A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 51. Pilihan



Siluet sinar lampu di sepanjang jalan menambah keindahan malam Kota Seoul. Melalui kaca spion, Park Joon Soo melirik Shin Seo Hyun dan Izzah yang sepertinya tertidur pulas di kursi belakang. Jarak rumah sakit semakin dekat. Sejenak ia ragu. Haruskah ia membangunkan bosnya itu?


Saat Park Joon Soo masih menimbang-nimbang keputusan apa yang harus diambilnya, tiba-tiba Shin Seo Hyun terjaga dari tidurnya. Ia memperbaiki posisi duduknya.


“Ah. Sudah tiba di Seoul ya?”  ujar Shin Seo Hyun, mengamati kegelapan di luar jendela


“Iya. Tuan. Mau langsung ke rumah sakit?” tanya Park Joon Soo.


Shin Seo Hyun menoleh ke samping. Izzah masih terlelap. Ia merasa tak tega membangunkan gadis itu.


“Kau bisa cari taksi?” tanya Shin Seo Hyun.


“Ya? Tuan ingin pulang naik taksi?” Park Joon Soo merasa aneh.


“Bukan aku, tapi kamu.”


“Hah?”


“Turunlah di rumah sakit dan cek kondisi Tuan Ihsan dan Dimas! Sampaikan permohonan maafku karena belum bisa membesuk mereka malam ini.”


Shin Seo Hyun menyelimuti Izzah dengan jaketnya. Park Joon Soo tersenyum maklum.


“Baik, Tuan!”


Sesampainya di rumah sakit, Park Joon Soo lekas turun. Shin Seo Hyun cepat mengambil alih kemudi, lalu tancap gas.


Tidak butuh waktu lama bagi Park Joon Soo untuk menemukan keberadaan Ihsan dan Dimas. Dua jagoan kalah tarung itu tergolek lemah di atas sepasang ranjang.


“Bagaimana keadaan kalian, Tuan Ihsan dan Tuan Dimas?” sapa Park Joon Soo bersimpati.


Dimas dan Ihsan mencoba duduk.


“Seperti yang anda saksikan, tidak ada yang benar-benar bisa mengalahkan kami,” sahut Dimas membanyol, mengundang tawa Park Joon Soo.


“Aah … begitu rupanya. Coba kulihat seberapa kuat Anda!” sahut  Park Joon Soo sembari menjajal kekuatan lengan Dimas dengan tinjunya.


“Aduh! Anda ingin mematahkan lengan saya?” rutuk Dimas. Sontak Ihsan dan Park Joon Soo tertawa renyah.


“Sekarang saya baru yakin Anda baik-baik saja, Tuan Dimas,” jawab Park Joon Soo.


“Tapi … saya kok tidak melihat Izzah dan Tuan Shin. Apa mereka baik-baik saja?” selidik Ihsan. Raut mukanya menggambarkan kekhawatiran.


Ia ingat betul bagaimana tadi Izzah ikut bertarung melawan para penjahat yang mengadang mereka.


“Tidak perlu risau, Tuan Ihsan. Dokter Izzah dan Tuan Shin hanya mengalami cedera ringan,” jelas Joon Soo.


“Oh ya, Tuan Shin menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa mampir ke sini. Sepertinya Tuan Shin tidak ingin mengganggu istirahat Dokter Izzah.”


“Tidak apa-apa Tuan Park. Terima kasih telah menyelamatkan Izzah dan kami semua.”


“Itu sudah kewajiban saya, Tuan Ihsan.”


Lantas mereka bertukar cerita sesaat sekitar peristiwa pengadangan itu. Sesekali obrolan mereka diselingi gelak tawa karena lelucon receh yang dilontarkan Park Joon Soo dan Dimas.


“Tuan Ihsan, Tuan Dimas, sebaiknya anda beristirahat. Saya akan menemani Anda malam ini,” saran Park Joon Soo seraya meraih sebuah kursi.


***


Shin Seo Hyun baru saja mematikan mesin mobilnya. Dilihatnya Izzah belum juga terjaga dari tidurnya. Pelan-pelan Shin Seo Hyun beranjak turun. Kemudian, ia membuka pintu di samping Izzah dalam mode senyap.


Dengan gerakan sangat hati-hati, ia menggendong Izzah dan membawa gadis itu masuk menuju kamar di lantai atas. Pelan-pelan dibaringkannya tubuh gadis itu di atas ranjang. Dirabanya kening Izzah dengan lembut.


“Syukurlah dia tidak demam,” ujar Shin Seo Hyun pada diri sendiri.


Diamatinya wajah Izzah yang tertidur lelap laksana seorang bayi yang kelelahan setelah puas bermain seharian


“Gadis bodoh! Sudah kubilang tetap di mobil, masih saja ikut berkelahi. Sungguh gadis keras kepala!” Shin Seo Hyun menatap sendu wajah pulas Izzah.


Sungguh mati ia benar-benar mengkhawatirkan gadis itu selama berkecamuknya pertarungan tadi. Ia takut sekali Izzah akan terluka. Namun, sekarang ia sudah bisa bernapas lega.


“Tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah,” bisiknya seraya menyelimuti Izzah.


Aroma keringat Izzah menggelitik hasrat kelelakiannya. Didekatkannya wajahnya pada muka Izzah. Hendak merasakan lembut bibir Izzah dengan bibir hausnya. Sedetik kemudian, ia menarik kepalanya menjauh.


“Astagfirullah!”


Shin Seo Hyun beristigfar, lalu beranjak meninggalkan kamar itu menuju kamarnya sendiri.


“… sembilan enam, sembilan tu ... juh, sem … bi ... laan de ... la ... pan, sem ... bi ... lan sem … bii ... laaan, see … ra … tus. Huh!” Shin Seo Hyun mengembuskan napas kencang.


Ia menghempaskan tubuhnya ke lantai setelah melakukan push up dengan tersengal-sengal. Sesaat kemudian ia telentang. Meletakkan sebelah tangan di atas dadanya dan berusaha mengatur napas agar kembali normal.


Pukul 23.15. Shin Seo Hyun melirik jam tangannya, lalu bangkit dari lantai. Ia berjalan menuju kamar mandi, menghidupkan shower dingin dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air yang mengalir deras.


Selang hampir satu jam kemudian, Shin Seo Hyun keluar dari kamar mandi, berbalut handuk putih sepinggang. Sisa-sisa air jatuh menetes dari ujung rambutnya yang masih basah. Shin Seo Hyun menyambar pengering rambut dari atas meja rias. Merasakan kehangatan udara yang membelai kulit kepala, tengkuk dan sebagian wajahnya. Mengusir rasa dingin yang membuat hidungnya beberapa kali tebersin.


Selesai berganti pakaian, Shin Seo Hyun turun ke dapur. Ia membuat secangkir kopi panas dan membawa cangkir itu ke kamarnya bersama sepotong roti. Ia terlalu lelah untuk memasak.


Shin Seo Hyun berdiri di balik gorden yang tersingkap. Tangan kirinya bersembunyi di saku celana. Sambil menyeruput secangkir kopi panas yang tadi dibawanya, mata Shin Seo Hyun memperhatikan pancaran cahaya lampu dari gedung-gedung bertingkat Kota Seoul.


Otaknya masih berpikir keras, memecahkan teka-teki mengapa kelompok XY terobsesi untuk memiliki Izzah. Ia yakin bukan orang sembarangan yang membayar jasa kelompok itu.


Kelompok XY sangat dikenal sebagai organisasi yang bersedia melakukan apa saja demi uang dan kliennya. Kelompok tersebut juga tidak segan-segan menghabisi nyawa targetnya jika memang itu yang diinginkan oleh kliennya.


“Apakah Izzah punya musuh?”


Mengingat keberadaan Izzah yang belum lama di Korea, Shin Seo Hyun meragukan itu.


“Atau … wanita brutal yang ia temui di Seoraksan tadi?”


Shin Seo Hyun menggelengkan kepala. Di mata Shin Seo Hyun, wanita keras kepala itu justru terlihat sangat rapuh.


“Huuh!”


Shin Seo Hyun mengembuskan napas berat. Kelelahan yang teramat sangat membuat otaknya tak mampu lagi berpikir. Perlahan ia menutup tirai jendela. Diletakkannya cangkir yang masih setengah berisi di atas meja kerjanya, lalu beranjak menuju pembaringan dan berusaha memejamkan mata. Berharap esok hari ia akan menemukan titik terang seiring munculnya mentari pagi.


***