
Di pengujung musim gugur, daun-daun maple dan gingko masih menampilkan warna indahnya. Berjatuhan diembus angin dan mendarat manis di sepanjang jalan laksana bentangan karpet pelangi.
Park Joon Soo memacu mobilnya ke rumah Shin Seo Hyun segera setelah mendapat perintah melalui panggilan telepon. Berhari-hari bosnya itu menghilang tanpa kabar berita. Memaksanya menciptakan alasan yang dapat diterima semua orang yang mempertanyakan keberadaannya. Lalu, lelaki itu tiba-tiba muncul lagi secara tak terduga. Logikanya bertanya-tanya karena begitu banyak keanehan yang tak bisa dipahaminya.
Begitu turun dari mobil, Park Joon Soo mendapati pintu depan telah terbuka. Pertanda Shin Seo Hyun siap menanti kehadirannya. Ia pun melangkah masuk tanpa memencet bel.
“Duduklah!” ujar Shin Seo Hyun, mempersilakan Park Joon Soo.
“Tak adakah yang ingin kau ceritakan padaku?” tanya Park Joon Soo begitu duduk di hadapan Shin Seo Hyun.
“Kenapa begitu terburu-buru?” balas Shin Seo Hyun santai.
Park Joon Soo mencondongkan badannya ke depan dan menyatukan kedua tangannya, siap mendengar penjelasan Shin Seo Hyun dengan tatapan menuntut. Merasa tak tahan lagi terus bergelut dengan teka-teki.
Shin Seo Hyun meletakkan tablet yang dipegangnya di atas meja. Membalas tatapan Park Joon Soo dengan senyum kecil dan sorot mata tak terbaca.
“Aku akan ceritakan semuanya, tapi tidak sekarang. Saat ini aku butuh bantuanmu,” sahut Shin Seo Hyun, meminta pengertian Park Joon Soo.
“Baiklah. Kau memang selalu di atas angin. Katakan apa yang bisa ku lakukan untukmu!” kata Park Joon Soo, memosisikan diri duduk sesantai mungkin.
“Seperti biasa. Ambil alih tugasku selama aku tidak ada!” jawab Shin Seo Hyun. Park Joon
Soo langsung duduk tegap.
“Waah … kau ini benar-benar ya … baru saja pulang sudah mau pergi lagi,” protes Park Joon Soo setengah kecewa. Shin Seo Hyun hanya tersenyum.
“Ayolah … atau kau sudah bosan menjadi sekretarisku?” tanya Shin Seo Hyun, membuat Park Joon Soo mendengus kesal.
Bertepatan dengan berakhirnya ucapan Shin Seo Hyun, Izzah datang membawa baki berisi makanan dan minuman. Diletakkannya secangkir kopi panas dan sepiring kue di hadapan sahabat suaminya itu. Lalu, ia segera berlalu diikuti lirikan mata Park Joon Soo.
“Aduh!” Park Joon Soo mengaduh lantaran kepalanya kena jitak Shin Seo Hyun.
“Enak ya melototin istri orang?” gerutu Shin Seo Hyun. Park Joon Soo menyeringai.
“Jangan bilang kali ini kalian ingin berbulan madu!” ujar Park Joon Soo setengah berbisik dengan tatapan jenaka
“Apa aku harus mengarang alasan lain?” balas Shin Seo Hyun.
“Aaah … kau membuatku iri,” keluh Park Joon Soo terkulai lemas di atas tempat duduknya.
Ekspresi Park Joon Soo yang terlihat putus asa membuat Shin Seo Hyun tertawa geli.
“Kalau kau mau, kau bisa menikahi temannya Izzah. Ri … siapa ya namanya? Aku lupa,” goda Shin Seo Hyun.
“Riris maksudmu?” tanya Park Joon Soo, tiba-tiba jadi bersemangat.
“Nah, tuh kamu ingat. Jangan-jangan … diam-diam kamu sudah jatuh cinta ya sama dia?” tebak Shin Seo Hyun, membuat Park Joon Soo sedikit kikuk.
“Waaah … kenapa tidak bilang? Kalau tahu dari awal kan aku bisa bantu mencomblangi,” lanjutnya lagi.
“Kapan berangkat?” tanya Park Joon Soo, mengalihkan topik pembicaraan.
“Besok,” sahut Shin Seo Hyun, tak ingin memaksa Park Joon Soo.
“Cepat amat. Tidak dihabiskan dulu minumannya?” protes Shin Seo Hyun.
Sambil berdiri, Park Joon Soo menyeruput sisa kopinya.
“Lama-lama di sini kuping dan hatiku bisa-bisa hangus terbakar,” kelakar Park Joon Soo, disambut tawa Shin Seo Hyun.
Bergegas Park Joon Soo meninggalkan Shin Seo Hyun yang geleng-geleng kepala, tak percaya sahabatnya itu jatuh cinta pada teman istrinya.
Begitulah kehidupan. Cinta dan persahabatan terkadang sulit dibedakan. Adakalanya cinta berawal dari persahabatan. Pun sahabat memberikan cinta dalam wujud yang berlainan.
***
Jalanan terlihat sepi. Hanya satu dua kendaraan yang melintas. Ki Daud tercacak di tepi pagar rumah Rahmi. Mengamati segerombolan anak kecil yang belum sekolah bermain bola, bertelanjang kaki di pekarangan sebuah rumah besar di sisi gang.
Di kejauhan, jajaran puncak Bukit Barisan terlihat masih menyisakan kabut putih tipis yang kian menghilang seiring meningginya perputaran matahari.
Ki Daud menghela napas panjang. Bertahun-tahun sudah ia tak merasakan semua ketenangan itu. Mendengar celoteh bocah-bocah tentang cita-cita mengejar mimpi hidup di kota besar. Meresapi syair nuri di pagi hari atau membaur bersama hiruk pikuk petani mengolah padi. Ah, rindunya terselubung dan menggunung.
Dengan binar mata penuh harap, Ki Daud membuka pintu pagar, melangkah melewati rerumputan dan mengetuk pintu tiga kali setelah menjatuhkan tas yang ditentengnya ke lantai.
Di dapur, Rahmi tengah sibuk menumis sayur. Mendengar ketukan pintu, dimatikannya kompor, dilepasnya celemek yang dipakainya dan disampirkannya di punggung kursi, lalu keluar menuju ruang tamu.
“Mas Daud?” sapa Rahmi terkejut saat lelaki yang berdiri di depan pintu mengangkat kepalanya dan menyunggingkan senyum. Sesaat Rahmi masih terpaku.
“Apa kau tak berharap aku kembali?” tanya Ki Daud, menggoda Rahmi bak muda-mudi yang
sedang memadu kasih.
“Oh! Mari masuk, Mas!” sambut Rahmi seraya mengangakan pintu lebar-lebar.
Bergegas Ki Daud menyambar tasnya dan masuk sambil membanting pintu dengan sebelah kaki.
“Kau sudah nonton beritanya, kan?” tanya Ki Daud, menyapu wajah wanita yang dicintainya itu dengan sorot kerinduan. Rahmi mengangguk.
Sedetik kemudian, Ki Daud menarik tubuh Rahmi ke dalam pelukannya.
“Mulai sekarang tak ada lagi yang akan memisahkan kita kecuali kematian,” bisiknya dengan nada berat sarat emosi. Rahmi memperketat pelukannya.
“Tapi, Mas … apa kita masih boleh bersatu tanpa memperbarui akad nikah?” tanya Rahmi sedikit ragu sambil menjauh dari Ki Daud. Sejenak Ki Daud tercenung.
“Sebaiknya kita tanya sama Pak Ustadz. Ayo!” sahut Ki Daud, menarik tangan Rahmi. Ia tidak ingin berlama-lama dalam ketidakjelasan.
Setiap hubungan butuh kejelasan dan kepastian. Dan kesetiaan menjadi bukti nyata keteguhan hati dalam menjaga komitmen rasa atas nama cinta. Ki Daud dan Rahmi telah menggenggam erat semua itu selama puluhan tahun. Kini saatnya untuk mengurai segenap resah yang membuat tidur tak lena. Sudah waktunya mengukir kenangan indah di pengujung senja. Agar ketika jiwa kembali ke pemiliknya, damai mengiring hingga ke surga.
Pak Ustadz menyimak penuturan Ki Daud sepenuh hati. Haru biru membias di sela anggukan kepala dan tatapan takjub akan kisah cinta sepasang anak manusia yang tergolong langka disertai helaan napas panjang tatkala Ki Daud mengakhiri cerita. Disekanya sudut matanya dengan ujung sorban yang dikenakannya.
“Jadi Pak Ustadz, apakah kami perlu melakukan akad baru?” tanya Ki Daud selesai bertutur.
***