
Waktu terus bergulir cepat. Tak terasa sudah tiba di pertengahan musim panas. Suhu tinggi dan udara lembap membuat Izzah seakan merasakan atmosfer Indonesia. Langit tampak cerah disertai semilir angin lebih kencang, bergerak bebas memasuki kamarnya melalui jendela yang dibiarkan terbuka.
Izzah mematut diri di depan cermin. Beberapa kali bongkar pasang padu padan pakaian. Berusaha mencari setelan yang dapat menyamarkan perut buncitnya. Di belakangnya, Shin Seo Hyun terus mengamati kegiatan Izzah tanpa kedip. Ia tersenyum puas melihat penampilan istrinya itu saat berbalik, menyudahi lagam gayanya di depan kaca.
“Ayo turun sekarang!” ajak Shin Seo Hyun, melirik arloji di pergelangan tangannya.
“Kita harus tiba tepat waktu,” sambungnya lagi.
“Siap, Bos!” sahut Izzah, memberi hormat. Ia sudah kembali seperti semula.
Shin Seo Hyun menawarkan sikunya begitu Izzah mendekat. Di saat bersamaan, ponsel Izzah berbunyi.
“Sebentar, Mas!” pamit Izzah sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya.
Izzah tertawa kecil sembari menutup mulut saat melihat isi ponselnya. Penasaran, Shin Seo Hyun pun merapat dan mengintip lewat pundak istrinya seraya memeluk pinggang Izzah dan sesekali mengusap perutnya, seolah sedang bermain-main dengan bayi di dalam sana.
“Waah … senangnya melihat Paman Arif dan Bunda akhirnya bisa bersama lagi,” ujar Shin Seo Hyun, ikut tersenyum menyaksikan foto Arif dan Bunda Izzah berpose ulang seperti masa kecil mereka di sebuah kolam renang.
“Ada lagi tuh …,” bisik Shin Seo Hyun ketika ponsel Izzah kembali berbunyi.
“Hah! Itu bukannya Yudha ya?” tanya Shin Seo Hyun, masih ingat dengan jelas tampang lelaki yang pernah berniat membawa kabur istrinya itu.
“Iya, Mas. Masih ingat saja …,” ledek Izzah.
“Yang perempuan itu sepupumu Nadira, kan?” tanyanya lagi. Izzah mengangguk.
“Aku senang Yudha dan Nadira akhirnya menemukan kebahagiaan mereka,” gumam Izzah pelan. Membalikkan badan menatap suaminya.
“Aku juga, tapi … bagaimana dengan terapi yang dijalani Nadira?” Tiba-tiba Shin Seo Hyun penasaran dengan pengobatan hipnoterapi sepupu Izzah.
“Sepertinya berhasil. Lihat saja ekspresinya di foto itu! Wajahnya benar-benar berbinar bersama Yudha. Aku yakin dia sudah melupakan semua hal yang membuatnya terluka dan depresi selama ini,” cetus Izzah.
“Ah! Kau selalu saja membuatku jatuh cinta,” puji Shin Seo Hyun seraya melayangkan kecupan ringan di dahi istrinya.
“Kau yang telah sukses membuatku jatuh cinta,” balas Izzah, mengundang tawa bahagia Shin Seo Hyun.
Ketika cinta berlabuh di tempat yang semestinya, kehidupan akan bertabur suka cita. Tertata indah dalam keranjang rindu. Mengisi ruang hati dan memompa semangat di kala badai prahara melanda.
Tak ada celah untuk prasangka dan curiga bertahta. Selama kepercayaan masih terjaga dan meraja, selama itu pula setia menjadi hulu balang pelindung rasa, yang sesekali mungkin terpeleset ke dalam genangan air mata duka.
Shin Seo Hyun menggandeng Izzah memasuki ruang resepsi di sebuah hotel mewah. Kehadiran mereka memicu decak kagum dan bisik-bisik tamu pesta karena kaget melihat mereka datang bersama tanpa mengetahui jika Shin Seo Hyun dan Izzah telah menikah.
“Silakan duduk, Tuan Shin, Dokter Izzah!” sambut Lee Kwan Gi, bergegas menyambut direktur dan istrinya itu.
“Sepertinya waktu lahirannya makin dekat,” ujarnya, melirik perut Izzah.
“Iya, Tuan Lee,” sahut Izzah ramah, lalu duduk di kursi yang disiapkan suaminya setelah Lee kwan Gi berlalu menyalami tamu-tamu lainnya.
Sesaat Shin Seo Hyun dan Izzah berbincang santai dengan beberapa tamu yang datang menyapa.
“Aunty Izzaaah ….” Terdengar teriakan anak kecil memanggil Izzah.
Saat Izzah menoleh ke sumber suara, tampak Ha Na berlari menghampirinya diiringi papa dan mamanya. Izzah langsung berdiri menyongsong Ha Na dan orang tuanya.
“Aduh! Adek bayinya nendang,” pekiknya riang seraya mengusap pipinya. Sontak mereka berempat tertawa melihat mimik lucu Ha Na.
“Wow! Uncle Joon Soo tampan sekali,” teriaknya kagum, melirik Park Joon Soo yang duduk di atas singgasananya.
“Ayo kita sapa Uncle Joon Soo dan Aunty Riris!” ajak Nyonya Kang seraya menggandeng tangan Ha Na. Tanpa menunda-nunda, Ha Na pun berjingkrak senang mengikuti mamanya.
Dalam sekejap, keluarga Kang dan Shin Seo Hyun sudah berdiri di atas panggung, memberi ucapan selamat dan menyalami Park Joon Soo dan Riris serta peluk hangat seorang sahabat sebagai tanda turut bergembira atas suka cita yang gegap gempita.
CEKRAK! CEKREK!
Momen bahagia itu pun diabadikan dalam berbagai pose.
“Aduh!” rintih Izzah, memegang perutnya yang mendadak sakit saat berjalan pulang.
“Kenapa, Sayang?” cemas Shin Seo Hyun, memperkuat pegangannya pada bahu Izzah ketika dilihatnya istrinya itu terdiam mematung.
“Aunty … basah!” teriak Ha Na, menunjuk sepatu Izzah.
“Hah!”
Keluarga Kang dan Shin Seo Hyun terperangah menyaksikan air ketuban mengaliri kaki Izzah. Secepat kilat Shin Seo Hyun membopong tubuh istrinya dan melarikannya ke rumah sakit dengan mobil yang dikemudikan papa Ha Na.
“Bertahanlah, Sayang … tarik napas dalam-dalam!” ujar Shin Seo Hyun, memberi instruksi agar Izzah bisa sedikit lebih tenang.
Begitu tiba di rumah sakit, sebuah brankar sudah siap menanti disertai gerak cepat perawat. Dengan gesit mereka mendorong brankar itu ke ruang bersalin.
“Harap tunggu di luar, Tuan Shin!” pinta perawat.
Shin Seo Hyun duduk di bangku panjang dengan perasaan tak menentu. Lututnya terus gemetar. Bibirnya tak henti komat-kamit melafal doa untuk keselamatan istri dan anaknya.
“Yakinlah … semua akan baik-baik saja,” hibur Tuan Kang, menepuk pelan pundak kanan adik iparnya.
Tiga puluh menit telah berlalu. Belum ada tanda-tanda selesainya proses bersalin yang dijalani Izzah. Membuat Shin Seo Hyun makin gelisah. Hilir mudik dan tegak duduk tanpa henti seraya sesekali membenturkan keningnya
ke dinding seperti orang gila.
Bersamaan dengan keresahan Shin Seo Hyun yang kian menjadi, Park Joon Soo dan Riris berlari tergopoh-gopoh mendatangi rumah sakit, masih berbalut pakaian pengantin. Mempercepat berakhirnya resepsi pernikahan mereka demi sahabat belahan jiwa.
Tak sabar dirundung gundah, Shin Seo Hyun mendobrak masuk. Dadanya sesak seakan terimpit tiang baja ketika menyaksikan jerit kesakitan meluncur dari mulut Izzah yang tengah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan benih cinta yang dititipkannya di rahim sang istri.
Keringat sebesar jagung membanjiri tubuh Izzah. Dengan air mata berlinang, Shin Seo Hyun berdiri di sisi Izzah. membelai kepalanya dan menggenggam erat tangan kanan istrinya itu, seolah memberi kekuatan lewat sentuhan kasih sayangnya.
Sedetik kemudian terdengar suara tangis bayi. Izzah terkulai lemas. Shin Seo Hyun mengucap syukur seraya mencium kening istrinya serta menyeka keringat yang mengalir di dahi Izzah.
“Selamat, Tuan Shin! Dokter Izzah telah melahirkan seorang putri cantik,” ujar sang perawat tersenyum manis. Ikut senang direkturnya telah menjadi seorang ayah.
Diserahkannya bayi mungil yang imut dan lucu itu ke pangkuan Shin Seo Hyun.
“Terima kasih,” sahut Shin Seo Hyun semringah, memangku bayinya dengan cinta. Ia langsung mengumandangkan kalimat-kalimat Allah di telinga buah hatinya itu.
***