
Pagi ini cerah, setelah tidur malam yang tidak nyenyak karena harus berurusan dengan seekor kecoa yang terbang dan hinggap di depanku benar-benar menyebalkan. Pada akhirnya aku harus bersiaga karena serangga itu benar-benar menjijikkan apalagi ketika terbang.Pada akhirnya aku bangun dengan mataku yang merah, sementara Isabella malah asik bermain ke sana kemari.
Sebelum itu, setelah melihat William pergi dan memastikan dia tidak kembali ke tempat itu (ku harap dia serius untuk tidak ke sana) akhirnya aku kembali. Semua yang terjadi malam ini membuatku mengingat lagi memori Itu. Hingga pada akhirnya aku tak bisa tidur lalu saat akan nyenyak malah disambut dengan serangga mistis itu.
Semuanya terlihat cukup normal, syukurlah jika begitu pagi ini Isabella membuat sedikit perubahan. Ia memasak untukku dan melalukan pekerjaan rumahnya sendiri. Padahal sebelumnya ia berkata bahwa selama ini William yang mengurus rumah jadi ia tak terllau tahu cara membersihkan hapaman depan juga nagian dalam rumahnya.
Aku cukup senang meski aku tahu bahwa William sendiri melakukan itu meski dia sayang namun hatinya tak tulus untuk semua itu. Bahkan kalau disuruh memilih, lebih baik tidak ada yang peduli daripada berpura-pura karena pada kahirnya itu seperti kebohongan yang tersirat di dalan hati. Aku tak tahu harus bagaimana, mungkin saja masa lalu itu terukir lagi di mataku yang sekarang ini.
"Kak, jangan melamun terus!" tegur Isabella yang melihatku berpikir keras lagi.
"Tidak, kakak hanya sedang berpikir saja," balasku padanya.
"Apa sih yang kakak pikirkan?" Isabella yang terlihat kesal.
"Tidak ada, dan juga ini mungkin lebih privasi," jawabku yang tersenyum malu sambil memalingkan pandangan.
Isabella hanya kembali mengurus hal lain yang bisa ia selesaikan.Pada akhirnya aku tak melakukan banyak hal, senang rasanya bisa begini dia tumbuh dengan ceoat karena sepertinya kapasitas otaknya masih banyak. Beruntung ya, tak sepertiku yang malah memikirkan keadaan teman-teman serta paman dan bibi di sana.
Aku dan Isabella sekarang berjalan menuju ke pasar. Setelah mandi Isabella memakai gaun berwarna merah muda sementara aku memakai kemeja dan rok hijau tua (terlihat seperti itu). Kali ini Isabella yang meminta hal itu karena dia ingin tahu banyak hal.
Kegiatan hari ini terasa cepat, anak itu hanya merasakan kesenangan yang ia lewati.William,tanpa kau sadari bebanmu sudah berkurang.Memori ini akan menjadi sama tau tidak ya? Mengingat mereka punya keraguan masing-masing.
"Kak Lina punya orang tua?" tanya Isabella yang sedang duduk di ayunan halaman depan.
"Dulu ... sekarang mereka sudah bahagia," jawabku sambil memandang langit yang terlihat biru.
"Pantas kakak seperti tahu rasanya sendiri," lirihnya.
"Tidak juga, ada yang lebih paham dirimu. Kakak hanya perantara saja dan bahkan mungkin sebentar lagi kakak akan pergi."
"Kalau kakak pergi, apa semuanya akan menjadi sepi lagi?"
"Aku tak tahu, mungkin takkan sama tetapi yang perlu kau ketahui bahwa kau tak sendirian."
Hari ini terasa cepat, aku takut bahkan sangat takut. Karena beban ini masih ada dan belum hilang. Penyesalan ini, rasa menyesal setelah kejadian itu belum hilang.
MAAF MAAF MAAF, itulah yang bergema dalam hatiku. Andai semuanya terulang aku akan lebih berguna dan takkan membuat tragedi itu. Aru ... maafkan aku, ini hanya salah paham saja.
Pada akhirnya waktu berputar sangat cepat, sehingga membuat perasaan lain terlihat rumit.Kuharap dia bisa mendengarkanku dan menerima kata itu. Bohong kalau aku tak sedih, malam musim panas ini terlihat sunyi namun aku malah tersenyum aneh ya.
Selamat malam, aku yang merupakan beban berharap bahagia. Meski sedih aku akan menahannya, asalkan orang sekitarku bisa membuat hari ini cerah. Aku pun akan berusaha tersenyum ....