
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
Sebenarnya hari ini Satya harus ke kantor seperti pagi biasanya. Namun pria itu berdalih akan mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah nanti. Hari ini ia akan mengajak putra nya untuk mengunjungi suatu tempat yang ia yakini pasti akan disukai oleh anak-anak seperti baby Allister.
Selama ada kehadiran baby Allister dalam kehidupannya, Satya benar-benar merasakan kenikmatan hidup. Kenapa tidak sejak dulu, pikirnya. Ah, itu semua kehendak Tuhan, Satya hanya bisa berusaha dan berdoa bukan.
Bahkan Satya merasa tak ingin terlambat sedikitpun mengetahui info terkini tentang putranya. Namun bukan berarti ia melupakan Noah. Noah juga putranya, tapi bedanya ia tidak merawat Noah sejak bayi seperti Allister.
"Ini ladang apa mas?" Tanya Teressa saat suaminya mematikan mesin mobilnya disebuah ladang luas dipenuhi hamparan rumput hijau.
"Ayo kita liat." Ajak Satya. Satu tangannya ia gunakan untuk menggendong baby Allister, dan yang satunya ia gunakan untuk menggandeng jemari istrinya.
"Oh ada penduduknya, desa ya?" guman Teressa menatap takjub sekelilingnya.
Mereka memasuki lokasi itu. Nampak seperti sebuah desa terpencil yang masih asri dan jauh dari polusi udara. Bahkan mereka dapat merasakan udara yang sangat segar kala itu. Banyak rumah yang menyatu dengan alam. Penempatan bangunan juga berjarak dan tidak berdempet seperti dikota besar.
Ada banyak ladang peternakan disana. Namun bukan hanya binatang ternak yang ada. Banyak satwa lainnya. Bahkan ada bermacam macam jenis tanaman bunga juga disana.
...Kira-kira penampakkannya seperti itu~...
Allister yang saat ini sudah bisa berdiri tegap berusaha menghampiri segerombolan anakan bebek yang berlari kesana-kemari. Tentu bayi itu bisa berjalan karena bantuan sang ayah. Satya membantu menuntun sang putra agar langkahnya tidak tumbang di atas tanah.
"Yahh,,, wekk wekkk,,,"
Allister berseru heboh menunjuk anakan bebek itu.
Brughh
Bayi tampan itu sengaja menjatuhkan tubuhnya ditengah-tengah kerumunan binatang unggas tersebut. Tangan mungilnya mulai aktif meraih makhluk-makhluk kecil itu.
"Wekk wekk wekkk!!"
Anakan bebek tersebut menjerit kesakitan saat lehernya dicekik oleh Allister.
...Bisa kita lihat bahwa bebeknya tertekan🙏...
Note: buat kalian yang ngira ini anakan entok, salah ya. Ini anakan bebek, bebek peking. Asalnya dari Tiongkok. Ntar gedenya warna putih kayak angsa, tapi lehernya nggak panjang banget kayak angsa. Okey.
"Mas, bebeknya kasian itu. Ditolongin kek." Seru Teressa yang ikut panik sendiri karena putranya menyiksa makhluk kecil nan mungil itu.
"Astaghfirullah ganteng. Siapa yang ngajarin kamu jadi psikopat gini, hm?" Satya mencoba menyelamatkan nyawa binatang wekk wekk itu dari siksaan putranya.
Saat lehernya sudah aman, anakan bebek itu segera berlari terbirit-birit menjauhi Allister. Sepertinya makhluk mungil itu trauma berdekatan dengan Allister.
"Kesini bayar ya mas?" Tanya Teressa penasaran. Wanita itu juga baru pertama kali memijakkan kakinya ditempat seperti ini.
"Enggak lah. Ini gratis, punya penduduk katanya. Tapi kalo mau bawa pulang sesuatu ya paling ngasih sama yang punya, biar nggak bawa-bawa doang." jelas Satya.
Teressa menganggukkan kepalanya paham, sepertinya ia akan membawa pulang bunga mawar merah yang sedari tadi memikat perhatiannya.
"Ndaa,,," panggil Allister.
"Iya sayang, kenapa hm?" Teressa mengusap lembut puncak kepala putranya.
"Awaa u-wang." (Bawa pulang) Katanya sambil menyembunyikan beberapa ekor anakan bebek ke dalam bajunya.
"Sayang jangan dimasukin perut. Sini kasih ke bunda, nanti kita bawa pas pulang." Ujar Teressa yang langsung mengeluarkan anakan bebek tersebut dari dalam baju putranya.
"Mas, adek mau bawa bebek boleh?" Tanya Teressa meminta izin kepada sang suami.
"Boleh, nanti di bikinin kandang di belakang." Jawab Satya.
Hari itu mereka menghabiskan waktu hingga menjelang petang untuk menikmati keindahan alam disana. Berbaur dengan penggembala, dan petani sayur. Liburan sederhana kali ini benar-benar berkualitas. Satya dan Teressa bisa mengenalkan lingkungan luar kepada sang putra. Dan bonusnya mereka bisa menikmati keelokan tempat yang ada.
"Eh eh, itu jangan sayang. Itu dog, ntar kalo kena air liurnya gimana, hm?" Satya menjauhkan tubuh putranya dari seekor binatang anjing disana.
"Mas, Tessa mau kucing yang itu. Kira-kira dibeli boleh nggak ya?" Tanya Teressa sambil menunjuk salah satu kucing centil yang begitu memikat diri nya .
"Udah bungkus aja, pasti dibolehin kok. Disini hewannya juga banyak banget."
Dan petang itu mereka pulang membawa oleh-oleh berupa binatang-binatang lucu dan menggemaskan dari sana.
Dan bahkan saat perjalanan menuju rumah, Allister begitu senang bermain dengan bebek nyata nya itu. Jika sebelumnya ia hanya memiliki mainan bebek karet, kini ia memiliki bebek yang asli.
_______________
"AAAAAAAKKKKHHHHH!!!!!"
Teressa yang mendengar teriakan suaminya dari kamar mandi segera menghampirinya. "Mas kenapa?" Tanya nya penuh rasa khawatir.
Karena penasaran, Teressa pun menengok apa yang ada di dalam bathub. "Bebek?" beo Teressa.
"Iya sayang, itu bebek. Bebek asli!! Masa mas mau berendam, anunya mas disosor sama bebek. Mas kira tadi itu mainan karet punya Al." Adu Satya.
Teressa tak lagi dapat menahan tawanya. Wanita itu tertawa lepas diatas penderitaan suaminya. Apa kata Satya tadi? Anunya disosor bebek kan? Astaga, siapa yang kuat tidak tertawa mendengar aduan seperti itu.
"Sayang!" Seru Satya tak suka.
"Bentar-bentar! Aduh, perut Tessa kram!!!! Hahaha kok bisa disosor sama bebek? lecet nggak sih? hahaha." Wanita itu masih tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri karena lama tertawa.
Satya masih kesal karena ditertawakan oleh istrinya. Pria itu melipat tangannya didepan dada dengan mulut mengerucut ke depan.
"Sayang udah ih jangan ketawa mulu. Tertawa diatas penderitaan suaminya itu dosa!"
Teressa mencoba meredakan tawanya agar sang suami tidak bertambah kesal.
"Kok bisa ada bebek, ini kan bebek adek?" Seru Teressa sambil mencoba mengumpulkan makhluk kecil yang sibuk berenang didalam bathub kamar mandinya itu.
Saat semuanya belum terkumpul, tiba-tiba baby Allister masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih.
"Wekkk wekkk."
Baby Allister langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan menghampiri hewan peliharaan nya yang sebelumnya ia taruh didalam bathub tadi.
"Ndaa, andiii." (Bunda, mandi) Kata Allister sambil merentangkan kedua tangan kecilnya minta dimasukkan ke dalam bathub bersama bebek-bebek kecilnya.
"Adek mau mandi?" Allister segera menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Tunggu sebentar ya, bunda keluarin bebeknya dulu." Ucap Teressa yang mendapat penolakan dari sang putra. Allister menggelengkan kepalanya dan menahan tangan bundanya yang hendak mengeluarkan bebeknya dari bathtub.
"Noo-ooo."
Akhirnya tak ada pilihan lain selain memasukkan tubuh putranya ke dalam bathub bersama anakan bebek tersebut. Baby Allister begitu aring (nyaman/betah) bermain dengan air.
Disisi lain ada Satya yang masih merajuk duduk di pojokan kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Pria itu belum jadi mandi karena bathub nya dikuasai oleh baby Allister.
"Ayah ngambek loh, nggak ada yang bujuk nih." Satya bersuara tanpa berniat menatap lawan bicaranya.
"Adek mandi dulu, yuk. Kasian bebeknya kedinginan, nanti main lagi ya kalo udah wangi." Teressa mulai memandikan putranya terlebih dahulu. Mungkin setelah itu ia akan menitipkan baby Allister kepada Bunda mertua, karena selanjutnya ia harus memandikan bayi besarnya.
Satya yang merasa diacuhkan hanya melengos, membuang mukanya ke sembarang arah. Dalam lubuk hati yang paling dalam, ia merasa iri melihat kedekatan ibu dan anak tersebut.
Tapi itu istri sama anak lu sendiri loh bang:)
"Bay, yahh,,," Allister melambaikan tangannya ke arah sang ayah, saat dirinya digendong oleh sang bunda keluar dari kamar mandi.
Awalnya Satya pasrah saat ditinggalkan istri nya, itu artinya ia akan mandi sendiri.
"Huftt,,,,, bebek lucnut ya lu pada!" Omel Satya kepada bebek-bebek kecil yang ditampung istrinya di dalam ember kamar mandi.
Pria itu menguras bathub dan membersihkannya terlebih dahulu agar ia dapat menggunakannya kembali. Diisilah dengan wangi-wangian dan kembang-kembangan.
Pria itu mulai merendam seluruh tubuh nya ke dalam air di bathub. Aroma therapy yang menenangkan dan sensasi hangat dari airnya membuat tubuh Satya menjadi relax. Sambil memejamkan matanya, Satya hanyut menikmati kegiatan tersebut. Bahkan dirinya sampai tak sadar jika kini ada sepasang tangan lembut memijat kedua bahunya.
"Sini juga dong. Nah iya situ, aduh nikmat skalee."
"Mas Satya nggak mandi? Ini udah mau maghrib loh." Suara lembut itu membuyarkan ketenangan Satya. Pria itu menoleh ke belakang, disana ada istrinya yang tengah menatapnya sambil tersenyum hangat.
"Capek, yang." Hanya dua kata itu yang diucapkan Satya.
"Baru sekarang ngeluhnya?"
"Ya abis seru yang kalo main sama bocil tuh."
"Iya deh seru banget pokoknya. Sekarang buruan mandi ya, Tessa udah siapin baju gantinya." Ucap Teressa.
"Bocil kamu ungsiin kemana?" Tanya Satya.
"Ada, Tessa titipin sama bunda." jawab Teressa.
"Yaudah sekarang giliran kamu mandiin aku."
Teressa mulai menggosok tubuh suaminya dengan diselingi pijatan lembut. Satya memang sangat manja seperti ini orangnya. Ya lebih baik manja seperti ini kepadanya, dari pada ke orang lain? Kan berabe ntar.
"Anunya mas masih sakit nggak?" Tanya Teressa sedikit iba dengan musibah yang menimpa junior suaminya.
"Nggak." Jawab Satya singkat. Ia masih ingat betul dirinya ditertawakan oleh istrinya tadi.
"Jangan ngambek dong, Tessa minta maaf yang tadi." Sesal Teressa merasa bersalah.
"Apa, maaf? Segampang itu? Sorry ye, eike bukan laki-laki gampangan!" Ketus Satya merajuk.
Setiap kali Satya mencoba untuk merajuk kepada istrinya bukan bujuk dan rayuan yang ia dapatkan, namun istrinya malah balik merajuk kepadanya.
"Yaudah terserah mas, yang penting Tessa udah minta maaf. Urusan dimaafin apa nggak itu terserah mas!"
"Iya-iya dimaafin, ayo mandiin mas lagi." Seru Satya mencegah istrinya yang hendak keluar dari kamar mandi.
Satya tuh paling nggak bisa kalo dimarahin sama istrinya. Tapi giliran sama bundanya pasti ngajak debat every time. Berdosa sekali kamu itu!
_______________
TBC.