
Izzah mengangkat ranting itu dengan hati-hati. Benar saja. Seekor kupu-kupu cantik terimpit di bawahnya.
"Benarkah seekor kupu-kupu bisa bicara?" tanya Izzah dalam hati.
"Bagaimana mungkin?"
Pelan-pelan Izzah mengangkat kupu-kupu itu dan meletakkannya di telapak tangan kirinya. Betapa kagetnya Izzah saat melihat wujud kupu-kupu itu. Ternyata itu bukan kupu-kupu biasa. Sayapnya sangat besar dan indah. Berwarna biru, dihiasi bintik putih yang tersusun membentuk bunga. Pinggirannya dikelilingi warna kuning keemasan berlapis cokelat.
Tetapi bukan keindahan sayap itu yang membuat jantung Izzah seakan mau loncat keluar dari tubuhnya, melainkan tubuh si kupu-kupu. Kupu-kupu tersebut berwujud manusia. Ya, seorang wanita cantik.
Melihat itu tiba-tiba mengingatkan Izzah pada cerita Mariposa si Peri Kupu-Kupu. Ia pikir itu hanya ada dalam cerita, ternyata benar ada di dunia nyata. Rasanya Izzah sulit memercayai apa yang dilihatnya.
”Mungkin ini mimpi,” batin Izzah.
“Ah tidak, aku tidak tidur,” bisiknya lagi.
“Apa aku mulai berhalusinasi karena terlalu lelah,” tanyanya bingung.
“Aaaargh.”
Izzah mengucek matanya dengan tangan kanan. Menutupnya sesaat sebelum akhirnya membukanya kembali.
“Aw!”
Izzah meringis ketika tanpa sadar mencubit pipinya sendiri. Makhluk itu ternyata masih duduk manis di atas telapak tangan Izzah. Menatapnya lembut. Bibirnya tersenyum geli melihat tingkah Izzah.
“Ternyata aku tidak sedang bermimpi dan tidak juga berhalusinasi,” gumam Izzah.
Ditatapnya kupu-kupu itu lekat. Wajahnya benar-benar sangat cantik. Kulitnya putih dan halus. Dia mengenakan jilbab senada dengan warna sayapnya. Tunggu, kupu-kupu berjilbab? Rasanya Izzah belum pernah dengar. Dicobanya mengingat-ingat. Tiba-tiba saja ia teringat isi sebuah buku yang pernah dibacanya. Tentang alam gaib.
“Apakah kupu-kupu ini termasuk jenis jin bersayap yang suka mencuri berita dari langit?” tanya Izzah pada diri sendiri.
Akan tetapi, kupu-kupu wanita di hadapannya ini memakai jilbab. Berarti jenis yang sudah mendapat hidayah Islam dong.
Izzah kembali menatap si kupu-kupu cantik. Memperhatikan busananya lebih detail. Semuanya bernuansa biru. Sisi belahan rok celana yang dikenakan si kupu-kupu cantik dihiasi bordir indah berbentuk rangkaian mawar. Di bagian depan rok tersulam setangkai teratai putih mekar beserta daunnya. Warna biru yang lebih gelap pada rok bagian bawah memberi kesan seolah bunga teratai itu mengapung di permukaan air danau. Sungguh indah. Membuat Izzah berdecak kagum.
“Aku Syifa. Kamu siapa?” suara kecil yang memperkenalkan diri itu mengembalikan kesadaran Izzah.
“A-aku Izzah,” jawab Izzah terbata, menyebutkan namanya. Bibirnya berusaha menyunggingkan senyum, membalas senyum manis Syifa.
“Kamu baik-baik saja? Bagaimana kondisi kakimu?” tanya Izzah khawatir.
Izzah berbicara dengan nada pelan, bahkan nyaris berbisik. Syifa menyingkap rok celana yang dipakainya. Tampaklah kedua kakinya yang putih mulus. Ada memar pada tulang kering dan betisnya.
“Sepertinya kakimu perlu dikompres,” lanjut Izzah, merogoh kantong jaketnya mencari sapu tangan.
“Tidak usah,” cegah Syifa.
Ditempelkannya telapak tangan kanannya pada setiap memarnya. Ajaib! Secara perlahan memar itu mulai memudar. Izzah melongo takjub melihatnya.
Dalam hati dia berkata,” Waah, ternyata benar ya … Allah memberikan kelebihan pada bangsa jin yang tidak dimiliki manusia.”
Syifa hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Izzah.
“Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih banyak.”
“Sama-sama. Sesama hamba Allah memang sudah semestinya saling menolong. Terima kasih juga atas doanya,” jawab Izzah, sama tulusnya.
“Berikan tanganmu!” pinta Syifa, tahu-tahu sudah berdiri di telapak tangan Izzah.
Meski tak mengerti tujuan Syifa, Izzah mengulurkan juga tangannya. Syifa menyambut tangan Izzah. Meletakkannya di atas telapak tangan kirinya yang mungil. Sementara tangan kanannya diletakkan di atas telapak tangan Izzah. Jadilah tangan Izzah kini diapit oleh dua tangan mungil.
Ketika telapak tangan mereka saling beradu, Izzah merasakan ada aliran sejuk mengalir dari tangan Syifa ke jari-jarinya dan terus menjalar ke tengah telapak tangannya. Berkumpul di sana, kemudian secara perlahan bergerak ke lengannya dan terus menjalar ke seluruh tubuhnya.
Hawa sejuk dan hangat silih berganti merayapi tubuh Izzah. Syifa melepaskan tangan Izzah tepat ketika aliran hawa di tubuh Izzah terhenti. Namun, Izzah masih merasakan hawa tersebut berputar-putar di pusat telapak tangannya sebelum akhirnya benar-benar berhenti dan menyisakan perasaan yang begitu ringan di sana. Untuk sesaat Izzah mengusap jemarinya, merasakan telapak tangannya sendiri. Setengah tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
“Apa itu tadi?” tanya Izzah sedikit linglung.
Syifa tersenyum. “Energi penyembuh,” beritahunya. “Gunakanlah dengan bijak! Ingat! Seorang hamba hanya diwajibkan melakukan yang terbaik dan berusaha maksimal. Namun, keputusan akhir tetap di tangan Sang Maha Pencipta, penentu segala takdir.”
Izzah tercenung mendengar wejangan Syifa.
“Sudah saatnya aku pulang,” ucap Syifa mengagetkan Izzah seraya melayang tepat di depan wajahnya.
“Pulang? Kemana?” tanya Izzah.
“Lembah bunga,” jawab Syifa.
Izzah mengernyitkan kening. Wajahnya penuh tanda tanya.
“Di Negeri Seribu Bunga,” lanjut Syifa, seakan mengerti apa yang dipikirkan Izzah.
“Negeri Seribu Bunga?” Izzah mengulang ucapan Syifa pelan.
Bola matanya berputar, mencoba mengingat-ingat seolah-olah ia pernah mendengar nama negeri yang baru saja disebutkan Syifa, tapi … di mana? Kapan? Ah, Izzah tak mampu memanggil memorinya tentang tempat itu.
“Kurasa aku harus segera memulihkan tenagaku. Lama terperangkap di bawah ranting itu benar-benar membuatku lemah. Tentu saja aku butuh makanan dan minuman sekarang,” ujar Syifa lagi sambil tertawa. Berusaha mencairkan suasana untuk menghilangkan kebingungan Izzah.
Dan benar saja, Izzah segera tersadar. Bergegas ia mengambil ransel. Namun, Syifa menghentikannya sebelum Izzah sempat mengeluarkan bekal.
“Tidak usah. Aku hanya harus segera pulang. Aku butuh nektar dalam jumlah besar,” lanjut Syifa.
“Ah ya, bodohnya aku. Syifa kan kupu-kupu. Tentu saja dia butuh bunga, bukan cemilan yang aku bawa.”
Izzah memaki dirinya sendiri. Menyadari itu ia merasa malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Syifa tertawa geli sambil menutup mulut dengan kedua tangan mungilnya.
“Selamat tinggal, Izzah. Jaga dirimu baik-baik ya! Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi. Assalamu’alaikum.” Syifa mengudara dengan kedua sayap indahnya. Secepat kilat menghilang di angkasa, menyatu dengan birunya langit pagi itu.
“Selamat jalan, Syifa. Semoga selamat tiba di rumah. Wa’alaikumussalam.” Izzah melambaikan tangan sampai sosok Syifa tak lagi terekam oleh matanya.
Ihsan menyaksikan semua perilaku Izzah tanpa bersuara karena tak ingin Izzah menyadari keberadaannya.
“Sepertiya Izzah berbicara dengan seseorang. Siapa? Kenapa aku tidak melihatnya? Atau … apa Izzah mengidap kelainan jiwa sehingga suka berbicara sendiri? Ah … tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Lalu apa? Aduh Izzaaaah ... kamu benar-benar penuh misteri dan membuatku gila.” Ihsan berdialog dengan dirinya sendiri. Sepertinya ia yang gila … hahaha. Aissh … bergegas Ihsan menyusul Izzah dan Fadhil.
***