
Puas menikmati air terjun Biryong, Izzah dan teman-temannya melangkahkan kaki menuju puncak melalui tangga vertikal. Ketinggian tangga itu sekitar empat ratus meter. Selama dua puluh lima menit adrenalin berpacu dengan kuat setiap kali melihat hamparan lembah di bawahnya.
Namun, semua kepenatan itu terbayar sudah tatkala tiba di pelataran peristirahatan bertingkat yang berada di sisi tangga. Energi yang sempat terkuras seakan terisi ulang saat menyaksikan keindahan yang tiada tara.
Dari ketinggian tiga ratus dua puluh meter, air terjun Towangseong mengalir menuruni lereng gunung bak untaian pita putih yang melambai dari kejauhan, meliuk-liuk tertiup angin seolah menyapa setiap pengunjung yang berlabuh di sana.
Menatap sinar mentari yang telah condong ke Barat, Shin Seo Hyun berkelana mencari pelataran yang lebih tenang. Begitu menemukan sudut dengan pemandangan yang spektakuler, ia mengistirahatkan raganya sejenak. Izzah dan teman-temannya ikut menggabungkan diri.
Sepuluh menit kemudian, Shin Seo Hyun membuka tutup botol air mineral ukuran besar yang dibawanya, lalu berwudu. Ihsan dan Dimas pun melakukan hal yang sama. Tidak lama kemudian mereka hanyut dalam kesyahduan bermunajat pada Sang Penguasa semesta di bawah komando Shin Seo Hyun sebagai imamnya.
Izzah terperangah menyaksikan Shin Seo Hyun. Tiba-tiba desas-desus rekan-rekannya kembali bergema di ingatannya.
“Zah, kamu pernah lihat Direktur Shin beribadah seperti yang kamu lakukan tidak?” tanya Kang So Ra.
“Maksudmu salat?” tanya Izzah. Kang So Ra mengangguk.
“Tidak pernah. Memangnya Direktur Shin seorang muslim?” tanya Izzah kaget. Ia tidak pernah mempertanyakan keyakinan bosnya itu.
“Dengar-dengar sih begitu. Makanya Direktur Shin cenderung bersikap dingin pada perempuan, padahal kalau pada sesama pria, Direktur Shin sangat ramah lo,” ujar Kang So Ra.
Kening Izzah berkerut. Jika benar begitu, ia bisa maklum kenapa Shin Seo Hyun bersikap dingin. Bukannya sombong atau tidak peduli, tapi ia hanya berusaha menjalankan ajaran agama yang dianutnya dengan sebaik mungkin.
Izzah menghela napas. Matanya tak berkedip mengamati setiap gerakan yang dilakukan Shin Seo Hyun. Selama ini ia tak begitu mempercayai desas-desus para tenaga medis di tempat kerjanya. Tapi hari ini, melihat betapa khusyuknya Shin Seo Hyun menghambakan diri di hadapan Rabb-nya, seberkas cahaya kekaguman tebersit di hatinya.
Dan entah kenapa, ketakutan tak jelas yang pernah menyapanya setiap kali berada di dekat Shin Seo Hyun sejak kejadian yang membuatnya merasa kehilangan muka, secara perlahan menghilang, berganti kehangatan yang tak ia pahami. Tiba-tiba saja di matanya Shin Seo Hyun tampak begitu bersinar.
Cepat-cepat Izzah memalingkan muka ketika Shin Seo Hyun mengucap salam tanda rukun salatnya terpenuhi sudah.
Deg! Deg!
Tanpa disadari, jantungnya berdetak kencang. Izzah mengelus dada.
“Ada apa ini? Pipiku kok rasanya panas sekali ya?” batin Izzah. Ia mengipas pipinya dengan kedua tangan.
Merasa detak jantungnya semakin tak beraturan, Izzah memutuskan untuk turun lebih dulu, meninggalkan Shin Seo Hyun dan teman-temannya yang masih terbuai dalam zikir panjang.
Tak ingin terbius dalam kebosanan sebuah penantian, begitu tiba kembali di pelataran air terjun Biryong, Izzah mengisi waktu dengan ber-selfie ria. Kegiatan yang tadi belum sempat dilakukannya.
Demi mendapatkan latar belakang yang memesona, berkali-kali Izzah menggeser posisinya.
BUK!
Tiba-tiba Izzah menabrak seseorang yang berdiri di belakangnya.
“Kamu buta ya!” bentak seorang wanita yang ditabrak Izzah.
“Maaf. Saya tidak sengaja, Nona,” ucap Izzah membungkuk setelah memutar tubuhnya.
“Dasar! Di tempat seindah ini kenapa juga aku harus bertemu dengan seorang wanita pembawa sial,” rutuk wanita itu dengan ucapan pedas.
Izzah langsung berdiri tegak, memperhatikan wanita di depannya yang bermulut setajam silet.
“Sekali lagi, maafkan saya! Saya benar-benar tidak sengaja,” ujar Izzah mengulang permintaan maafnya dengan tulus.
Wanita itu memperhatikan Izzah dari atas sampai bawah. Lalu, ia pun ternganga dan menutup kedua mulutnya dengan tangan.
“Astaga! Kamu … kamu Izzah, kan?” seru wanita itu, menunjuk tepat di hidung Izzah.
“Huh! Tentu saja kamu tak bisa mengenaliku. Aku tidak seperti kamu. Kamu dari dulu sampai sekarang tetap saja kucel. Anak tak punya bapak mana mungkin bisa hidup dengan layak,” ujar wanita itu memandang Izzah dengan tatapan menghina.
Mendengar kata-kata kasar dari wanita itu, tiba-tiba saja kejadian belasan tahun yang lalu menari di pelupuk mata Izzah. Kala itu usianya baru tujuh tahun. Ia duduk di sebuah bangku tidak jauh dari gerbang sekolahnya. Memangku kantong keresek berisi jajanan khas anak sekolahan yang dijajakannya sebelum bel masuk berbunyi
atau ketika bel istirahat berdering.
Seorang gadis cantik dengan rambutnya yang tergerai panjang datang menghampiri. Pakaiannya sangat rapi. Sebuah jepit rambut berbentuk bunga warna merah jambu menghias kepalanya. Kulitnya yang putih mulus dan gayanya yang modis menunjukkan bahwa gadis itu bukan orang kebanyakan. Dua gadis lain berdiri di sampingnya seperti dua orang pengawal pribadi.
GUBRAK!
“Makanan jorok seperti ini tidak seharusnya dijual di sekolah ini,” ujarnya sambil menyapu kantong keresek di pangkuan Izzah dengan kedua tangannya, membuat sebagian besar isinya berhamburan keluar.
“Jangan Nadira!” cegah Izzah, tapi terlambat.
Izzah menangis terisak menyaksikan makanan yang sudah dibuat dengan susah payah oleh ibunya itu jadi kotor bergelimang tanah dan pasir. Dengan hati pilu, Izzah mengumpulkan kembali makanan yang telah dibuang oleh gadis bernama Nadira itu.
“Hahaha ….” Nadira tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh kedua temannya.
“Beginilah kalau anak tidak punya Bapak. Hidupnya mengenaskan. Sudahlah kucel, eeeh … juga tidak punya uang buat jajan!” hina Nadira, menatap Izzah sinis.
Izzah yang masih berusaha menggapai kue-kue buatan ibunya itu hanya bisa menatap Nadira dalam diam. Hatinya benar-benar teriris.
“Cuih!” Nadira meludahi kue-kue dagangan Izzah seraya menginjak jari tangan gadis itu dengan sepatu mahalnya. Izzah meringis menahan sakit.
Dari sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat Izzah duduk, sambil menunggu sang sopir berbelanja di warung kecil di seberang jalan, seorang anak lelaki usia dua belas tahun menonton semua itu dengan geram. Ketika Nadira dan kedua temannya pergi, anak lelaki itu turun dari mobilnya dan berjongkok di samping Izzah. Ia membantu gadis yang berurai air mata itu memungut kembali sumber mata pencahariannya.
Begitu selesai, anak lelaki itu tersenyum manis. Menyeka air mata Izzah dengan jari-jarinya.
“Jangan menangis, Adik kecil! Kau gadis yang kuat. Aku yakin suatu hari nanti kau akan menjadi wanita yang hebat,” bujuk anak lelaki itu, menenangkan Izzah. Izzah balas tersenyum.
“Tuan, ayo berangkat!” terdengar teriakan dari mobil, memanggil anak lelaki itu. Anak lelaki itu menoleh.
“Sebentar, Paman,” teriaknya, minta waktu.
“Ini, ambillah! Dia akan menemanimu dan akan selalu tersenyum untukmu,” kata anak lelaki itu, menyerahkan sebuah boneka beruang kecil yang tersenyum manis. Izzah menerima boneka itu dengan tangan bergetar.
“Terima kasih,” bisik Izzah pelan.
Anak lelaki itu berdiri dan pergi meninggalkan Izzah setelah mengusap lembut kepalanya.
Menerima perlakuan yang penuh kasih sayang itu, hati Izzah terasa begitu hangat.
“Terima kasih, Tuhan. Telah Kau kirimkan manusia berhati malaikat untuk mengobati perihku,” syukur Izzah dalam hati.
Bel tanda masuk berbunyi. Izzah berlari memasuki gerbang sekolah dengan tekad membara.
“Mulai hari ini, aku akan menjadi wanita yang kuat dan tangguh. Tidak ada yang boleh merendahkanku hanya karena aku tidak pernah mengenal siapa ayahku,” ujar Izzah, berjanji pada diri sendiri.
Sejak saat itu, ia mulai menekuni ilmu bela diri dan semakin giat belajar. Prestasi demi prestasi telah diraihnya. Namun, semua itu justru membuat kebencian Nadira kepadanya makin bertambah. Hinaan demi hinaan terus menderanya. Izzah tak peduli. Ia tetap fokus pada tujuannya.
Mengingat kejadian itu, mata Izzah berkaca-kaca. Betapa dalam luka yang ia rasa. Dan kini, jauh di negeri orang ia kembali dipertemukan dengan gadis yang telah menghancurkan hatinya hingga terhempas ke titik terendah.
“Ya Allah, rencana apa lagi yang sedang Engkau rancang untukku?” tanya Izzah, mengiba pada Rabb-nya.
***