A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 20. Keliru



Izzah terperanjat. Ia tak mengira Dimas akan punya pikiran senaif itu. Bagaimana bisa lelaki itu menganggapnya akan melakukan bunuh diri hanya karena ia berjalan di atas pagar pembatas yang sedikit menjorok ke laut? Sungguh sebuah pemikiran yang dangkal, bukan?


“Hah! Siapa bilang aku mau bunuh diri?”


“Lah … itu tadi ngapain kamu berjalan di atas pagar pembatas?” Dimas melongo ****, tak mengerti.


“Hahaha .…” Izzah tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi Dimas.


Dimas makin melongo. Izzah tersadar dan cepat-cepat menutup mulut dengan kedua tangan, menyembunyikan sisa-sisa tawanya.


“Ya Allah, Mas … aku juga tahu bunuh diri itu dosa dan pelakunya kekal di neraka. Aku berjalan di situ bukannya mau bunuh diri, tapi melatih keseimbangan. Mumpung ada kesempatan, masa iya aku sia-siakan,” jelas Izzah merasa bersalah telah menyebabkan Dimas salah paham. Dimas menepuk jidat.


“Kamu bilang dong dari awal. Jadi, aku enggak salah paham dan enggak perlu juga melakukan hal seperti tadi.” Dimas merasa serba salah.


“Alaah! Dasar cowok mesum. Selalu cari-cari kesempatan,” ledek Izzah.


“Apa? Aku bukan cowok mesum. Aku cowok baik-baik. Masih untung aku berusaha menyelamatkan kamu. Dasar cewek aneh!” Dimas kesal dan balas meledek Izzah.


“Oh ya? Kesan pertama kamu saja sudah mesum. Tukang intip!” semprot Izzah.


Dimas langsung terbayang pertemuan pertamanya dengan Izzah. Bagaimana ia begitu terpesona memandangi gadis itu dari atas cabang pohon, sebelum akhirnya terjatuh karena kaget mendengar teriakan Izzah. Dimas merasa malu hati.


Izzah segera kabur melihat Dimas melotot geram. Dimas mengejar Izzah. Izzah terus berlari dan turun ke bibir pantai, menikmati lembutnya pasir pantai.


Izzah menoleh ke belakang. Ketika melihat Dimas jauh tertinggal, ia berhenti, duduk memasang sepatu yang tadi disambarnya sambil lari.


Napas Dimas terengah-engah. Sejenak ia berhenti mengatur napas, menatap Izzah jauh di depan.


“Gila! Cepat banget lari Izzah. Gadis itu benar-benar penuh kejutan,” gerutu Dimas di tengah napasnya yang masih tersengal-sengal. Ia tidak tahu kalau Izzah mantan pelari sprint dan maraton saat masih sekolah.


“Izzaaah … tungguin dong!” Dimas berteriak memanggil. Izzah hanya melambaikan tangan ke arah Dimas.


Dimas menyerah. Ia berbaring di atas pasir. Melihat itu Izzah merasa iba. Ia melangkah ke kedai kecil di tepi pantai, membeli air mineral.


Dimas masih terbaring lemah. Ia benar-benar lelah. Keringatnya bercucuran.


Izzah datang membawa dua botol air mineral. Begitu sampai di dekat Dimas, Izzah tersenyum melihat Dimas masih tergeletak dengan mata terpejam.


Dimas tidak menyadari kehadiran Izzah. Cukup lama Izzah mengamati Dimas. Dimas masih diam tak bergerak. Izzah mulai was-was.


“Mas … minum dulu nih!” kata Izzah menawarkan minum sambil duduk di sebelah Dimas.


Dimas tetap diam, pura-pura tak mendengar ucapan Izzah. Ide usil muncul di kepalanya.


Melihat tak ada respons dari Dimas, Izzah menelengkan kepala.


“Jangan-jangan benaran pingsan,” pikir Izzah sedikit cemas. Akan tetapi, sesaat kemudian ia tersenyum licik.


“Hem … jangan-jangan nih anak ngerjain.” Izzah curiga


“Ya sudah deh kalau enggak mau. Selamat tidur ya!” Izzah berdiri.


Dimas kaget. Dalam hati ia memaki, “Sialan! Niat mau ngerjain malah dikerjain.”


Dimas membuka mata, segera duduk dan menyambar botol air mineral di tangan Izzah. Izzah tersenyum penuh kemenangan. Ia duduk kembali di sebelah Dimas. Dimas dan Izzah menenggak minuman masing-masing langsung dari mulut botol.


Dimas menyeka tumpahan air di sekitar mulutnya dengan lengan kanan. Izzah memandang lautan penuh kekaguman. Ia selalu merasa tenang setiap kali melihat birunya laut yang membentang.


Setelah merasa lebih segar, Dimas mengajak Izzah menyusuri bibir pantai. Sesekali Dimas mencadai Izzah. Izzah berlari menjauh setiap kali Dimas mencipratkan air ke tubuhnya karena tak ingin basah.


Puas menikmati suasana pantai nan indah. Dimas membawa Izzah ke restoran. Baru kemudian ia mengantar Izzah pulang.


“Masukkan nomormu di sini!” perintah Dimas, menyodorkan ponselnya sebelum Izzah menyetel salawat favoritnya.


“Maaf, nomorku tidak aktif,” tolak Izzah.


“Oh .…” Dimas baru menyadari sesuatu.


“Ya sudah. Ambil saja untukmu! Aku masih punya ponsel yang lain,” katanya kemudian


“Enggak usah, Mas. Aku tidak membutuhkannya,” tolak Izzah halus.


Dimas kecewa. Ia tidak terbiasa ditolak, tetapi gadis itu telah berkali-kali menolaknya. Rasa kecewa itu pun berubah menjadi amarah. Dimas merasa tidak dihargai.


“Lalu, bagaimana aku bisa menghubungimu jika terjadi sesuatu dengan Kak Tiara?” tanya Dimas berusaha menyimpan amarahnya.


“Aku yakin Kak Tiara akan baik-baik saja. Lagi pula, Mas kan bisa menghubungi Ki Daud. Bukankah selama ini beliau yang menjadi tabib keluarga Mas?” jawab Izzah berargumen.


Dimas semakin kesal, tetapi tak kehilangan akal.


“Ki Daud enggak punya ponsel.” Dimas mendengus, asal jawab.


“Ambillah!” Selesai mengatakan itu, Dimas menjatuhkan ponsel itu begitu saja di pangkuan Izzah.


Izzah ingin protes, tetapi tidak jadi begitu melihat kilatan amarah pada sorot mata Dimas. Ia mengambil ponsel itu dan menyimpannya dalam ransel dengan enggan.


“Yes!" Dimas bersorak dalam hati. Ia berhasil menemukan cara untuk tetap berkomunikasi dengan Izzah.


Dimas dan Izzah tiba di rumah Ki Daud menjelang magrib.


“Assalamu’alaikum ....” Izzah mengucap salam.


Naimah segera membukakan pintu. Setelah mengucapkan terima kasih, Izzah melangkah masuk tanpa basa-basi mengajak Dimas.


“Enggak mampir dulu, Den Dimas?” sapa Naimah ketika melihat Dimas langsung kembali ke mobil dan menghidupkan mesinnya.


“Enggak, Bi. Terima kasih. Lain kali saja. Masih ada urusan,” tolak Dimas sopan, lalu meninggalkan rumah Ki Daud.


***


Izzah keluar dari kamar menuju ruang makan. Membantu Naimah menyiapkan makan malam.


Tiga puluh menit kemudian, Izzah, Naimah dan Jumali sudah duduk di meja makan. Izzah tidak melihat kehadiran Ki Daud. Ia heran, tidak biasanya Ki Daud melewatkan makan malam.


“Ki Daud ke mana, Bi. Tumben tidak ikut makan bersama?” tanya Izzah pada Naimah.


Naimah dan Jumali bertukar pandang. Membuat Izzah semakin heran.


“S-sedang tidur. Beliau tidak suka bila tidurnya diganggu,” jawab Naimah agak gugup.


Izzah merasa ada yang aneh. Selama tinggal di rumah Ki Daud, belum pernah dilihatnya Ki Daud memiliki kebiasaan tidur sehabis magrib.


Namun, Izzah terlalu sungkan untuk bertanya lebih jauh. Ia memilih diam dan melanjutkan makannya.


“Oh ya, Zah, nanti setelah makan, kita ngobrol di ruang tengah ya,” pinta Jumali.


Izzah bertambah yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Ki Daud. Sikap Jumali dan Naimah terlihat janggal. Raut wajah mereka juga sangat masygul.


Izzah mengangguk, menyetujui ajakan Jumali. Makan malam itu pun berlalu dalam hening.


***