
(Satya & Teressa.)
.
.
.
.
.
Kita lanjut ya.
Sepertinya mulai hari ini Satya harus membiasakan diri untuk menjadi imam Sholat Teressa dan Noah. Dan Noah, alhamdulillah mulai sedikit menerima keberadaan Satya dalam kehidupannya. Walau masih calon bapak sih, tapi Nggak papa lah. Itung-itung latihan kan, sebulan lagi tuh singkat banget tau.
"Pak Satya mau pake apa lauknya?" Tanya Teressa.
Wanita itu kini tengah memegang piring berisikan nasi putihan untuk Satya. Dan ini juga bisa disebut persiapan jika nanti mereka sudah berumah tangga dan tinggal seatap.
"Ikan aja, Tessa." balas Satya.
Teressa pun mengambilkan lauk sesuai keinginan Satya, setelah itu dihidangkanlah makanan dalam piring tersebut kepada Satya. Setelah itu Teressa berlanjut mengurusi sang putra.
Makan malam pun berjalan dengan khidmat dan nikmat. Tak ada obrolan diantara ketiganya, masing-masing memilih untuk menikmati makanan yang ada dipiring masing-masing.
Semoga malam ini menjadi malam jalan baik bagi mereka untuk kedepannya.
Amin.
_______________
Dan kini hari demi hari sudah berlalu, waktu menuju hari bahagia sudah dekat. Seminggu sebelum acara pernikahan Satya dan Teressa dilangsungkan, Teressa dan keluarga Satya memutuskan untuk berziarah ke makam kedua orang tua Teressa dan mendiang suami Teressa.
Tak ada canda gurau disana, semuanya nampak serius mengirimkan doa terhadap mereka yang telah pergi.
Bukan cuma Bunda dan ayah saja yang hadir, Ghea serta anak dan suaminya juga hadir. Ditambah lagi kedua mertua Ghea yang ikut serta mengirim doa.
Keluarga yang kompak bukan.
Pertama-tama yang dikunjungi Teressa adalah makam kedua orang tua nya, kemudian disusul ke makam mendiang suami Teressa.
Seperti anak lain yang meminta restu kepada kedua orang tuanya, Teressa melakukan hal ini untuk kedua kalinya. Dulu saat akan menikah dengan ayahnya Noah, Teressa juga mengunjungi makam kedua orang tua nya untuk meminta restu.
"Assalamualaikum bapak ibuk, ini calon suami Tessa pak buk, namanya Mas Satya. Mas Satya tulus dan mau nerima semua kekurangan Tesssa, ibuk sama bapak restuin Tessa ya. Doain biar Tessa sama Noah bisa bahagia sama keluarga Tessa nanti."
Eum...
"Assalamualaikum Pak, saya Satya calon suami nya Tessa, anak bapak. Ijinin saya buat minang putri bapak jadi istri saya, dan kasih restu buat kami supaya rumah tangga kami nanti langgeng hingga maut yang memisahkan. Saya cuma bisa doain bapak sama ibuk yang terbaik dari sini, semoga bapak sama ibuk selalu berada dalam lindungan Allah, makasih sebelumnya pak buk."
Ya kira-kira begitu lah cara Satya meminta izin kepada kedua orang tua Teressa.
Bila ada kekurangan atau kesalahan kata, mohon dimaafkan.🙏
Beralih ke makam Suami Teressa.
Dan kebetulan sekali panggilan Satya kepada Teressa sama seperti panggilan yang diterapkan Faiz ( mendiang suami Teressa) kepada Teressa dulu.
"Tessa minta restu sama mas ya, Tessa mau dinikahi sama Mas Satya. Mas Satya yang selama ini nolongin Tessa sama Noah, Mas Satya juga yang ngasih Tessa kerjaan pas Tessa nggak ada kerjaan. Mas Satya sayang banget ke Tessa sama Noah, kayak mas Faiz dulu. Tessa minta restunya dari mas Faiz ya, disini Tessa sama Noah doain yang terbaik buat mas." bibirnya bergetar saat melontarkan kalimat tersebut, namun wanita itu berusaha setegar mungkin agar tak menumpahkan air matanya dimakan sang (mendiang) suami.
"Mas Satya..." panggil Teressa sambil menengok menatap Satya.
"Iya Tessa."
''Assalamualaikum Faiz, kenalkan saya Satya. Saya tau kamu masih suami Tessa, tapi tolong kasih restu buat kami berdua untuk menikah. Saya serius sama Tessa, dan saya cinta sama Tessa. Izinin saya gantiin peran kamu dalam hidup Tessa dan Noah, doakan yang terbaik buat kami kedepannya. Cuma itu yang bisa saya ucapkan, terima kasih Faiz." Ucap Satya setulus-tulusnya dari lubuk hati yang paling dalam.
"Noah nggak mau ngobrol sama ayah?" Tanya Satya pada anak laki-laki disampingnya.
"Mau om." jawab anak itu.
Satya sedikit menggeser tempat ia berjongkok, guna memberikan tempat untuk Noah agar lebih dekat dengan makam sang ayah.
"Assalamualaikum ayah, ini Noah yah." sapa anak itu.
"Maaf ya Noah jarang nemuin ayah, disekolah Noah ada kegiatan lomba terus, jadi nggak sempet kesini nemuin ayah. Semester ini nilai Noah turun, tapi turun dikit yah. Ayah nggak kecewa sama Noah kan? Ayah jangan marah ya, Noah sayang sama ayah."
Wait, ini siapa yang naroh bawang begini banyaknya!!!😭😭
Obrolan sepihak itu sukses membuat siapapun yang mendengarnya terharu sekaligus sedih.
"Cucu oma hebat banget ya nggak nangis." seru Bunda Citra dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Wanita yang hampir menginjak usia setengah abad itu tak kuasa menahan tangis mendengar curhatan anak kecil seperti Noah
Noah hanya tersenyum menanggapi ucapan calon neneknya itu.
"Sini-sini peluk oma." seru Bunda Citra yang langsung menggapai tubuh Noah dan memeluknya erat.
"Ntar Noah nggak kesepian lagi kalo udah ada ayah Satya, ntar bisa main sama ayahmu, sama opa, sama om Gavin dan tante mu Ghea, sama Gathan juga. Jadi rame deh, jangan sedih lagi ya." Ucap Bunda sambil mengusap-usap punggung Noah yang ada dalam dekapannya.
"Opaa kak Noah ndak bisa nangis ya?" Tanya Gathan dengan suara pelan pada sang Opa alias ayah Juan. Bocah itu kini tengah digendong koala oleh opa kesayangannya.
"Bisa dong cucu opa." balas Ayah Juan.
"Besok kalo Gathan besar nggak boleh nangis ya, anak laki-laki nggak boleh cengeng." timpal Papa Harry.
"Iya kakek." balas Gathan sambil menganggukkan kepalanya dengan patuh.
______________________
Marilah kita sudahi acara sedih-sedihan ini.
Kita lanjut dengan persiapan wedding Satya dan Teressa.
Buat para tamu udangan yang tak bisa disebutkan satu persatu namanya, silahkan persiapkan pakaian terbaik kalian untuk menghadiri acara pernikahan Satya.
Babay!
Teruntuk pemilihan kata/kalimat yang tak enak dihati, mohon dimaafkan.🙏