
(Satya & Teressa.)
.
.
.
.
.
disarankan bacanya pelan-pelan.
"Assalamualaikum."
"Eh kadal!" pekik Marvin terkejut, hampir saja ponselnya melompat dari genggaman tangan nya.
"Hm kamu ya dikasih salam bukannya bales yang bener malah ngatain bunda kadal." seru Bunda Citra sambil menjewer daun telinga Bang Mpin.
"Astaga Mpin nggak sengaja loh serius dah suuer, lepasin jewerannyaa." rengek Marvin kepada ibu dari bosnya sekaligus sahabatnya itu.
"Oke oke bunda lepasin, tapi jangan diulangin ya." seru Bunda Citra pada Marvin, Marvin segera menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Tya nya mana?" Tanya Bunda, beliau masih belum menyadari keberadaan Satya yang tengah terlelap di dekat sofa.
"Anu itu eee Satya lagi bobok siang disitu bund." ucap Marvin ragu sambil menujuk keberadaan Satya.
"Astagfirullah bang, kok nggak dibangunin?" Tanya bunda.
"Eee Marvin juga baru sampe kantor sih." jawab Marvin sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
Bunda pun langsung menghampiri putranya, dibangunkan lah kedua insan tersebut dengan pelan dan lembut.
"Bang bangun." ujar Bunda sambil mengguncang tubuh putranya pelan. Dan benar saja, tak lama gerakan bundanya membuat tidur Satya terusik. Pria itu mulai menggerakan tubuhnya yang terasa pegal-pegal.
"Bund?" Guman Satya pelan sambil mengerjapkan kedua matanya yang masih lengket untuk dibuka.
"Hm, ngapain?" Bunda nampak mengulas senyum saat melontarkan pertanyaan tersebut.
"Ngapain? Tya ketiduran?" Ucap Satya dengan suara serak.
"Iya tidurnya sama siapa hm?" balas Bunda lagi, kini bunda dari Satya itu melirik ke arah Teressa bersandar.
Eh?
"Bunda abang nggak ngapa-ngapain loh bund, percaya deh sumpah demi apapun asal bunda percaya." seru Satya, kini kesadarannya sudah terkumpul penuh. Ia takut dikira berbuat macam-macam dengan Teressa.
"Iya bunda tau, udah nggak usah panik gitu ah." balas Bunda sambil terkekeh kecil melihat wajah panik putranya.
"Kalo suka dijaga, dikasih hubungan yang pasti biar nggak timbul fitnah. Kamu bangunin gih, bunda mau ke kamar mandi dulu." ujar Bunda Citra sembari menepuk bahu Satya.
"Iya bunda." balas Satya.
Selepas bundanya masuk ke kamar mandi, Satya langsung menatap tajam Marvin yang masih berdiri disana. Tak ada pembelaan atau bantuan dari pria itu.
"Kenapa nggak dibangunin kalo ada bunda!" Seru Satya.
"Y-ya gua juga baru sampe bos, yaile." balas Marvin.
"Tessa bangun." panggil Satya pelan. Tatapan matanya tak teralihakn dari wajah Teressa yang terlihat teduh dan tenang. Karna tak kunjung mendapat respon dari wanita itu, Satya pun akhirnya menepuk pelan pipi Teressa.
Tapi tunggu!
"Eh kok anget?" Guman Satya mengeryitkan dahinya.
"Apanya yang anget weh?" Tanya Marvin penasaran.
"Panas badannya, demam kayaknya." ucap Satya.
"Abang kenapa nggak dibangunin itu, betah banget ya dipeluk cewek cantik." seru Bunda yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ih bunda mah, enggak gitu loh. Ini Tessa demam, kayaknya karena kecapekan." balas Satya.
Bunda segera mendekati Teressa, saat dicek benar saja suhu tubuh nya lebih tinggi daripada suhu normal manusia.
"Iya demam bang, kamu angkat sana keruangan kamu. Marvin tolong panggilin dokter ya, biar bunda nyari minyak kayu putih dibawah." titah Bunda, kedua pria itu lantas menganggukkan kepalanya dengan cepat dan mulai bergerak sesuai perintah bunda.
Satya mengangkat tubuh Teressa dan membawanya menuju ruangan pribadinya, sedangkan Marvin langsung menghubungi pihak medis kantor.
____________
"Saya sarankan jilbabnya dibuka dulu aja bu, biar mbak Teressa nya nyaman. Ditambah lagi nanti malah mengeluarkan banyak keringat karna kepanasan, bisa-bisa dehidrasi." jelas seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Oh iya-iya bunda buka dulu." balas Bunda Citra. Wanita itu perlahan melepas jarum peniti yang menancap pada helaian kain jilbab milik Teressa, tak sadar jika putranya masih ada didalam sana.
Saat jilbabnya benar-benar terbuka, buru-buru Satya memalingkan wajahnya.
"Huftt....aman!"
"Bunda, Satya nunggu diluar aja ya." ucap Satya.
"Eh kenapa gitu, temenin bunda sini." Balas Bunda Citra.
"Kan abang cowok bund, bunda aja lah yang nemenin. Bunda kan sama-sama cewek." balas Satya tanpa menoleh pada bundanya.
"Oh astaga yaudah kamu kaluar sana biar bunda yang jagain, ntar kalo udah sadar bunda panggilin kamu." ucap Satya.
"Kenapa manggil Satya?"
"Memangnya kamu nggak khawatir hm?" goda Bunda.
Eh lah? wajah Satya langsung merona dan idungnya kembang kempis, nahan bengek pasti kan.
"A- assudahlah!"
Bunda terkekeh geli dengan tingkah putranya.
"Eumh...
"Hei geulis, kamu udah sadar." ucap bunda Citra yang menyadari ada pergerakan dari mata Teressa.
"Bu?"
"Bunda ntar kalo Tessa bangun jangan lupa suruh makan ya, tadi siang dia belom makan. Nih makanan-
"Astagfirullah, masyaallah, subhanallah, Satya nggak sengaja liat ya Allah. Ampuni dosa Satya!"
Ini nggak tau temasuk golongan musibah atau anugrah, yang pasti Satya bisa melihat dengan jelas Teressa yang mencoba duduk bersandar tanpa menggunakan jilbab nya.
Terlihat jelas helaian rambut Teressa terurai bebas sehingga menutupi sebagian wajahnya, namun hal itu malah membuat kesan tersendiri bagi Satya.
Cantik!
"Ish lagian maen nyelonong aja sih!" Cibir Bunda.
"Nih bekalnya." seru Satya masih memejamkan matanya.
"Udah balik keluar lagi sana hush hush!!" usir bunda.
_______________
bayy