
Panasnya cahaya matahari yang semakin menyengat, tak sepanas hati Nadira yang menatap Izzah dengan penuh kebencian. Gelegak amarah terpancar jelas dari wajah cantiknya.
Izzah masih bergeming. Berjuang keras menahan air matanya agar tak meluruh. Tayangan-tayangan luka yang pernah ditorehkan Nadira membuat hatinya kembali berdarah dan bernanah.
“Kamu masih belum bisa mengingatku?” hardik Nadira dengan congkaknya.
“Kalau begitu, biar aku bantu mengembalikan ingatanmu. Aku–”
“Seorang petani tidak akan pernah melupakan setiap jenis hama yang merecoki tanamannya,” potong Izzah cepat. Ia berkata dengan nada datar dan dingin. Membuat Nadira mendengus kesal.
“Hama? Siapa yang hama di sini? Bagiku kamu dan ibumulah hamanya.”
Izzah mengepalkan tangan menahan emosi. Nadira tersenyum mengejek.
“Marah? Silakan!” ujar Nadira. “Memang begitu kenyataannya. Ibumu pindah ke daerahku dengan perut besarnya yang tidak pernah diketahui siapa suaminya. Kamu lupa atau pura-pura lupa? Bagaimana ibumu selalu mengurung diri di rumahnya.”
Kata-kata Nadira semakin tajam menyayat harga diri Izzah dan ibunya.
Dari anak tangga, Shin Seo Hyun yang melihat situasi tak menyenangkan itu berlari turun mendekati Izzah dan berdiri siaga selangkah di belakangnya. Ia tidak ingin ikut campur permasalahan dua wanita itu.
Selang beberapa detik, Ihsan dan Dimas juga ikut berbaris mengawal Izzah. Mereka menaham geram mendengar penghinaan Nadira yang sangat keterlaluan.
Melihat tiga lelaki siap siaga untuk melindungi Izzah, Nadira seperti kebakaran jenggot.
“Huh! Ternyata anak dan ibu sama saja. Buah jatuh memang tak pernah jauh dari pohonnya.”
PLAK!
Trio bucin itu serentak menyembunyikan ekspresi kesakitan di balik kedua tangan mereka saat tanpa mereka duga sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Nadira. Membuat amarah gadis itu makin meledak. Tangan kanannya melayang hendak menyasar pipi Izzah.
Dengan sigap Izzah mencekal pergelangan tangan Nadira sebelum jari-jari wanita tak berhati itu menyentuh wajahnya. Tatapan Izzah menusuk tajam mata Nadira.
“Kamu boleh menghinaku sesukamu. Kamu bisa mencaciku sekehendak hatimu, tapi jangan pernah merendahkan ibuku!” sergah Izzah. “Ibuku wanita terhormat yang namanya saja tidak layak untuk disebut oleh manusia bermulut kotor seperti dirimu.” Tangan Izzah semakin kuat mencekal Nadira.
“Apa? Terhormat? Terhormat dari Hongkong? Jangan mimpi bocah kucel! Seekor gagak tidak akan pernah berubah menjadi merak!” bentak Nadira seraya menarik lepas pergelangan tangannya dari cekalan Izzah.
Panas hati mendengar ocehan wanita di depannya, Shin Seo Hyun ikut angkat bicara.
“Seekor hewan akan menganggap makhluk lain sama seperti binatang, sementara seorang malaikat pun akan menganggap makhluk lain sama seperti seorang malaikat.” Shin Seo Hyun menatap tajam pada Nadira.
“Apakah Anda termasuk orang yang tidak beragama? Tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan sebuah penghinaan kepada orang lain. Dan jika Anda seorang muslim, seharusnya Anda mengamalkan ajaran agama Anda yang termaktub dalam Alquran surat Al-Hujuraat ayat sebelas.”
Shin Seo Hyun lalu membacakan arti dari ayat yang dimaksudkannya.
“… dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) .…”
Mendengar itu hati Nadira bukannya tersentuh, malah makin terbakar.
“Ini bukan waktunya khotbah Jumat, Tuan. Anda tidak perlu ikut campur sok jadi pahlawan,” sergah Nadira.
Tidak jauh dari tempat Nadira berdiri, seorang lelaki paruh baya baru saja menapakkan kaki di pelataran peristirahatan itu. Kepalanya mendongak kaget mendengar ucapan Nadira. Selekas mungkin ia menghampiri Nadira.
“Hah!”
Lelaki itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat mengenali dua dari tiga lelaki yang bersiaga di sisi gadis yang berhadapan dengan Nadira.
“Maafkan anak saya, Tuan Shin, Pak Ihsan,” ujarnya gugup.
“Jadi, wanita ini anak, Pak Arif?” tanya Ihsan. Tak menyangka orang seramah Arif memiliki seorang anak gadis seberingas wanita yang berdiri di hadapannya itu.
“Iya, Pak.”
“Tolong ajarkan anak Anda bagaimana cara menghormati orang lain, Tuan Arif!” sambung Shin Seo Hyun.
“Baik, Tuan Shin. Saya akan menghukum kelancangan anak saya.” Arif tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Shin Seo Hyun dan Ihsan.
“Tapi, Pa … bukan aku yang salah,” protes Nadira dengan nada manja.
“Sudahlah. Minta maaf sekarang! Papa sudah bilang, jangan membuat keributan!” Arif menegur Nadira dengan nada keras, membuat mata Nadira terbelalak. Belum pernah papanya semarah itu.
“Aku tidak mau!” bantah Nadira, lalu bergegas pergi dari tempat itu. Arif membungkukkan badan dan bergegas mengejar anak gadisnya yang keras kepala itu.
Izzah tak menggubris. Ia segera meluncur menuruni jalan setapak. Pikirannya kacau. Wajah lelaki paruh baya itu seolah tidak asing di matanya.
Tanpa berkata apa pun lagi, Shin Seo Hyun mengiringi langkah kaki Izzah, diikuti Ihsan dan Dimas.
Di atas sana, Nadira mengentak kesal. Ia tidak terima ayahnya lebih membela Izzah daripada dirinya, anak kandungnya sendiri.
GREP!
Susah payah, Arif berhasil menyusul anak gadisnya. Tangannya yang mulai keriput mencengkeram kuat tangan Nadira.
“Lepaskan tanganku, Pa! Aku benci, Papa. Papa telah mempermalukan aku di hadapan orang-orang hina itu!” bentak Nadira, menyulut emosi papanya.
“Hina? Kamu tahu siapa dua lelaki yang berdiri di samping gadis itu?”
“Aku tidak peduli siapa mereka.”
“Mereka adalah Tuan Shin Seo Hyun dan Pak Ihsan Prayoga. Cari masalah dengan mereka sama saja dengan bunuh diri. Kamu mau membuat Papa bangkrut?”
Arif benar-benar naik darah karena ulah Nadira.
“Aku tidak ribut dengan mereka, Pa, tapi dengan gadis kucel yang bernama Izzah itu!” balas Nadira sengit.
“Siapa? Izzah? Teman sekelasmu waktu SD dulu?”
“Iya. Papa ingat anak haram itu?”
PLAK!
Untuk kedua kalinya Nadira menerima tamparan di pipi kirinya. Namun, rasa perih di pipinya belum seberapa bila dibandingkan dengan perih yang menggores hatinya. Seumur hidup belum pernah papanya semarah itu dan menamparnya.
“Pokoknya Papa tidak mau tahu. Kejar Izzah sekarang dan minta maaf! Jika tidak, jangan panggil aku Papa! Kamu telah membuat Papa malu di hadapan kolega bisnis Papa!”
Tanpa menjawab Nadira beranjak turun dengan langkah gontai. Kebenciannya pada Izzah kian memuncak.
Nadira ingat bagaimana mamanya dulu juga melakukan hal yang sama. Selalu memuji Izzah dan membandingkannya dengan Izzah. Saat itu usianya baru tujuh tahun. Dengan riangnya ia bermain boneka di teras rumah ditemani mamanya yang sibuk merajut.
Di bawah terik mentari, Izzah lewat di depan rumahnya dengan membawa seonggok koran bekas di lengannya yang mungil. Keringat bercucuran membasahi baju kaus tipis yang melekat di tubuh dekilnya.
“Izzah … mampir dulu, Nak!” Mamanya memanggil Izzah dengan lembut. Nadira melirik Izzah. Hatinya terbakar cemburu.
“Tidak usah. Terima kasih Tante. Izzah harus segera pulang membantu Bunda,” tolak Izzah sopan.
“Kalau begitu, tunggu sebentar!”
Berdiri di pintu pagar, Izzah menatap iri pada Nadira yang sedang asyik bermain boneka. Ia tidak punya waktu untuk bermain-main seperti itu. Setiap detik dalam hidupnya adalah perjuangan untuk bertahan hidup.
“Ini. Ambillah! Kami sudah tidak memerlukannya,” ujar Mama Nadira menyodorkan beberapa lembar koran bekas kepada Izzah. Hati Izzah berbunga. Sementara Nadira menatap Izzah dingin.
“Alhamdulillah. Terima kasih Tante. Izzah pamit dulu.”
“Sama-sama. Titip salam untuk bundamu ya!”
“Iya, Tante.”
Izzah berjalan pulang, berpayung koran bekas yang baru saja diterimanya dari Mama Nadira.
Nadira merasa tidak senang melihat mamanya terus-terusan menatap Izzah hingga gadis itu menghilang di belokan di ujung jalan. Mama Nadira duduk kembali melanjutkan rajutannya.
“Coba kamu lihat Izzah! Meski masih kecil, ia sudah bisa cari uang sendiri. Ia juga pintar dan sangat sopan. Mama akan sangat bangga jika punya anak seperti Izzah.”
Merasa harga dirinya terluka, Nadira berlari masuk rumah dengan membanting pintu.
BRAK!
Mama Nadira kaget. “Kenapa lagi anak itu? Seharusnya dulu aku tidak terlalu memanjakannya,” sesal Mama Nadira.
Berdiri di balik pintu, Nadira melampiaskan kekesalannya pada boneka yang dipegangnya.
***