A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 69. Cinta dan Keegoisan



TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!


Terdengar gedoran pintu bertubi-tubi. Izzah meletakkan secangkir kopi moka yang baru saja dibuatnya di atas meja dapur.


“Siapa sih pagi-pagi sudah bertamu,” sungut Izzah, merasa kurang senang dengan cara orang itu mengetuk pintu.


Begitu pintu terbuka, seorang lelaki langsung menerobos masuk dengan wajah kaku dan merah padam.


“Yudha? Angin apa yang membawamu ke sini  pagi-pagi sekali?” tanya Izzah, tak menyangka teman lamanya itu sedang berada di Korea.


“Tolong jawab dengan jujur! Apa benar kau akan menikah?” tanya Yudha tanpa basa-basi dan tak menggubris pertanyaan yang dilontarkan Izzah. Api amarah berkilat di matanya.


“Ya ampun, Yudha. Kirain apa. Cuma mau menanyakan itu saja kamu sampai kayak orang kesurupan begini. Ckckck … duduk dulu gih!” sahut Izzah, mempersilakan Yudha duduk.


“Mau kubuatkan secangkir kopi?” tawar Izzah saat melihat Yudha masih belum beranjak dari tempatnya berdiri


“Tidak usah. Aku ke sini bukan untuk minum kopi,” sergah Yudha sedikit ketus, membuat Izzah merasa aneh.


“Mengapa Yudha terlihat begitu marah?” batin Izzah.


Yudha yang kini berdiri di depannya seakan-akan bukanlah Yudha yang selama ini dikenalnya. Ya, yang Izzah tahu, Yudha yang telah bertahun-tahun menjadi temannya ialah sosok yang periang dan sedikit usil. Ia tidak pernah berkata kasar dan keras kecuali pada Riris. Lalu, kenapa sekarang seolah ia tampak sangat kesal?


“Jawab, Izzah! Apa berita itu benar?” Nada bicara Yudha makin menuntut.


“Ya,” sahut Izzah singkat, membuat Yudha terperangah.


“Tidak. Kamu pasti bercanda,” timpal Yudha, mendekati Izzah.


Tiba-tiba ia memegang kedua pundak Izzah dan menatap mata gadis itu lekat. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Izzah menyingkirkan kedua tangan Yudha dari pundaknya dan mundur menjauh. Mendadak ia merasa gentar melihat mata Yudha.


“Aku serius, Yud. Apa selama ini aku pernah berbohong?” ujar Izzah dengan nada setenang mungkin. Ia tidak ingin Yudha mengetahui ketakutan yang menyergapnya.


BUK!


Tiba-tiba saja Yudha meninju dinding. Dadanya bergerak turun naik seakan siap memuntahkan lahar emosinya.


“Batalkan pernikahan itu dan menikahlah denganku!” ujar Yudha, mengagetkan Izzah.


“Hah! Kamu gila, Yud?” sahut Izzah, tak percaya Yudha akan berkata seperti itu.


“Ya, aku memang gila. Bertahun-tahun aku tergila-gila padamu,” sahut Yudha sambil berjalan mendekati Izzah. Tatapannya tajam menghunjam. Membuat Izzah makin bergidik.


Khawatir Yudha akan berbuat yang aneh-aneh, diam-diam Izzah memasang kuda-kuda. Ia benar-benar tidak lagi mengenal Yudha yang kini berada di hadapannya.


“Stop! Berhenti di situ!” teriak Izzah, mencegah Yudha untuk semakin mendekat kepadanya.


“Kenapa? Kau takut? Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya memintamu untuk menikah denganku. Ayo kita kawin lari!” tukas Yudha tanpa menghiraukan perintah Izzah.


“Tidak. Aku tidak akan pernah mau melakukan itu,” sahut Izzah tegas. Yudha mengepalkan kedua tangannya, kesal. Hening sejenak.


“Apa kau begitu mencintai calon suamimu?” tanya Yudha, sedikit melunak.


“Jika pernikahan hanya berdasarkan pada cinta, lalu di mana letaknya kasih sayang dan pengorbanan?” jawab Izzah agak berfilosofi.


Izzah hanya percaya pada pilihan bundanya. Cinta? Ia bahkan belum tahu siapa lelaki yang akan menjadi pendamping hidupnya itu.


“Bullshit! Kau bahkan tidak tahu siapa tunanganmu. Bukankah lebih baik menikah dengan orang yang sudah kau kenal? Ayolah! Sebelum semuanya terlambat, ayo lari bersamaku!” bujuk Yudha bersungguh-sungguh.


Shin Seo Hyun yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk mengepalkan tinju menahan geram, mendengar lelaki yang berdiri membelakanginya itu merayu Izzah.


“Apa hakmu untuk ikut campur urusan orang lain?” tanya Shin Seo Hyun dingin. Membuat Yudha menoleh kaget dengan kening berkerut.


“Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Shin?” tanya Yudha sinis. Diabaikannya pertanyaan Shin Seo Hyun.


“Eeit … tunggu! Tolong jangan bertengkar di sini!” ujarnya seraya merentangkan kedua tangannya, berdiri di antara Yudha dan Shin Seo Hyun.


“Izzaaah … minggir!” teriak Yudha dan Shin Seo Hyun hampir bersamaan.


Shin Seo Hyun langung merangsek ke depan, memaksa Izzah untuk mundur dan menepi.


Berdiri di pojok lemari, jantung Izzah berdetak tak keruan karena cemas.


“Ya Allah, jangan sampai Yudha dan Mas Dirga membuat keributan di sini!” doa Izzah di hati. Matanya terus mengawasi dua lelaki yang saling berhadapan itu.


“Duduklah dulu! Sepertinya kau perlu mendinginkan hatimu,” ujar Shin Seo Hyun kepada Yudha sambil melipat kasur yang menjadi alas tidurnya kemarin malam.


Mendengar ucapan Shin Seo Hyun, Izzah langsung mengelus dada lega. Yudha menjadi sedikit kikuk. Kesinisannya justru dibalas kelembutan oleh Shin Seo Hyun. Ragu-ragu, akhirnya ia duduk juga.


“Apa kau benar-benar mencintai Izzah?” tanya Shin Seo Hyun, ber-kau tanpa basa-basi dan tak lagi menggunakan sapaan hormat.


“Haruskah aku memberitahumu semua yang kurasakan?” sahut Yudha, masih dengan nada sedikit sinis.


“Aah ... tentu saja  tidak, tapi sebagai lelaki muslim seharusnya kau tahu bahwa diharamkan meminang seorang wanita yang telah menerima pinangan saudaranya sesama muslim,” ujar Shin Seo Hyun santai. Yudha mendengus. Ia merasa tersindir.


“Aku hanya ingin menyelamatkan Izzah dari menikahi lelaki yang tidak jelas,” kilah Yudha, membuat Shin Seo Hyun tertawa.


“Lucu sekali! Tidakkah kau tahu bahwa rida Allah tergantung rida orang tua? Orang tua Izzah sudah setuju. Lalu, kenapa kau harus memutus keridaan itu dengan mengajaknya kawin lari? Apakah kau sedang berperan sebagai Rahwana dalam kisah percintaan Rama dan Shinta?" Shin Seo Hyun terkekeh dengan bibir sedikit mencebik.


"Menyelamatkan? Huh!  Alasan yang tidak masuk akal,” cecar Shin Seo Hyun tenang.


Perkataan dan pertanyaan Shin Seo Hyun membuat telinga Yudha memerah menahan marah. Lagi-lagi ia merasa sindiran Shin Seo Hyun begitu mengena. Namun, ia terlalu malu untuk mengakuinya.


“Itu karena aku sangat mencintai Izzah,” sahut Yudha, membela diri.


“Kalau kau memang mencintai Izzah kenapa kau tidak memintanya dengan baik-baik kepada orang tuanya? Kenapa kau justru berusaha meracuni pikiran dan menyesatkannya disaat lelaki lain telah memperlakukannya dengan terhormat?”


Yudha terdiam. Matanya makin berkilat menatap Shin Seo Hyun.


“Ketika cinta hanya menuruti hawa nafsu, itu bukanlah cinta, melainkan keegoisan. Cinta yang sesungguhnya adalah saat kau ikut merasa bahagia ketika orang yang kau cintai berbahagia. Dan kalau pun dia belum bahagia, maka kau akan memanjatkan doa dengan tulus untuk kebahagiaannya,” ujar Shin Seo Hyun, memberi wejangan


panjang lebar.


Kata-kata dan nada bicara Shin Seo Hyun membuat hati Izzah terasa adem.


“Ah … seandainya saja calon suamiku sesabar dan sebijak Shin Seo Hyun, mungkin traumaku akan hilang dengan perlahan,” desis Izzah berandai-andai di hati. Tanpa disadarinya, ia mulai mengagumi sosok Shin Seo Hyun.


Sementara Yudha duduk mematung. Ia kehabisan kata untuk menyanggah ucapan Shin Seo Hyun ataupun hanya sekadar berkilah. Sesaat kemudian, tanpa pamit ia berdiri, lalu meninggalkan rumah Izzah dengan hati yang masih dongkol.


Shin Seo Hyun dan Izzah cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakan Yudha.


“Tunggu! Biar kubuatkan yang baru. Itu sudah dingin,” cegah Izzah saat Shin Seo Hyun akan meminum kopi yang tadi dibuatnya.


“Tidak apa-apa. Terasa hangat ketika diminum sambil memandang wajah cantikmu,” balas Shin Seo Hyun dengan kerling menggoda, membuat pipi Izzah bersemu merah.


“Dasar bos gendeng! Sudah tahu calon istri orang masih saja digombali,” desis Izzah, bersungut-sungut sembari menyimpan kasur dan bantalnya ke dalam lemari.


“Apa?” tanya Shin Seo Hyun, tak mendengar jelas perkataan Izzah.


“Tidak apa-apa. Sepertinya kita harus buru-buru kalau tak ingin terlambat masuk kerja,” sahut Izzah, mengalihkan topik pembicaraan.


“Oh, ya. Ayo!” ajak Shin Seo Hyun setelah mencuci cangkir kosongnya. Sejurus kemudian, mereka berlalu


meninggalkan rumah itu.


***