AFTER

AFTER
Eps 69



(Satya & Teressa)


.


.


.


.


.


"Mas Satya!"


"Bentar sayang!"


Acara BAB Satya tak tenang karna Teressa terus memanggilnya. Bumil itu bahkan tak segan menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan keras.


Terpaksa Satya harus melakukan pup kilat.


Setelah selesai setor tak lupa Satya bersih-bersih tentunya, baru ia keluar menghampiri istrinya.


Disana Teressa berdiri dengan mulut mencebik kesal.


"Jangan berdiri kelamaan, ayo." Satya langsung menuntun istrinya menuju ranjang. Teressa yang masih kesal hanya bisa menurut saat suaminya itu menuntunnya menuju ranjang.


Tadi Satya berjanji tidak akan meninggalkan Teressa, dalam keadaan apapun itu. Berjanji akan selalu ada disamping Teressa dan menemaninya.


Tapi yakali mau boker harus lu pantengin juga, Tessa!


Emosi saya:)


"Ayo bobok udah malem." kata Satya sambil membantu merebahkan tubuh Teressa diatas kasur dengan pelan-pelan.


Diusia kehamilan tua ini, Teressa biasa memilih posisi tidur menyamping, lebih tepatnya membelakangi Satya. Kalau menghadap Satya otomatis perut buncitnya itu akan menjadi penghalang, dan ia tak bisa tidur dengan leluasa. Alhasil Teressa membiarkan Satya memeluk tubuh nya dari belakang, lagi pula itu sangat nyaman dan Teressa suka. Apalagi saat tengah malam tangan Satya masih sibuk mengusap perutnya, ia tentu begitu senang tenyata Satya seperhatian itu.


"Ayo tidur sayang, ini udah malem." Dengan lembut Satya mulai mengusap lembut permukaan perut Teressa.


Namanya juga Satya, nggak brutal nggak afdol. Jemari lentiknya mulai lincah meraba bagian tubuh Teressa kesana kemari.


Duggh


Satya sedikit tersentak kaget saat merasakan ada dorongan kecil dari dalam perut Teressa. Demi memastikan dugaannya benar, pria itu rela bangun dan menatap perut buncit istrinya dengan lekat.


Lagi-lagi ada yang bergerak disana dan membuat Satya takjub. Itu artinya kecebong kecilnya tengah aktif bergerak didalam sana.



...Bunda, maap ya aurora nya saya umbar dikit....


"Ih lucu banget, yang. Adeknya gerak kan?" Satya memekik senang sambil menunjuk-nunjuk perut Teressa yang masih bergerak.


Sebenarnya kandungan Teressa sudah aktif bergerak sejak usia lima bulan, namun Satya saja yang tidak mengetahuinya. Sekalinya tau langsung heboh.


"Sakit tau." rengek Teressa dengan mata berkaca-kaca menahan rasa sakit yang menyeruak di dalam perutnya. Biasanya tendangan itu datang dengan perlahan, namun kali ini lebih keras membuat Teressa sedikit meringis kesakitan.


"Kok gitu? Ish ish ish, adek jangan nakal ya nak. Bunda kasihan nih kesakitan, mending sekarang bobok sambil ayah elus-elus. Okey." Satya menghadiahi kecupan manis pada permukaan perut Teressa, mungkin untuk si baby. Setelah itu kembali memposisikan tubuhnya dibelakang Teressa. Satya kembali memeluk Teressa dari belakang dan kembali mengusap perut istrinya.


Dan ajaibnya rasa sakit itu kandas saat Satya kembali menyentuh perutnya. Sepertinya kecebong senang diajak bermain oleh ayahnya.


"Masih sakit, yang?" tanya Satya.


"Enggak."


"Yaudah tidur yang nyenyak, jangan lupa baca doa, Love youuu."


"Love You too. "


Tunggu, Teressa bahkan telah lupa jika dirinya seharusnya masih ngambek kepada Satya perihal ditinggal ke kamar mandi tadi.


Wanita memang selalu seperti itu!


___________


Morning.


Seperti biasa Dipagi hari Teressa akan membantu suaminya untuk siap-siap sebelum pergi ke kantor. Seperti memilih pakaian, menata rambut, hingga mengikat dasi seperti yang ia lakukan saat ini.


"Nanti makan siangnya gimana?" tanya Teressa.


"Oh iya, yah tapi ntar dingin dong."


"Nggak papa, masakan kamu dingin mas juga tetep suka." kata Satya sedikit menggoda.


"Ish, udah ya! Tessa kenyang digombalin sama mas!" Wanita hamil itu berjalan meninggalkan sang suami dengan rasa dongkol. Walau sebenarnya jantungnya terus berdisko ria didalam.


"Sayang mau kemana! Mas mau ngobrol sama adek dulu!" Satya segera berlari menghampiri istrinya, kemudian mengangkat tubuh Tessa dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar


Satya mendudukan tubuh Teressa diatas sofa dengan hati-hati, selanjutnya ia berjongkok dihadapan Teressa, mendekatkan wajahnya pada perut Teressa.


"Bentar, jangan ganggu dulu. Ini adalah waktu ayah dan anak, bunda nggak boleh ganggu!"


Teressa tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah Satya yang tak ada habisnya. Tangannya sibuk mengusap surai hitam suaminya saat pria itu tengah mengobrol dengan janin yang ada didalam kandungannya.


"Pagi bocil. Bocil udah bangun? lagi apa nih? main bola ya. Bocil dengerin ayah ya, ayah mau kerja dulu jadi hari ini gantian bocil yang jagain bunda, ntar sebagai bonusnya ayah beliin martabak pas pulang, oke deal?" Satya kemudian mendekatkan daun telinganya pada perut Teressa, mungkin berharap mendapatkan balasan dari buah hatinya itu.


Anggaplah Satya tidak waras karna melakukan hal itu. Tapi jujur saja ia senang melakukan hal itu, bahkan setiap pagi ia tak pernah absen untuk menyapa buah hati nya yang ia panggil bocil itu.


"Deal ayah!" Teressa mewakilkan dengan suara kecil, seperti anak kecil.


"Wah dijawab sama bocil!! Okey Cil martabak spesial pokoknya!"


Mereka tertawa bersama menikmati moment itu. Terlalu manis untuk dilupakan, bahkan mungkin akan selalu dikenang.


"Mas berangkat dulu, kamu hati-hati dirumah. Jangan jauh-jauh dari bunda atau ayah, kalo ada apa-apa kabarin mas. Ntar mas langsung pulang, paham?" Satya berujar sambil menggenggam jemari istrinya.


Teressa mengangguk dengan patuh, "Paham." katanya.


"Mau anter mas keluar?" tanya Satya, Teressa kembali menganggukkan kepalanya. Mereka berdua keluar dari kamar dan turun ke bawah.


Sepertinya akan ada rencana pindah kamar, karna Teressa suka mengeluh cape saat harus naik turun tangga untuk menuju kamarnya.


Satya akan mengurusnya nanti.


"Satya titip Tessa ya bund, seperti biasa dijaga dan dirawat seperti anak sendiri. Ntar bonusnya Tya beliin sate unta, okey."


PLAK


"Buruan berangkat sana, ngoceh mulu heran." ketus Bunda Citra usai menggeplak lengan kekar putra sulungnya itu. Satya mencebikkan bibirnya kesal, bundanya memang kejam!


"Sayang mas pergi dulu ya, Babay. Cup!"


"ABANG!!!" Teriak bunda penuh kekesalan. Sedangkan Satya sudah lari terbirit-birit menuju mobil yang sudah siap menjemputnya.


"TBL TBL, takut banget loch! huh." guman Satya sambil menguap dadanya.


"Eh Adi, kamu disini? sejak kapan?" Satya terlonjak kaget saat mendapati asisten mudanya berada di bangku pengemudi.


Pemuda itu mengulas senyum, apakah bos nya itu lupa bahwa sekarang ia adalah asistennya? Kalau iya parah sekali.


Adi menjawab, "Kan bapak yang semalam nyuruh saya jemput pake mobil kantor."


Satya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, dirinya lupa kapan mengungkapkan hal itu.


"Oh gitu ya, yaudah deh langsung ke kantor aja." ucap Satya.


"Baik pak." Setelah itu Adi segera melajukan mobilnya menuju perusahaan.


"Hari ini apa aja kegiatan saya?" tanya Satya.


"Bapak jam 8 sampai jam 9 ada pertemuan dengan investor, jam 10 sampai setengah 12 rapat karyawan, nanti pada saat jam makan siang bapak diminta menghadiri acara jamuan kecil yang diselenggarakan di perusahaan baru milik salah satu rekan bisnis bapak, setelah itu bapak stay dikantor sampai jam pulang." Penjelasannya cukup tenang, tidak tergesa-gesa, dan jangan lupakan Adi bisa menghafal tanpa membuka buku Agenda.


Satya dibuat terkagum olehnya, beda lagi dengan asisten sebelumnya yang pekerjaannya hanya molor. Pilihannya kali ini tak salah, yang muda otaknya nya memang sat set sat set.


"Oke oke."


TBC.


__________


Dukungannya bestieh, saya tunggu.


Lope sekebon♡


Babay.