaya, anak-anak Ghea benar-benar lincah.


"Ikan lele dulu, opa." seru Ghavi.


"Ih nggak mau ikan lele! TBL TBL, takuedd buangedd lochhh!!!" pekik Gheva dengan nada dibuat-buat dan ekspresi jijik menatap kolam ikan berkumis itu.


"lebay!" cibir Ghavi.


"Mommy." teriak Gheva memanggil mommy nya sambil melambaikan tangannya.


"Yes honey?" Ghea menoleh menatap sang putra disana.


Gheva berlari menghampiri Ghea, ibu empat anak itu panik sendiri saat Gheva hampir terjatuh karena menginjak kerikil yang hampir membuat tubuhnya oleng.


"Jangan lari-lari, nanti jatuh." tegur Ghea saat Gheva sudah didekat nya.


"Hihi sorry mom. Ih adik kak Gepa lutunya, uluh-uluh." Tangan Gheva dengan gemas menguyel-uyel pipi bulat milik adik kecilnya itu.


"Mommy, open your mouth." pinta Gheva sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


"Aaaaaa,,,," Ghea membuka mulutnya lebar-lebar sesuai perintah Gheva. Bocah laki-laki itu lantas mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Tenyata sebuah cookies kecil rasa cokelat.



"Aaaaaaa,,,,,, mmmmm nyam nyam ,lezat mommy?" tanya nya usai mommy nya menggigit kecil cookies coklatnya itu.


"Hm lezat, Gheva dapet darimana cookies nya?"


"Dari kak Noah. Tadi Gepa sama kak Gathan sama kak Ghavi bantuin kak Noah cuci motor, terus dikasih cookies satu-satu, hehe." ujarnya sambil tersenyum lebar.


Dibalik sikap brutal dan bar-bar yang Gheva miliki, bocah itu juga sangat peduli dan suka berbagi dengan orang lain. Terlebih lagi pada keluarganya.


"Pinter banget anak mommy. Terus kak Noah sama Kak Gathan, daddy sama uncle kemana? kok nggak ada?"


"Emm tadi kak Noah sama Kak Gathan keluar mau beli chiki. Daddy sama uncle lagi nyiapin tusuk ikan, nanti mau bakar-bakar soalnya." jawab Gheva.


"Yaudah opa sama kakak dibatuin nangkep ikannya, ntar kita masak bareng-bareng."


"Ayeaye captain!"


Sebelum menghampiri kakak dan opa nya, Gheva menyempatkan diri untuk mengecup salah satu pipi mommy nya dan kedua pipi bulat adiknya.


"Dadahhh." serunya sambil melambaikan tangan.


____________


TBC.


jangan lupa tinggalkan jejak.


Kedepannya bakal rajin up.


Nggak janji tapi ane usahakan.


Lope U sekebon buat yang udah sabar menantiā™”