A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 42. Keresahan Hati 2



Dalam kesendiriannya, Shin Seo Hyun belum beranjak dari ruang kerjanya. Ia masih asyik mempermainkan sebuah pena mewah di antara jemari kedua tangannya.


Angannya kembali menelaah konsultasinya dengan seorang psikiater beberapa jam yang lalu.


“Dari gejala-gejala yang Anda tunjukkan dan juga hasil dari serangkaian tes yang telah Anda lakukan, halusinasi Anda sama sekali bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.”


“Maksud Anda?” Shin Seo Hyun sulit mencerna penjelasan psikiater itu.


“Apa yang Anda alami bukanlah suatu penyakit.” Psikiater itu tersenyum melihat tatapan polos Shin Seo Hyun.


“Coba anda ingat-ingat lagi! Apakah jantung Anda berdetak lebih cepat setiap kali halusinasi itu muncul?”


Shin Seo Hyun memutar ulang memorinya, mengingat saat-saat bayang Izzah berseliweran di pelupuk matanya.


Deg! Deg!


“Iya.” Shin Seo Hyun menyentuh dada kirinya.


“Kalau begitu, Anda positif sedang jatuh cinta. Selamat Tuan Shin! Semoga Anda berbahagia!”


Shin Seo Hyun hanya melongo, membuat sang psikiater tertawa geli.


“Jika ini pengalaman pertama Anda, maka perjuangkanlah cinta Anda Tuan Shin. Yakinlah, hidup Anda akan lebih berwarna dan makin bergairah.”


Psikiater itu menepuk pundak Shin Seo Hyun, seolah memberi kekuatan dan dorongan.


Shin Seo Hyun menghela napas panjang. Kata-kata terakhir psikiater itu terus bergema di kepalanya. Dalam hati ia bertanya-tanya.


“Benarkah cinta begitu indah?”


Mengingat sikap Izzah yang cenderung kaku dan dingin terhadapnya, Shin Seo Hyun berpikir seribu kali untuk mengungkapkan kata cinta. Ia belum siap untuk kehilangan muka seandainya gadis itu menolak perasaannya.


Jika itu terjadi, cinta yang seharusnya indah akan berubah wujud menjadi sebuah bom yang meluluhlantakkan ketenangan hati dan jiwa raganya. Shin Seo Hyun tak ingin itu terjadi. Yang ia mau, cintanya akan tumbuh berwarna-warni bak pelangi. Untuk itu, ia tak perlu gegabah. Ia harus mencari cara untuk bisa menaklukkan hati Izzah.


Berpikir begitu, Shin Seo Hyun meletakkan pena yang dipegangnya dan membuka laptop.


“Baiklah. Ayo lihat apa yang dikatakan Mbah Google!”


Jari-jarinya mulai menari lincah di atas tuts-tuts keyboard. Menghasilkan nada-nada yang terdengar merdu di telinga Shin Seo Hyun. Nada-nada itu seolah menyuntikkan semangat juang yang tinggi pada dirinya untuk berselancar mencari berbagai artikel tentang bagaimana cara menaklukkan hati cewek cuek.


Lebih dari satu jam Shin Seo Hyun menjelajah dari satu situs ke situs lainnya.


“Ah, semua hampir sama. Kesimpulannya, tidak perlu tergesa-gesa dan buat dia merasa nyaman. Baiklah. Aku akan melakukannya.” Shin Seo Hyun menancapkan tekad kuat di dadanya.


Melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan hampir pukul lima sore, Shin Seo Hyun bergegas mematikan laptop dan merapikan berkas di atas mejanya. Setelah selesai, dimatikannya lampu, lalu keluar menuju lift.


Sekumpulan dokter dan perawat tengah bersiap-siap untuk pergantian shift. Satu per satu mereka pamit meninggalkan Izzah yang masih berkutat dengan berkas di atas meja.


Dari kejauhan, Shin Seo Hyun menghitung dokter dan perawat yang telah meninggalkan ruang istirahat tenaga medis itu. Setelah yakin hanya Izzah yang tersisa, ia menghampiri. Ia tersenyum melihat gadis itu telah menyandang tas dan menyambar jaketnya.


“Sudah mau pulang, Dokter Izzah?”  Shin Seo Hyun berbasa-basi.


Teringat isi artikel yang dibacanya, Shin Seo Hyun menampilkan senyum manisnya, khusus untuk Izzah.


“Iya. Tuan.”


Izzah membungkuk memberi hormat, membangkitkan rasa kesal di hati Shin Seo Hyun.


"Gadis itu selalu saja bersikap formal," gerutunya di hati.


“Ayo!”


“Tapi, Tuan–“


Tatapan Shin Seo Hyun memotong ucapan Izzah. Sedetik kemudian Shin Seo Hyun kembali tersenyum, membuat alis Izzah terangkat. Ia merasa aneh dengan perubahan sikap sang direktur yang mendadak ramah dan murah senyum.


“Aku akan membawamu ke suatu tempat. Aku yakin kau akan menyukainya. Kau tidak ada janji dengan orang lain, kan?”


Hari ini Izzah benar-benar dibuat tercengang oleh Shin Seo Hyun. Ia memutar otak mencari cara untuk menolak ajakan sang direktur tanpa menyinggung perasaannya. Keheningan Izzah buyar oleh suara Shin Seo Hyun.


“Tidak usah cari-cari alasan untuk menolak! Apa di matamu aku begitu menakutkan?”


“Hah!”


Izzah jadi salah tingkah. Ia merasa bagai pencuri yang tertangkap basah.


“B-bukan begitu, Tuan. Aku ….”


Izzah tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Shin Seo Hyun. Sejak kejadian di rumah bosnya itu, ia memang selalu berusaha untuk menjaga jarak dari sang direktur. Ada ketakutan yang tidak ia pahami setiap kali berada dekat si bos.


“Kalau begitu, ayolah! Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik,” bujuk Shin Seo Hyun.


Melihat pancaran ketulusan di mata Shin Seo Hyun, Izzah merasa tidak tega mengecewakan si bos yang selama ini sudah banyak membantunya.


“Baiklah.” Izzah mengalah.


“Yes!” Hati Shin Seo Hyun bersorak gembira. “Satu langkah lebih maju,” pekiknya.


Shin Seo Hyun dan Izzah berjalan beriringan menuju pelataran parkir.


***


Di teras rumah Izzah, Dimas berdiri menanti sambil menatap siluet lampu kota Seoul dan kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan. Hawa dingin mulai menusuk pori. Dimas menggosok-gosokkan telapak tangannya, menciptakan kehangatan.


Malam semakin larut. Pintu Izzah masih terkunci. Dimas berjalan mondar-mandir. Gelisah.


“Ke mana gadis itu? Sudah jam delapan masih belum pulang,” ujar Dimas khawatir seraya melirik jam tangannya.


Beberapa kali ia coba menelepon. Namun, hanya suara merdu sang operator yang menyahut.


“Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi!”


Pikiran Dimas mulai dihantui ketakutan. Bagaimana kalau Izzah tersesat, lalu diculik? Ia belum begitu mengenal seluk-beluk Kota Seoul.


“Aah … di mana kamu Izzaaah?”


Dimas memukul-mukul telapak tangannya. Gugup dan cemas. Berulang kali ia mengintip ke bawah. Namun, Izzah tak kunjung tiba. Dan ketika ia tak bisa menghubungi Shin Seo Hyun, kekhawatiran Dimas makin menjadi.


Saat itu, ingin rasanya ia punya sayap agar bisa terbang ke mana saja untuk mencari Izzah. Tetapi apa daya, ia hanyalah seorang manusia biasa. Ia tidak mungkin mengudara dan menjelajah angkasa layaknya seekor rajawali menguasai dirgantara.


“Haruskah aku lapor polisi?” Ide konyol itu terlintas begitu saja di kepalanya.


“Ah tidak. Ini belum dua puluh empat jam.”


Dimas mencoba menenangkan diri dengan berbaring di atas meja besar di teras rumah itu sambil menghitung bintang. Namun, semua itu tak mampu mengusir kegelisahannya. Sebentar-sebentar ia duduk, lalu berdiri. Acapkali pula ia mengintip ke bawah dan berbaring kembali seperti orang gila.


“Ya Tuhan! Selamat Izzah!” doanya.


Dimas pun semakin gundah. Detak jantungnya tak lagi berada pada titik normal.


***