AFTER

AFTER
08



Pagi menyambut, seolah membenamkan semua mimpi-mimpi itu. Aku terbangun dari tidur pulasku, sementara Isabella masih tertidur pulas. Ah, sampai lupa untuk menutup jendela pantas saja dingin.


Cerobohnya, pantas saja aku disuruh mengurangi melamun karena berpikir. Dasar Derris, ucapanmu malah terngiang-ngiang lagi dikepala. Aku mengecek seluruh ruangan karena takut ada pencuri yang masuk ke dalam rumah.


Selagi mencari, aku juga berbenah di rumahnya. Tak ada ya, syukurlah jika begitu. Kamarku persis di depan kamarnya juga, karena itu aku takut jika ada pencuri masuk.


Gaya rambut 'ponytail' ini memang nyaman ya ... aku sampai ingin memakai gaya rambut ini selamanya. Tetap saja tak bisa begitu, setelah selesai membersihkan dapur dan ruang tamu aku beristirahat di sofa ruang tamu.


Pintu depan diketuk, suaranya keras seolah ingin mendobrak masuk. Aku membuka pintu rumah, yang terlihat adalah seorang pria yang tiba-tiba masuk dan mendorong pintu sehingga membuat dahiku terbentur. Ia langsung mengedarkan segala pandangannya seolah mencari sesuatu.


"Hey, kau bawa kemana anak itu hah?" tanyanya yang menodongkan sebuah pisau sementara aku sibuk mengusap dahiku.


"Tenang lah, anak itu siapa? Isabella kah? Mengapa aku ditodong pisau seperti ini," keluhku yang masih bingung mengapa dia bersikap seperti itu.


"Tentu saja Isabella! Jangan sampai dia terluka dasar kau penculik!" tegasnya yang mungkin saja membuat Isabella terbangun.


"Lebih baik kau minum dulu saja, dia baik-baik saja sekarang. Selain itu, aku bukan penculik tuan yang baik," balasku yang masih sibuk mengusap dahiku.


"Awas saja kau!" gertaknya yang menatap tajam padaku.


"Kau tak perlu khawatir tuan, dia sedang nyenyak tidur tadi. Apa yang ingin kau minum dulu untuk menenangkan diri?" tanyaku yang menawarkan minum padanya.


Dia hanya mengangguk, sementara aku sedang berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Suara langkah kaki terdengar dari tangga, mungkin saja itu Isabella yang sudah bangun. Sebentar, siapa laki-laki itu? Apa itu William seperti yang dibicarakannya? Semoga saja begitu.


Aku mengantarkan air tersebut ke ruang tamu. Saat aku sampai, pria itu hilang entah kemana. Kuletakkan dua buah gelas di meja, sementara mencari ke sekeliling rumah dan menemukan pria itu berada di kamar.


"Apa Isabella sudah bangun?" tanyaku pada pria itu.


"Belum, mungkin dia tertidur sangat nyenyak," jawabnya yang mengusap rambut anak itu.


"Jadi, masih ingin menodongku dengan pisau?" tanyaku dengan nada sedikit menggoda.


Dia hanya menatapku tajam, namun tatapan tajam itu akhirnya mereda seperti hujan yang menjadi gerimis. Ia pria yang cukup tinggi, mungkin bisa saja lebih tinggi dariku. Rambutnya pendek, cukup bersih dengan kemeja putih juga rompi pendek berwarna coklat.


Wajahnya juga cukup tampan, mungkin umurnya lebih tua lima tahun dariku. Ah, benar juga aku perlu kejelasan tentang orang tua Isabella. Apa aku bertanya saja ya? Bisa jadi aku menemukan sesuatu tentang Aru juga.


"Ada yang ingin kubicarakan," pintaku padanya.


"Apalagi yang kau inginkan?" tanyanya dengan wajah bingung.


"Bukan apa-apa, selain itu perkenalkan namaku Lina," ucapku memperkenalkan diri.


"Aku William," balasnya dingin.


"Bagaimana kalau di bawah saja ...," ajakku padanya, reaksinya hanya mengangguk saja. " " ... ada sedikit pembicaraan yang mungkin akan membuatmu cukup untuk tidak memiliki niat menceritakannya di depan Isabella," ucapku melanjutkan.


"Cepatlah jika kau ingin bertanya." William yang menyalakan sebuah rokok di depanku.


"Sebelum itu, tak baik merokok di rumah seorang anak kecil yang tinggal sendirian," kataku sambil mengambil rokoknya.


"Kau sama saja dengan anak itu ...." balasnya ketus dengan wajah kesal.


"Itu lebih baik untukmu, daripada kau bernapas malah mengeluarkan asap," potongku sambil menutup mulutku dengan tangan."Aku hanya ingin tahu lebih dalam tentang anak itu," ucapku sambil memalingkan wajah karena sedih sekaligus penasaran.


"Kau tak perlu mengetahuinya," balasnya dingin.


"Padahal anak itu sudah berharap lebih padamu tentang orang tuanya, sementara kau menyembunyikan sesuatu. Apa itu baik baginya?"


"Itu lebih baik daripada ia mengetahui kebenarannya. Kau tak tahu berapa banyak beban yang ia tanggung dalam tubuh kecil itu." William yang terlihat kesal karena pembicaraan ini.


"Baiklah jika itu keputusanmu namun, aku juga sudah menduga apa yang terjadi pada mereka ...," ucapku sembari menggenggam dada ini.


"Maksudmu?" tanyanya yang membuatku harus melanjutkan kata-kataku.


"Kota Hodwards kan? Medan perang itu, aku sudah menduga kemungkinan terburuknya," imbuhku yang meneguk air di gelas.


"Jika kau tahu mengapa kau bertanya?" tanyanya dengan wajah kesal.


"Maksudku, kau tak menceritakan berita itu pada anak itu ...," balasku yang menjadi sedih. " ... apa kau tahu reaksinya jika kau mengatakan yang sebenarnya? Dia hanya akan merasa dikhianati. Kau memberikan harapan yang lain dengan kenyataan, aku tahu maksudmu tetapi dia juga harus tahu bahwa kadang harapan itu tidak bisa terjadi. Dia harus bisa menerima takdir lain dari harapan itu. Meski tubuhnya sekecil itu, beban itu memang akan membuatnya sedih, bahkan ia akan selalu menangis karena itu namun, dia juga tak bisa terus bersedih kan? Aku hanya berharap dia bisa menerima semua itu," tuturku melanjutkan.


"Kau tak mengerti apapun, nona. Kau pikir sudah berapa banyak di kehilangan hal yang ia cintai hah? Dia sudah kehilangan kedua cinta bahkan orang tuanya kau harus tahu itu!" bentaknya sambil bediri dan memukul meja.


"Aku tahu, dia telah kehilangan banyak hal. Lalu, menurutmu dia hanya akan berpikir. bahwa orang tuanya hidup? Dia mungkin sudah menyerah untuk berharap seperti itu. Dia harus tahu bahwa takdir tak pernah selalu baik. Hanya karena kau jadi perlu bekerja keras, bukan berarti dia harus diam untuk menanggung beban yang lain kan? Dia juga harus hidup meski dua lenteranya telah pergi."


"Orang yang sikapnya seperti kau seolah tak ada beban tidak pernah mengerti akan nasib dia. Kau sama saja dengan mereka, yang berusaha untuk membuatku menyerah dengan memberitahukan fakta itu hah? Kau pikir anak itu harus merasakan kesedihan karena dia selalu sendirian? Dasar kau tidak punya hati!" bentaknya padaku.


"Kak William," ucap seseorang yang suaranya ku kenal.


Isabella, ia hanya menatap kosong pada kami berdua. "jadi, selama ini kakak berbohong?" tanyanya dengan wajah kaget.


"I-ini bisa kujelaskan, nak," balasnya gugup.


"Kakak jahat! Kakak berbohong padaku, padahal aku sangat menantikan datangnya orang tuaku. Kakak jahat!" teriak Isabella. Lalu, ia segera berlari ke kamarnya dan mengunci pintunya.


Sementara William mengejar anak itu, aku mengerti Isabella. Saat harapanmu itu benar-benar menghilang, kau akan kecewa. Meski begitu, kuharap kau bisa bangkit karena bukan kau saja yang sendiri.


Endingnya menjadi seperti ini, sebuah kisah dari harapan yang terbuang. Atas kesedihanmu akan ada ingatan akan hal itu. Apakah dia bisa bangkit? Hal itu tergantung pada dirinya.