A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 85. Bersatu



Kicau burung bertengger di dahan, ditingkah gemercik air jatuh mengalir dari shower, menjadi melodi penyambut pagi, mengiringi aktivitas Shin Seo Hyun bebersih diri. Segar aroma sabun melenturkan ketegangan saraf dan pikiran setelah lelah memadu kasih.


Ketika Shin Seo Hyun keluar dari kamar mandi, waktu telah satu jam berlalu. Dilihatnya Izzah masih meringkuk di atas ranjang. Kelelahan tergurat jelas pada raut mukanya.


Shin Seo Hyun tersenyum puas. Bayang kesakitan di wajah Izzah serta bulir bening yang merembes dari kedua sudut mata gadis itu menjadi kenangan terindah yang tak akan pernah terlupakan. Dan bercak darah yang mulai mengering di hamparan seprai itu, menjadi saksi bisu ledakan gairah malam pertama mereka kemarin malam.


Perlahan Shin Seo Hyun melangkah mendekati istrinya. Titik-titik air sesekali masih menetes dari ujung rambutnya yang basah. Diliriknya jendela. Sinar mentari tampak cerah.


“Hem … hari yang bagus untuk jalan-jalan,” pikirnya.


Matanya kembali tertuju kepada istrinya. Dengan hati-hati, seolah takut membangunkan sang istri, Shin Seo Hyun mengecup lembut rambut Izzah. Membuat gadis itu menggeliat pelan dan membuka mata.


Begitu Izzah membalikkan badan, senyum menawan Shin Seo Hyun langsung menyapanya.


“Kau sudah mandi?” tanya Izzah, melihat suaminya berdiri di tepi ranjang dan masih berbalut handuk.


Adegan-adegan liar kemarin malam berseliweran di ingatannya. Memicu perubahan warna pada pipinya dan kian merona tertimpa cahaya matahari pagi yang menembus kaca jendela.


Shin Seo Hyun mengangguk, lalu merunduk mencium kening sang istri. Membuat Izzah merasa malu karena bangun kesiangan.


“Mandilah! Cuaca sangat cerah. Saatnya untuk menikmati bulan madu yang tertunda,” ujar Shin Seo Hyun dengan seringai menggoda.


Kedipan matanya membuat wajah Izzah semakin memerah. Memaksa gadis itu selekasnya menarik selimut untuk menyembunyikan rasa malu yang kian melanda.


Shin Seo Hyun tertawa renyah, lalu beranjak memakai pakaian yang telah disiapkan Ki Daud untuknya.


Semua tentang cinta. Segenggam rasa yang tak akan sirna sepanjang masa. Pun ketika nestapa melanda. Cinta itu tetap membara walau hanya sebatas suka dan entah kapan akan menjelma jadi nyata.


Shin Seo Hyun menatap Izzah yang masih bersembunyi di balik selimut. Berharap setitik suka yang bersemayam di mata istrinya itu akan segera mekar menjadi bunga cinta. Memupuk subur benih kasih yang telah disemainya di rahim sang istri.


Setelah mendengar pintu kamar ditutup, Izzah beranjak turun dari ranjang. Langkahnya tertatih menahan sakit tak terperih menuju kamar mandi. Segenap persendiannya seakan remuk. Izzah berjalan meraba dinding, menahan nyeri pada selangkangannya. Rasa pusing membuatnya sedikit terhuyung.


“Ah! Ungkapan malam pertama itu indah bak surga dunia, ternyata cuma isapan jempol belaka,” batin Izzah, meringis sambil menggigit bibir meredam sakit saat melangkah.


Di saat-saat seperti ini, ingin rasanya Izzah menggunakan kekuatannya. Akan tetapi, itu tidak dilakukannya karena ia telah berjanji pada diri sendiri untuk menggunakan kemampuan itu hanya untuk mengobati penyakit, bukan seperti hal yang ia alami saat ini.


Biarlah kehidupan pribadinya berjalan dengan normal, layaknya wanita lain pada umumnya. Dengan begitu ia akan menghargai setiap tetes perjuangan sang bunda dalam membesarkannya.


Sebuah penantian selalu saja menghadirkan resah tak terkata. Berteman hening yang memeluk erat seonggok cemas di ujung kerling bayang-bayang. Shin Seo Hyun berulang kali melirik tangga, berharap Izzah akan segera melangkah gemulai datang menghampirinya.


Lebih dari satu jam sudah waktu berkelana. Namun, Izzah tak kunjung tiba. Gundah mulai menyapa. Tak sabar, Shin Seo Hyun berlari balik ke kamarnya. Takut terjadi apa-apa dengan istri tercinta.


“Ada apa? Kau seperti dikejar hantu. Lihat keringat yang membasahi bajumu!” tegur Izzah heran begitu Shin Seo Hyun masuk kamar dengan keringat bercucuran karena berlari menaiki tangga saat ia baru saja selesai menyisir rambut.


“Kenapa kau begitu lama? Aku mencemaskanmu,” sahut Shin Seo Hyun, memeluk pinggang istrinya dari belakang.


“Apa aku sangat menyakitimu?” tanyanya lagi disertai kecupan ringan di leher sang istri, membuat pipi Izzah kembali merona.


Izzah hanya menghela napas. Tak tahu harus berkata apa. Ia terlalu malu untuk berterus terang tentang rasa sakitnya.


“Beristirahatlah! Hari ini kau boleh bermalas-malasan di sini. Aku akan membawakan sarapan untukmu,” ujar Shin Seo Hyun setelah membaringkan istrinya.


“Ada yang aneh dengan wajahku?” tanyanya saat Izzah terus menatap lekat.


Izzah menggeleng dan tersenyum. “Tidak. Bukan itu.”


“Terus?” Shin Seo Hyun mengernyit.


“Maafkan aku karena selalu membuatmu khawatir,” sahut Izzah malu-malu.


Shin Seo Hyun tersenyum. “Tak perlu minta maaf. Bukan salahmu. Semua itu karena rasa cintaku yang terlalu besar untukmu.”


“Sepertinya kau semakin pandai merayu,” ledek Izzah dengan kerling menggoda.


“Dan kau semakin pandai menggoda. Kau mau aku mengulanginya sekarang?” balas Shin Seo Hyun, membuat mata Izzah melotot.


“Dasar! Suami gila!” umpat Izzah seraya melempar bantal ke wajah suaminya.


Dengan sigap Shin Seo Hyun menangkap bantal itu dengan kedua tangan. Sedetik kemudian, dibuangnya bantal itu ke lantai, lalu melompat menerkam istrinya. Namun, gerakan Izzah lebih cepat berguling menghindar.


“Kau benar-benar menantangku ya …,” ujar Shin Seo Hyun sambil memburu Izzah.


Ketika ujung gamisnya terimpit, Izzah terpaksa pasrah diam terpaku, terkurung antara kedua tangan dan kaki Shin Seo Hyun. Mata mereka kembali saling bertemu. Izzah seakan tenggelam dalam gelombang cinta yang terpancar hangat dari kedua bola mata suaminya. Dan Shin Seo Hyun mengamati pergerakan setitik suka di manik mata istrinya terombang-ambing di tengah lautan keraguan dan rasa tak percaya.


Semerbak wangi yang menebar dari tubuh Izzah bagaikan magnet kuat yang menarik Shin Seo Hyun untuk mengecup bibir istrinya. Perlahan dan lembut. Mengundang Izzah untuk melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Seiring detik berlalu, kecupan lembut itu berubah menjadi ******* yang menuntut penuh gairah.


“Eiit … stop!” sergah Izzah, mendorong tubuh suaminya menjauh begitu tersadar dari lena.


“Jadi, itu sarapan yang kau janjikan?” ledeknya, pura-pura marah.


Shin Seo Hyun tertawa panjang. “Mau yang lebih panas?” godanya sambil mengulurkan tangan membantu Izzah turun dari ranjang.


“Oh … tidak. Terima kasih. Yang kau hidangkan kemarin malam terlalu panas. Membuat seluruh tubuhku terbakar,” balas Izzah ceplas-ceplos dengan santainya, membuat Shin Seo Hyun ternganga.


Sedetik kemudian ia tersenyum geli, geleng-geleng kepala. Mengingat betapa uniknya kepribadian Izzah sehingga mampu mengubah warna emosinya dalam sekejap mata.


Duduk di tepi ranjang bertopang tangan dan bersilang kaki, Shin Seo Hyun sangat menikmati gerak-gerik istrinya memasang jilbab.


“Kau ingin tetap duduk di situ?” tanya Izzah, mengagetkan Shin Seo Hyun.


Cepat-cepat  Shin Seo Hyun bangkit berdiri dan melangkah menghampiri istrinya itu.


“Kau selalu membuatku hilang kesadaran,” sahutnya seraya melingkarkan lengan di pinggang Izzah.


Berjalan turun tangga, Shin Seo Hyun merelakan lengannya digandeng Izzah, bak raja dan  ratu yang akan menyapa rakyatnya.


***