A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 21. Terharu



Setelah makan malam, Naimah, Jumali dan Izzah duduk di ruang tengah. Suasana hening, tak ada yang buka suara. Izzah menanti.


Jumali berdiri, mengambil sebuah kotak kecil dari buffet tidak jauh dari tempat mereka duduk. Lalu, ia menyerahkan kotak itu kepada Naimah.


Naimah tampak ragu. Jumali menganggukkan kepala, meyakinkan Naimah. Setelah menghela napas panjang, Naimah meletakkan kotak yang diterimanya dari Jumali di atas meja, membukanya dengan hati-hati, kemudian mengeluarkan selembar foto.


Izzah melihat semua itu dengan rasa penasaran, tak mengerti  kenapa Jumali dan Naimah terlihat begitu tegang.


Naimah menyodorkan foto itu kepada Izzah. Izzah menerimanya dengan ragu-ragu. Ketika melihat foto itu, Izzah terbelalak, tak percaya. Saking kagetnya, ia sampai menjatuhkan foto itu dan dipungutnya kembali dengan tangan gemetar.


Tanpa terasa, Izzah meneteskan air mata. Sudah sebulan lebih ia tak bertemu bundanya. Apakah bundanya baik-baik saja? Kerinduan Izzah membuncah.


“Bunda ….” Izzah memanggil bundanya. Matanya terus menatap foto di tangannya.


Ia sangat yakin wanita di foto itu benar-benar bundanya. Akan tetapi, siapa lelaki di sebelah bundanya itu? Kenapa begitu mirip dengan Ki Daud?


Izzah menatap Jumali dan Naimah bergantian. Ia butuh penjelasan. Bibirnya bergetar. Lidahnya kelu, tak mampu mengucap kata.


Jumali memberi isyarat kepada Naimah, memintanya berbicara. Naimah bergeser mendekati Izzah. Lengannya mengelus lembut pundak Izzah.


“Benar, Izzah. Ki Daud adalah ayah kandungmu.”


Izzah menggelengkan kepala. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Bagaimana mungkin, Bi. Ayahku Daud sudah meninggal. Bahkan, sebelum aku terlahir ke dunia ini,” bantah Izzah, menatap Naimah dengan berlinang air mata. Dadanya terasa sesak. Emosinya campur aduk.


“Kamu tidak salah, Zah. Ayahmu Daud memang sudah meninggal sebelum kamu dilahirkan.” Naimah diam sesaat.


“Tolong jangan buat aku semakin bingung, Bi!” Izzah memohon. Kepalanya mulai terasa sakit.


Naimah melanjutkan ucapannya. “Tapi … itu Daud yang lain.”


“Maksud, Bibi?”


Naimah memperlihatkan selembar foto yang lain. Tampak dua orang pria berwajah sama saling berangkulan, tersenyum bahagia. Izzah ternganga.


“Ki Daud punya saudara kembar?"


Naimah mengangguk.


“Namanya M. Daud Hisyam.”


“Aku masih tak mengerti, Bi.”


“Ceritanya panjang, tapi yang Bibi tahu … saat itu terjadi kekacauan, Karena Tuan Daud sangat dibutuhkan, beliau memutuskan untuk kembali ke sini.” Tatapan Naimah menerewang jauh.


“Nyonya Rahmi bersikeras ingin mendampingi suaminya. Tuan Daud akhirnya mengizinkan dengan syarat anak lelaki mereka yang masih kecil dititipkan pada neneknya. Tapi … bak kata pepatah, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.” Naimah tertunduk. Wajahnya mendadak berubah sendu.


Izzah tetap bungkam. Ia masih setia menunggu Naimah melanjutkan penjelasannya.


“Tuan Daud terkena panah beracun di Hutan Larangan dan terlambat mendapat pertolongan. Menjelang ajal, Tuan Daud meminta saudara kembarnya untuk menikahi Nyonya Rahmi. Ki Daud yang diam-diam memang sudah jatuh cinta pada Nyonya Rahmi saat pertama kali melihatnya, akhirnya menyunting Nyonya Rahmi tujuh bulan setelah


kematian saudara kembarnya.”


Naimah melirik Izzah sekilas. Memastikan bahwa gadis  itu masih memperhatikan ucapannya.


“Awalnya Ki Daud dan Nyonya Rahmi menjalani hidup yang bahagia. Namun, empat bulan kemudian Nyonya Rahmi mulai terlihat sedih karena terus memikirkan anaknya yang masih kecil. Di saat yang sama, kembali terjadi kekacauan. Ki Daud sangat mencintai Nyonya Rahmi. Demi kebahagiaan istrinya akhirnya, Ki Daud mengizinkan


Nyonya Rahmi kembali ke dunianya. Ki Daud memberikan kunci gerbang Negeri Seribu Bunga kepada Nyonya Rahmi agar bisa datang sewaktu-waktu .…”


Naimah mengambil napas sejenak. Diliriknya Izzah yang tertunduk, menyimak haru ceritanya. Cerita yang tak pernah terungkap dari bibir bundanya.


Melihat Izzah hanya diam, Naimah kembali meneruskan ceritanya. Matanya menerawang.


“Karena rasa cintanya yang begitu besar dan dalam, Ki Daud terus menunggu kehadiran istrinya. Namun, Nyonya Rahmi tidak pernah kembali. Bahkan, sampai saat ini pun Ki Daud masih setia menunggu.”


Izzah menangis sesenggukan. Ia tak percaya bahwa di dunia yang serba materialistis ini masih ada sosok lelaki seperti Ki Daud, tetap bertahan demi cinta, meski tak pasti.


Selama ini,  di mata Izzah semua cowok itu berengsek. Mereka memperlakukan wanita seperti tebu, habis manis sepah dibuang.


“Jika memang sangat mencintai Bunda saya, lalu kenapa Ki Daud tidak pernah mencarinya, Bi? Kenapa Ki Daud membiarkan saya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah?” Izzah sangat sedih. Untuk pertama kalinya ia merasa kehadirannya tidak pernah diinginkan oleh ayahnya.


“Aku mengerti perasaanmu, Zah. Tapi, kenyataannya tidaklah seperti apa yang kamu pikirkan.” Naimah menggenggam hangat jemari Izzah.


“Ki Daud sangat ingin menemui Nyonya Rahmi, tapi tidak bisa, karena itu akan membahayakan nyawanya. Ki Daud juga tidak bermaksud menelantarkan kamu. Ia bahkan tidak tahu kalau Nyonya Rahmi sedang mengandung saat Nyonya Rahmi memutuskan untuk pergi dari sini.”


Mendengar itu, Izzah tercenung. Perasaan ditelantarkan yang tadi sempat menyelimuti hatinya secara perlahan mulai menghilang, berganti rasa bahagia dan rindu untuk segera bisa melihat wajah ayah kandungnya.


“Di mana Ki Daud sekarang, Bi? Aku ingin menemuinya.”


Naimah melempar pandang ke arah Jumali. Jumali mengangguk, lalu berdiri.


Naimah menuntun Izzah, mengikuti langkah Jumali.


Mereka berjalan menuju ruang kerja Ki Daud. Izzah tak mengerti mengapa Naimah dan Jumali membawanya ke ruang rahasia Ki Daud. Ruang itu kosong. Ki Daud sedang tidak bekerja di laboratorium itu.


Naimah menggeser rak kecil di salah satu dinding ruangan itu. Tampak lukisan seorang wanita tengah bermain ayunan di tepi danau. Izzah langsung mengenali wajah bundanya. Hati Izzah terharu dan bahagia. Ki Daud benar-benar mencintai bundanya.


Naimah menekan salah satu kuntum bunga yang merambat di tali ayunan. Terdengar bunyi berdesir halus. Sebuah pintu rahasia yang lain tiba-tiba terbuka. Naimah dan Jumali mempersilakan Izzah masuk lebih dulu.


Di tengah ruangan itu, tampak Ki Daud tengah tertidur pulas. Izzah berlari mendekat. Air mata kerinduan mengalir deras di kedua pipinya. Ia duduk di kursi di tepi ranjang Ki Daud.


Izzah menggenggam tangan kanan Ki Daud, menciumnya takzim. Tak bisa dilukiskan betapa bahagianya Izzah bisa melihat ayah kandung yang selama ini sangat dirindukannya.


Di sisi lain, hatinya seperti disayat sembilu melihat kondisi ayahnya saat itu. Dalam hati Izzah berdoa, “Ya Allah, jangan ambil Ayahku. Beri aku kesempatan merasakan kasih sayang yang selama ini hilang! Beri aku waktu untuk menyatukan keluargaku! Izinkan aku menunjukkan baktiku!” Air mata Izzah membasahi tangan Ki Daud


“Apa yang terjadi, Bi? Kenapa bisa begini?” Izzah bertanya sambil sesenggukan. Matanya lekat menatap wajah pucat Ki Daud.


Jumali dan Naimah ikut meneteskan air mata melihat pertemuan ayah dan anak dalam kondisi yang memilukan itu.


“Itulah yang terjadi jika Ki Daud nekat menemui Nyonya Rahmi.” Naimah menjawab sedih.


“Maksud Bibi, Ayah telah pergi menemui Bundaku?” Izzah tak percaya Ki Daud akan melakukan itu.


“Ya. Begitu melihatmu, Ki Daud merasa yakin kamu ada hubungannya dengan Nyonya Rahmi. Karena itu ia pergi untuk memastikannya.”


Izzah semakin terharu. Ia tidak menyangka Ki Daud rela membahayakan diri sendiri demi dirinya. Kini ia semakin yakin betapa besar rasa cinta dan kasih sayang Ki Daud kepada bundanya. Izzah merasa beruntung dan bangga memiliki seorang ayah seperti Ki Daud.


Naimah mengeluarkan sesuatu dari balik kainnya, lalu menyerahkan benda itu kepada Izzah.


“Ini, ambillah!” Naimah menyodorkan seuntai kalung.


“Kalung apa ini, Bi?”


“Salah satu kunci gerbang Negeri Seribu Bunga yang dipegang Nyonya Rahmi.”


Izzah mengambil kalung itu dengan tangan bergetar dan langsung memakainya.


Dipejamkannya matanya, merasakan kasih sayang dan pengorbanan seorang ayah mengaliri jiwanya lewat seuntai kalung yang dikenakannya.


“Sampai kapan Ayah akan seperti ini, Bi? Apa yang harus kulakukan agar ia segera sadar?”


“Bibi juga tidak tahu. Kita berdoa saja semoga Ki Daud segera sadar.”


Naimah dan Jumali melangkah keluar, membiarkan Izzah menemani Ki Daud.


***