A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 66. Bimbang



Berdiri di sisi pintu ruang istirahat petugas medis, Shin Seo Hyun tampak gelisah melirik jam di pergelangan tangannya berulang kali. Desah kecewa meluncur dari bibirnya setiap kali orang yang keluar dari ruang itu bukanlah Izzah.


Sejak sepuluh menit terakhir, tak ada lagi yang meninggalkan ruang itu. Kening Shin Seo Hyun pun berkerut.


“Apa gadis itu langsung lembur di hari pertamanya masuk kerja setelah cuti sakit?” batinnya.


Ragu-ragu, didekatinya pintu itu dan dilongokkannya kepalanya. Kosong. Tak ada siapa pun di situ. Membuat kening Shin Seo Hyun makin kusut.


“Cari siapa, Direktur Shin?” tanya seorang lelaki berpakaian dokter, mengagetkan Shin Seo Hyun.


“Oh … itu … Dokter Izzah masih sibuk ya?” sahut Shin Seo Hyun sedikit gugup. Merasa malu aksinya ketahuan oleh salah satu karyawannya.


“Dokter Izzah sudah pulang dari tadi, Tuan,” jawab dokter itu, semakin membuat Shin Seo Hyun kaget. Namun, berusaha disembunyikannya.


“Benarkah?” sahut Shin Seo Hyun setengah tak percaya.


“Iya, Tuan. Katanya kepalanya sedikit pusing,” ujar dokter itu, menjelaskan alasan kepulangan Izzah yang lebih awal dari jadwal semestinya.


“Oh ... begitu ya? Baiklah. Terima kasih. Permisi!” tukas Shin Seo Hyun seraya meninggalkan tempat itu dengan langkah tergesa-gesa.


Dokter itu menelengkan kepala dan menatap curiga melihat kepergian Shin Seo Hyun yang buru-buru, lalu mengedikkan bahu dan berlalu menyusuri lorong rumah sakit itu. Tak ambil peduli dengan semua itu.


Di pelataran parkir, Shin Seo Hyun membuka pintu mobilnya dengan cepat dan membanting tas kerja ke atas kursi di samping kursi sopir, lalu mengenyakkan pantatnya di belakang kemudi. Sedetik kemudian, ia meninggalkan pelataran parkir dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setibanya di rumah, Shin Seo Hyun bergegas keluar dari mobil, berlari masuk rumah dan langsung naik tangga menuju kamar Izzah. Rasa cemasnya akan kondisi Izzah telah membuatnya lupa akan kepenatan yang menderanya setelah lelah seharian bekerja.


Begitu sampai di muka kamar Izzah, Shin Seo Hyun langsung menyambar handle pintu dan mendorongnya dengan keras. Nyaris saja ia jatuh. Merunduk dengan tangan kanan yang berpegang pada handle pintu dan tangan kiri bertopang pada lutut, Shin Seo Hyun mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Matanya menatap ranjang tak berkedip. Lalu, ia terduduk lunglai bersandar pada daun pintu saat tak menemukan Izzah di sana.


Sejurus kemudian, ia terkocoh-kocoh bangkit dan berlari memasuki ruang perpustakaan. Lagi-lagi ia menelan pil pahit lantaran tak ada Izzah di sana.


Dengan napas yang masih memburu dan keringat yang bercucuran membasahi bajunya, Shin Seo Hyun kembali turun dan berjibaku dengan waktu melajukan mobilnya menuju rumah indekos Izzah.


Sesampainya di sana, Shin Seo Hyun berdiri terpaku di bibir tangga saat menyaksikan gadis yang telah membuatnya berlari kalang kabut itu duduk berpangku lutut dengan tatapan hampa.


Di atas meja besar di teras rumahnya, Izzah duduk termenung tanpa gairah. Tak dihiraukannya embusan angin yang memporak-porandakan tatanan jilbabnya. Tak digubrisnya cuaca yang makin dingin menusuk segenap persendiannya. Hanya ucapan bundanya yang terus terngiang-ngiang di telinganya.


Hari itu, Izzah senang sekali menerima panggilan telepon dari bundanya saat jam makan siang. Namun, setelah basa-basi dan menanyakan kabar, dunia Izzah seakan jungkir balik. Kata-kata bundanya seperti gelegar halilintar di siang bolong.


“Zah, usiamu sekarang sudah di atas dua puluh satu tahun. Artinya sudah cukup dewasa untuk membina rumah tangga. Dan Bunda sudah cukup pantas untuk menimang seorang cucu …,” ujar Rahmi di seberang telepon langsung ke pokok pembicaraan.


“Maksud, Bunda?” tanya Izzah, pura-pura tak mengerti.


“Maksud, Bunda … sudah saatnya kau menikah,” jawab Rahmi lembut, tetapi tegas.


“Menikah, Bunda? Tapi ....” Ucapan Izzah terhenti, dipotong bundanya dari seberang.


“Bunda sudah menerima lamaran seseorang, Nak. Dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Kakakmu juga setuju,” sambung Rahmi.


Langit di hati Izzah yang semula biru tiba-tiba berubah kelabu. Izzah hanya diam membisu.


Izzah menghela napas resah. Di satu sisi, ia tidak ingin mengecewakan bundanya karena ia percaya seorang ibu pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.  Lagi pula, bukankah surga itu berada di bawah telapak kaki ibu? Tetapi di sisi lain, jiwa raganya benar-benar belum siap untuk menjalani sebuah pernikahan.


Setelah cukup lama hening, Izzah akhirnya kembali buka suara.


“Beri Izzah waktu dua minggu untuk berpikir, Bunda!” sahut Izzah lesu.


“Dua minggu terlalu lama, Nak. Bunda sudah meminta waktu satu bulan sebelum memutuskan untuk menerima lamaran lelaki itu. Sekarang hanya tersisa tiga hari,” jawab Rahmi, membuat Izzah mendesah kecewa.


“Hah? Tiga hari?” hati Izzah menjerit gundah.


“Baiklah, Bunda. Izzah akan turuti kehendak, Bunda,” sahut Izzah pasrah. Ia masih sempat mendengar gema syukur berkumandang sesaat sebelum telepon ditutup.


Sementara itu, di rumah Izzah, Fadhil melayangkan senyum bahagia kepada bundanya. Lalu, ia mematikan ponselnya yang terletak di atas meja. Ponsel itu telah menjadi media penghubung antara keluarga calon mempelai pria dengan Izzah ketika loudspeaker ponsel bundanya diaktifkan.


Di saat bersamaan, di sebuah rumah mewah, sepasang suami istri dan seorang perempuan tua menarik napas lega mendengar jawaban Izzah.


Izzah mendesah galau, lalu menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Berkali-kali Izzah berpikir keras, mencoba mencari cara untuk untuk membatalkan perjodohan itu. Namun, bayangan senyum di wajah bundanya, membuat Izzah tidak tega. Ia tidak mau menjadi anak durhaka. Anak yang sampai hati mempermalukan wanita mulia yang


telah berjuang keras untuk melahirkan dan membesarkannya seorang diri tanpa didampingi suami.


Huuuuh … haaaaah .…


Izzah menarik napas panjang dan dalam. Kemudian, ia merebahkan diri di atas meja itu. Di saat yang sama, Shin Seo Hyun yang sudah mulai tenang tahu-tahu sudah duduk di samping Izzah. Membuat gadis itu terperanjat.


“Tetaplah berbaring jika itu membuatmu tenang!” cegah Shin Seo Hyun saat melihat Izzah akan segera bangkit.


“Sejak kapan Tuan Shin berada di sini?” tanya Izzah sambil berjalan menuju pagar pembatas tanpa menghiraukan ucapan Shin Seo Hyun. Entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa gerah berada dekat Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun turun dari meja dan membuka jasnya. Disampirkannya jas itu di pundak Izzah. Sesaat kemudian, ia pun berdiri di samping Izzah. Menatap malam gelap tak berbintang.


“Sepertinya kau sedang dirundung masalah,” ujar Shin Seo Hyun setelah hening beberapa saat.


“Aku hanya sedikit pusing. Maaf kalau aku pulang lebih awal tanpa memberitahumu,” sahut Izzah merasa bersalah. Matanya tak sedikit pun beralih dari menatap lampu-lampu jalanan di bawahnya.


“Lalu, kenapa kau tidak beristirahat di kamarmu, tapi malah datang ke sini?” kejar Shin Seo Hyun, berusaha memancing keterbukaan Izzah.


Izzah tak menyahut. Ia tak tahu harus berkata apa.


DEG! DEG!


Dadanya tiba-tiba bergemuruh saat melirik Shin Seo Hyun dan lelaki itu ternyata sedang terpana menatapnya dengan bertopang sebelah tangan pada pagar, sementara tangan kirinya bersembunyi di saku celana.


Cepat-cepat Izzah memalingkan wajahnya. Menengadah. Menatap satu dua bintang yang mulai mengintip malu-malu dari balik mega.


***