
Harith yang sepertinya masih bersemangat untuk hari ini pun belum terlihat lelah. Sudah cukup sore dan waktunya toko tutup. Namun, sebelum itu kami membereskan beberapa barang dan membersihkan toko sebelum kami tutup.
"Kak Lina ... kakak baik-baik saja kan?" Tanya Harith yang sedikit penasaran.
"Kakak baik-baik saja, tak perlu khawatir ya. Lagipula, besok kakak akan pergi untuk waktu yang lama," jawabku padanya.
"Soalnya kakak tadi ...," balasnya yang terlihat khawatir padaku.
"Hehe ... maaf ya kakak hanya sedikit melamun saja," jawabku sedikit malu karena melamun lagi.
Sebelumnya, aku beberapa kali melamun sebelum ini. Namun, Harith selalu membuyarkan lamunanku sehingga aku bingung harus bersyukur atau merasa malu. Dan sepertinya, ia sangat semangat dengan hal itu.
"Tapi, kakak tidak apa-apa kan? Habisnya kakak seperti cemas akan sesuatu," cemasnya padaku.
Melihat yang seperti itu, lantas aku pun tersenyum karena ada yang menyemangati," Terimakasih ya, kakak baik-baik saja kok," balasku sambil mengusap rambutnya.
Anak ini, dia sifatnya polos dan juga sedikit periang. Sama seperti Lucy, ku harap mereka selalu seperti ini. Kami sedang berjalan menuju arah rumah Harith, kebetulan aku mengantarnya agar tak terjadi apa-apa padanya.
"Kakak tak perlu mengantarku, aku bisa sendiri kok."
"Aku tahu, kau memang kuat kan. Tapi, tetap saja aku akan mengantarkanmu, karena kau anak yang hebat," pujiku padanya. "Selain itu, aku ada sedikit urusan di Danau Lucky."
"Memangnya ada apa kak? " tanya Harith yang terlihat sedikit penasaran.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin melihat-lihat saja," jawabku terlihat singkat,padat,dan jelas.
Aku mengunci toko dan mengantar anak ini menuju ke rumahnya. Dia terlihat sedikit canggung, namun bagiku dia memang cukup senang. Kalau tidak salah dia dari keluarga Western, dan dia juga harus bekerja diumurnya yang masih muda.
Yang ada dalam hatiku malah perasaan kasihan pada anak ini. Mereka sudah harus mengurusi hidup keluarga mereka, padahal harusnua disaat seperti ini mereka masih bermain dan tentunya belajar akan kehidupan. Namun, disisi yang lain aku bersyukur mereka belajar akan kehidupan orang dewasa.
Terkadang, saat mereka yang menjadi korban. Orang lain dengan mudahnya mengecap pelaku kekerasan pada anak sebagai orang jahat dengan mudahnya. Padahal, bisa saja itu juga untuk memberi tahu si anak bahwa hidup tak semudah itu.
Sebuah pertanyaan muncul di kepalaku begitu saja. Hanya karena mereka selalu dibela, apakah itu tidak menjadi tolak ukur sebuah kebenaran? Mungkin saja begitu. Meski begitu, membesarkan mereka dengan kasih sayang pun harus bisa dijadikan suatu contoh yang baik.
Jalanan ini seperti tak habis, aku sudah melewati jembatan penghubung antara pusat desa dengan daerah yang lain. Kulihat hanyalah matahari senja yang seperti harapan, tapi saat harapan itu pergi apa yang kau lakukan? tentu kau hanya bebersedih. Bahkan, hanya karena sebuah harapan kau bisa bergantung padanya, padahal kau mungkin bisa membuat harapan untuk orang lain.
Kini, yang kulihat juga hanya rumah-rumah milik penduduk yang lain. Harith, dia mungkin bahagia disini karena lingkungannya. Imi diperkuat dengan hal yang kulihat, suatu kebahagiaan yang terbentuk atas kehidupan satu sama lain.
Kalau memang begitu, syukurlah. Sementara itu, aku berpikir jika mungkin dalam kehidupan yang lain apakah bisa seperti ini. Karena pada akhirnya kita tak bisa memilih kehidupan, namun bisa memilih untuk mengubah takdir dalam hidup.
"Kak, ini sudah dekat. Lebih baik kakak pulang saja," tawarnya padaku.
"Kau ini ... apa sampai sini saja sudah cukup?" tanyaku pada Harith.
"Benar, tapi sebelum itu aku ingin menanyakan sesuatu." Harith yang terlihat penasaran mengajakku duduk di kursi dekat sebuah toko roti.
"Kak Lina, aku bisa tahu sedikit tentang desa ini?" tanyanya dengan wajah penasaran.
"Ku pikir ada hal lain, tapi baiklah. Apa yang membuatmu pensaran akan desa ini?" jawabku singkat sambil menanyakan maksudnya juga.
"Sebenarnya ayahku selalu pergi bekerja juga. Tapi aku juga ingin bekerja seperti ayah, tapi aku tak tahu tempat ayahku bekerja di mana. Jadi, aku minta kakak untuk menunjukkanku sedikit tentang desa ini," tegasnya dengan wajah serius.
"Hm ... jadi jika memang itu yang kau inginkan, mungkin aku bisa sedikit membantu."
"Kak Lina bisa?" tanya Harith dengan wajah berbinar-binar.
"Aku punya waktu."
"Tapi ... bukannya kak Lina akan pergi mengembara?" tanyanya, wajahnya sedikit cemas takut jika membuatku sibuk.
"Sebenarnya aku sudah bersiap-siap dari minggu kemarin. Jadi sekarang waktu terakhirku di sini, dan akan kuhabiskan bersamamu, Harith," jawabku agar ia tak khawatir.
Seketika ia tersenyum padaku, "Terimakasih kak ...."
"Kau tahu kan kalau nama desa ini adalah 'Desa Nostalgic' atau mungkin 'Nostalgia'?" tanyaku untuk memulai pembicaraan.
"Iya, aku tahu karena ayah yang memberitahuku. "
Tak kusangka, saat berbincang dengannya ternyata dia cukup tahu dengan desa ini. Mungkin sebenarnya dia sudah tak perlu bertanya karena di sudah tahu. Bahkan, dia sendiri mempunyai pendapatnya tentang desa ini.
Menurutku, dia cukup pandai. Bisa menceritakan mulai dari Danau Lucky, hingga Hutan Musim Gugur yang terkenal karena suasananya menjadi suatu yang cukup bagiku. Ntah siapa yang menamainya dan kenapa dinamai seperti itu, tetap saja itu adalah sebuah rasa nostalgia yang akan terlewatkan saat aku pergi nanti. Tanpa terasa, Harith seperti seorang pendongeng hebat yang membuat pendengarnya ikut terbawa suasana.
"Oh ya ... kak Lina jangan melamun terus ya ...," sindirnya sambil tertawa.
"Kau ini ... bisa saja ya ...."
Aku mengusap rambut anak itu, dan kami berpisah karena aku merasa dia sudah cukup tahu hanyak hal. Jujur, mungkin saat aku kembali dari perjalananku, aku akan melihat anak itu tumbuh besar dan bahagia. Musim semi ini, aku akan mencari orang itu untuk menjelaskan semuanya.
Saat keyakinan itu ada, apakah semua yang dilalui seperti ini? Saat aku tahu bahwa dia bisa saja tak kembali. Yang terlintas dipikiranku hanyalah khawatir padanya. Aru, semoga aku bertemu denganmu kembali.
Satu hal yang terlihat saat ku berjalan ini adalah pemukiman penduduk. Rumahku dan Rumah Harith di arah yang berbeda. Dia berada di sebelah barat, sementara rumahku ada di sebelah timur.
Kadang aku berpikir, mungkin yang kujalami ini seperti sebuah kehidupan tanpa arti. Apakah aku hanya akan menunggu diseleksi oleh tuhan. Apakah hanya sampai seperti ini saja aku hidup? mengapa aku seperti orang yang akan mati saja, padahal aku tahu bahwa tak bisa semudah itu untuk menyerah.
Apa yang menjadi penyemangat hidup itu? Saat aku memikirkannya, aku malah semakin takut. Apa yang kupikirkan pun hanya menjadi sebuah harapan belaka. Memangnya saat harapan itu ada, apakah dia bisa menjamin semuanya? Bahkan saat kau sendiri.
Saat aku melihat diriku lagi, di sungai yang terus mengalir bagai aliran waktu. Yang kulihat hanyalah bayangan diriku, bayangan itu sebuah tiruan kan? Yang meniru semua tentang kita. Apa salah saat aku berbalik pada bayangan itu? Terkadang aku juga ingin lari dari semua ini.
Hanya sebuah pelarian kadang hanya membuat ku menunggu masalah itu kembali. Bahkan saat aku membulatkan tekad ini, emosi itu, akan selalu muncul dalam diri ini. Yang perlu ku tahu, hanyalah bahwa dunia ini tak bisa disalahkan atas nasibku.