A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 96. Keisengan Berbuah Penyesalan



Shin Seo Hyun menggamit lengan Izzah, mengajaknya merentangkan jarak dengan pasangan yang tengah kasmaran itu. Begitu menemukan spot yang cocok, mereka pun bergegas membuat lubang pemancingan.


PLOK! PLOK!


Tepuk tangan Izzah membahana saat Shin Seo Hyun mendapatkan strike pertamanya. Dengan riang Shin Seo Hyun menyerahkan hasil tangkapannya kepada istrinya.


Geli-geli takut Izzah mengambil alih ikan yang diserahkan suaminya. Wajahnya sampai mengerut saat ikan itu menggelepar dan meronta liar, berusaha membebaskan diri dari cengkeraman kedua tangannya.


BYUR!


Ikan itu pun akhirnya mencebur kembali ke dalam lubang setelah perjuangan yang panjang.


“Oops! Maaf!” ujar Izzah, menyeringai mesem. Merasa lucu sekaligus malu akan kecerobohannya.


Shin Seo Hyun hanya tersenyum. Baginya, menyaksikan ekspresi Izzah saat bertahan terhadap perlawanan ikan itu lebih membahagiakan dan menggemaskan. Diuceknya kepala Izzah.


Kembali strike. Kali ini Shin Seo Hyun dan Izzah bekerja sama memasukkan ikan hasil pancingannya ke dalam ember yang tersedia. Keduanya tersenyum puas ketika ember itu penuh dalam waktu yang tidak terlalu lama.


Lama bergelut dengan air di tengah padang salju membuat Izzah menggigil. Melihat itu Shin Seo Hyun segera membereskan peralatan pancingnya dan menggandeng istrinya menepi.


Riris yang dari jauh melirik kepergian Izzah dan Shin Seo Hyun pun bergegas mengajak Park Joon Soo meninggalkan arena pemancingan. Bergabung dengan pasangan suami-istri itu untuk menikmati secangkir kopi panas seraya menonton orang-orang yang masih terlena dengan kesibukan mereka di ujung sana.


Setelah merasa lebih hangat dan bugar. Empat sekawan itu pun melaju ke arena kereta luncur. Berdiri di atas ketinggian, Riris sudah tidak sabar untuk segera meluncur menuruni bukit salju. Pun demikian dengan Izzah. Riris dan Park Joon Soo sudah siap pada posisi mereka.


BRUK!


Tiba-tiba Shin Seo Hyun yang tegak di samping Izzah jatuh telentang. Membuat Izzah kaget campur cemas dan sontak berlutut.


“Mas Dirga! Bangun, Mas!” pekik Izzah khawatir seraya menepuk pipi suaminya. Tak ada reaksi.


Panik. Izzah menoleh ke arah Riris dan Park Joon Soo, bermaksud minta bantuan.


“Aiiish!” keluh Izzah saat menyaksikan pasangan itu baru saja meluncur dengan riangnya.


“Mas!”


Berkali-kali Izzah memanggil Shin Seo Hyun tanpa sekali pun mendapat jawaban.


“Tak ada cara lain,” gumamnya.


“Waduh! Gawat kalau Izzah menyalurkan kekuatannya dalam kondisi seperti ini. Bisa-bisa dia pingsan,” batin Shin Seo Hyun, dihinggapi rasa cemas.


Ditangkapnya pergelangan tangan Izzah ketika istrinya itu siap membangunkannya dengan kemampuan khususnya. Serta merta Izzah mengembuskan napas lega.


“Kau membuatku sangat ketakutan, Mas,” ujar Izzah, bersungut-sungut di ujung sisa detak jantung yang masih bergemuruh.


“Maafkan aku,” sahut Shin Seo Hyun, merasa bersalah ketika melihat betapa khawatirnya Izzah.


Seketika ia bangkit memeluk istrinya. Tanpa sadar Izzah meneteskan air mata, terasa hangat di punggung Shin Seo Hyun. Dilepaskannya pelukannya dan ditantangnya manik mata indah Izzah.


“Kau menangis? Oh, Sayang. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menakutimu,” bisik Shin Seo Hyun, kembali memeluk erat istrinya.


Di balik rasa bersalahnya yang berlipat ganda, hati Shin Seo Hyun berpijar bahagia. Sekarang ia semakin yakin akan kesungguhan perasaan Izzah terhadapnya.


“Ayo kita kembali! Atau … kau masih ingin naik kereta luncur?” tanya Shin Seo Hyun, mengusap bulir-bulir bening yang meluruh di pipi Izzah.


Izzah menggeleng lemah. Kecemasan yang sempat merajai hatinya belum sepenuhnya sirna.


“Kita pulang saja,” cetus Izzah lirih.


Kelelahan jiwa dan raga, Izzah akhirnya tertidur. Kepalanya bersandar manja di pundak Shin Seo Hyun. Sementara tangan Shin Seo Hyun melingkar kuat melindungi Izzah dari goncangan kendaraan yang sedang berjalan.


Sang sopir melempar senyum saat mengintip kemesraan pasangan muda itu dari kaca spion.


“Ini. Terima kasih telah bersedia membantu,” ujar Shin Seo Hyun menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribu won kepada si sopir begitu tiba di rumah.


“Sama-sama, Tuan. Senang bisa membantu Anda,” balas si sopir girang.


Begitu si sopir keluar dari mobil, Shin Seo Hyun langsung membopong tubuh istrinya ke lantai atas. Perlahan dibaringkannya tubuh Izzah di atas ranjang. Wajahnya tampak pucat. Shin Seo Hyun melangkah mundur.


BUK!


“Aku benar-benar keterlaluan!”


Shin Seo Hyun memaki diri sendiri seraya meninju dinding. Penyesalannya menggunung. Ketika diliriknya Izzah belum juga terjaga dari tidurnya dengan raut muka seputih kertas, Shin Seo Hyun menangis menyesali diri.


Setelah emosinya reda, ia pun dengan cekatan mengganti pakaian istrinya. Perlahan Izzah membuka mata, lalu mendadak bangkit memeluk suaminya.


Shin Seo Hyun mendesah. Membelai rambut panjang Izzah dengan cinta.


“Aku tidak apa-apa. Percayalah! Aku akan selalu bersamamu,” bisiknya, menenangkan Izzah.


“Janji tak akan membuatku cemas lagi?” rajuk Izzah, menyeka hidungnya.


“Ih! Jorok!” goda Shin Seo Hyun, mengusir galau di hati istrinya.


“Mas!” pekik Izzah sewot-sewot manja.


“Iya … aku janji. Sekarang kita makan ya … Bi Sandra sudah masak enak,” ajaknya.


“Capek … makan di sini saja ya …,” pinta Izzah dengan kedipan merayu dan tatapan memelas.


“Hahaha … kau selalu membuatku bertekuk lutut,” balas Shin Seo Hyun seraya bangun mengecup kening Izzah, lalu beranjak turun ke lantai bawah.


Sering kali manusia lupa berpikir ulang terhadap hal yang akan dilakukannya. Sejenak lupa atau hanya pura-pura lupa bahwa terkadang apa yang disangka kecil dan sepele bisa berdampak luar biasa bagi orang lain.


Di warung kopi, dengan santainya mengobral aib tetangga atas nama canda. Enteng sekali membandingkan si A dan si B demi rasa bangga. Bahkan, rela mengorbankan diri hanya untuk memikat hati, menarik simpati. Dan ketika semua berjalan di luar kendali, tinggallah penyesalan yang menemani, membayangi setiap langkah kaki ke mana pun pergi.


Dan Shin Seo Hyun telah menuai hasil dari keisengannya sendiri. Apa pun alasan yang mendasari sebuah kamuflase, keterbukaanlah payung ketenangan dan perasaan nyaman yang sesungguhnya.


“Kau harus menghabiskan semua makanan ini agar tumbuh sehat dan kuat,” saran Shin Seo Hyun dengan nada tegas.


“Huh? Aku bukan anak-anak lagi, Mas,” sergah Izzah dingin. Shin Seo Hyun cuma diam, masih bergeming.


“Apa maksudnya bilang begitu?” batin Izzah, bertanya-tanya. Ia merasa kalimat Shin Seo Hyun penuh teka-teki.


“Bodoh amat. Yang penting makan dululah,” gumamnya lagi di hati.


Melihat piring Izzah kosong melompong, Shin Seo Hyun tersenyum puas dan mengangguk pelan seraya mengacungkan jempol kepada Izzah.


“Aku benar-benar harus hati-hati dan terus mengamati dengan teliti,” ujar Shin Seo Hyun, mengingatkan diri sendiri sambil membawa nampan kosong bekas makan Izzah ke dapur dan mencucinya.


Sesaat kemudian ia pun kembali ke kamar seraya bersiul kecil. Merasa senang, seolah baru saja memenangkan hadiah lotre.


***