AFTER

AFTER
07



"Apa yang kau pikirkan, saat kau tahu harapan itu tinggal sebuah angan?"


Pertanyaan yang terus muncul saat makan malam bersama Isabella. Ia terlihat nyaman dengan makanan yang kubuat sementara aku masih memikirkan banyak hal. Apa tidak ada yang mengurusnya? Mengapa orang-orang seperti menjauhinya? Itulah yang muncul dikepalaku.


Sebenarnya, sebelum membuat ini aku sempat keluar untuk mencari beberapa bahan di toko. Saat aku bertanya tentang Isabella penjual itu hanya mengatakan bahwa anak itu adalah anak yang malang. Mungkin memang cukup misterius walau anak itu terlihat baru saja meluapkan bebannya.


"Kak ...." panggilnya membuyarkan lamunanku.


"E ... eh maaf kakak hanya melamun sedikit," elakku yang malu karena ketauan melamun.


"Apa yang kakak pikirkan hingga serius seperti tadi?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Tidak, hanya iseng saja," elakku sambil memakan mie yang kubuat.


"Ada yang ingin kutanyakan," ucap anak berambut orange itu, wajahnya juga kotor dengan sisa makanan.


Aku mengusap wajahnya, yang kulihat hanyalah bekas luka yang terdapat di bagian lehernya. "baiklah, tapi sebelum itu lehermu kenapa?" tanyaku sambil membereskan meja makan terlebih dahulu.


"Ah, ini sudah lama kak. Aku hanya ceroboh sedikit," jawabnya malu-malu dengan wajah memerah.


"Lai kali kau harus lebih hati-hati."


"Ba ... baik kak ...." jawabnya malu-malu.


"Selain itu, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Kakak belajar darimana senjata yang tadi?" tanyanya yang terlihat masih belepotan dengan bekas makanannya.


"Sebenarnya itu hanya iseng saja. Lagi pula kakak memang sengaja begitu, daripada membawa pisau dan harus bertarung jarak dekat, lebih baik seperti tadi. Jadi kakak bisa bersiap-siap sementara musuh mendekat," jelasku yang membuat mata anak itu berbinar-binar.


"Kakak hebat!" pujinya yang sangat senang mendengar penjelasanku seperti itu.


"Kau tak perlu seperti itu, lagi pula aku membawa benda itu untuk jaga-jaga saja. Bonusnya sih agar tidak ketauan membawa senjata," tuturku memperjelas sambil menggaruk pipiku karena malu.


Setelah mencuci alat makan bekas tadi, aku melihat Isabella yang sibuk mengurusi rambutnya. Dia lebih pandai dari yang kukira sebelumnya. Tak kusangka, dia seperti sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumahnya.


"Apa kau di sini sendirian?" tanyaku yang penasaran ingin tahu lebih tentangnya.


Ia masih sedikit sibuk dengan rambutnya. Saat mendengar itu, ia langsung terdiam dengan wajah sendu. Aku merasa mungkin terlalu cepat untuk bertanya seperti itu.


"Sebenarnya, aku tak sendiri. Biasanya ada Kak William yang selalu menjagaku, namun akhir-akhir ini Kak William jarang terlihat," jelasnya padaku."Aku juga bingung harus bagaimana, dan tak banyak yang bisa kulakukan. Jadi aku mengumpulkan bahan-bahan untuk dimasak di rumah."


"Maaf, aku malah membuatmu sedih," ucapku yang menggenggam dadaku untuk menahan rasa sedih.


"I ... itu bukan salah kakak kok, aku saja yang kurang mandiri. Aku juga ingin bekerja untuk terus hidup!" tegasnya sambil berdiri sambil mengepalkan tangan.


"Mau kuajarkan menjahit? Atau mungkin kakak bisa membantumu berlatih menghitung," tawarku padanya.


Ia hanya mengangguk senang, anak berambut cukup panjang hingga kepunggung itu benar-benar ingin berusaha. Sementara aku juga membuka ikatan rambutku, ia menuju ke kamar atas untuk tidur. Aku menuju ke kamar, membuka jendela untuk merasakan sejuknya malam.


Rambutku terurai angin, yang terlihat hanyalah sang bulan. Sunyi, dan sepi namun semua itu seolah tertutupi oleh cahaya bulan. Harapan dalam kegelapan, menjadi penentu perasaan.


Perasaan itu seperti sebuah pisau. Yang bisa melindungi namun bisa menusuk. Dari berbagai rasa sakit, akankah ada yang bisa bertahan? Itulah yang membuatku ragu untuk bertemu denganmu ... Aru.


Setelah peristiwa itu, kau pergi tanpa sepatah kata pun. Kau tak mendengarkan penjelasanku lalu meninggalkanku begitu saja. Aku jadi seperti orang bodoh yang terobsesi untuk menjelaskan kebenaran.


Pintu kamarku diketuk, aku berbalik dan membuka pintunya. Isabella, dia pasti kesepian karena sendiri di sini. Aku memeluknya karena aku tahu rasa seperti itu.


"Aku ingin tidur bersama kakak, boleh kan?"


"Silahkan saja, aku malah senang jika kamu mau," jawabku yang membuatnya menjadi sangat girang.


Untung saja kasurnya cukup untuk kami berdua. Ia tidur dalam pelukanku, menyambut pagi dalam mimpi. Selamat malam, dalam keinginan yang kuat pun akan bertemu dengan jalannya sendiri ....