AFTER

AFTER
Eps 94



(After pt 2)


.


.


.


.


.


Selain menjadi direktur perusahaan, Noah juga menjadi direktur beberapa rumah sakit yang ia bangun. Cita-cita nya dulu memang ingin menjadi seorang dokter. Namun hal itu tak memungkinkan ditengah padatnya kegiatan dikantornya. Maka dari itu Noah memilih untuk membangun rumah sakit, dan salah satunya ia buka gratis untuk keluarga tidak mampu.


Dan untuk urusan rumah sakit, Noah mempercayakan salah satunya kepada Alice. Untuk Alice sendiri, ia telah mewujudkan cita-cita nya menjadi dokter. Dan mengabdi pada rumah sakit yang dipercayakan Noah kepadanya.


"Assalamualaikum." Suara merdu itu terngiang ngiang ditelinga Noah. Laki-laki itu bahkan sampai melupakan rasa kesalnya akibat Alice terlalu lama mengangkat panggilan telepon darinya.


"Waalaikumsalam." Balas Noah.


"Kenapa, Kak?" Tanya Alice disebrang sana. Ia sendiri masih melakukan rapat dengan tim nya untuk melaksanakan persiapan operasi pasiennya besok pagi.


"Kamu udah makan siang?" Tanya Noah.


"Belum, ini masih rapat."


"Kenapa belum makan? Nanti kamu sakit, Alice. Cepet makan, lanjut nanti rapatnya." Ucap Noah.


"Iya ini mau selesai terus makan siang. Kakak Udah makan?"


"Aku,,, eum belum juga." Jawab Noah.


Acieee aku kamu nih.


"Tuh kan, nyuruh Alice makan tapi diri sendiri belum makan. Buruan makan, ntar sakit." Suruh Alice.


"Makan siang bareng, nanti aku jemput. Assalamualaikum."


Tutt,,


Noah datang ke rumah sakit bersama salah satu adiknya, yaitu Lala. Kebetulan bunda dan ayahnya sedang pergi ke rumah aunty nya. Dan triple yang lainnya ada kegiatan disekolah.


"Kak Alice mana ya?" Guman Luna sambil memantau keadaan sekitarnya.


"Itu Kak Alice!" Seru Luna sambil menunjuk seorang gadis dengan jas putih khas rumah sakit yang nampak berjalan beriringan dengan seorang laki-laki.


"Kak Alice." Panggil Luna sambil melambaikan tangannya. Alice pun mengedarkan pandangannya pada suara cempreng yang memanggilnya itu.


"Lala, Lala kesini sama siapa, hm?" Alice mendekati adiknya Noah dan menyapanya ramah.


"Sama Kak Noah, kan mau makan siang bareng." Kata anak itu.


Tak lama kemudian datang lah sosok yang Luna bicarakan, yaitu sang kakak. Dengan gaya kul seperti biasa, Noah mendekat dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Udah beres meeting nya?" Tanya Noah dengan suara bariton-nya.


"Udah kok." Jawab Alice.


Noah tak berkata apa-apa lagi. Ekspresinya datar memandang Alice dengan lekat. Alice sebenarnya sudah biasa mendapat tatapan tak mengenakkan dari Noah, namun ia masih saja sering merasa gugup tak karuan. Tatapan mata itu benar-benar sangat menghunus.


"K-Kenapa?" Tanya Alice memberanikan diri untuk bertanya.


"Hm?" Noah menaikan sebelah alisnya.


"Oh ini kenalin, pasien yang mau Alice operasi besok. Namanya Raka, dan ini Kak Noah yang punya rumah sakit ini." Alice nampak memperkenalkan kedua laki-laki dihadapannya satu sama lain. Noah menatap aneh laki-laki yang dikenalkan Alice sebagai pasiennya itu. Jika dilihat dari fisik, tidak ada tanda-tanda sakit parah hingga harus diambil tindakan operasi. Ah, apakah hanya pikirannya saja? Banyak orang sakit tanpa tanda-tanda.


"Noah."


Sepertinya terjadi perang dingin antara keduanya. Entah apa penyebabnya, mereka saling meremas tangan dengan kuat saat berjabat tangan. Alice yang menyadari hal itu langsung melepas jabatan tangan antara Noah dan Raka.


"Kenalannya udah ya, sekarang kita ke urusan masing-masing. Raka, kamu hari ini harus full istirahat dulu biar besok kondisi kamu vit." Kata Alice berpesan kepada Raka.


"Baik dokter cantik." Jawab Raka sambil mengedipkan salah satu matanya dengan genit.


Noah memincingkan matanya dengan tajam mendengar kata-kata sialan itu. Jika tidak ingat dosa, mungkin Noah sudah mengeksekusi laki-laki yang menggoda calon istrinya itu.


"Kita makan siang sekarang."


___________


Saat berada di tempat makan, Noah masih mendiami Alice tanpa penyebab yang pasti. Dan akhirnya Alice hanya berbicara dengan Lala saja. Karena sesungguhnya, dikacangin itu nggak enak.


"Lala mau makan apa?" Tanya Alice kepada Luna.


Luna membolak balik buku menu yang dipegang oleh Alice itu, pilihannya tertuju pada menu pasta dan jus strawberry.


"Kak Noah mau makan apa, biar sekalian Alice pesenin." Ucap Alice memberanikan diri untuk bertanya kepada Noah.


"Mau makan Raka!"


"Maksudnya gimana, mau makan sama Raka?" Tanya Alice kebingungan.


"Nggak tau, lagi pengen makan Raka!"


"Jangan gitu, aku serius mau makan apa?" Tanya Alice sekali lagi.


"Terserah Raka!"


Luna yang sedari tadi menjadi penonton pertengkaran Noah dan Alice tak sanggup menahan tawanya. Gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat Kakaknya mode jealous. Sangat lucu, pikirnya.


"Ayo dong berantem lagi, Lala panggilin Kak Raka nanti." Kata Luna.


"Kak jangan gitu dong, nggak enak ada Lala." Seru Alice sambil menekuk wajahnya dengan kesal.


"Iya-iya dokter cantiknya Raka."


Kesal, itu yang dirasakan Alice. Noah terus menyindir dirinya dengan mengucapkan kata-kata 'Raka' berulang kali. Padahal ia dan Raka tidak ada hubungan apapun selain hubungan dokter dan pasien. Tapi kejadian dirumah sakit tadi malah menjadi bibit masalahnya dengan Noah.


"Pacarnya Raka kenapa?"


Noah yang baru kembali dari kamar mandi malah mendapati adiknya yang tengah mengusap-usap wajah Alice dengan menggunakan tissue.


"Kak Noah ngeselin banget sih, jangan ngomong kayak gitu lagi. Liat nih, kak Alice nangis gara-gara kak Noah!" Omel Luna tanpa ada jeda.


"Nangis, serius?" Tanya Noah.


"Iya lah, liat nih!" Sewot Luna.


Noah mendekati Alice, ia memutar tubuh Alice agar menghadap dirinya. Dilihatnya wajah putih yang kini berubah kemerahan. Matanya sembab, tangannya terulur untuk mengusap air mata nya mengalir membasahi pipi.


Nyentuh dikit doang, kok:)


Ah, ternyata Noah telah kelewatan hingga membuat seorang gadis menangis.


"Maaf, maafin Aku." Kata Noah penuh penyesalan. Ia merasa bersalah karena telah membuat Alice menangis.


___________


TBC